Artikel Gado-Gado di majalah Femina edisi 20/2014

Bermula dari ‘kelelahan psikis’ yang mau tidak mau harus kualami ketika suamiku menjadi ketua rt, maka aku bertekad akan menuliskannya saat tugas itu paripurna.
Tak tik tuk di depan laptop selama 15 menit, dan langsung kirim lewat surel. Sebulan kemudian Mbak Ratnasanti dari Femina memberitahu kalau artikel ini akan dimuat.

Senengnya pake banget. Ini tulisan kedua yang kukirim ke Femina, dan pertama kalinya dimuat disana. 😊

Ini naskah aslinya, ada beberapa perubahan dari redaksi deh kayaknya.

Ketua RT
Yuniar Khairani

Suami saya terpilih menjadi ketua RT dua tahun yang lalu, berdasarkan suara terbanyak. Itu pertama kalinya ia menjadi ketua RT, sehingga anak-anak bertanya, “Tugas Ketua RT itu ngapain sih, Yah?”
Suami saya menjawab, “Paling hanya rapat, memimpin warga untuk kegiatan tertentu, dan membuat surat-surat pengantar.”
Masuk akal juga. Ketua RT kan aparat terendah dalam pemerintahan. Dibayar juga enggak. Mana mungkin diberi tugas yang berat-berat, pikir saya.
Tetapi pikiran itu ternyata dipatahkan oleh sebuah ketukan keras ditengah malam. Seorang ibu-ibu tetangga kami berdiri dengan gemetar di depan pintu.
“Tolong, Pak. Ada orang yang hendak mengambil mobil saya. Katanya, suami saya berhutang padanya, dan saya yang harus membayar.”
Suami ibu itu sudah berminggu-minggu pergi dari rumah tanpa meninggalkan pesan. Wajar kalau istrinya kebingungan ketika tahu-tahu ada orang yang ingin mengambil mobilnya untuk membayar hutang suaminya.
Sebagai ketua RT, suami saya datang untuk menjadi saksi penangguhan pengambilan paksa itu, paling tidak hingga suaminya ditemukan.
Saya juga baru tahu, kalau ketua RT selalu menjadi penengah ketika ada warga yang bertengkar. Kadang memang bisa diselesaikan, tetapi sering juga tidak karena usia pertengkarannya sudah melalui pergantian 4 ketua RT.
Dari soal parkir mobil tamu tetangga depan rumah yang menghalangi jalan keluar mobilnya, kata-kata kasar yang menyulut makian, sampah yang dilempar sembarangan di depan rumah tetangga, anjing tetangga yang berkeliaran dan membuang kotoran di halaman orang lain, sampai hal paling sepele seperti air cucian mobil yang mengalir ke halaman tetangganya.
Jam pengaduan warga juga nyaris seperti hotline service. Benar-benar 24 jam. Sebuah pertengkaran bisa membuat pintu rumah kami diketuk jam 11 malam, dan suami saya mendengar argumentasi yang sulit diputus, sementara saya mendengar dengan gemas dari balik pintu kamar, kepingin berteriak, “Masa sih masalah begitu saja diributkan?!”
“Paling tidak, masalah yang terjadi hanya seputar tetangga saja, Yah,” saya berusaha menghibur, sementara suami mengiyakan. Eh, tapi ternyata kami salah besar.
Puluhan orang yang tak kami kenal dari berbagai desa mendatangi kami. Menanyakan salah seorang tetangga kami yang memang sudah berminggu-minggu tak terlihat di rumah. Tadinya kami mengira si tetangga sedang pergi karena ada pekerjaan di luar kota, tetapi ternyata orang-orang itu mencari tetangga kami karena mereka telah ditipu. Mereka meminjam uang beberapa juta pada tetangga kami dengan jaminan surat tanah, dan ternyata surat tanahnya dijadikan agunan di bank oleh tetangga kami dengan nilai puluhan kali lipat. Masalahnya, tetangga kami kini melarikan diri, jadi orang-orang itulah yang harus membayar hutang tetangga kami pada bank.
Karena urusan ini, hampir setiap hari orang datang ke rumah kami meski hanya sekedar mengurai kebingungan dengan berbicara dengan Pak RT. Tentu saja, lagi-lagi ketukan pintu di rumah kami tak kenal waktu. Meski begitu, suami saya tetap tak bisa berbuat apa-apa selain memberi foto kopi KTP tetangga kami, yang ternyata terbukti memiliki puluhan nama berbeda, entah bagaimana caranya.
Kesabaran juga dibutuhkan ketika harus menghadapi tetangga yang sulit, terutama dalam soal pembayaran.
“Saya tidak mau membayar kas sosial! Saya juga tidak mau membayar satpam! Saya tidak mempunyai anak balita, jadi saya tidak mau ditarik iuran untuk Posyandu! Saya tidak mau membayar apapun karena tagihan-tagihan ini telah mengganggu keuangan keluarga saya!” teriaknya berapi-api sambil menggebrak meja tamu di rumah bendahara RT, yang langsung lari untuk mengadukan ini kepada suami saya.
Sebagai Ketua RT, suami saya memberi kesempatan tetangga yang ini untuk menyampaikan keberatan pada saat pertemuan warga. “Iuran apapun, bukan Ketua RT yang menentukan, Pak, melainkan kesepakatan bersama dari warga. Satpam juga kita butuhkan untuk membantu kenyamanan dan keamanan lingkungan kita, bukan?”
“Saya tetap tidak mau membayar. Satpam tak perlu lewat di depan rumah saya!” katanya tetap dengan nada berapi-api.
Meskipun suami saya tetap bersabar, terus terang saja kalau boleh, pengen rasanya menggetok kepala tetangga itu. Bagaimana coba cara Satpam berkeliling perumahan kalau tidak boleh lewat di depan rumahnya? Begitu sampai di depan rumahnya, Satpam harus terbang, begitu ya? Antara ingin ketawa dan prihatin.

Advertisements