Hadiah Dari Si Hobi Jahit Untuk Si Hobi Masak.

WP_20150409_001[1]

Adikku yang nomer dua, Nurul Aini, punya kakak ipar bernama Zahrotun Nisaa.

Zah, ia biasa dipanggil, menurutku Zah ini seperti Midas. Tahu dongeng Midas dong ya? Itu, seorang raja yang bisa menyentuh semua benda dan menjadikannya emas. Nah, Zah ini punya tangan emas setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang berbau crafting. Beri dia kain, pita, dan benang, maka sesuatu yang cantik akan menjelma di depan mata kita.

Keponakanku, si Hayun, yang juga keponakannya, paling bisa melihat keahlian budenya itu. Selagi ia tergila-gila dengan Frozen, Bude Zah nya nurutin bikin segala macam merchandise Frozen yang nggak bakalan ada duanya di toko manapun. Bukan hanya dari bentuk, tetapi juga dari perwujudan kasih sayang antara bude Zah dan keponakannya yang centil, Hayun.

Ini hadiah bude Zah buatan keponakannya Hayun,.
Ini hadiah bude Zah buatan keponakannya Hayun,.

Nah, suatu hari Zah bilang ke aku (waktu itu aku kayaknya lagi terkagum-kagum sama salah satu jahitannya)

“Mbak, kapan-kapan tak bikinin celemek ya.”

Aku tuh sebenarnya lumayan hobi sama masak memasak, dan lumayan jorok juga karena tiap bikin apapun, yang namanya kuah, tepung, minyak, atau bahan-bahan lain suka belepotan aja ke baju. Udah berencana sih beli celemek, tapi emang belum nyempatin beli beneran. Ditawari dibikinin celemek, tentu aja aku udah seneng aja dengernya.

Eh, kemarin adikku, Nurul, wasap ngasih tau kalau kiriman dari Zah ini datang.

IMG-20150408-WA0001[1]

Baru hari ini dia sempet bawain ke rumah…dan ya…ampuun…alhamdulillah…ini celemek bener-bener baguuuus. Kainnya haluuus, motifnya oke baaangeett, dan aku nggak tega mau berjorok-jorok saat memasak dengan celemek ini.

Adik iparku si Iqbal (adiknya Zah) bilang, “Paling-paling celemek itu cuma buat selfie aja.”

Hahahaha…

Baiklah, sepertinya begitu. Ini buktinya ..

IMG-20150409-WA0001[1]

Eh ya nggak ding. Celemek ini tetep bakal aku pakai tiap memasak. Memasak di dapur pun tetep harus kelihatan cantik kan ya… hehehe…

Tapi mungkin aku nggak akan terlalu jorok lagi kayak biasanya.

Makasih baaangeeet ya Zah. Ini kado paliiing istimewa dari Si Hobi Jahit buat Si Hobi Masak.

 

Advertisements

Parenting_Milikku Tak Boleh Dibagi

Memiliki adalah sebuah kesadaran yang tumbuh pada diri anak akan eksistensinya. Baginya benda-benda yang diberikan untuknya adalah dunianya. Rasa amannya kadang bergantung pada benda-benda yang biasa dilihatnya. Kalau ada pigura bergambar Eeyore di meja itu berarti kamarku, kalau mobil-mobilan yang itu patah roda depannya itu milikku, dan sebagainya. Tak selalu benda itu bagus tetapi kata ‘milikku’ menjadikan rasa aman bahwa dirinya dicintai dan dianggap istimewa.

Karenanya jika ada anak lain yang datang ke ‘wilayah’nya dan tiba-tiba meminta bagiannya untuk turut serta dalam permainan yang selama ini menjadi miliknya sendiri anak menjadi sangat protektif pada benda-benda itu. Pada saat-saat yang dianggap genting oleh si anak, peristiwa itu kadang dipandang sepele oleh orang tua. Kita kadang berdiri sambil memandang tak setuju.

“Adri, coba pinjamkan mainanmu sebentar pada Qila. Ayo jangan pelit.”

Lalu si anak akan membalas pandangan itu dengan harga diri yang terluka dan semakin memperebutkan benda yang di depan mereka. Biasanya pada Ibu-ibu yang memberi atensi berlebih akan segera membela anaknya masing-masing dan segera terjadi bahwa si pemilik mainan yang akan dikorbankan demi bersikap sopan dan bagi anak permainan itu apapun yang telah diperebutkan menjadi tidak menyenangkan lagi karena campur tangan berlebih orangtua.

Kata pelit, dalam hal ini adalah kata terlarang yang harus dihindari. Tak ingatkah kita bahwa kita juga benci jika ada yang meminjam sepatu yang baru dua hari kita beli, atau meminjam gaun kita yang meski telah lama itu adalah kado pertama dari suami setelah menikah? Anakpun tak berbeda dengan kita. Selama ini bermain adalah keseluruhan dunianya. Alangkah sulit dan mengagetkan jika dia harus membagi apa yang selama ini menjadi miliknya sendiri pada orang lain yang jelas-jelas punya minat yang sama dengannya.

Tetapi bagaimanapun seorang Ibu harus bisa mengajarkan cara berbagi. Katakan pada anak bahwa dengan berbagi boneka, misalnya, tidak akan merusak kebahagiaannya bermain. Mintalah anak memegang boneka yang lain dan katakan bahwa Ibu bangga anaknya mau berbagi. Tetapi jangan lupa berikan waktu untuk mengatur lamanya anak harus bergantian.

“Kalau sudah 3 menit, kalian harus bertukar ya” (Waktu yang bisa ditoleransi oleh anak usia 3 tahun adalah 3 menit). Anak seusia mereka biasanya belum mengetahui waktu, maka putarlah timer pada telepon seluler untuk memperdengarkan pergantian gilirannya. Kalau dengan cara itu mereka masih berebut, dampingi anak-anak bermain. Biasanya dengan adanya orangtua disamping mereka, mereka akan berusaha mencari penyelesaian sendiri, dengan catatan bahwa orang tua dapat menahan diri untuk ikut campur.

Kadang yang terjadi adalah anak yang lebih kecil berebut dengan anak yang lebih besar, jika yang terjadi demikian biasanya adalah anak yang lebih kecil tertarik dengan mainan yang dipegang oleh anak yang lebih besar. Mintalah anak yang lebih besar untuk mengalah dan beri waktu 2 menit untuk anak yang lebih kecil untuk memegang mainan itu. Biasanya pada anak yang lebih kecil, jika rasa ingin tahunya untuk memegang benda itu sudah terpenuhi dia akan melepas dengan mudah dan cepat tanpa menoleh lagi. Maka beri pengertian anak yang lebih besar untuk bersabar dan beri dia pujian jika berhasil menunggu tanpa merasa kesal.

Ada kalanya kedua cara itu justru tak berhasil untuk anak yang lebih besar. Jika setelah Ibu menunggu dan mencoba mainan yang sama terus diperebutkan dengan cara yang kasar, mendekatlah ke arah mereka dan berada sejajar sebelum berkata, “Bergantianlah atau mainan ini akan disimpan sampai kalian memutuskan untuk berbagi.” Dengan ‘ancaman’ itu biasanya mereka akan bernegosiasi dengan cara yang benar.

Berbagi merupakan keahlian yang sangat penting untuk anak. Karena dalam perkembangan selanjutnya kemampuan berbagi akan memberi arah baik pada kemampuan bersosialisasi dan bersikap rasional.

Maaf Sebenarnya Tidak Terlalu Sulit

WP_20140425_005

Di sebuah kerajaan tinggallah Puteri yang manis dan lucu bernama Puteri Kira. Dia selalu menghibur orang lain dengan canda tawanya. Sayangnya Puteri Kira sulit mengucap kata maaf jika melakukan kesalahan.  

Pernah suatu hari saat istri Perdana Menteri mengundangnya minum teh, Puteri Kira tak sengaja memecahkan hiasan kristal di sudut ruangan. Istri Perdana Menteri sangat sedih melihat hiasan kesayangannya pecah. Sayangnya, Puteri Kira tak berkata apa-apa. Dia tidak meminta maaf sedikitpun.

Puteri Kira juga pernah melemparkan sepatu Bu Mona Koki Istana ke atas pohon dan menyangkut disana. Sebenarnya Puteri Kira tak bermaksud usil atau nakal. Dia hanya ingin menolong Bu Mona mengejar kucing yang mencuri ikan dari dapur istana. Tadinya dia berpikir untuk melempar kucing dengan batu tetapi tiba-tiba dia melihat sepatu Bu Mona tergeletak tak jauh dari sana dan langsung saja dia melemparkan sepatu Bu Mona ke arah kucing yang berada di atas pohon. Kucing yang dilempar tak kena sasaran tetapi sepatu Bu Mona tersangkut di tempat paling tinggi dan tak bisa diambil lagi. Bu Mona tercengang melihat kejadian ini. Puteri Kira pun tak kalah kagetnya, “Wah, rupanya anda kehilangan sepatu, Bu Mona,” katanya. Tanpa meminta maaf sedikitpun. Bu Mona sangat kecewa. Sebenarnya dia ingin mendengar kata ‘maaf’ dari Puteri Kira.

Wida, anak Tukang Kebun Istana sahabatnya selalu mengingatkan, “Kalau kau membuat kesalahan janganlah lupa meminta maaf, Puteri Kira. Karena betapapun manis dan lucunya kau orang akan marah padamu bila kau tak mau meminta maaf saat berbuat kesalahan,” tetapi Puteri Kira hanya tersenyum-senyum. Tak terlalu menanggapi nasehat Wida dengan serius.

Bahkan dia mengulanginya lagi dengan menggoda Puteri Biana kakaknya. Puteri Biana meninggalkan sepotong kue coklat untuk dimakannya setelah makan siang. Tetapi tanpa sepengetahuan Puteri Biana, Puteri Kira memakannya dan mengganti kue coklatnya dengan tanah liat. Wah! Nakal sekali ya? Saat Puteri Biana tahu, dia sangat marah. Tetapi Puteri Kira hanya tertawa terbahak-bahak, “Kakak ini tidak bisa diajak bercanda,” katanya geli. Atas kenakalannya dia tak meminta maaf sedikitpun.

Pada suatu siang, Wida mengajak Puteri Kira bermain di taman. “Ayo Puteri kita bermain di taman. Ayahku membuatkan ayunan yang kuat untuk kita.” Betapa senangnya Puteri Kira. Dia berlari-lari bersama Wida menuju ayunan yang dimaksud. Sampai disana Puteri Kira langsung menaiki ayunannya dan mendorong tubuhnya kencang-kencang. Dia tertawa-tawa gembira.

“Ayo Wida! Giliranmu sekarang!” kata Puteri Kira sambil meloncat turun dari ayunan. Wida menaiki ayunan dan mendorong tubuhnya perlahan.

“Ayo ayun lagi Wida. Kamu penakut sekali,” ejek Puteri Kira.

“Aku hanya tidak mau mengayun terlalu kencang, Puteri Kira. Itu berbahaya,” katanya tenang. Tetapi tanpa mempedulikan ucapan Wida, Puteri Kira terus mendorong ayunan Wida.

Sambil tertawa-tawa Puteri Kira terus mengayun dan mengayun lebih kencang. Tak dipedulikannya sahabatnya menjerit ketakutan meminta tolong.

“Hentikan, Puteri! Hentikan!” serunya memohon.

Puteri Kira memutuskan untuk berhenti mendorong melihat Wida benar-benar ketakutan. “Ah, sekali lagi lalu aku akan berhenti mendorong,” kata Puteri Kira dalam hati. Didorongnya lagi ayunan Wida untuk terakhir kalinya dengan lebih keras.

Tapi tanda diduga Wida ikut meluncur ke udara bersamaan dengan ayunannya dan jatuh ke tanah setelah sebelumnya kepala Wida membentur batu. Betapa kagetnya Puteri Kira ketika melihat sahabatnya jatuh dan terluka. Melihat Wida tak bergerak Puteri Kira berlari mencari pertolongan. Para pengawal dan Pak Hori ayah Wida segera berlari menghampiri Wida.

Berbeda dengan Puteri Kira. Dia justru berlari menjauh. Dia sangat ketakutan dan menyesal. Dia tahu bahwa Wida jatuh karena kesalahannya dan dia seharusnya mempertanggungjawabkan perbuatannya tetapi dia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Hari demi hari berlalu. Puteri Kira belum sekalipun menjenguk Wida. Dia hanya tahu kabar Wida dari para koki istana. Wida mulai sembuh meski dahinya luka dan dia harus banyak beristirahat. Puteri Biana kakaknya bertanya dengan heran kenapa dia tak juga menjenguk Wida. Puteri Kira mengungkapkan banyak alasan tetapi sebenarnya adalah dia tak tahu bagaimana harus mengucapkan kata ‘maaf’.

Puteri Kira berusaha tidak peduli. Lama-lama Wida akan sembuh dan mulai berteman lagi dengannya, pikirnya, dengan begitu dia tak perlu meminta maaf. Tetapi ternyata setelah sembuh Wida lebih memilih bermain di luar istana bersama anak-anak lain. Puteri Kira tetap sendirian. Dia sangat merindukan Wida tetapi tak tahu bagaimana memulai berteman kembali tanpa meminta maaf. Maaf itu ternyata sangat sulit diucapkan, keluhnya.

Akhirnya karena tidak tahan Puteri Kira memutuskan untuk mendatangi sahabatnya.

“Apa kabar?” tanyanya kaku.

Wida mengangguk, “Baik,”sahutnya.

“Sudah sehat?” tanyanya lagi.

Wida mengangguk lagi dan mulai beranjak pergi, “Aku ditunggu teman-temanku,” katanya.

Puteri Kira tak tahan lagi, “Maaf. Aku minta maaf!” teriaknya.

Wida kelihatan terkejut. Puteri Kira pun tak kalah terkejut mendengar suaranya sendiri.

Wida tersenyum dan memeluk Puteri Kira sahabatnya. “Aku sudah memaafkan,” ujarnya. Puteri Kira sangat lega mendengarnya. Dia sendiri heran ternyata mengucapkan maaf tak sesulit yang dia bayangkan.

 

pernah dimuat di majalah Bobo

 

Uji Nyali di Rumah Sendiri

Rumah yang kutempati sejak kecil sampai sebelum menikah, adalah sebuah rumah joglo kuno di Kotagede yang dibangun tahun 1864. Banyak orang menganggap rumah kuno menyeramkan. Bukannya menolak anggapan itu, tapi bagiku yang tinggal di dalamnya mau tidak mau akhirnya terbiasa juga.

Kata kakekku, semua makhluk hidup berdampingan. Nah, mungkin saking akrabnya, makhluk lain penghuni rumah joglo itu ikut mengingatkan shalat saat waktu Maghrib tiba. Kalau yang belum shalat ada dua orang, jendela di ruang bernama senthong tengen, akan terbanting dengan sendirinya sebanyak dua kali. Kalau yang belum shalat ada tiga orang, ya terbantingnya tiga kali, dan seterusnya. Bagi yang nggak terbiasa pasti akan terbirit-birit ketakutan, tapi nyatanya kami bisa menerima cara mengingatkan yang cukup aneh itu sebagai kenyataan. Aku menyebutnya uji nyali

Makhluk lain ini juga senang bercanda.

Aku ingat dulu saat masih remaja, tiduran di atas tempat tidur sambil mendengarkan lagu Tommy Page Shoulder to Cry On dengan volume pol.

Everyone need… a shoulder to cry on..

Everyone need… a friend to rely on…

Aku ikut bernyanyi keras-keras ketika tiba-tiba tempat tidurku bergoyang. Refleks aku melihat ke arah lampu untuk memastikan apakah yang barusan karena gempa atau bukan. Tapi ternyata lampu tak bergerak sedikitpun.

“Wah, ada yang usil nih,” pikirku sambil melongok ke bawah tempat tidur, yakin banget kalau adikku akan kutemukan sedang meringis di kolong. Tapi ternyata tidak ada seorangpun disana.

Aku mulai was-was. Sambil melompat turun dari tempat tidur, aku mencoba menggoyangkan sendiri tempat tidur itu agar aku bisa mengetahui sejauh mana goyangan yang bisa kubuat. Ternyata? Tempat tidur kayu jati itu tidak bergeser sedikitpun saat kugoyangkan.

Jangan ditanya merindingnya bulu kudukku saat itu. Aku langsung lari tunggang langgang meninggalkan Tommy Page menyanyi sendirian. Oke deh, aku memang menganggapnya bercanda setelah kejadian itu lewat dua puluh tahun kemudian. Tapi saat itu tentu aku sangat ketakutan.

Keisengan makhluk lain ini, nggak terbatas pada penghuni rumah, tetapi juga tamu-tamu yang menginap. Yang paling sering adalah, tengah malam si tamu akan bangun karena mendengar suara-suara riuh orang-orang sedang berkumpul di pendopo. Seperti sebuah pertemuan besar. Nah, kalau si tamu berjalan ke arah pendopo maka yang didapatinya adalah pendopo gelap, lengang, dan tentu saja tak ada pertemuan apapun yang sedang berlangsung.

Takut? Herannya tidak. Semua tamu yang kami interogasi setelahnya hanya mengaku merinding sedikit, tetapi ya sudah, cuma begitu saja dan kembali tidur lagi seperti nggak terjadi apa-apa.

Teman-teman masa kecilku, juga menjadi saksi kalau makhluk lain yang tinggal di rumah ini tidak menyeramkan. Tapi tetap saja teman-temanku tak suka dengan mereka. Lho, kenapa? Tentu saja, karena dengan adanya makhluk lain ini, nggak ada yang bisa mengambil jambu air, mangga, jambu monyet, dan buah lain tanpa ijin, karena setiap ada anak yang berusaha mengambil tanpa ijin, sudah pasti makhluk lain ini menimpuki kepala mereka dengan buah-buahan itu tanpa ampun.

Setelah menikah, aku tidak lagi tinggal disana. Kami berdua membeli rumah di desa kecil beberapa kilometer dari Yogyakarta. Rumah kami berarsitektur modern minimalis, pokoknya jauuh dari gaya rumah joglo yang rumit dan berkesan tua. Tapi apakah dengan pindah ke rumah baru, makhluk lain menjadi bagian dari masa lalu? Ternyata nggak samasekali.

Seminggu pertama setelah pindah, aku mulai mendengar suara kaki anak kecil berlarian berkeliling rumah. Kukira tadinya aku yang salah dengar, karena waktu aku menanyakannya pada suamiku, dia menggeleng. “Aku nggak dengar apa-apa tuh.” Oh, baiklah. Jadi hanya aku saja yang mendengar.

Uji nyali yang kupikir akan berhenti setelah tak lagi tinggal di rumah joglo tua berusia lebih dari seabad, pupus sudah. Bukan hanya suara kaki kecil berlarian, tetapi juga suara desah nafas saat tak ada seorangpun di rumah selain aku, dan… yang terakhir, tempat tidurku di rumah ini bergoyang saat aku mendengarkan lagi lagu Shoulder to Cry On nya Tommy Page. Entah apa yang dipikirkan makhluk-makhluk lain itu, aku benar-benar tidak tahu.

Sesekali aku masih pulang ke Kotagede. Dan meski tak ada seorangpun disana, aku akan mengucap salam. Karena pernah sekali aku datang tanpa salam dan mengambil piring-piring almarhum ibu, sampai di halaman kedua spion sepeda motorku sudah berbalik arah 180 derajat ke arah depan.

Takut? Tidak juga.

Merinding? Hampir pasti. Tapi bagaimana lagi, aku kan menyebut ini sebagai uji nyali.

 

 

 

Seorang Wanita Berhati Surga

Tulisan ini ada di buku Wonder Women
Tulisan ini ada di buku Wonder Women

: lima belas tahun yang lalu

 

Sebut saja namanya Mbak Ginuk. Dia adalah seorang penjual ayam goreng yang berkeliling dari rumah ke rumah, mulai dari jam 10 pagi, setiap hari selain hari Minggu. Wanita itu berjalan menuntun sepeda bututnya, dengan keranjang berisi ayam goreng dalam kardus, dan berteriak, “Ayam gor-reengg!” setiap sepuluh detik sekali.

Mbak Ginuk tak pernah menaiki sepedanya. Tadinya aku mengira kalau wanita itu sengaja menuntun sepedanya agar tak ada seorangpun terlewat saat dia sedang menawarkan dagangannya, atau dia tak menaiki sepedanya karena takut keranjangnya yang berat di kanan dan kiri terjatuh tanpa disadarinya, atau berbagai alasan lain yang mirip dengan alasan yang kupikirkan. Tetapi ternyata aku keliru. Mbak Ginuk tetap menuntun sepedanya saat sore hari, ketika keranjang di kanan dan kirinya telah kosong, dan dagangannya telah habis terjual.

Dengan penasaran aku menanyakan padanya, sebuah pertanyaan usil yang kuberikan padanya setelah aku membeli separuh ayam goreng, sambal, dan lalap dalam kotak kardus berwarna putih. “Mbak Ginuk nggak capek nuntun sepeda kemana-mana? Kenapa nggak dinaikin saja? Kalau pulang jualan kan keranjangnya sudah kosong. Disuruh nuntun terus ya sama dukunnya?” godaku.

Mbak Ginuk terkekeh. Wanita itu menatapku dengan mata kanannya yang terpicing, bukan sengaja memicingkan mata padaku, melainkan mata kanannya memang terpicing sejak dia masih bayi, begitu katanya. “Mbak Niar ini lucu. Masak disuruh sama dukun? Orang Islam nggak boleh pergi ke dukun, Mbak.”

“Nah, lalu kenapa kok dituntun terus?” tanyaku penasaran.

Mbak Ginuk tertawa dengan wajah memerah. Saat tertawa, mata kanannya benar-benar hanya tampak seperti sebuah garis. “Saya nggak bisa naik sepeda, Mbak. Jadi kemana-mana ya harus dituntun begini.”

Oh. Aku tersenyum. Geli campur haru.

Karena tahu akan hal itu, aku jadi lebih sering memaksa ibu membeli ayam gorengnya. Tak apa. Ayamnya juga enak kok. Mbak Ginuk memasaknya dengan bumbu yang meresap hingga ke tulang. Kalah deh Pak Kolonel dari Amerika itu.

Mbak Ginuk memiliki seorang anak laki-laki berumur 8 tahun. Setiap kali ada yang menanyakan tentang anaknya, mata wanita itu bersinar bangga saat menjawabnya. Kurasa itu wajar. Anak lelakinya adalah anak yang baik, patuh, dan sangat menyayanginya. Aku pernah mendengar Mbak Ginuk bercerita pada ibu kalau anak lelakinya mau mengeroki punggungnya jika dia kelelahan dan masuk angin.

Untuk anaknya juga kurasa, Mbak Ginuk berusaha bekerja keras. Mbak Ginuk tak bisa mengandalkan suaminya begitu saja karena pria itu sering meninggalkan rumah begitu saja dan pulang tanpa membawa uang. “Bapaknya tole (sebutan untuk anak lelaki) itu masih berusaha mencari pekerjaan, jadi saya harus prihatin dulu,” ucapnya dengan suara lembut yang riang seperti biasanya. Tak sedikitpun tampak kekesalan pada wajahnya.

Mbak Ginuk adalah salah satu orang tersabar yang pernah kukenal. Dia tak keberatan dengan tingkat keprihatinan yang barangkali sulit dijalankan orang lain. Pernah suatu hari dia harus kehilangan berkotak-kotak ayam gorengnya di tempat parkir di depan pasar saat dia mengantarkan pesanan. Saat kembali dan mengetahui ayamnya telah menghilang, dia hanya memejamkan mata untuk menghilangkan marah, dan berhasil meyakinkan dirinya sendiri kalau ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan ayam goreng itu dibandingkan dengan dirinya. Subhanallah. Kata ibu aku jelas harus belajar banyak dari ceritanya, mengingat aku bisa saja kehilangan kesabaran hanya karena lauk di meja makan sudah didahului orang lain.

Sampai suatu hari Mbak Ginuk tak lewat lagi. Dia tak pernah berkeliling lagi dari rumah ke rumah, tak pernah menuntun sepedanya, bahkan tidak juga meski tanpa sepedanya. Dia tak kelihatan sama sekali.

Aku bertanya pada ibu. Bukan menanyakan Mbak Ginuk sebenarnya, melainkan ayam gorengnya. Aku benar-benar merasa kehilangan ayam gorengnya, dengan sambal bajak yang nikmat, dan lalapan yang selalu segar. Tetapi ibu sama saja sepertiku, tak tahu.

Seminggu menjadi dua minggu, kemudian tak terasa menjadi sebulan.

Setelah lewat sebulan, ibu mendengar sebuah kabar tentang Mbak Ginuk, dan menceritakannya padaku.

“Apa?!” tanyaku terkejut.

“Itu benar,” bisik ibuku.

Oh. Aku mengerutkan kening. Sedih dan gusar.

Mbak Ginuk tak berkeliling untuk berjualan karena masuk rumah sakit. Matanya bengkak dan bola matanya hampir keluar, tulang pipinya retak, dan gigi depannya rontok dua buah. Bukan, bukan mata kanannya yang bengkak melainkan mata kirinya, hingga kini dia kesulitan melihat. Tulang pipinya yang retak juga harus dirawat penuh oleh dokter. Giginya juga telah ditangani dokter gigi, meski kata dokter gigi dia harus merelakan dua giginya hilang sebelum waktunya. Semua terjadi karena suaminya. Pukulan suaminya.

Tak ada seorangpun yang menjenguk Mbak Ginuk. Sakit yang dialami karena kekerasan rumah tangga mungkin tak enak jika harus dijenguk. Barangkali suaminya akan lebih naik darah kalau perhatian orang-orang jatuh pada Mbak Ginuk. Karena perhatian yang diterima, berarti adalah penyalahan atas perbuatan suaminya. Akhirnya agar tak menjadi lebih runyam, ibuku, juga ibu-ibu yang lain, bersepakat tak akan datang ke rumahnya.

Saat Mbak Ginuk kembali bekerja, dan berhenti tepat di depan ibu-ibu yang sedang berkumpul, dan aku berada di dekat mereka, aku terpaksa tercekat ketika melihatnya. Kupejamkan mata sesaat. Tak tahan melihat bola mata kiri Mbak Ginuk yang seperti agak mencuat keluar, dengan warna putihnya yang kemerahan, seolah darah telah merembes kesana. Ditambah lagi dengan wajahnya yang rasanya lebih miring, dan mulutnya yang kosong karena dua gigi depannya menghilang. Tadinya kukira dengan mata kanan yang selalu terpicing saja sudah parah, tetapi ini lebih lagi. Wajahnya benar-benar menyedihkan.

Dengan penuh simpati, ibu-ibu menanyakan, bagaimana kabarnya. Berharap mendengar cerita versi lengkap dengan keluhan dan sedu sedannya. Tetapi semua harus menggigit jari karena Mbak Ginuk hanya tersenyum.

Dengan wajah seperti itu Mbak Ginuk berkata pada ibu-ibu kalau dia tak apa-apa. Alhamdulillah masih diberi kesehatan dan kekuatan, begitu dia bilang. Tuhan benar-benar Maha Adil, katanya.

Adil? Keadilan apa yang disadarinya dari wajah miring, gigi ompong, dan bola mata yang mencuat itu?

Dia merasa Tuhan itu adil karena di saat kejadian itu, anak lelakinya yang masih berumur 8 tahun, maju di depannya, melindunginya. Si pendiam itu berteriak pada bapaknya untuk berhenti, dan suaminya berhenti memukulinya. Tuhan Maha Adil karena, kalau tak ada anak lelakinya mungkin dia sudah mati terbunuh di tangan suaminya sendiri.

Dia merasa Tuhan itu adil karena meski telah mengalami hal sesulit itu, dia masih bisa sembuh dan kembali bekerja untuk menghidupi anaknya. Dia ingin mengumpulkan uang agar anak lelakinya masuk pesantren, katanya.

Dia juga merasa Tuhan itu adil, karena setelah peristiwa itu, suaminya ditahan polisi karena laporan dari tetangga-tetangga. Biarlah itu juga menjadi pelajaran baginya, katanya.

“Lalu bagaimana kalau suami Mbak Ginuk sudah keluar? Kembali kemana dia nanti?” tanya seorang ibu.

“Ya tentu ke rumah saya,” senyum Mbak Ginuk, “dia kan suami saya.”

Wanita itu tak dendam, karena katanya, semua orang memiliki tanggung jawabnya sendiri di dunia. Siapa yang bisa menjalankan sebaik-baiknya, dialah yang terbaik di mata Sang Pencipta. Tanggung jawabnya adalah menjadi ibu yang baik bagi anaknya dengan cara bekerja keras untuk menghidupinya, dan menjadi istri yang baik dengan cara bersabar.

Cukuplah baginya apa yang diterimanya dan harus diperjuangkannya di dunia. Dia tak akan mengeluh, tegasnya.

Kami menelan ludah dengan kecewa. Jelas kami tak akan mendapat tambahan gosip hangat dari korban kekerasannya secara langsung. Tetapi sebenarnya, tambahan cerita seberapapun tak akan pernah mengenyangkan siapapun yang mendengarnya, hanya akan menambah beban orang yang menjalaninya.

Bersama yang lain aku memilih ayam goreng yang akan kubeli, dan membayarnya cepat-cepat. Mbak Ginuk mengumpulkan lembaran-lembaran uang yang diterimanya dengan wajah riang. Tak ada yang lebih membahagiakannya selain dapat bekerja demi kehidupan yang lebih baik, bagi anak satu-satunya.

Saat Mbak Ginuk berpamitan dan kembali meneruskan langkahnya menuntun sepeda, kutatap punggungnya lekat-lekat. Kukagumi wanita itu karena kesabaran dan kekuatannya. Dalam setiap langkahnya, ada harapan untuk menjadikan diri dan keluarganya menjadi lebih baik dari sekarang. Dalam setiap harapannya tersimpan doa yang dikirimkan melalui kesabaran dan ikhlas, menerima dengan terbuka setiap putusan Tuhan baginya.

Aku terus menatap langkahnya yang menjauh. Di depan sana ada sebuah tikungan dan dia akan berbelok ke sana. Sebelum membelokkan sepedanya, tiba-tiba dia menoleh kembali ke arah kami.

Mbak Ginuk tersenyum ketika melihatku masih menatapnya. Dia tersenyum dengan dua gigi depannya yang menghilang, wajah miringnya yang entah kapan akan kembali seperti semula, dan sepasang mata yang begitu berlainan—satu seperti menghilang dan satu lagi berjejalan seperti ingin keluar.

Seharusnya aku iba melihatnya, tetapi melihat langkah tegapnya, juga senyumnya menatap dunia, aku tahu aku tak dapat merasa iba. Justru dialah orang yang beruntung di dunia. Karena dalam hatinya, Mbak Ginuk telah menciptakan surga.

 

 

 

 

 

Dunia Kata-Kata Shadra

Nggak terasa anak yang dulu kugosipin dalam tulisan ini, sekarang udah gede banget… hampir 14 tahun.  Semoga saja dia nggak iseng buka-buka blog ini dalam waktu dekat. hahahaha…

Ini fotonya waktu umur 5 tahun.

DSC03344

Saat anak sulungku, Shadra, berumur 2,5 tahun, dia telah belajar kata-kata beberapa langkah lebih cepat dibanding dengan teman-temannya. Mungkin itu juga karena dia terlambat belajar berjalan. Kata orang-orang tua jaman dulu, kalau anak terlambat berjalan biasanya dia berbicara lebih cepat. Barangkali itulah yang terjadi dengan anakku.

Senang juga rasanya mempunyai anak yang pintar bicara. Paling tidak, karena dia sudah dapat berbicara dengan jelas, aku tak pernah keliru mengartikan kata-katanya. Jadi tidak mungkin terjadi aku mengambilkannya ‘beras’ karena dia meminta ‘gelas’, misalnya.

Kami, aku dan suamiku, juga merasa terhibur mendengar celotehannya yang bermacam-macam. Di usianya saat itu, dia sudah bisa menyusun cerita sederhana dengan runtut. Dia sudah bisa bercerita, dengan siapa hari itu dia bermain dan apa yang dimainkannya, misalnya.

Tetapi tak jarang juga, kepandaiannya berbicara membuatku kerepotan. Sebagai gambaran, waktu itu kami mengontrak rumah di sebuah lingkungan perumahan yang padat penduduk. Rumah di daerah itu kecil-kecil, dan tembok kami menyatu dengan tembok tetangga. Suara ketukan kecil di dinding saja bisa terdengar sampai rumah tetangga. Dan kadang-kadang itu menjadi salah satu masalah.

Pernah suatu pagi, Shadra telat bangun. Ayahnya sudah ke kantor pagi-pagi sekali, dan aku sedang mandi. Begitu dia membuka mata, tak ada seorangpun yang ditemuinya, dan yang didengarnya hanya suara gayung cebar-cebur di kamar mandi. Dia sih tidak menangis. Shadra hanya bangun dan melangkah ke arah kamar mandi, menghampiri suara gayung yang didengarnya.

“Ibuuu…,” panggilnya.

“Ya, Nak. Sebentar yaa,” kataku dari kamar mandi. Sabun masih belepotan di wajahku, dan sampo masih berbusa di kepalaku.

“Ibuuu!” teriaknya keras. Dia mengetuk pintu kamar mandi dengan kepalan kecil tangannya.

“Iya, iyaa… sabar yaa,” ucapku lagi, masih sibuk menggosok wajah.

“Ayaaah…,” teriaknya sama keras dengan tadi.

Lho! Kok jadi manggil ayah?

“Ayah ke kantor, Nak,” bujukku dari dalam kamar mandi sambil mengguyur wajahku dengan air.

Shadra tak sabar mendengarnya. Bujukanku sama sekali tak menenangkannya. Anak itu justru tambah keras memukul pintu kamar mandi yang terbuat dari seng. Bang! Bang! Bang!

“Ibuuuu! Ayaaaahhh!” teriaknya seperti memanggil dalam jarak 20 meter. “Bukaaaiinn kamaal mandinyaaaaaa…”

Glek. Aku terpaku mendengarnya. Suara cekikikan yang jelas-jelas kudengar dari arah dapur tetangga sebelah membuat wajahku merah padam. Aduuuuh! Gawat! Mereka pasti mengira aku sedang di dalam kamar mandi bersama dengan suamiku dan meninggalkan anakku yang malang di depan pintu, membiarkannya memanggil-manggil kami.

“Naakk… Ayah pergi ke kantoooorr!” sahutku dengan suara keras, agar tetangga mendengar. “Ibuu sendiriaaannn di kamar mandiii!”

“Hwaaaa…!” Gawat. Dia mulai menangis karena merasa dibentak. “Ibuuu! Ayaaah! Bukaiin pintunyaaa! Aku mau masuuk…”

Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Payah nih. Tidak ada cara apapun yang bisa membuat tetangga-tetanggaku tahu kalau anakku bukan ‘anak-malang’ yang ditinggal berduaan di kamar mandi, kecuali aku harus cepat-cepat keluar setelah menyingkirkan semua busa ini dari rambutku. Byuuuurrr…

Setelah insiden gedoran kamar mandi selesai, bukan berarti tak ada lagi yang terjadi. Shadra ini, justru karena masih kecil maka dia begitu jujur dan polos. Bagi orang dewasa seperti orangtuanya, kejujurannya kadang merepotkan.

Suatu hari setelah berbelanja, aku mendapati bawang merah yang kubeli dari tukang sayur ternyata tak semuanya kering. Ada beberapa yang telah membusuk, padahal harganya cukup tinggi saat itu. Udangnya juga sebagian tak segar, dan dicampur begitu saja dengan udang yang bagus dalam satu plastik yang sama.

Aku kesal melihatnya, dan berkata pada suamiku. “Lihat, Yah. Kadang orang mau untung cepat, tapi merugikan orang lain. Barang busuk semua begini dijual,” ungkapku kesal. Padahal sih yang busuk sebenarnya tidak semua. Tomat dan bayam yang kubeli juga masih segar tadi. Aku hanya ingin berkata kalau seharusnya penjual tak membiarkan barang busuk sampai ke tangan pembeli.

Suamiku mengangguk penuh simpati, dan Shadra juga meniru ekspresi wajah ayahnya. Tetapi esoknya, semua yang terjadi di luar dugaanku.

Saat ibu-ibu berkumpul di depan untuk membeli sayur, tiba-tiba pahlawan kecilku ini menyeruak menerobos kaki ibu-ibu yang lain. Dengan wajah serius dia berkata pada si penjual sayur. “Kemalin, udangnya busuk, bawangnya busuk, tumatnya busuk, semua busuk.”

What???

Ibu-ibu tetangga mulai tertawa mendengarnya. Sementara warna merah mulai menjalari wajahku, juga wajah penjual sayur.

“Apa yang busuk?” mata si penjual sayur menatapku. Wajahnya tak terima.

“Oh, eh. Bawang, sedikit,” ujarku tak enak. “Udang juga, sedikit.”

“Busuk. Semua,” Shadra menimpali dengan serius.

Kugendong anakku cepat-cepat.

Penjual sayur berwajah galak itu mulai merepet. Dia mengomel panjang lebar tentang dia juga korban dan bukan orang yang bersalah, dia hanya mendapat barang itu dari pasar dan penjual di pasarlah yang tidak jujur, dan terakhir dia mengatakan di musim hujan begini bawang merah memang tak semua bagus. Semua bukan salahnya, dan tentu aku seharusnya tak mengajari anakku yang masih balita mengatakan dagangannya busuk.

Ap-paa??? Oh, ini benar-benar kacau. Mana mungkin aku mengajari anakku untuk menyerangnya? Memangnya aku komandan pasukan khusus? Meski aku menjelaskan padanya hingga jungkir balik sirkus, dia tak akan percaya sedikitpun pada kata-kataku. Baiklaaah…

Tetapi kadang kupikir-pikir, anak memang hanya merekam kejadian di sekitarnya, yang dilihatnya. Akulah yang harus lebih berhati-hati supaya tak membuatnya melihat atau mendengar sesuatu yang bisa ditirukannya, atau diceritakannya pada orang lain.

Sayangnya, tak setiap kali aku bisa sehati-hati itu. Kadangkala ada kejadian-kejadian tak sengaja yang muncul begitu saja. Seperti siang ini.

Aku sengaja masak opor ayam. Shadra baru suka makanan berkuah santan, dan aku berharap dia makan banyak hari ini. Kulebihkan jumlah santannya agar ayamnya lebih empuk. Selain itu aku juga ingin membaca sebuah novel, jadi kalau kutinggalkan ayam itu dengan santan yang lebih banyak, aku tak akan khawatir kuahnya cepat habis di atas api.

Novelnya asyik dan membuat aku lupa diri. Aku membaca dan membaca di ruang tamu sambil menggosok-gosok punggung Shadra yang tiduran di pangkuanku, lupa sama sekali pada oporku. Bau ayam panggang mulai tercium. Hmm, enak. Siapa yang masak ayam panggang nih? Batinku. Tapi aneh, bau ayam panggang sepertinya tercium dari arah belakang rumahku sendiri.

Astaga! Aku melonjak seperti tersengat listrik. Oporku! Oporku! Aku berlari panik. Shadra mengikutiku dari belakang dengan wajah yang ikut panik. Kuahnya lenyap berganti dengan sisa bumbu dan santan yang kecokelatan membakar ayam. Dengan terburu-buru aku meraih lap dari jemuran dan kuangkat wajan dari kompor minyak tanahku. Lap yang kupegang rupanya terlalu dekat dengan api dan apipun menyambar ujungnya. Separuh panik, separuh jengkel, aku menginjak-injak lap itu agar apinya padam. Kutatap ayam di wajan dan kusendok perlahan ke dalam piring. Memang sih, nggak terlalu mirip dengan opor. Opor keringpun tidak. Tetapi baunya tak terlalu gosong dan aku bisa mengatakan kalau aku sengaja membuat ayam panggang, suamiku tak akan tahu.

“Shadra, makan dulu yuk,” ajakku setelah semua kusiapkan. Nasi hangat dan ayam kecelakaan telah siap di meja makan.

Lho, dimana anakku? Aku keluar rumah dan mencarinya ke rumah sebelah. Sepertinya aku mendengar suaranya di sana. Ternyata benar. Anakku memang berada di sana, bersama seorang kakek dan nenek, juga anaknya, yang tinggal di sebelah rumahku. Mereka sedang tertawa terbahak-bahak seperti nonton Srimulat manggung.

“Jadi ibu masak apa?” tanya si nenek tetangga.

“Nih, masak celana Ayah.” Itu suara Shadra, ditimpali tawa riuh mereka sekeluarga.

Astaga! Apa maksudnya? Apa maksudnya? Aku merangsek masuk ke dalam. Kulihat Shadra sedang berdiri di depan mereka, membawa celana dalam ayahnya yang ujungnya terbakar. Sesuatu yang kukira sebagai lap dan ternyata harta karun berharga. Hiks. Masak celana ayah, katanya? Gubrak…

Anakku Shadra suka makan kerupuk kaleng keliling yang dijual oleh seorang laki-laki yang dipanggil dengan sebutan, ‘Mamang Kerupuk.’ Meski begitu, aku tak membelikannya setiap hari karena takut MSG dalam kerupuk akan mengganggu kesehatannya.

Tadinya dia memang menanyakannya, tetapi aku menjawab, “Ibu punya kerupuk udang, ibu punya emping. Yuk digoreng.” Dan berhasil. Anakku tak terlalu menanyakan Mamang Kerupuk lagi. Kalau Mamang Kerupuk lewat dan dia sedang bermain di rumah anak tetangga, Shadra tak lagi pulang dan merengek-rengek minta dibelikan.

Maksudku, kukira aku berhasil, sampai pada suatu hari si Mamang Kerupuk berhenti tepat di depan rumah sambil tersenyum lebar padaku, yang segera menghampirinya karena sepertinya dia sedang ingin berbicara denganku. “Ada apa, Mang?” tanyaku ingin tahu.

Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar catatan. “Sudah genep sarebu, Bu.”

“Apanya, Mang?” tanyaku bingung.

“Itu, puteranya ambil kerupuk saya sudah sepuluh kali tiap maen di jalan. Jadi genep sarebu.”

Anakku hutang kerupuk? Di usianya yang belum genap 3 tahun? Oh My God! Speechless.

Menjadi ibu memang menyenangkan, meski tak dapat dipungkiri terkadang kelelahan. Begitupun aku. Apalagi istirahat siang baru bisa kulakukan kalau anakku juga tertidur lelap di sampingku. Di luar itu, selagi dia masih terbangun, aku tentu tak dapat tidur begitu saja.

Siang itu seperti biasa Shadra tidur. Aku ikut tertidur di sampingnya. Aku baru saja mencuci dan menyeterika pakaian, dan aku ingin terlelap barang sebentar. Rasanya baru saja mata ini terpejam ketika lamat-lamat aku mendengar suara tetanggaku bertanya heran.

“Lho, Shadra kok nggak tidur siang?”

“Sudah,” jawabnya keras, “Sudah tidul siang!”

“Ibu mana?” tanya tetanggaku.

“Ibu tidul. Pusing!” jawab Shadra. Pusing? Dadaku mulai berdetak kencang. Kenapa tiba-tiba dia berkata aku pusing? Apalagi yang hendak dikatakannya?

“Wah ibu pusing ya. Sakit apa?” tanya tetanggaku bersimpati.

“Sakit… sakit pusing. Nggak punya uang,” jawabnya mantap.

Tetanggaku tertawa mendengar jawaban lucu itu.

Aku memejamkan mata sambil menghela nafas. Aku ingat pernah mengatakan itu padanya saat dia meminta jeli berwarna merah menyala. “Ibu pusing kalau kamu jajan terus. Ibu nggak punya uang!” kataku waktu itu. Tapi itu kan cuma alasan biar dia nggak jajan sembarangan.

“Kalau begitu jangan main jauh-jauh, ya,” kata tetanggaku, “masuk sana temani Ibu.”

Tak kudengar dia menjawab, tetapi suara langkah berlari terdengar masuk ke dalam rumah. Anakku muncul dari balik pintu kamar dan memelukku erat-erat.

“Temani ibu, ah,” katanya dengan riang. Lalu dia mulai berceloteh dengan keras tentang macam-macam.

Aku hanya bisa tersenyum pasrah. Ah, anakku. Duniamu saat ini memang dunia kata-kata. Ibumu bisa apa?

 

Kisah ini juga bisa dibaca di buku ini
Kisah ini juga bisa dibaca di buku ini

 

 

 

 

 

 

 

 

Ara dan Balon Kebahagiaan

Ara adalah seorang anak perempuan yang tinggal bersama nenek dan bibinya karena orangtuanya bekerja di luar negeri. Mereka saling menyayangi sehingga meski tak tinggal bersama orangtuanya, Ara tak pernah merasa sedih dan kesepian.

Suatu hari, nenek Ara sakit keras dan meninggal dunia. Ara sangat sedih dan merasa kehilangan.

Selama berhari-hari Ara hanya menangis dan mengurung diri di dalam kamar. Dia tak ingin pergi bermain, tak ingin pergi ke sekolah, tak ingin makan, tak ingin mandi, dan tak ingin bertemu dengan siapapun. Satu-satunya yang diinginkan oleh Ara adalah bertemu kembali dengan neneknya dan memeluknya erat-erat seperti biasanya, tetapi tentu saja hal itu tak dapat dilakukannya lagi.

Bibinya, Bibi Kima, berusaha menghiburnya.

“Ayolah Ara, jangan bersedih lagi. Kau bisa jatuh sakit jika begini,” bujuk Bibi Kima dari depan pintu kamarnya. Ara tak menjawab. Air mata menetes perlahan dari sudut matanya tanpa henti. Ara merasa dirinya sangat kesepian tanpa nenek.

Malam itu juga, Ara bermimpi.

Nenek datang mengenakan pakaian indah dan tersenyum lembut padanya.

“Ara, kau ini anak perempuan yang selalu ceria. Apa yang terjadi padamu sampai kau begini?” tanya nenek.

“Aku sangat sedih kehilangan Nenek,” jawab Ara pelan. Nenek masih tersenyum, “Cobalah berjalan-jalan keluar untuk menghilangkan kesedihanmu, Ara. Jika kau terus mengurung dirimu di dalam kamar tanpa berbuat apa-apa, lama-lama kau bisa sakit,” kata nenek sambil memeluk Ara erat-erat.

Lalu Ara terbangun. Mimpi itu terasa begitu nyata dan pelukan nenek membuat semangat Ara timbul. Pagi harinya, Ara keluar dari kamar, mandi, dan makan sepiring kecil nasi goreng. Bibi Kima sangat senang melihatnya.

“Hari ini aku ingin berjalan-jalan, Bibi,” putus Ara.

“Boleh saja asalkan tak terlalu jauh. Saat makan siang, kau sudah harus kembali ke rumah seperti biasa,” kata Bibi Kima.

Ara mengangguk setuju.

Belum berapa jauh dari rumah, dia bertemu dengan seorang penjual balon. Penjual balon itu menyapa Ara, “Halo, gadis kecil yang cantik. Apakah kau mau membeli balon? Pilih saja warnanya. Mau yang merah, kuning, hijau, ungu atau biru?”

Ara menggeleng, “Pak, aku sudah terlalu besar untuk bermain balon. Umurku sudah 9 tahun.”

Penjual balon itu tak kurang akal, “Mungkin kau ingin membelinya untuk adikmu?”

“Aku tak punya adik,” Ara menjawab. Penjual balon itu mengamati wajah Ara, “Kelihatannya kau baru saja berhenti menangis. Matamu sembap dan wajahmu terlihat sedih.”

Ara tak berkata apa-apa.

“Aku akan memberimu sebuah balon. Balon yang ini lain, namanya Balon Kebahagiaan. Dengan memegang balon ini kau akan merasa lebih baik.” Diulurkannya sebuah balon bening yang tadi tak terlihat oleh Ara. Ara menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Kemudian dia kembali berjalan.

Angin berhembus perlahan. Aneh, semakin lama, balon yang dipegangnya erat-erat mulai mengikuti arah angin. Balon itu mulai membawa Ara terbang di angkasa. Oh, oh, Ara sangat ketakutan ketika menyadarinya. Tetapi dia tak mungkin melepaskan pegangannya dan melompat begitu saja karena dia akan terluka jika melakukannya.

“Akan dibawa kemana aku?” bisiknya cemas. Tak lama kemudian, balon kebahagiaan itu membawanya terbang di atas perpustakaan kecil di dalam kampung. Ara ingat, dulu nenek sering membeli beberapa buku anak-anak setiap bulan dengan uang pensiunnya. Kata nenek, buku-buku itu akan disumbangkannya ke perpustakaan kampung agar anak-anak yang tak mampu membeli buku-buku juga dapat terus membaca. Kalau nenek masih hidup, pasti nenek akan mengirim buku juga ke perpustakaan kecil ini, pikir Ara.

Tiba-tiba Ara mendengar anak-anak berkata, “Betapa menyedihkan kalau Nenek Tuti tak ada. Hanya dia yang peduli dengan perpustakaan kecil ini.” Ara kaget mendengarnya. Nenek Tuti adalah nama neneknya.

“Ah, Nenek Tuti sangat baik. Mari kita doakan dia. Karena Nenek Tutilah kita semua dapat membaca banyak buku bagus yang tak bisa kita beli. Kita harus menjadi anak-anak yang pintar supaya Nenek Tuti bangga.”

Ah, ternyata nenek menyumbangkan buku-buku itu ke perpustakaan ini, pikir Ara. Angin kembali berhembus dan membawa balon yang dipegangnya kembali terbang. Kali ini balon kebahagiaan membawanya ke sebuah kebun kecil. Beberapa orang wanita seumur dengan neneknya sedang berjongkok sambil menyiangi rumput.

Ara mendengar seseorang berkata, “Bu Tuti berpesan, kalau tanaman obat ini harus kita rawat baik-baik agar siapapun yang membutuhkannya dapat mendapatkannya dengan cepat.”

“Benar. Bu Tuti orang yang sangat baik. Kita akan selalu mendoakannya agar dia mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.”

Balon kebahagiaan kembali membawa Ara terbang. Kali ini balon itu terbang di atas sebuah panti asuhan. Tiba-tiba dilihatnya Bibi Kima datang membawa sebuah bungkusan besar. Anak-anak balita itu berlari ke halaman untuk menjemput Bibi Kima.

“Mana Nenek Tuti? Kenapa bukan dia yang datang kemari?” tanya mereka.

“Mulai sekarang, Bibi Kima yang akan kemari ya. Bibi juga akan membawakan kalian susu dan pakaian seperti Nenek Tuti dahulu,” senyum Bibi Kima.

Ara sangat terharu melihat semua itu. Kini dia tahu, kalau tak hanya dia yang merasa kehilangan neneknya. Banyak orang-orang yang juga mengenal nenek, merasakan kehilangan dan kesedihan yang sama. Tetapi mereka tak larut dalam kesedihan berlama-lama. Mereka justru meneruskan kebaikan nenek agar kebaikan itu tetap dirasakan sama persis seperti ketika nenek masih ada. Dengan begitu neneknya, Nenek Tuti, tetap ada dalam hati mereka dan kebaikannya terus dirasakan seperti sebelumnya.

Balon kebahagiaan terbang membawa Ara kembali ke rumahnya. Dia sudah melihat banyak hal hari ini, dan anehnya, kesedihannya mulai menghilang berganti dengan rasa syukur dan bahagia.

Ara berdiri di halaman sambil menggenggam erat tali balonnya. “Balon kebahagiaan, terimakasih telah menemaniku pagi ini. Selamat jalan. Sampaikan salamku pada Nenek jika kau bertemu dengannya. Aku berjanji akan meneruskan kebaikan-kebaikan Nenek.”

Lalu dilepaskannya balon kebahagiaan itu mengangkasa ke udara.

 

Sepatu Baru Kuri Si Pencuri

Cerpen ini juara harapan 1 Lomba Menulis Cerpen Anak dalam rangka Hari Buku yang diadakan oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta tahun 2012

 

Kuri adalah seorang pencuri yang lihai. Pekerjaannya jelas bukan pekerjaan yang bagus dan terhormat, tetapi Kuri tak peduli. Kuri telah terbiasa mencuri sejak kecil dan akhirnya menganggap bahwa hal itulah satu-satunya yang bisa dia lakukan.

Suatu hari saat Kuri berjalan menuju sebuah rumah milik seorang pedagang kaya untuk mencuri sebuah berlian, tiba-tiba kakinya tersandung batu. “Aduh!” serunya kesakitan. Dilihatnya ujung sepatunya yang menganga lebar. Rupanya sepatu itu jebol karena tersandung.

Kuri berdecak dengan kesal. “Sepatu payah,” gerutunya. “Gara-gara sepatu usang ini, aku tidak bisa mencuri berlian itu sekarang. Sepertinya aku harus membeli sepatu baru.”

Maka Kuri si Pencuri berjalan mencari toko sepatu. Dia ingin segera memiliki sepatu baru. Sepatu yang paling nyaman dan ringan agar langkah-langkahnya tak terdengar oleh orang lain. Dan sampailah dia di sebuah toko sepatu kecil di sudut kota. Toko Sepatu BIN.

Di dalam toko sepatu Bin, Kuri melihat berkeliling. Meskipun toko itu kecil, tetapi sepatu yang dijual jumlahnya ribuan pasang. Rak sepatu disusun dari bawah hingga menyentuh langit-langit ruangan. Kuri mencoba mencari sepatu pria, tetapi meski dia kini telah mengetahui tempatnya, Kuri tetap saja bingung karena banyaknya sepatu yang dipajang disana.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Pak Bin, si pemilik toko sepatu. “Sepertinya kau kebingungan.”

“Aku mencari sepatu yang bagus. Tak masalah kalau harus membayar mahal,” tegas Kuri.

“Hendak kau pakai kemana sepatu itu?” tanya Pak Bin.

“Bekerja,” jawab Kuri pendek.

“Dan apa pekerjaanmu?” Pak Bin kembali bertanya dengan wajah ramah.

“Aku tak akan menjawab. Aku hanya akan membeli sepatu,” tukas Kuri.

Pak Bin tersenyum. “Tentu saja pertanyaanku harus kau jawab. Kalau kau seorang olahragawan aku tak mungkin memberimu sepatu dansa, dan kalau kau seorang pegawai kantor aku tak mungkin memberimu sepatu but untuk bertani. Jadi itu sebabnya aku perlu tahu apa pekerjaanmu.”

Kuri mengalah. “Aku seorang pencuri,” katanya, “Jadi aku membutuhkan sepatu yang sangat ringan agar tak seorangpun mendengar suara langkahku.”

Pak Bin terkejut mendengarnya. Tetapi pemilik toko yang ramah itu tetap tersenyum. “Aku mengerti,” jawabnya. Lalu dia berjalan ke rak bagian tengah, dan naik ke tangga untuk mengambil sepasang sepatu yang terpasang di rak bagian atas.

Diulurkannya sepatu itu ke arah Kuri dan Kuripun menerimanya. Sepatu itu berwarna cokelat dengan benang keemasan.

“Sepatu ini terbuat dari sayap lebah,” ujar Pak Bin.

“Sepatu yang sangat ringan,” desis Kuri kagum.

“Ya,” pak Bin setuju. “Benang emasnya juga menyatukan dengan kuat. Tetapi sayangnya, sol sepatunya belum sempurna. Ada bahan lain yang harus kutambahkan agar lebih ringan lagi. Maukah kau menunggu?” Pak Bin menawarkan.

Kuri mengangguk senang. “Tentu saja aku mau. Aku akan menunggu dengan sabar.” Diserahkannya kembali sepatu itu pada Pak Bin.

Pak Bin tak membutuhkan waktu yang lama untuk menyempurnakan sepatu itu. Harga sepatunya memang cukup mahal, tetapi Kuri tak keberatan sama sekali. Dia segera membayar sepatunya dan langsung memakainya saat itu juga.

“Sepatu ini adalah sepatu paling ringan yang pernah kupakai,” gumam Kuri senang. “Aku bisa mencuri dimanapun tanpa ketahuan orang lain.” Lalu dia teringat akan berlian di rumah pedagang kaya yang hendak dicurinya, dan Kuri mulai melangkah kesana.

Tetapi aneh sekali, sepatunya seolah tak mau dibawa kesana. Dengan santai sepatu itu membuat Kuri melangkah ringan ke arah yang berlawanan. “Hei, aku mau kesana! Aku mau kesana!” tunjuk Kuri kebingungan ke arah rumah pedagang kaya. Tetapi seolah kaki Kuri tak punya kekuasaan lagi, dengan lincah Kuri melompat-lompat menuju ke sebuah panti asuhan yang sederhana, dan berhenti tepat di depan pagar.

Kuri mengerutkan kening. “Apa yang bisa kucuri dari sini?” pikirnya tak senang. Dilihatnya beberapa anak laki-laki dan perempuan bermain di halaman bersama dengan ibu pengasuh panti.

“Hei ada yang datang!” seru seorang anak perempuan, membuat teman-temannya menoleh.

Seorang anak laki-laki kecil berlari membuka pintu pagar sambil tersenyum lebar, menampakkan gigi depannya yang ompong. “Paman hendak menengok kami, ya?”

“Oh, eh,” Kuri tergagap. “Tidak.”

“Paman bawa oleh-oleh apa?” tanyanya lagi.

“Hus! Hilal, itu nggak sopan! Jangan berkata begitu pada tamu,” tegur ibu pengasuh panti. “Silahkan masuk, Pak.”

“Aku bukan tamu. Aku bukan…” kilahnya gugup. Tapi anak-anak panti asuhan itu tak mendengarkannya. Mereka sangat senang jika ada tamu yang datang. Setahu mereka, semua tamu yang datang sangat baik dan ramah. Maka tanpa malu-malu mereka berebut menggandeng lengan Kuri dan mengajaknya ke dalam.

Kuri ingin menolak, tetapi kakinya terasa sangat ringan. Dia belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya, tetapi langkah kakinya yang ringan saat memasuki halaman panti asuhan membuat Kuri tiba-tiba berkata dengan ramah pada anak-anak itu. “Kalian mau dibelikan es krim?”

“Mau! Mauu! Horee!” seru anak-anak itu kegirangan.

Kuri si Pencuri berjalan keluar untuk mencari es krim. Langkahnya ringan seperti terbang, dan Kuri kembali dengan puluhan kotak es krim yang segera dibagikannya kepada anak-anak yang ada disana.

Kuri benar-benar heran dengan dirinya sendiri. Sebelumnya dia tak pernah mengalami hal ini. Yang selalu dilakukannya adalah mengambil milik orang lain, dan bukan memberi pada orang lain. Hari ini, Kuri merasa dirinya benar-benar berbeda.

Tiba-tiba dia teringat pada berlian yang hendak dicurinya dan pergi dari panti asuhan itu. Tetapi lagi-lagi, kakinya tak mau melangkah kesana dan justru berbalik arah untuk menolong seorang nenek yang ingin menyeberang jalan. Setiap kali Kuri berniat untuk mencuri, maka kakinya melangkah ke arah yang berlawanan dan menemukan kebaikan. Begitu terus menerus, sehingga Kuri tak bisa mencuri apapun seperti biasanya.

Kuri benar-benar heran dan berusaha mengingat-ingat sejak kapan semua ini terjadi. Dipandanginya sepatu yang dipakainya. Sepatu sayap lebah dengan benang emas yang membuat kakinya sangat ringan melangkah. Seharusnya sepatu ini sangat cocok untuk seorang pencuri, tetapi kenapa kakinya tak bisa lagi melangkah ke tempat-tempat yang akan dicurinya? Lalu Kuri teringat pada Pak Bin si pemilik toko sepatu yang menambahkan bahan untuk membuat sepatu ini lebih ringan, dan dia sangat penasaran. Diputuskannya untuk kembali ke toko sepatu itu dan menanyakannya.

“Sepatu itu memang sangat ringan,” Pak Bin terkekeh-kekeh ketika Kuri bertanya di depan tokonya. “Aku hanya menambahkan sedikit bahan kebaikan di solnya, agar sepatu itu ringan melangkahkan kakimu untuk berbuat baik.”

“Tapi aku tak bisa hidup jika tidak mencuri sesuatu,” bantah Kuri.

“Kurasa tidak!” kilah Pak Bin, “Hidup adalah sebuah kebiasaan. Jika kau terbiasa melakukan perbuatan baik, maka kau akan lupa bagaimana berbuat jahat.”

“Sepatu ini menghalangiku,” tukas Kuri pelan.

“Sepatu itu membantumu,” tegas Pak Bin. “Pulanglah, dan pakai terus sepatu itu kemanapun kau pergi.”

Tak ada yang bisa dilakukan Kuri selain memakai sepatu itu dan membawanya pulang. Bagaimanapun juga, sepatu itu adalah sepatu paling ringan yang pernah dikenakannya dan dia akan terus memakainya sampai dia menemukan sepatu yang lebih baik.

Tetapi sepatu itu memang merubah Kuri. Sejak dia memakai sepatu itu, Kuri hanya bisa melangkah ke tempat-tempat dia bisa melakukan kebaikan. Semakin lama, kebaikan yang dilakukannya semakin banyak, dan Kuri jadi terbiasa melakukannya. Diapun melupakan pekerjaan lamanya sebagai pencuri, dan memilih untuk mencari pekerjaan lain. Kuri merasa lebih tenang dan bahagia dengan kehidupannya sekarang.

Beberapa minggu kemudian, setelah membantu seorang gadis kecil menurunkan kucingnya dari atas pohon, Kuri tiba-tiba teringat pada Pak Bin dan ingin mengucapkan terimakasih karena telah menjual sepatu sayap lebah itu kepadanya.

Tetapi apa yang terjadi?

Meski Kuri telah menyusuri jalanan di sudut kota itu sebanyak puluhan kali, Toko Sepatu BIN tak juga ditemukannya. Kuri bertanya pada setiap pejalan, tetapi tak seorangpun pernah melihat atau bahkan mendengar apapun tentang toko sepatu itu.

 

 

 

Yogyakarta, 24 Juni 2012

Jalan-Jalan Ke Taman Balekambang Solo

Sehari sebelum liburan Paskah tanggal 3 April  kemarin, Mbak Ruwi Meita ngajakin aku pergi ke Solo. Keponakannya, seorang gadis kecil bernama Nares, sedang ditinggal dinas mamanya selama 6 bulan, dan Mbak Ruwi pengen ngajakin Nares jalan-jalan buat refreshing. Kebetulan Mbak Saptorini, sahabat kami tinggal disana dan mau banget direpotkan untuk ketemu kami. Sebenarnya tadinya janjian juga sama Mbak Aniek, tetapi sayang beliau sakit 😦

“Oke deh, aku bawa anak juga ya…” kataku, dan si bungsulah yang kubawa. Kami janjian, siapa yang paling dulu sampai ke stasiun, dialah yang antri beli tiket kereta. Nah, mengingat betapa rempongnya kami bangun pagi dan gedubrakan…tentu bisa ditebak siapa yang bisa sampai duluan ke stasiun. Hehehe…

Nah, ternyata pas aku masih di jalan, Mbak Ruwi wasap supaya aku nggak usah buru-buru ke stasiun karena dia udah dapet tiket yang jam 8.20 karena yang paling pagi habis. Waduh…ya sudah…gimana lagi? Pagi jam 8.20 kereta kami berangkat ke Solo. Mbak Ruwi, Ima putrinya, Nares keponakannya, aku, dan Shirin anakku.

Meski Shirin dan Nares seumur tapi mereka masih malu-malu buat ngobrol dan main bareng. Maklum baru ketemu sekali ini. Cuaca cenderung mendung ketika kami tiba di Solo. Sambil nunggu Mbak Saptorini, foto-foto dulu… IMG_0450

Nggak lama Mbak Saptorini dateng sama suaminya… (Suaminya baik banget nawarin antri tiket kereta buat pulangnya. Makasih banget ya Om…)

“Ke Taman Balekambang aja yuk, biar anak-anak puas lari-larian,” ajak Mbak Rini. Kemana aja maulah. Yang penting bisa angon bocah. Hahaha…

Kami langsung nyari taksi buat pergi kesana. Tempatnya nggak jauh dari stasiun Purwosari. Eh ternyata Taman Balekambang itu sebuah taman yang lumayan luas. Seneng banget ngelihat teduhnya pohon-pohon besar disana. Dari jauh kami melihat sebuah danau kecil. Masuknya gratis lagi… IMG_0454

Banyak rusa dan angsa dibiarkan berkeliaran disana. Sayang nggak sempat foto karena Shirin tuh rada takut sama semua binatang yang kakinya empat, kecuali yang udah jadi rendang atau semur daging giling. Dia minta naik perahu keliling danau. Di tengah danau ada patung Partini Tuin.

Tadinya aku bilang ke Mbak Ruwi.. “Kok Tuin ya namanya? Bahasa apa ‘Tuin’ itu?” “Di depan ada patung tulisannya ‘Partina’ kurasa kalau yang disini namanya ‘Partini’ mereka berdua adalah kembar. Twin. Nulisnya Tuin karena mereka orang Jawa.” Analisa Mbak Ruwi sepertinya meyakinkan. Aku langsung menerima itu sebagai keyakinan sejarah putri Solo.

Hihihi… Eh… asyik juga lho naik perahu keliling danau ini… dan yang paling asyik, hanya rp 5000,- saja. Ini benar-benar piknik yang irit. FB_20150404_09_34_57_Saved_Picture[1]

Tapi tunggu dulu dong..irit di mainan, tentu nggak irit di jajan. Anak bungsuku ini makan tiap 10 menit sekali. Begitu datang dia udah histeris menunjuk jajanan dari kejauhan. “Ibuu! Ada kentang ulir! Lihat…yang itu sosis panggang! Mmmm…” Menjelang siang, kami istirahat di tepi kolam Partina Tuin. Membiarkan anak-anak main dan kami ngobrol bertiga. IMG_0463

Nggak terasa ngobrol seru sampai jam makan siang. Kami memutuskan nyari makan dulu di dekat stasiun, sambil istirahat dan sholat. Abis makan, dan nunggu di stasiun, eh hujan turun deres bangeeet….bahkan sampai di Yogya juga masih hujaaaan….hiks. Kurang rasanya main seharian ini. Nanti kalau liburan lagi, insya Allah kita ketemu lagi ya temen-temen. Main kemana-mana kalau dibarengi dengan niat bersilaturahmi, kok rasanya bikin hati bahagia…

Cerpen Anak Kompas_Kembar Bertukar

Cerpen Kompas Anak
Cerpen Kompas Anak

Nabila dan Nadira adalah dua anak perempuan kembar yang manis. Keduanya sangat mirip satu sama lain. Kata Bunda, itu karena mereka berdua adalah kembar identik.

Hampir semua orang kesulitan membedakan mereka, apalagi kalau Nabila dan Nadira memakai pakaian yang sama. Teman-teman, guru, bahkan kakek dan nenek akan sulit mengenali mereka.

Kalau Bunda sih bisa membedakan mereka dengan mudah. “Bunda bisa membedakan kalian meski dengan mata terpejam,” Bunda menyombong. Ayah tertawa mendengarnya, tapi mengakui kebenaran kata-kata Bunda.

Ayah sendiri kadang-kadang masih tertukar membedakan. “Nabila, ayo kerjakan pe-ermu sebelum bermain.”

“Ayah, ini aku Nadira.”

“Oh, maaf Nadira. Ayah mengira kau Nabila.”

“He he he… iya aku memang Nabila,” cengir Nabila yang disambut gelitikan Ayah yang jengkel karena digoda.

Tapi sebenarnya meski memiliki wajah yang sangat mirip, Nabila dan Nadira memiliki perbedaan pada hal lainnya. Misalnya, Nabila lebih suka makanan yang bersantan tetapi Nadira lebih suka yang berkuah bening, Nabila pintar berhitung, sementara Nadira sangat cepat menghapal, Nabila senang tertawa sedangkan Nadira lebih pendiam.

Minggu depan sekolah Nabila dan Nadira mengadakan ulangan harian untuk semua mata pelajaran.

“Kamu enak, Dira, hanya belajar sedikit saja sudah hapal semuanya,” cetus Nabila iri sambil memandang Nadira yang membaca buku IPS sambil makan kacang dengan santai.

“Humm, justru yang enak itu kamu, Bila. Pelajaran Matematikamu selalu bagus nilainya. Hanya menghitung sebentar, eh… langsung ketemu jawabannya,” sahut Nadira. “Seandainya aku bisa begitu, alangkah senangnya.”

Saat hari ulangan tiba, Nabila dan Nadira berusaha mengerjakan soal sebaik mungkin. Tetapi keduanya kecewa ketika hasil ulangan dibagikan.

“Aku mendapat nilai 6 di pelajaran Matematika,” keluh Nadira.

“Nih lihat ulangan IPSku,” Nabila menyodorkan kertas ulangan bertuliskan angka 5 dengan spidol merah.

“Tak apa. Bagi yang nilainya masih di bawah 7, ada kesempatan untuk mengulang lagi besok,” Bu Tini, guru mereka memberitahu.

Nabila mengerling ke arah Nadira. “Aku tahu cara yang lebih mudah bagi kita,” dia lalu berbisik pelan ke telinga Nadira.

“Aku tidak mau. Itu berbahaya!” pekik Nadira tertahan.

“Sssst… kita belum pernah mencobanya kan? Sekali inii saja,” bujuk Nabila.

Nadira tercenung beberapa saat sambil berpikir, dan beberapa saat kemudian dia mengangguk perlahan.

Keesokan harinya, Nabila memakai seragam yang bertuliskan nama Nadira dan Nadira memakai seragam yang bertuliskan nama Nabila. Ya, mereka merencanakan untuk bertukar.

Tetapi seragam itu tak luput dari perhatian Bunda. “Lho kok kalian bertukar seragam?” tanya Bunda heran, “Namanya jadi terbalik kan.”

Nabila dan Nadira berpura-pura kaget dan melirik nama yang tertempel di dada. “Oh iya… aduh, aku tak memperhatikan,” seru Nabila.

“Kami akan bertukar seragam di sekolah saja, Bunda,” sambung Nadira sambil menyendokkan nasi gorengnya cepat-cepat agar terlihat terburu-buru.

Bunda mengangguk setuju. Tak curiga.

Saat ulangan perbaikan, semua berjalan lancar. Tak ada seorangpun yang tahu kalau Nabila mengerjakan ulangan Matematika milik Nadira, dan tak ada seorangpun yang curiga ketika Nadira mengerjakan ulangan IPS milik Nabila.

Bu Tini mengangguk-angguk dengan puas melihat hasil ulangan perbaikan mereka. Keduanya mendapat nilai 10 untuk perbaikan nilai Matematika dan IPS.

“Ibu sangat puas dengan usaha kalian,” ucap Bu Tini bangga. “Kalian bisa menjadi contoh bagi anak-anak yang lain, jika mau berusaha keras pasti bisa mendapatkan nilai yang bagus.”

Nabila dan Nadira terdiam. Mereka memandangi hasil ulangan yang dibagikan. Nilainya memang 10, tetapi mereka heran karena tak merasa bangga dan senang. Hati mereka justru merasa sangat terganggu sekarang.

Seseorang mengetuk pintu kelas. Bu Tini membukanya dan tersenyum lebar. Beberapa saat kemudian Bu Tini berkata pada anak-anak.

“Pak Mantri dari Puskesmas datang untuk memberi suntikan imunisasi bagi yang belum mendapatkannya kemarin,” Bu Tini memberitahu.

Nadira terbelalak mendengarnya. “Gawat, aku tidak mau disuntik dua kali!” ujarnya panik.

“Memangnya kenapa kamu harus disuntik dua kali?” tanya Nabila heran, “Yang belum disuntik itu aku,” katanya.

Memang, beberapa hari yang lalu ketika Pak Mantri datang ke sekolah untuk memberi suntikan imunisasi, ada beberapa anak yang belum mendapatkannya karena kehabisan stok vaksin. Ada lima anak yang belum disuntik, termasuk Nabila.

Nadira melotot sambil menunjuk nama NABILA yang tertera di seragamnya. “Semua mengira Nabila adalah aku,” tegasnya.

Nabila tersentak. Benar juga. Aduh! Ini benar-benar super gawat. Mereka berpikir sejenak, lalu Nabila berkata, “Kita harus mengaku…”

“…dan jangan lupa mengembalikan hasil ulangan kita,” tambah Nadira.

“Benar. Tak enak rasanya berbohong seperti ini,” kata Nabila setuju. “Lain kali aku akan belajar lebih keras agar bisa sepertimu.”

“Aku juga akan belajar lebih keras agar bisa sebaik dirimu.”

Nabila dan Nadira saling tersenyum, dan keduanya menghampiri Bu Tini dengan langkah gagah.