Di Sebuah Jalan Setapak

fb_img_14775685353161fb_img_14775704248231

 

Mara melihat bayangan pohon yang jatuh di sebelah kanan. Hatinya berdegup kencang. Sebentar lagi cowok itu pasti lewat di jalan setapak ini, seperti biasanya.
Mara memang menunggunya. Sudah berminggu-minggu ini ia telah melakukan hal yang sama. Mara selalu mengintip melalui batang pohon trembesi di sisi jalan setapak dan mengamati sosok jangkung itu lewat dengan langkah-langkah tegap dan panjang.
Mara tak pernah berkenalan dengannya. Selama berminggu-minggu ia hanya berani berdiri di tempat yang sama. Di balik punggung trembesi. Tetapi Mara tahu namanya. Beberapa kali cowok itu berpapasan dengan orang lain di jalan setapak ini, dan orang yang mengenalnya menyebut namanya. Wendra.
“Kenapa kamu tidak menyapanya?”
Mara menoleh dengan tatapan sebal pada Riyong, sahabatnya yang sedang duduk di atas batu sambil mengunyah sebatang rumput.
“Kalau kamu nggak menyapanya, dia nggak mungkin menyadari kalau kamu ada. Kalau dia tidak menyadari keberadaanmu, lebih baik kau mulai menoleh padaku Mara.” Riyong menatap Mara dengan cengiran lebar.
“Hampir lucu!” Mara melotot sewot ke arah cowok itu.
Mara lupa sejak kapan ia bersahabat dengan Riyong, tetapi rasanya ia selalu menghabiskan waktu bersama Riyong. Wajar jika Mara tak punya perasaan apa-apa terhadap Riyong. Meski Riyong berpendapat lain. Karena mereka selalu bersama-sama, wajar jika Riyong jatuh hati pada Mara.
“Oke. Sapalah dia. Itu satu-satunya cara agar Wendra menoleh padamu.” Riyong cengiran di wajahnya berubah
Mara melunakkan tatapannya. Ditatapnya punggung Riyong yang menjauh dan lenyap dari tatapannya.
Meski saran Riyong untuk menyapa Wendra membuat Mara grogi setengah mati, tetapi itu hal paling masuk akal yang pernah didengar Mara dari mulut Riyong. Memang sih, kalau Mara nggak memulai untuk menyapa, kapan Wendra akan mengenalnya?
Maka saat bayangan pohon jatuh di tempat yang sama seperti hari-hari biasa, Mara berdiri di balik punggung trembesi seperti biasa. Ia berniat menyapa Wendra hari ini juga. Ini momen paling tepat. Setelah hampir 4 minggu mengintip cowok itu berjalan melewati jalan setapak, kini debut pertama perkenalan adalah menyapanya. Mudah. Sangat mudah.
Cowok itu benar lewat seperti perhitungannya. Mara mengikuti langkah kaki Wendra dengan tatapan matanya. Ia mulai panik.
“Sapa dia cepat! Sapa dia!” Mara berbisik. Berusaha memberi kekuatan pada dirinya sendiri. Lalu sebelum Mara benar-benar siap, mulutnya seolah bergerak dengan sendirinya, “Wendra!”
Mara menutup mulutnya dengan wajah pucat. Ya ampun. Ia sudah memanggil nama cowok itu. Rasanya ia ingin langsung bersembunyi di balik punggung trembesi seperti biasanya, tetapi lututnya sulit digerakkan. Mara berdiri terpaku. Matanya menatap Wendra yang menoleh ke belakang.
Cowok jangkung itu tampak ragu-ragu. Ia mencari-cari asal suara. Lalu melangkah menuju tempat Mara berdiri.
Mara panik. Alih-alih tersenyum menyambut Wendra, ia justru berdiri salah tingkah dan memalingkan muka.
Wendra berdiri tepat di hadapannya. Mara menundukkan wajahnya menatap tanah. Ia menunggu sesuatu dari Wendra. Apa saja. Meski itu kemarahan karena memanggil namanya begitu saja tanpa tujuan.
Mara mendengar helaan napas cowok itu, lalu gumaman yang aneh.
“Sepertinya tadi ada yang memanggil namaku…” suara Wendra terdengar bingung.
Lalu cowok itu mengangkat bahu dan membalikkan badannya perlahan. Menjauhi Mara yang mulutnya terbuka lebar karena keheranan.
“Wah, aku belum pernah melihat kalian sedekat itu dan ternyata ia memang tak bisa melihatmu.” Riyong bersiul takjub. Diukurnya jarak yang tadi memisah Mara dan Wendra. Hanya dua jengkal.
Mara tampak terpukul. “Kenapa kamu menyuruhku untuk menyapanya jika tahu dia nggak bisa melihatku?” ditatapnya Riyong dengan mata berkaca-kaca.
Riyong mendadak terdiam. Ia menatap Mara lekat. “Kalau kamu nggak mau menyapanya, kamu nggak akan percaya kalau cowok yang kamu taksir itu berbeda dunia dengan kita,” sahut Riyong.
“Apa maksudmu?” tanya Mara.
“Kita sudah mati, Mara. Sepeda motor yang kamu kendarai menabrak pohon trembesi ini saat menghindari langkah Wendra. Aku sedang memboncengmu waktu itu…”
“Itu tidak benar!” Mara tampak terkejut.
Riyong tersenyum sedih.

 

Advertisements

One thought on “Di Sebuah Jalan Setapak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s