Jodoh

Jodoh seperti halnya takdir, adalah misteri dalam hidup manusia. Tak ada siapapun yang bisa mengetahui dengan pasti sebelum Tuhan sendiri yang menunjukkan pada kita.
“Pokoknya, jalani saja hidup sebaik mungkin sampai menemukan jodoh kelak,” begitu kata ibu saya waktu itu.
Tetapi bagi saya ketidaktahuan ini benar-benar mengganggu hati saya. Bagaimana jika saya salah memilih? Bagaimana saya tahu seorang laki-laki benar-benar baik untuk saya atau tidak?
Saat saya masih duduk di bangku SMA, saya pernah bermimpi didatangi seseorang yang tak pernah saya kenal. Orang itu berkata kalau jodoh saya lahir tanggal 3 November. Ia bahkan menyebut tahun kelahirannya. Tapi anehnya sebelum pergi, dalam mimpi orang itu meralat kalau jodoh saya lahir tanggal 7 November. Saya sangat bingung mendengar ralatannya. Masih jelas dalam ingatan, dalam mimpi saya protes, “Sebenarnya yang mana yang benar? Tanggal 3 atau tanggal 7? Jadi suaminya dua, begitu?” Tapi orang itu tak menjawab pertanyaan saya hingga saya terbangun.
Maklum masih SMA, saya penasaran setengah mati. Saya kerahkan teman-teman saya mencari daftar nama semua kakak kelas yang lahir pada tanggal 3 atau 7 November, mulai dari yang terlihat paling keren. Tetapi tak ada satupun yang ditemukan.
Sampai saat saya kuliah, saya tak berhenti mencari. Meskipun dengan diam-diam dan tak heboh seperti saat duduk di bangku SMA. Tapi satupun tak pernah ada seseorang dengan tanggal dan tahun lahir yang sama seperti dalam mimpi saya. Akhirnya saya mulai melupakan mimpi itu dan menganggapnya hanya sebagai bunga tidur biasa.
Seperti halnya gadis lain, saya mulai dekat dengan beberapa lelaki. Diantara mereka, ada satu dua orang yang cocok dalam beberapa hal. Tetapi harus diakui, kecocokan itu berbenturan dengan ketidakcocokan dalam hal yang lebih besar. Satu persatu, takdir mulai mengeliminasi mereka.
Suatu hari seorang teman berkata kalau lelaki yang akan menjadi jodoh saya akan saya temui pertama kali pada hari Rabu. Bukannya saya percaya banget dengan ucapan atau ramalan, tetapi sejak itu memang setiap hari Rabu saya berdandan lebih cantik dari biasanya. Untuk berjaga-jaga. Walaupun ternyata dandan cantiknya hanya berlangsung selama beberapa minggu saja.
Akhirnya memang saya bertemu juga dengan lelaki yang akhirnya menjadi suami saya. Tetapi hal itu terjadi justru ketika saya telah mengabaikan mimpi dan ramalan hari Rabu itu.
Bahkan ketika saya mengucapkan selamat ulang tahun padanya untuk pertama kalinya, saya tak terlalu menyadari kalau hari itu adalah tanggal 3 November. Tanggal yang pernah saya impikan. Baru setelah kami mulai mendekati hari pernikahan, calon suami saya bercerita kalau sebenarnya ia lahir tanggal 7 November tetapi petugas mencatat dirinya lahir tanggal 3 November. Saat itu, sistem pencatatan kelahiran di pelosok desa kurang bagus sehingga kekeliruan terjadi. Ibunya tak menyadari kekeliruan tersebut dan membiarkan saja tanpa mengurusnya ulang.
Saat itu, saya benar-benar takjub. Kalau memang benar hal itu yang terjadi, maka mimpi saya tentang tanggal lahir jodoh saya benar. Bukan dua orang lelaki yang menikah dengan saya, melainkan seorang lelaki dengan dua tanggal lahir yang berbeda karena kekeliruan pencatatan surat kelahiran.
Setelah saya ingat-ingat lagi, hari pertama saya bertemu dengannya memang hari Rabu. Saat itu kami menjalani pembekalan di tempat yang sama sebelum dikirim untuk KKN di wilayah Banjarnegara. Dan payahnya, hari Rabu sore itu saya datang dalam keadaan belum mandi setelah kuliah dari jam 7 pagi dan mengenakan celana jins yang sudah tiga hari tak dicuci. Sama sekali jauh dari cantik.
Beberapa waktu setelah kami menikah, kami membuka foto-foto masa kecil. Ada dua foto yang menurut saya sangat menarik. Foto saya waktu berumur 3 tahun mengenakan sepatu boot berwarna biru muda, dan foto suami saya waktu berumur 5 tahun mengenakan sepatu boot yang sama persis berwarna merah muda. Tentang sepatu ini, saking sukanya saya meminta Ibu membelikan dua kali. Kata Ibu, saya sempat meminta warna merah muda tetapi sayangnya di toko tak ditemukan. Sementara suami saya bercerita, sepatu merah muda itu dipilihkan ibunya yang tak terlalu peduli apakah warna itu cocok bagi anak lelaki atau tidak, tapi ia yakin jika ada warna biru ia akan memilih sepatu berwarna biru. Sayangnya, tak ditemukan sepatu biru di toko itu.
Saya lagi-lagi takjub. Jarak kota tempat saya tinggal sejauh 500 km dari kota kelahiran suami saya, dan kebetulan kecil seperti sepatu boot yang sama menyatukan kami duapuluh tahun kemudian. Barangkali itulah yang disebut jodoh.
Meski saya yakin bahwa suami saya adalah jodoh saya, kadang ada saat-saat tertentu rasa jenuh datang karena rutinitas yang kami jalani. Lalu seringnya saya bermimpi ada seorang lelaki ganteng tak dikenal yang berkata ingin menikahi saya. Rasanya dalam mimpi saya juga menyukai lelaki itu. Tetapi sayangnya saya selalu ingat kalau punya suami. Dalam mimpi saya selalu berkata, “Aku sudah menikah.”
Setiap bermimpi seperti itu, saya selalu bangun sambil terheran-heran sendiri bagaimana saya telah mematri sosok suami saya hingga ke alam bawah sadar. Suka atau tidak suka 🙂
Begitulah yang disebut ‘jodoh’ saya rasa. Sebuah takdir yang meskipun awalnya menjadi misteri, tetapi ikatannya begitu kuat dan tak terelakkan dalam hidup kita.

Advertisements

4 thoughts on “Jodoh

  1. Wuahhhh unik banget dan lucu ceritanya.
    Aku pernah mimpi berasa dikasih bocoran jodoh yang wajahnya miri Kevin Aprilio, tapi ternyata tidak terbukti :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s