Tiga Keping Cokelat

Cerpen ini dimuat di Kompas Minggu 17 Mei 2015
Cerpen ini dimuat di Kompas Minggu 17 Mei 2015

Arka meletakkan tiga keping cokelat di meja belajarnya dengan hati-hati. Arka mendapatkan cokelat-cokelat itu dari Sandra.

“Bentuknya lucu-lucu, ya,” cetus Arka tadi sambil memandangi ketiga cokelat itu.

Sandra mengangguk. “Iya. Ini namanya cokelat praline. Cokelat ini sengaja dicairkan dulu sebelum dibentuk menjadi bermacam-macam. Ada isinya juga lho. Kalau kamu menggigit yang berbentuk bunga mawar, di dalamnya ada selai stroberi. Yang bentuk sepatu itu di dalamnya berisi potongan kacang, dan yang berbentuk hati isinya selai jeruk. Enak deh pokoknya.”

Arka terkagum-kagum mendengarnya. Ia jarang makan cokelat. Kalaupun ibu membelikannya di toko Babah Li, cokelatnya selalu berbentuk batangan.

Tak bosan-bosannya Arka menatap cokelat-cokelat itu. Karena bentuknya lucu-lucu, Arka sayang untuk memakannya.

“Arka, bantu Ibu cuci piring di kedai, dong!” suara Tio, kakaknya, mengejutkan Arka, yang buru-buru menangkupkan tangannya di atas cokelat-cokelat itu.

“Eh, iya Kak. Tunggu sebentar,” jawabnya sambil membuka kotak pensilnya dan menaruh ketiga cokelatnya disana.

“Apa itu?” tanya Tio ingin tahu.

Arka terdiam. Sejenak ia berpikir untuk memberikan satu keping cokelat untuk Tio. Tapi beberapa saat kemudian Arka menjadi ragu-ragu. Bukankah ketiga cokelat itu rasanya berlainan? Kalau aku memberikan satu pada Kak Tio, maka aku tidak bisa merasakan ketiga-tiganya, pikirnya.

Lalu Arka menggeleng cepat-cepat. “Ini penghapus baru,” suaranya bergetar saat berbohong.

Tio tak berkata apa-apa, dan Arka lega karena sepertinya kakaknya percaya.

Saat mencuci piring-piring di kedai, Arka terus berpikir tentang cokelat-cokelat itu. “Mana yang lebih dulu akan kumakan?” pikirnya bingung.

Selesai membantu Ibu, Arka kembali ke meja belajarnya. Diintipnya ketiga cokelat di dalam kotak pensilnya.

“Aku akan mengerjakan pe-er ku dulu, baru memakan cokelatnya,” ujarnya sambil menyiapkan buku-bukunya. Dengan tekun dikerjakannya pe-er menggambar peta Pulau Sumatera.

Arka baru saja mulai mewarnai laut dengan spidol berwarna biru ketika ia tiba-tiba merasa mengantuk, dan tidur menelungkup di meja. Ketika terbangun, betapa terkejutnya ia ketika mendapati kotak pensil berisi cokelat telah menghilang.

Arka mencari di bawah meja, di atas tempat tidur, di dalam tas, di meja tamu, di meja makan, di lemari pakaian, tapi ia tak menemukan kotak pensilnya dimanapun.

Arka masuk ke kamar Tio untuk bertanya, dan dilihatnya kotak pensilnya berada di atas meja belajar kakaknya.

“Ini dia,” katanya senang. Dibukanya tutup kotak pensil dan kaget karena ternyata ketiga cokelat itu telah menghilang.

“Kak Tio!” serunya. “Kak Tio mengambil cokelatku ya?”

Tio yang sedang membaca majalah memandang bingung. “Cokelat apa?”

“Ah, jangan pura-pura tidak tahu! Cokelat itu kutaruh di dalam kotak pensil, dan sekarang cokelatnya tak ada. Pasti Kakak yang mengambilnya!” kaki Arka menjejak lantai.

Wajah Tio memerah. “Itu namanya menuduh tanpa bukti!” teriaknya.

“Mau bukti apa lagi? Kotak pensilku hilang dari meja dan kutemukan di mejamu,” Arka tak mau kalah.

“Sudah kubilang aku tidak tahu!” tegas Tio jengkel.

Arka sangat marah mendengarnya. Ia mulai mendorong kakaknya. Mereka berdua sudah hendak berkelahi kalau Ibu tak datang dan melerai.

“Ada apa dengan kalian?” Ibu mengerutkan kening.

“Kak Tio mengambil cokelatku!” seru Arka.

“Tidak!” bantah Tio.

“Tapi kotak pensilku ada di meja Kak Tio,” Arka bersikeras.

“Ibu tadi yang mengambil kotak pensilmu. Sewaktu Ibu hendak mengembalikan lagi ke kamarmu, telepon berbunyi, jadi Ibu menaruhnya dulu di meja Kak Tio,” jelas Ibu.

“Lalu kenapa cokelat-cokelatku hilang?” tanya Arka.

“Cokelat yang ada di kotak pensil?” Ibu balik bertanya. “Tadi waktu kamu tertidur di meja, kotak pensilmu penuh semut. Ternyata semut-semut itu mengerubungi cokelat. Tentu saja Ibu membuangnya,” kata Ibu.

“Dibuang?” Arka memekik.

“Lain kali kau harus cepat memakannya sebelum didahului semut,” ujar Tio.

Arka mengangguk perlahan. “Lain kali aku akan membaginya denganmu sebelum didahului semut, Kak,” sesalnya.

 

Advertisements

2 thoughts on “Tiga Keping Cokelat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s