Di Sebuah Jalan Setapak

fb_img_14775685353161fb_img_14775704248231

 

Mara melihat bayangan pohon yang jatuh di sebelah kanan. Hatinya berdegup kencang. Sebentar lagi cowok itu pasti lewat di jalan setapak ini, seperti biasanya.
Mara memang menunggunya. Sudah berminggu-minggu ini ia telah melakukan hal yang sama. Mara selalu mengintip melalui batang pohon trembesi di sisi jalan setapak dan mengamati sosok jangkung itu lewat dengan langkah-langkah tegap dan panjang.
Mara tak pernah berkenalan dengannya. Selama berminggu-minggu ia hanya berani berdiri di tempat yang sama. Di balik punggung trembesi. Tetapi Mara tahu namanya. Beberapa kali cowok itu berpapasan dengan orang lain di jalan setapak ini, dan orang yang mengenalnya menyebut namanya. Wendra.
“Kenapa kamu tidak menyapanya?”
Mara menoleh dengan tatapan sebal pada Riyong, sahabatnya yang sedang duduk di atas batu sambil mengunyah sebatang rumput.
“Kalau kamu nggak menyapanya, dia nggak mungkin menyadari kalau kamu ada. Kalau dia tidak menyadari keberadaanmu, lebih baik kau mulai menoleh padaku Mara.” Riyong menatap Mara dengan cengiran lebar.
“Hampir lucu!” Mara melotot sewot ke arah cowok itu.
Mara lupa sejak kapan ia bersahabat dengan Riyong, tetapi rasanya ia selalu menghabiskan waktu bersama Riyong. Wajar jika Mara tak punya perasaan apa-apa terhadap Riyong. Meski Riyong berpendapat lain. Karena mereka selalu bersama-sama, wajar jika Riyong jatuh hati pada Mara.
“Oke. Sapalah dia. Itu satu-satunya cara agar Wendra menoleh padamu.” Riyong cengiran di wajahnya berubah Continue reading

Advertisements

Ibu Tiri

Cerpen Majalah Ummi Februari 2016
Cerpen Majalah Ummi Februari 2016

 

Kertas sobekan buku tulis itu tergeletak begitu saja di meja makan. Niti yang baru saja kembali dari ladang tebu Madukismo senja itu, membaca tulisan Deni disana.

“Aku pergi. Nggak usah dicari.”

Begitu yang terbaca oleh Niti di tulisan tegak-tegak milik Deni.

Rasa khawatir mulai menyeruak saat Niti berhasil mencerna maksud tulisan itu. Ia segera pergi ke dapur, yang sekaligus adalah kamar Deni. Tak ada satupun pakaian Deni tergantung di atas dipan, dan sepiring lenthok [1]lauk makan malam menghilang.

“Ayik, Mas Deni bilang tidak kemana dia pergi?” Niti membuka tirai bilik dan menemukan Ayik anak perempuannya sedang berjongkok sambil memeluk tas sekolah barunya. Bahunya tersedu sedan berusaha meredam tangis agar tak terdengar.

“Kamu kenapa?” Niti meraih bahu Ayik. Tas di pelukan Ayik terlepas.

“Masya Allah!” pekik Niti sambil menutup mulutnya. Tas itu terkoyak-koyak. Niti paham sekarang penyebab lelehan air mata Ayik.

Niti berjongkok. “Mas Deni yang melakukan ini?” suaranya terdengar menuduh. Ia tak bermaksud melakukan itu, tetapi pikirannya langsung mengaitkan kepergian Deni dengan rusaknya tas Ayik.

Ayik mengangguk. Kali ini tangisnya pecah.

***

“Deni tidak ada di rumah teman-temannya,” ujar Wahir, ayah Deni. “Kemana dia sebenarnya?”

Niti tak berani menjawab. Suaminya tadi sudah naik pitam mendengar dugaan yang dilontarkannya, bahwa kemungkinan kepergian Deni adalah karena ia telah merusak tas Ayik.

“Kenapa Deni bisa merusak tas Ayik?” gumam Wahir geram.

Niti hanya menunduk, menatap kakinya yang berjari lebar dan pecah-pecah karena seharian berada di ladang.

“Kemungkinan Deni marah karena Ayik dibelikan tas baru, dan ia tidak,” Niti mengucapkan dugaannya tentang perasaan Deni, dengan ragu-ragu, siap menerima kemarahan suaminya. Continue reading

Berburu Buku di Jalanan Kota Perth

Apa sih yang kalian rasakan kalau melihat tumpukan ribuan buku?

Kalau aku sendiri, yang kurasakan adalah merinding, deg-deg an, berdesir-desir, bahagiaaa banget. Hampir setara deh rasanya dengan jalan-jalan ke toko perabotan dan liat panci atau cetakan kue yang lucu-lucu…hahahaha…*mak-mak banget*

Nah, makanya mumpung aku lagi jalan-jalan ke Perth, Western Australia, aku nggak melewatkan kesempatan untuk berburu buku.

Tempat pertama yang kudatangi adalah Fremantle City.

Aku mulai jalan dari sini

Nah di Fremantle ini ada satu toko buku yang menarik perhatianku. Continue reading

Jodoh

Jodoh seperti halnya takdir, adalah misteri dalam hidup manusia. Tak ada siapapun yang bisa mengetahui dengan pasti sebelum Tuhan sendiri yang menunjukkan pada kita.
“Pokoknya, jalani saja hidup sebaik mungkin sampai menemukan jodoh kelak,” begitu kata ibu saya waktu itu.
Tetapi bagi saya ketidaktahuan ini benar-benar mengganggu hati saya. Bagaimana jika saya salah memilih? Bagaimana saya tahu seorang laki-laki benar-benar baik untuk saya atau tidak?
Saat saya masih duduk di bangku SMA, saya pernah bermimpi didatangi seseorang yang tak pernah saya kenal. Orang itu berkata kalau jodoh saya lahir tanggal 3 November. Ia bahkan menyebut tahun kelahirannya. Tapi anehnya sebelum pergi, dalam mimpi orang itu meralat kalau jodoh saya lahir tanggal 7 November. Saya sangat bingung mendengar ralatannya. Masih jelas dalam ingatan, dalam mimpi saya protes, “Sebenarnya yang mana yang benar? Tanggal 3 atau tanggal 7? Jadi suaminya dua, begitu?” Tapi orang itu tak menjawab pertanyaan saya hingga saya terbangun.
Maklum masih SMA, saya penasaran setengah mati. Saya kerahkan teman-teman saya mencari daftar nama semua kakak kelas yang lahir pada tanggal 3 atau 7 November, mulai dari yang terlihat paling keren. Tetapi tak ada satupun yang ditemukan. Continue reading

Mi Tropicana Slim, Mi Instan Tanpa Perasaan Bersalah

Kabarnya, orang sulit menolak kelezatan mi instan. Itu sebabnya bagi sebagian orang, mi instan adalah salah satu stok bahan makanan yang ‘wajib’ ada di dapur. Sebaliknya bagi keluargaku, mi instan adalah barang langka yang paling-paling hanya mampir sebungkus dua bungkus ke dapur kami setiap beberapa bulan sekali. Begitupun, setiap kali mengonsumsi mi instan rasanya nyesel dan merasa bersalah banget. Continue reading

Tiga Keping Cokelat

Cerpen ini dimuat di Kompas Minggu 17 Mei 2015
Cerpen ini dimuat di Kompas Minggu 17 Mei 2015

Arka meletakkan tiga keping cokelat di meja belajarnya dengan hati-hati. Arka mendapatkan cokelat-cokelat itu dari Sandra.

“Bentuknya lucu-lucu, ya,” cetus Arka tadi sambil memandangi ketiga cokelat itu.

Sandra mengangguk. “Iya. Ini namanya cokelat praline. Cokelat ini sengaja dicairkan dulu sebelum dibentuk menjadi bermacam-macam. Ada isinya juga lho. Kalau kamu menggigit yang berbentuk bunga mawar, di dalamnya ada selai stroberi. Yang bentuk sepatu itu di dalamnya berisi potongan kacang, dan yang berbentuk hati isinya selai jeruk. Enak deh pokoknya.”

Arka terkagum-kagum mendengarnya. Ia jarang makan cokelat. Kalaupun ibu membelikannya di toko Babah Li, cokelatnya selalu berbentuk batangan.

Tak bosan-bosannya Arka menatap cokelat-cokelat itu. Karena bentuknya lucu-lucu, Arka sayang untuk memakannya.

“Arka, bantu Ibu cuci piring di kedai, dong!” suara Tio, kakaknya, mengejutkan Arka, yang buru-buru menangkupkan tangannya di atas cokelat-cokelat itu.

“Eh, iya Kak. Tunggu sebentar,” jawabnya sambil membuka kotak pensilnya dan menaruh ketiga cokelatnya disana.

“Apa itu?” tanya Tio ingin tahu.

Arka terdiam. Sejenak ia berpikir untuk memberikan satu keping cokelat untuk Tio. Tapi beberapa saat kemudian Arka menjadi ragu-ragu. Bukankah ketiga cokelat itu rasanya berlainan? Kalau aku memberikan satu pada Kak Tio, maka aku tidak bisa merasakan ketiga-tiganya, pikirnya.

Lalu Arka menggeleng cepat-cepat. “Ini penghapus baru,” suaranya bergetar saat berbohong.

Tio tak berkata apa-apa, dan Arka lega karena sepertinya kakaknya percaya.

Saat mencuci piring-piring di kedai, Arka terus berpikir tentang cokelat-cokelat itu. “Mana yang lebih dulu akan kumakan?” pikirnya bingung.

Selesai membantu Ibu, Arka kembali ke meja belajarnya. Diintipnya ketiga cokelat di dalam kotak pensilnya.

“Aku akan mengerjakan pe-er ku dulu, baru memakan cokelatnya,” ujarnya sambil menyiapkan buku-bukunya. Dengan tekun dikerjakannya pe-er menggambar peta Pulau Sumatera.

Arka baru saja mulai mewarnai laut dengan spidol berwarna biru ketika ia tiba-tiba merasa mengantuk, dan tidur menelungkup di meja. Ketika terbangun, betapa terkejutnya ia ketika mendapati kotak pensil berisi cokelat telah menghilang.

Arka mencari di bawah meja, di atas tempat tidur, di dalam tas, di meja tamu, di meja makan, di lemari pakaian, tapi ia tak menemukan kotak pensilnya dimanapun.

Arka masuk ke kamar Tio untuk bertanya, dan dilihatnya kotak pensilnya berada di atas meja belajar kakaknya.

“Ini dia,” katanya senang. Dibukanya tutup kotak pensil dan kaget karena ternyata ketiga cokelat itu telah menghilang.

“Kak Tio!” serunya. “Kak Tio mengambil cokelatku ya?”

Tio yang sedang membaca majalah memandang bingung. “Cokelat apa?”

“Ah, jangan pura-pura tidak tahu! Cokelat itu kutaruh di dalam kotak pensil, dan sekarang cokelatnya tak ada. Pasti Kakak yang mengambilnya!” kaki Arka menjejak lantai.

Wajah Tio memerah. “Itu namanya menuduh tanpa bukti!” teriaknya.

“Mau bukti apa lagi? Kotak pensilku hilang dari meja dan kutemukan di mejamu,” Arka tak mau kalah.

“Sudah kubilang aku tidak tahu!” tegas Tio jengkel.

Arka sangat marah mendengarnya. Ia mulai mendorong kakaknya. Mereka berdua sudah hendak berkelahi kalau Ibu tak datang dan melerai.

“Ada apa dengan kalian?” Ibu mengerutkan kening.

“Kak Tio mengambil cokelatku!” seru Arka.

“Tidak!” bantah Tio.

“Tapi kotak pensilku ada di meja Kak Tio,” Arka bersikeras.

“Ibu tadi yang mengambil kotak pensilmu. Sewaktu Ibu hendak mengembalikan lagi ke kamarmu, telepon berbunyi, jadi Ibu menaruhnya dulu di meja Kak Tio,” jelas Ibu.

“Lalu kenapa cokelat-cokelatku hilang?” tanya Arka.

“Cokelat yang ada di kotak pensil?” Ibu balik bertanya. “Tadi waktu kamu tertidur di meja, kotak pensilmu penuh semut. Ternyata semut-semut itu mengerubungi cokelat. Tentu saja Ibu membuangnya,” kata Ibu.

“Dibuang?” Arka memekik.

“Lain kali kau harus cepat memakannya sebelum didahului semut,” ujar Tio.

Arka mengangguk perlahan. “Lain kali aku akan membaginya denganmu sebelum didahului semut, Kak,” sesalnya.

 

Hidup Sehat Adalah Kesempatan Melihat dan Menjalani Banyak Hal

FB_20150418_08_03_25_Saved_Picture
Ibuku meninggal saat usianya belum bisa disebut tua, (Ibuku adalah penderita diabetes, jadi penyakit jantung penyebab kematian berasal dari diabetes yang dibawanya) tetapi karena ibuku meninggal di usia yang masih terbilang muda, beliau ‘melewatkan’ banyak hal. Ibu tak bisa melihat salah satu anaknya menikah, Ibu tak sempat pergi haji meski tinggal menunggu antrian, Ibu tak bisa lagi bercanda dengan cucu-cucunya, dan banyak lagi. Kadang ketika aku memikirkan hal ini, air mataku bisa turun berderai-derai. Memang sih, nggak ada yang tahu kapan maut akan datang. Tapi setiap capaian-capaian dalam hidupku dan adik-adikku berlalu begitu saja tanpa kehadiran Ibu, padahal Ibu yang paling berjasa dalam mendidik kami. Rasanya nyesek kalau ingat hal ini.

Kudengar, diabetes adalah penyakit keturunan. Wah, gawat juga. Ibuku menderita penyakit diabetes, nenekku (ibunya ibuku) juga menderita penyakit yang sama dan juga meninggal karena penyakit ini. Berarti kemungkinan aku terkena diabetes itu ada. Apalagi aku punya sakit magh yang sesekali kambuh. Nggak lucu sama sekali kalau aku kena sakit magh sekaligus diabetes. Meski ada kemungkinan juga aku tak terkena penyakit yang sama, tetapi sejak saat itu sebuah kesadaran baru mulai tumbuh.
Aku ingin sehat sampai tua.

Keinginanku sebenarnya didasarkan atas hal yang sederhana. Menjadi ‘Sehat’ berarti kesempatan melihat dan menjalani banyak hal.
Keinginan itu menjadi motivasiku sekarang. Aku ingin melihat anak-anakku lulus sekolah, aku ingin melihat mereka melakukan pekerjaan yang mereka sukai, aku ingin melihat anak-anakku menikah dan memberiku banyak cucu. Aku juga ingin menjalani hidup yang menyenangkan bersama suamiku. Pergi ke banyak tempat, beribadah bersama, bercanda, mengobrol, berdebat sesekali, dan saling mencintai. Untuk diriku sendiri, aku ingin terus menulis hal-hal yang baik, membaca buku-buku yang kusukai, memperbanyak bekal ibadah untuk perjalanan abadi ke akhirat kelak. Untuk itulah aku harus sehat.

Sayangnya, keinginan meski semulia apapun, kalau nggak dilakukan ya hanya berhenti begitu saja. Aku nggak mau begitu. Mana mungkin keinginan untuk sehat bisa tercapai jika tidak segera menjalankan gaya hidup sehat?

Banyak tips yang kubaca di majalah, tapi kupikir kita harus menjalani yang paling sesuai dengan kondisi kita. Diet-diet yang sulit, menimbang makanan yang harus kumakan, dan jogging tiap pagi jelas bukan hal yang ingin kulakukan. Aku lebih memilih melakukan perjuangan dengan cara yang sesuai dengan diriku sendiri, jadi lebih nyaman bagiku untuk menjalaninya.

Gaya hidup sehat itu menurutku kayak menjalani Revolusi Besar. Gimana enggak? Sejak aku memutuskan untuk hidup lebih sehat aku mulai melakukan hal-hal yang semula berat kulakukan, seperti :

1. Mengurangi minuman dan makanan manis.
Sehari-hari aku memilih minum air putih dibanding minuman yang manis.
Dulu aku suka banget sama es krim dan cokelat. Sampai sekarang masih suka sih, tapi aku berusaha keras untuk mengurangi. Nah kalau masih ada yang liat aku makan es krim dan cokelat, percayalah jika hal itu benar-benar peristiwa langka. Biasanya itu terjadi ketika aku menghadiahi diriku sendiri saat melakukan sesuatu. Misal, aku makan es krim setiap kali selesai mengkhatamkan tadarus Al Quran ku.

2. Konsumsi buah kalau lapar menyerang sebelum waktu makan.

IMG_0140
Memilih makan buah sebagai pengganjal lapar, alih-alih gorengan

 

Usahakan makan buah alih-alih gorengan. Yang ini rada sulit sih. Kalau ada pilihan di depanku, antara pisang dan tahu isi, aku pasti akan memilih tahu isi. Untuk menghindari hal ini memang harus mulai mem brain wash pikiran kita, “Pilih pisang. Pilih pisang. Pilih pisang…”

3. Jalan kaki lebih sering.
Hei, jangan dikira ini gampang lho. Di masa ketika kita tinggal duduk untuk mengendarai sesuatu, jalan kaki adalah hal yang sangat jarang dilakukan. Padahal, jalan kaki itu terbukti bisa menguatkan jantung dan membakar kelebihan kalori. Aku sendiri harus benar-benar meluangkan waktu untuk bisa ‘berjalan kaki’.
Setelah mengantar anakku ke sekolah, biasanya aku menghentikan kendaraanku agak jauh dari tempat aku biasa membeli sayur dan aku berjalan kaki menuju si penjual sayur. Kadang-kadang jika hendak berbelanja ke pusat pertokoan, aku sengaja memarkir kendaraan rada jauh supaya aku bisa berjalan kaki lebih lama.

Di dekat rumahku ada rel kereta, aku biasa menaruh sepeda motorku di tempat aman dan berjalan kaki menyusuri rel kereta ini sampai capek..hehehe...
Di dekat rumahku ada rel kereta, aku biasa menaruh sepeda motorku di tempat aman dan berjalan kaki menyusuri rel kereta ini sampai capek..hehehe…

4. Olahraga.
Terus-terang aku paling malas dengan kegiatan ini. Masalahnya kalau mau senam, atau olahraga lain, aku harus meluangkan waktu untuk pergi ke tempat itu. Lalu kapan aku melakukan pekerjaan lain?
Akhir-akhir ini, aku menemukan cara yang lebih asyik dan hemat waktu. Tiap pagi aku memutar 10 lagu dari radio dan senam sendiri sampai 10 lagu itu berakhir. Orang bilang, olahraga adalah kegiatan ‘cari keringat’. Dengan 10 putaran lagu, aku lumayan mendapatkan keringat kok.

5. Melakukan hal-hal yang kita sukai.
Menurutku, kita harus punya hobi agar bisa menyalurkan ketegangan pikiran. Orang hidup kan selalu dihadapkan pada masalah-masalah. Untuk mengurai masalah, kita membutuhkan hal-hal yang kita sukai untuk meredakannya agar masalah itu terurai.
Jadi, yang senang merajut tetaplah merajut. Yang senang memasak tetaplah memasak. Yang senang menulis teruslah menulis. Yang senang jalan-jalan lakukan perjalanan ke tempat yang baru. Yakin deh, semua hobi yang dikerjakan dengan rasa gembira akan membuat kita lebih sehat.

Semua itu kulakukan dengan keteguhan hati deh pokoknya. Begitu aku merasa malas melakukannya, aku kembali ingat pada niat dan motivasi awal untuk hidup sehat.
Wah, aku udah berasa jadi #HealthAgent aja nih…. hehehe…

Eh, tapi bener lho… selama aku konsisten menjalankan hal-hal sederhana itu, aku jadi jarang banget pusing dan sakit magh. Insya Allah aku juga tidak terkena diabetes (paling tidak sampai saat ini jika aku menjalani tes diabetes hasilnya negatif)

Kupikir, hidup sehat itu seru dan gampang banget kok. Asal kita punya tekad aja buat menjalaninya.

 

Tulisan ini diikutkan dalam #HealthAgent “Sharing Inspiration” Blog Contest bersama Nutrifood

#K3BKartinian_Seorang Ibu Tambahan Dengan Kasih Sayang Sama Besar

image

Pada hari ketika aku dilahirkan, Mbah Kakung, kakekku ingin memberiku nama Zainab. Kata kakekku, ia ingin aku menjadi seorang yang murah hati seperti Zainab istri Rasulullah. Bude Fat, kakak sulung Bapak menolak. “Jangan diberi nama Zainab, nanti anak ini malu. Jangan-jangan namanya sama dengan nama ibu mertuanya,” kata Bude Fat setengah bercanda.

Aku mendengar cerita itu dari Eyang, nenekku, dan saat aku mendengar cerita itu, sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa suatu hari nanti saat tiba waktunya aku menikah, ibu mertuaku ternyata benar-benar bernama Zainab (dengan ejaan Zaenab pada KTP nya)

Kedua orangtua suamiku tinggal di Banyuwangi, sekitar 25 km dari pusat kota.

Pada bulan Juni tahun 2000, setelah pesta pernikahan usai, aku tinggal disana selama seminggu. Sebuah tradisi yang baik kurasa, agar menantu baru ini bisa mengenal keluarga suaminya dengan lebih dekat.

Aku sangat menyukai bapak mertuaku. Bapak adalah orang yang disiplin, pendiam, sangat sabar dan tenang. Meski begitu ia adalah orang yang sangat mudah tertawa. Bapak selalu tertawa terkekeh-kekeh setiap kali aku bercerita. Kurasa hal yang membuatku menyukainya adalah karena aku menemukan banyak bagian sifat yang sama dengan sifat suamiku.

Kalau ibu mertuaku? Nah ini…

Sebelum menikah, ibuku sendiri (ibu kandung) sudah berpesan untuk menghormati ibu mertuaku. “Harus bisa menyesuaikan diri. Ibu mertua itu bukan orang lain. Ibu mertua adalah ibu tambahan dengan kasih sayang sama besar,” kata ibuku menasehati. Mungkin karena ibu sudah menduga bakal ada sesuatu yang terjadi, mengingat aku adalah orang yang keras kepala.

Aku cuma mengangguk-angguk saja. Aku sudah berniat untuk menyesuaikan diri kok, pikirku. Eh, tapi rencana dan kenyataan memang seringkali nggak sejalan.

Pertama kali aku bercakap-cakap dengan ibu mertuaku dengan agak panjang, yang dikatakannya adalah, “Pakai bedak dulu, pakai lipstik, baju yang rapi!”

*Pikiranku langsung buyar*

Bedak? Lipstik? Aku kan nggak suka dandan…

Dengan segan aku mencoret-coret wajahku dan memakai baju yang lebih rapi. Kukira aku bakal diajak pergi dengan dandanan seheboh itu, tetapi yang dikatakannya kemudian adalah, “Rumahnya disapu dan dipel dulu!”

Hihihi….kebayang kan gimana jengkelnya aku. Udah dandan dan berasa mau ngelenong, tapi ternyata cuma disuruh nyapu sama ngepel.

Beberapa hari pertama aku tinggal di sana, aku langsung tahu kalau semua kata-katanya adalah ‘perintah’ dan semua orang melakukan apa yang dikatakannya.

“Beli ini di warung!”

“Bersihkan yang itu dulu!”

“Pasangkan yang ini!”

Ada hal-hal yang mau kulakukan dengan senang, dan ada hal-hal yang tidak mau kulakukan. Seperti misalnya, aku paliing nggak suka nyapu halaman dengan sapu lidi. Bukan karena aku malas ya…tapi memang ada kan pekerjaan yang kita suka banget mengerjakannya, dan ada pekerjaan yang kita sebel mengerjakannya. Nah, menyapu halaman dengan sapu lidi ini aku benci banget deh pokoknya.

Malangnya, waktu itu ibu mertuaku menyuruhku menyapu halaman.

Karena aku orang yang sangat terus terang, aku langsung menjawab, “Nggak mau, ah Buk. Aku nggak suka disuruh nyapu pakai sapu lidi.”

*DUUEERRR*

Sumpah deh, dari wajah ibu mertuaku langsung kelihatan kaget. Aku yakin ini bantahan pertama dari menantunya. Selain aku baru 3 hari menjadi menantunya, menantu sebelumnya (istri kakak iparku) orangnya sabaaaar, mengalah, dan lembuut banget deh pokoknya.

Ibu mertuaku tampak jengkel. Tapi aku memilih untuk tak menurutinya. Aku berniat menikah dengan suamiku ini selamanya, jadi aku tidak akan membiarkan diriku melakukan hal-hal yang tak kusukai demi menyenangkan ibu mertuaku. Kalau aku melakukan hal-hal yang tak kusukai dengan terpaksa aku jadi jengkel dan hubungan dengan ibu mertua pasti tak lagi menyenangkan. Jadi aku mulai belajar menentukan sikap.

Sejak kasus menyapu halaman itu, kulihat ibu mertuaku justru lebih cair. Mungkin karena ibu menganggap aku sangat santai menanggapi dirinya, ibu jadi lebih bebas berbicara denganku. Dalam seminggu pertama itu pertengkaran kecil beberapa kali terjadi, tetapi aku bukan orang pendendam dan ibu mertuaku bukan orang pendendam, jadi nggak heran kalau dalam setengah jam kami sudah bersikap biasa lagi.

Butuh waktu bagiku untuk menganggap posisi ibu mertuaku sama dengan ibu kandungku sendiri. Ibu mertuaku sangat bossy dan suka seenaknya sendiri sementara ibuku membiarkanku melakukan apa yang kusukai, jadi wajar kalau aku sering sebal dengan sikap ibu mertuaku. Sampai suatu hari sebuah kejadian menyadarkanku bahwa seorang ibu itu manusia biasa, seperti kita semua yang masing-masing punya sifat berbeda.

Beberapa hari setelah kelahiran anak pertamaku yang sulit karena posisinya yang terbalik, aku mendapatkan infeksi. Sebuah kain kassa menempel dan terjepit di bekas jahitan jalan lahir dan ditarik paksa oleh seorang perawat, membuat luka jahitan yang belum kering menjadi bernanah. Badanku demam dan aku kesulitan berjalan meski hanya ke kamar mandi. Setiap kali berjalan aku pasti menangis saking sakitnya. Ibu mertuaku datang jauh-jauh dari Banyuwangi dan tiba di Yogya saat Subuh untuk melihat cucu keduanya, dan begitu kami bertemu ia langsung memelukku.

Tanpa memedulikan rasa lelahnya, ibu mertuaku ini langsung merebus air. Tadinya aku mengira air hangat itu untuk mandi anakku, ternyata tidak. Sambil meletakkan seember penuh air hangat ibu mertuaku berkata, “Sudah, jangan bergerak dulu Nduk. Ibuk mau menyekamu. Tidak usah berjalan kemana-mana kalau tidak terpaksa.”

Aku menolak, tapi ibu mertuaku memaksa.

Tangannya yang tebal dan kuat membasuh badanku dengan lembut.

“Ibuk akan memandikanmu sampai kamu sembuh,” katanya.

Aku terdiam mendengarnya.

Maturnuwun ya Nduk sudah melahirkan dengan selamat,” lanjutnya lagi sambil terus membasuhku.

Aku tersenyum kecil. Air mata menggenang di pelupuk mataku.

Jika ada sebuah titik pertemuan dalam sebuah hubungan, aku merasa kejadian itulah yang menjadi titik pertemuan hatiku dengan hati ibu mertuaku. Detik itu aku merasa, bahwa dia adalah ibuku, dan ibu mertuaku merasa bahwa aku adalah anaknya. Benar kata ibuku, ibu mertua adalah ibu tambahan dengan kasih sayang sama besar.

Tempat tinggal kami sangat berjarak sejauh 500 km, dan ini membuat kami tak setiap bulan bertemu. Karenanya sampai sekarang aku sangat senang jika ibu mertuaku tahu-tahu muncul di Yogya untuk tinggal beberapa hari bersama kami. Ibu mertuaku adalah seorang yang sangat efisien. Ia mengajarkanku menata segala macam barang dengan cara yang sangat militan. Belum pernah kan ada yang melihat tumpukan emping disusun vertikal dengan rapi di dalam toples? Nah, ibu mertuaku melakukannya. *Sumpah deh itu yang mau ngambil emping dari dalam toples sampai enggak tega melakukannya*

Kalau ibu mertuaku datang, rumahku kelihatan sangat longgar dan lapang. Ibu pintar banget membersihkan dan mengatur ruangan. Semua disusunnya dengan saaangat rapi. Aku berusaha menirunya, tetapi dalam hal ini sepertinya aku bukan pembelajar yang baik. Bahkan sayangnya, seminggu setelah ibu pulang, entah bagaimana caranya, kok rumahku sudah kembali lagi ke bentuk asal. Benar-benar bikin desperate.

Jika kami bertemu, aku dan ibu mertuaku seringkali bertukar resep. Kalau ibu ke Yogya, ibu akan memintaku memasak yang tak pernah dimasaknya di Banyuwangi, dan memilah mana yang cocok untuk seleranya dan selera bapak.

Kalau mertuaku sedang ke Yogya, aku biasanya mengajak ibu mertuaku untuk jalan-jalan berdua saja denganku. Meski kalau hendak pergi, biasanya aku prepare dulu sehari sebelumnya karena kekuatan ‘berjalan’ ibu mertuaku ini sungguh luar biasa untuk orang seumurnya. Sambil berjalan, menyusuri pusat perbelanjaan, dan berakhir di tempat makan, kami biasanya mengobrolkan banyak hal.

Nggak terasa, bulan Juni nanti aku sudah menikah selama 15 tahun. Artinya, sudah 15 tahun juga aku mengenalnya sebagai ibu mertuaku. Jangan ditanya apakah tak ada lagi pertengkaran dan perbedaan pendapat setelah tahun-tahun berlalu, karena jawabannya adalah sangat banyak. Banyak sekali pertengkaran dan perbedaan pendapat yang kami selisihkan. Apalagi meski jauh, aku berusaha meneleponnya paling tidak seminggu sekali, dan perbedaan pendapat bahkan bisa terjadi lebih banyak melalui telepon.Tapi setelah semua perbedaan pendapat itu selesai, ya sudah, kami adalah ibu dan anak lagi dalam ukuran normal. Hehehe…

Kurasa aku menyayanginya, seperti juga ia menyayangiku. Semua pertengkaran dan perbedaan pendapat yang langsung termaafkan begitu cepat tak akan terjadi pada orang yang tidak saling menyayangi. Aku meyakini itu.

Satu mimpiku yang belum terlaksana. Membawa ibu mertuaku pergi umroh. Ibu mertuaku sudah berhaji bertahun-tahun yang lalu saat suamiku masih anak-anak, jadi kebayang bagaimana kangennya beliau untuk pergi lagi kesana.

Semoga ya Buk….Semoga anak dan menantumu ini dilancarkan rejekinya untuk membawamu ke Tanah Suci. Aku tahu, meskipun Allah mengijinkan dan mengabulkan doa kami, tak seujung kukupun semua ini dapat membalas semua kebaikanmu sebagai ibu. Tak akan pernah.

 

Tulisan ini dibuat untuk meramaikan event #K3Bkartinian yang diselenggarakan oleh Kelompok Emak-Emak Blogger.

 

 

 

 

Semua Perempuan Yang Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga Harus #BeraniLebih Kreatif

 

FB_20150413_15_29_46_Saved_Picture[1]

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Tulisan Pendek di Blog #BeraniLebih bersama Light of Women

Akun medsos:
FB Yuniar Khairani
Twitter @kyuniar

Ada perempuan yang sudah berumur, tetapi masih kelihatan fresh dan menarik. Di sisi lain aku sering melihat perempuan yang masih muda tetapi sama sekali tidak menarik, bahkan tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

Sayangnya, banyak kasus seperti ini terjadi pada perempuan yang memilih untuk menjadi Ibu Rumah Tangga penuh. Dengan kata lain, biasanya seorang ibu rumah tangga terlihat tidak cantik dibanding perempuan lain yang memilih untuk tidak menjadi ibu rumah tangga penuh.

Mungkin perlu kujelaskan lebih dulu, tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan status ‘Ibu Rumah Tangga’. Nah, aku sendiri seorang ibu rumah tangga. Aku memilih untuk tidak bekerja di luar rumah demi menyiapkan diriku menjadi ‘sekolah pertama’ untuk anak-anakku. Tetapi topik tentang kecantikan perempuan itu membuatku merasa tergelitik dan ingin memikirkannya lebih lanjut.

Tadinya aku sendiri tidak tahu penyebabnya. Kupikir tadinya fresh atau menariknya seorang perempuan tergantung pada perawatan fisik masing-masing. Ternyata setelah dipikir-pikir tidak semata-mata itu lho.

Setiap perempuan ditakdirkan menjadi cantik dan bahagia, tetapi kenapa ada yang tidak?

Yang perlu diketahui pertama adalah, cantik bukanlah persoalan fisik. Cantik adalah keseluruhan pembawaan diri, dan keseluruhan pembawaan diri itu adalah pesona seorang perempuan. Perempuan yang cantik adalah ia yang tersenyum dengan tulus, siap membantu dan mengulurkan tangan untuk siapapun yang membutuhkan pertolongan. Perempuan yang cantik adalah ia yang smart dan rendah hati. Perempuan yang cantik adalah ia yang mampu mengatasi kekurangan dirinya dan mengetahui kelebihan dirinya untuk membantu sesama.

Itulah sebabnya perempuan harus #BeraniLebih kreatif untuk mewujudkan kebahagiaannya.

Perempuan yang berdiam diri saja di rumah dan hanya fokus memikirkan kebersihan rumah, kenyamanan anak-anak dan suami, memasak, mencuci, lalu besoknya begitu lagi, lagi, dan lagi, cenderung untuk tidak memikirkan dirinya dibanding dengan perempuan yang memiliki kegiatan lain selain wilayah domestiknya. Rutinitas ini cenderung membuat perempuan tak bahagia.

Menurutku #BeraniLebih kreatif harus dilakukan oleh semua perempuan, terutama ibu rumah tangga. Menggali potensi terbaik dari diri kita masing-masing untuk menjadi diri kita yang terbaik.

Ada seorang ibu rumah tangga yang punya hobi masak, hayuk deh masak yang bagus dan lucu-lucu supaya bisa dijual. Aku pernah dengar seorang chef berkata, cooking is not chemistry, cooking is an art. Ibu rumah tangga yang hobi masak dan #BeraniLebih kreatif bisa aja ngajari ibu-ibu lain untuk lebih cakep masaknya. Ibu rumah tangga yang hobi crafting, hobi fotografi, hobi jualan apa saja, biasanya juga sama cantiknya kok dengan perempuan yang memilih untuk berkarir di luar rumah.

Aku sendiri memilih untuk menulis. Dengan #BeraniLebih kreatif untuk menekuni hobi menulis, eh ternyata hobi ini membahagiakan lho. Menghasilkan uang juga. Lumayan lagi.

Hubungan antara #BeraniLebih kreatif dengan cantiknya seorang perempuan tentu ada dong. Perempuan yang punya hobi biasanya kreatif, kalau kreatif biasanya nggak mau diam di tempat, dan kalau nggak mau diam di tempat biasanya selalu berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru. Pikiran yang selalu bergerak ini membuat perempuan menjadi bahagia. Kalau orang bahagia, tentu saja kecantikan terpancar dengan sendirinya.

Nah, mau lebih cantik? #BeraniLebih kreatif dan menjadi lebih bahagia adalah kuncinya.

 

 

 

 

 

Parenting_Membereskan Mainan

 DSC01199

Memiliki satu anak Balita saja Ibu tidak bisa berharap rumah bisa bertahan lama dalam keadaan bersih. Baru saja Ibu selesai meletakkan mainan terakhir di dalam kotak dalam waktu setengah jam semua mainan sudah keluar lagi berserakan dilantai. Belum lagi kalau anak-anak tetangga ikut bermain di dalam rumah. Suasana mirip kapal pecah menjadi bagian yang tak asing lagi dari pandangan keseharian Ibu.

Jengkel dan muak barangkali kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Ibu mengenai hal itu. Dunia anak memang sebenarnya adalah dunia bermain. Tak peduli bagus atau tidak mainan yang dimiliki, anak akan memegang apa saja, mengamatinya, mengeluarkan dari dalam kotak, mendorong-dorongnya, meletakkannya dan mengeluarkan lagi yang lain dari dalam kotak. Kadang-kadang ada anak yang tidak sabar mengeluarkan mainannya satu-satu dan langsung menuangkan seluruhnya dari dalam kotaknya. Tidak ditata tentu bukan hal yang tepat, tetapi ditata dan langsung berantakan lagi dalam sekejap adalah hal yang sangat melelahkan.

Membereskan mainan meski terlihat sepele tetapi jika Ibu lalai mengajarkan pada anak, hal itu akan berpengaruh pada pembiasaan kedisiplinan jangka panjangnya. Tidak harus menunggu anak berumur di atas 5 tahun untuk melakukan hal ini. Ibu boleh percaya bahwa anak berusia 15 bulan sudah bisa membawa sebuah mainan dan memasukkannya ke dalam tempat yang kita minta hanya dengan berkata, “Ayo sayang masukkan yang ini kesana. Nah, begitu. Wah tepuk tangan…anak pintar!” Bahkan tidak hanya sekali, dia akan memasukkan beberapa mainan yang berserakan ke dalam kotaknya.

Untuk anak balita yang lebih besar Ibu membutuhkan cara yang lebih cerdik daripada sekedar memberinya tepukan tangan. Ibu boleh memberi hadiah kecil berupa ‘dibacakan 2 buah buku cerita’ jika mereka bisa memasukkan semua mainan ke dalam kotak setelah bermain. Ini terlihat seperti menyogok anak tetapi ketika ada acara yang lebih menyenangkan menanti mereka setelah acara yang ‘menyebalkan’ seperti membereskan mainan, mereka akan memiliki semangat untuk melakukannya dengan baik.

Jadikan kegiatan membereskan mainan terasa seperti bermain itu sendiri. Misalnya berpura-pura menjadi tukang pos yang mengantarkan kiriman barang dan Ibu menjadi penerima kirimannya. Jika tak hanya anak Ibu yang bermain, tetap beri mereka ‘peraturan’ yang sama, bereskan mainan dulu sebelum meninggalkan tempat bermain. Hal itu selain menjadikan semua anak merasa terlibat dan bertanggungjawab, anak Ibu sendiri akan merasa diperlakukan dengan adil.

Untuk anak yang lebih besar akan lebih mudah lagi. Jika kedisiplinan ini telah dilalui sejak balita, Ibu tak perlu mengingatkan lagi. Tetapi jika belum, lakukanlah tawar-menawar dengan anak. “Kau boleh bermain tetapi kembalikan segera ke tempat semula sebelum memulai lagi permainan baru. Setuju atau tidak?”

Jika anak telah setuju, pada akhir permainan ingatkan anak untuk menepati janjinya.