#K3BKartinian_Seorang Ibu Tambahan Dengan Kasih Sayang Sama Besar

image

Pada hari ketika aku dilahirkan, Mbah Kakung, kakekku ingin memberiku nama Zainab. Kata kakekku, ia ingin aku menjadi seorang yang murah hati seperti Zainab istri Rasulullah. Bude Fat, kakak sulung Bapak menolak. “Jangan diberi nama Zainab, nanti anak ini malu. Jangan-jangan namanya sama dengan nama ibu mertuanya,” kata Bude Fat setengah bercanda.

Aku mendengar cerita itu dari Eyang, nenekku, dan saat aku mendengar cerita itu, sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa suatu hari nanti saat tiba waktunya aku menikah, ibu mertuaku ternyata benar-benar bernama Zainab (dengan ejaan Zaenab pada KTP nya)

Kedua orangtua suamiku tinggal di Banyuwangi, sekitar 25 km dari pusat kota.

Pada bulan Juni tahun 2000, setelah pesta pernikahan usai, aku tinggal disana selama seminggu. Sebuah tradisi yang baik kurasa, agar menantu baru ini bisa mengenal keluarga suaminya dengan lebih dekat.

Aku sangat menyukai bapak mertuaku. Bapak adalah orang yang disiplin, pendiam, sangat sabar dan tenang. Meski begitu ia adalah orang yang sangat mudah tertawa. Bapak selalu tertawa terkekeh-kekeh setiap kali aku bercerita. Kurasa hal yang membuatku menyukainya adalah karena aku menemukan banyak bagian sifat yang sama dengan sifat suamiku.

Kalau ibu mertuaku? Nah ini…

Sebelum menikah, ibuku sendiri (ibu kandung) sudah berpesan untuk menghormati ibu mertuaku. “Harus bisa menyesuaikan diri. Ibu mertua itu bukan orang lain. Ibu mertua adalah ibu tambahan dengan kasih sayang sama besar,” kata ibuku menasehati. Mungkin karena ibu sudah menduga bakal ada sesuatu yang terjadi, mengingat aku adalah orang yang keras kepala.

Aku cuma mengangguk-angguk saja. Aku sudah berniat untuk menyesuaikan diri kok, pikirku. Eh, tapi rencana dan kenyataan memang seringkali nggak sejalan.

Pertama kali aku bercakap-cakap dengan ibu mertuaku dengan agak panjang, yang dikatakannya adalah, “Pakai bedak dulu, pakai lipstik, baju yang rapi!”

*Pikiranku langsung buyar*

Bedak? Lipstik? Aku kan nggak suka dandan…

Dengan segan aku mencoret-coret wajahku dan memakai baju yang lebih rapi. Kukira aku bakal diajak pergi dengan dandanan seheboh itu, tetapi yang dikatakannya kemudian adalah, “Rumahnya disapu dan dipel dulu!”

Hihihi….kebayang kan gimana jengkelnya aku. Udah dandan dan berasa mau ngelenong, tapi ternyata cuma disuruh nyapu sama ngepel.

Beberapa hari pertama aku tinggal di sana, aku langsung tahu kalau semua kata-katanya adalah ‘perintah’ dan semua orang melakukan apa yang dikatakannya.

“Beli ini di warung!”

“Bersihkan yang itu dulu!”

“Pasangkan yang ini!”

Ada hal-hal yang mau kulakukan dengan senang, dan ada hal-hal yang tidak mau kulakukan. Seperti misalnya, aku paliing nggak suka nyapu halaman dengan sapu lidi. Bukan karena aku malas ya…tapi memang ada kan pekerjaan yang kita suka banget mengerjakannya, dan ada pekerjaan yang kita sebel mengerjakannya. Nah, menyapu halaman dengan sapu lidi ini aku benci banget deh pokoknya.

Malangnya, waktu itu ibu mertuaku menyuruhku menyapu halaman.

Karena aku orang yang sangat terus terang, aku langsung menjawab, “Nggak mau, ah Buk. Aku nggak suka disuruh nyapu pakai sapu lidi.”

*DUUEERRR*

Sumpah deh, dari wajah ibu mertuaku langsung kelihatan kaget. Aku yakin ini bantahan pertama dari menantunya. Selain aku baru 3 hari menjadi menantunya, menantu sebelumnya (istri kakak iparku) orangnya sabaaaar, mengalah, dan lembuut banget deh pokoknya.

Ibu mertuaku tampak jengkel. Tapi aku memilih untuk tak menurutinya. Aku berniat menikah dengan suamiku ini selamanya, jadi aku tidak akan membiarkan diriku melakukan hal-hal yang tak kusukai demi menyenangkan ibu mertuaku. Kalau aku melakukan hal-hal yang tak kusukai dengan terpaksa aku jadi jengkel dan hubungan dengan ibu mertua pasti tak lagi menyenangkan. Jadi aku mulai belajar menentukan sikap.

Sejak kasus menyapu halaman itu, kulihat ibu mertuaku justru lebih cair. Mungkin karena ibu menganggap aku sangat santai menanggapi dirinya, ibu jadi lebih bebas berbicara denganku. Dalam seminggu pertama itu pertengkaran kecil beberapa kali terjadi, tetapi aku bukan orang pendendam dan ibu mertuaku bukan orang pendendam, jadi nggak heran kalau dalam setengah jam kami sudah bersikap biasa lagi.

Butuh waktu bagiku untuk menganggap posisi ibu mertuaku sama dengan ibu kandungku sendiri. Ibu mertuaku sangat bossy dan suka seenaknya sendiri sementara ibuku membiarkanku melakukan apa yang kusukai, jadi wajar kalau aku sering sebal dengan sikap ibu mertuaku. Sampai suatu hari sebuah kejadian menyadarkanku bahwa seorang ibu itu manusia biasa, seperti kita semua yang masing-masing punya sifat berbeda.

Beberapa hari setelah kelahiran anak pertamaku yang sulit karena posisinya yang terbalik, aku mendapatkan infeksi. Sebuah kain kassa menempel dan terjepit di bekas jahitan jalan lahir dan ditarik paksa oleh seorang perawat, membuat luka jahitan yang belum kering menjadi bernanah. Badanku demam dan aku kesulitan berjalan meski hanya ke kamar mandi. Setiap kali berjalan aku pasti menangis saking sakitnya. Ibu mertuaku datang jauh-jauh dari Banyuwangi dan tiba di Yogya saat Subuh untuk melihat cucu keduanya, dan begitu kami bertemu ia langsung memelukku.

Tanpa memedulikan rasa lelahnya, ibu mertuaku ini langsung merebus air. Tadinya aku mengira air hangat itu untuk mandi anakku, ternyata tidak. Sambil meletakkan seember penuh air hangat ibu mertuaku berkata, “Sudah, jangan bergerak dulu Nduk. Ibuk mau menyekamu. Tidak usah berjalan kemana-mana kalau tidak terpaksa.”

Aku menolak, tapi ibu mertuaku memaksa.

Tangannya yang tebal dan kuat membasuh badanku dengan lembut.

“Ibuk akan memandikanmu sampai kamu sembuh,” katanya.

Aku terdiam mendengarnya.

Maturnuwun ya Nduk sudah melahirkan dengan selamat,” lanjutnya lagi sambil terus membasuhku.

Aku tersenyum kecil. Air mata menggenang di pelupuk mataku.

Jika ada sebuah titik pertemuan dalam sebuah hubungan, aku merasa kejadian itulah yang menjadi titik pertemuan hatiku dengan hati ibu mertuaku. Detik itu aku merasa, bahwa dia adalah ibuku, dan ibu mertuaku merasa bahwa aku adalah anaknya. Benar kata ibuku, ibu mertua adalah ibu tambahan dengan kasih sayang sama besar.

Tempat tinggal kami sangat berjarak sejauh 500 km, dan ini membuat kami tak setiap bulan bertemu. Karenanya sampai sekarang aku sangat senang jika ibu mertuaku tahu-tahu muncul di Yogya untuk tinggal beberapa hari bersama kami. Ibu mertuaku adalah seorang yang sangat efisien. Ia mengajarkanku menata segala macam barang dengan cara yang sangat militan. Belum pernah kan ada yang melihat tumpukan emping disusun vertikal dengan rapi di dalam toples? Nah, ibu mertuaku melakukannya. *Sumpah deh itu yang mau ngambil emping dari dalam toples sampai enggak tega melakukannya*

Kalau ibu mertuaku datang, rumahku kelihatan sangat longgar dan lapang. Ibu pintar banget membersihkan dan mengatur ruangan. Semua disusunnya dengan saaangat rapi. Aku berusaha menirunya, tetapi dalam hal ini sepertinya aku bukan pembelajar yang baik. Bahkan sayangnya, seminggu setelah ibu pulang, entah bagaimana caranya, kok rumahku sudah kembali lagi ke bentuk asal. Benar-benar bikin desperate.

Jika kami bertemu, aku dan ibu mertuaku seringkali bertukar resep. Kalau ibu ke Yogya, ibu akan memintaku memasak yang tak pernah dimasaknya di Banyuwangi, dan memilah mana yang cocok untuk seleranya dan selera bapak.

Kalau mertuaku sedang ke Yogya, aku biasanya mengajak ibu mertuaku untuk jalan-jalan berdua saja denganku. Meski kalau hendak pergi, biasanya aku prepare dulu sehari sebelumnya karena kekuatan ‘berjalan’ ibu mertuaku ini sungguh luar biasa untuk orang seumurnya. Sambil berjalan, menyusuri pusat perbelanjaan, dan berakhir di tempat makan, kami biasanya mengobrolkan banyak hal.

Nggak terasa, bulan Juni nanti aku sudah menikah selama 15 tahun. Artinya, sudah 15 tahun juga aku mengenalnya sebagai ibu mertuaku. Jangan ditanya apakah tak ada lagi pertengkaran dan perbedaan pendapat setelah tahun-tahun berlalu, karena jawabannya adalah sangat banyak. Banyak sekali pertengkaran dan perbedaan pendapat yang kami selisihkan. Apalagi meski jauh, aku berusaha meneleponnya paling tidak seminggu sekali, dan perbedaan pendapat bahkan bisa terjadi lebih banyak melalui telepon.Tapi setelah semua perbedaan pendapat itu selesai, ya sudah, kami adalah ibu dan anak lagi dalam ukuran normal. Hehehe…

Kurasa aku menyayanginya, seperti juga ia menyayangiku. Semua pertengkaran dan perbedaan pendapat yang langsung termaafkan begitu cepat tak akan terjadi pada orang yang tidak saling menyayangi. Aku meyakini itu.

Satu mimpiku yang belum terlaksana. Membawa ibu mertuaku pergi umroh. Ibu mertuaku sudah berhaji bertahun-tahun yang lalu saat suamiku masih anak-anak, jadi kebayang bagaimana kangennya beliau untuk pergi lagi kesana.

Semoga ya Buk….Semoga anak dan menantumu ini dilancarkan rejekinya untuk membawamu ke Tanah Suci. Aku tahu, meskipun Allah mengijinkan dan mengabulkan doa kami, tak seujung kukupun semua ini dapat membalas semua kebaikanmu sebagai ibu. Tak akan pernah.

 

Tulisan ini dibuat untuk meramaikan event #K3Bkartinian yang diselenggarakan oleh Kelompok Emak-Emak Blogger.

 

 

 

 

Semua Perempuan Yang Memilih Menjadi Ibu Rumah Tangga Harus #BeraniLebih Kreatif

 

FB_20150413_15_29_46_Saved_Picture[1]

Tulisan ini diikutsertakan dalam Kompetisi Tulisan Pendek di Blog #BeraniLebih bersama Light of Women

Akun medsos:
FB Yuniar Khairani
Twitter @kyuniar

Ada perempuan yang sudah berumur, tetapi masih kelihatan fresh dan menarik. Di sisi lain aku sering melihat perempuan yang masih muda tetapi sama sekali tidak menarik, bahkan tampak jauh lebih tua dari usia sebenarnya.

Sayangnya, banyak kasus seperti ini terjadi pada perempuan yang memilih untuk menjadi Ibu Rumah Tangga penuh. Dengan kata lain, biasanya seorang ibu rumah tangga terlihat tidak cantik dibanding perempuan lain yang memilih untuk tidak menjadi ibu rumah tangga penuh.

Mungkin perlu kujelaskan lebih dulu, tulisan ini tidak bermaksud mendiskreditkan status ‘Ibu Rumah Tangga’. Nah, aku sendiri seorang ibu rumah tangga. Aku memilih untuk tidak bekerja di luar rumah demi menyiapkan diriku menjadi ‘sekolah pertama’ untuk anak-anakku. Tetapi topik tentang kecantikan perempuan itu membuatku merasa tergelitik dan ingin memikirkannya lebih lanjut.

Tadinya aku sendiri tidak tahu penyebabnya. Kupikir tadinya fresh atau menariknya seorang perempuan tergantung pada perawatan fisik masing-masing. Ternyata setelah dipikir-pikir tidak semata-mata itu lho.

Setiap perempuan ditakdirkan menjadi cantik dan bahagia, tetapi kenapa ada yang tidak?

Yang perlu diketahui pertama adalah, cantik bukanlah persoalan fisik. Cantik adalah keseluruhan pembawaan diri, dan keseluruhan pembawaan diri itu adalah pesona seorang perempuan. Perempuan yang cantik adalah ia yang tersenyum dengan tulus, siap membantu dan mengulurkan tangan untuk siapapun yang membutuhkan pertolongan. Perempuan yang cantik adalah ia yang smart dan rendah hati. Perempuan yang cantik adalah ia yang mampu mengatasi kekurangan dirinya dan mengetahui kelebihan dirinya untuk membantu sesama.

Itulah sebabnya perempuan harus #BeraniLebih kreatif untuk mewujudkan kebahagiaannya.

Perempuan yang berdiam diri saja di rumah dan hanya fokus memikirkan kebersihan rumah, kenyamanan anak-anak dan suami, memasak, mencuci, lalu besoknya begitu lagi, lagi, dan lagi, cenderung untuk tidak memikirkan dirinya dibanding dengan perempuan yang memiliki kegiatan lain selain wilayah domestiknya. Rutinitas ini cenderung membuat perempuan tak bahagia.

Menurutku #BeraniLebih kreatif harus dilakukan oleh semua perempuan, terutama ibu rumah tangga. Menggali potensi terbaik dari diri kita masing-masing untuk menjadi diri kita yang terbaik.

Ada seorang ibu rumah tangga yang punya hobi masak, hayuk deh masak yang bagus dan lucu-lucu supaya bisa dijual. Aku pernah dengar seorang chef berkata, cooking is not chemistry, cooking is an art. Ibu rumah tangga yang hobi masak dan #BeraniLebih kreatif bisa aja ngajari ibu-ibu lain untuk lebih cakep masaknya. Ibu rumah tangga yang hobi crafting, hobi fotografi, hobi jualan apa saja, biasanya juga sama cantiknya kok dengan perempuan yang memilih untuk berkarir di luar rumah.

Aku sendiri memilih untuk menulis. Dengan #BeraniLebih kreatif untuk menekuni hobi menulis, eh ternyata hobi ini membahagiakan lho. Menghasilkan uang juga. Lumayan lagi.

Hubungan antara #BeraniLebih kreatif dengan cantiknya seorang perempuan tentu ada dong. Perempuan yang punya hobi biasanya kreatif, kalau kreatif biasanya nggak mau diam di tempat, dan kalau nggak mau diam di tempat biasanya selalu berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru. Pikiran yang selalu bergerak ini membuat perempuan menjadi bahagia. Kalau orang bahagia, tentu saja kecantikan terpancar dengan sendirinya.

Nah, mau lebih cantik? #BeraniLebih kreatif dan menjadi lebih bahagia adalah kuncinya.

 

 

 

 

 

Parenting_Membereskan Mainan

 DSC01199

Memiliki satu anak Balita saja Ibu tidak bisa berharap rumah bisa bertahan lama dalam keadaan bersih. Baru saja Ibu selesai meletakkan mainan terakhir di dalam kotak dalam waktu setengah jam semua mainan sudah keluar lagi berserakan dilantai. Belum lagi kalau anak-anak tetangga ikut bermain di dalam rumah. Suasana mirip kapal pecah menjadi bagian yang tak asing lagi dari pandangan keseharian Ibu.

Jengkel dan muak barangkali kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Ibu mengenai hal itu. Dunia anak memang sebenarnya adalah dunia bermain. Tak peduli bagus atau tidak mainan yang dimiliki, anak akan memegang apa saja, mengamatinya, mengeluarkan dari dalam kotak, mendorong-dorongnya, meletakkannya dan mengeluarkan lagi yang lain dari dalam kotak. Kadang-kadang ada anak yang tidak sabar mengeluarkan mainannya satu-satu dan langsung menuangkan seluruhnya dari dalam kotaknya. Tidak ditata tentu bukan hal yang tepat, tetapi ditata dan langsung berantakan lagi dalam sekejap adalah hal yang sangat melelahkan.

Membereskan mainan meski terlihat sepele tetapi jika Ibu lalai mengajarkan pada anak, hal itu akan berpengaruh pada pembiasaan kedisiplinan jangka panjangnya. Tidak harus menunggu anak berumur di atas 5 tahun untuk melakukan hal ini. Ibu boleh percaya bahwa anak berusia 15 bulan sudah bisa membawa sebuah mainan dan memasukkannya ke dalam tempat yang kita minta hanya dengan berkata, “Ayo sayang masukkan yang ini kesana. Nah, begitu. Wah tepuk tangan…anak pintar!” Bahkan tidak hanya sekali, dia akan memasukkan beberapa mainan yang berserakan ke dalam kotaknya.

Untuk anak balita yang lebih besar Ibu membutuhkan cara yang lebih cerdik daripada sekedar memberinya tepukan tangan. Ibu boleh memberi hadiah kecil berupa ‘dibacakan 2 buah buku cerita’ jika mereka bisa memasukkan semua mainan ke dalam kotak setelah bermain. Ini terlihat seperti menyogok anak tetapi ketika ada acara yang lebih menyenangkan menanti mereka setelah acara yang ‘menyebalkan’ seperti membereskan mainan, mereka akan memiliki semangat untuk melakukannya dengan baik.

Jadikan kegiatan membereskan mainan terasa seperti bermain itu sendiri. Misalnya berpura-pura menjadi tukang pos yang mengantarkan kiriman barang dan Ibu menjadi penerima kirimannya. Jika tak hanya anak Ibu yang bermain, tetap beri mereka ‘peraturan’ yang sama, bereskan mainan dulu sebelum meninggalkan tempat bermain. Hal itu selain menjadikan semua anak merasa terlibat dan bertanggungjawab, anak Ibu sendiri akan merasa diperlakukan dengan adil.

Untuk anak yang lebih besar akan lebih mudah lagi. Jika kedisiplinan ini telah dilalui sejak balita, Ibu tak perlu mengingatkan lagi. Tetapi jika belum, lakukanlah tawar-menawar dengan anak. “Kau boleh bermain tetapi kembalikan segera ke tempat semula sebelum memulai lagi permainan baru. Setuju atau tidak?”

Jika anak telah setuju, pada akhir permainan ingatkan anak untuk menepati janjinya.

Hadiah Dari Si Hobi Jahit Untuk Si Hobi Masak.

WP_20150409_001[1]

Adikku yang nomer dua, Nurul Aini, punya kakak ipar bernama Zahrotun Nisaa.

Zah, ia biasa dipanggil, menurutku Zah ini seperti Midas. Tahu dongeng Midas dong ya? Itu, seorang raja yang bisa menyentuh semua benda dan menjadikannya emas. Nah, Zah ini punya tangan emas setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang berbau crafting. Beri dia kain, pita, dan benang, maka sesuatu yang cantik akan menjelma di depan mata kita.

Keponakanku, si Hayun, yang juga keponakannya, paling bisa melihat keahlian budenya itu. Selagi ia tergila-gila dengan Frozen, Bude Zah nya nurutin bikin segala macam merchandise Frozen yang nggak bakalan ada duanya di toko manapun. Bukan hanya dari bentuk, tetapi juga dari perwujudan kasih sayang antara bude Zah dan keponakannya yang centil, Hayun.

Ini hadiah bude Zah buatan keponakannya Hayun,.
Ini hadiah bude Zah buatan keponakannya Hayun,.

Nah, suatu hari Zah bilang ke aku (waktu itu aku kayaknya lagi terkagum-kagum sama salah satu jahitannya)

“Mbak, kapan-kapan tak bikinin celemek ya.”

Aku tuh sebenarnya lumayan hobi sama masak memasak, dan lumayan jorok juga karena tiap bikin apapun, yang namanya kuah, tepung, minyak, atau bahan-bahan lain suka belepotan aja ke baju. Udah berencana sih beli celemek, tapi emang belum nyempatin beli beneran. Ditawari dibikinin celemek, tentu aja aku udah seneng aja dengernya.

Eh, kemarin adikku, Nurul, wasap ngasih tau kalau kiriman dari Zah ini datang.

IMG-20150408-WA0001[1]

Baru hari ini dia sempet bawain ke rumah…dan ya…ampuun…alhamdulillah…ini celemek bener-bener baguuuus. Kainnya haluuus, motifnya oke baaangeett, dan aku nggak tega mau berjorok-jorok saat memasak dengan celemek ini.

Adik iparku si Iqbal (adiknya Zah) bilang, “Paling-paling celemek itu cuma buat selfie aja.”

Hahahaha…

Baiklah, sepertinya begitu. Ini buktinya ..

IMG-20150409-WA0001[1]

Eh ya nggak ding. Celemek ini tetep bakal aku pakai tiap memasak. Memasak di dapur pun tetep harus kelihatan cantik kan ya… hehehe…

Tapi mungkin aku nggak akan terlalu jorok lagi kayak biasanya.

Makasih baaangeeet ya Zah. Ini kado paliiing istimewa dari Si Hobi Jahit buat Si Hobi Masak.

 

Parenting_Milikku Tak Boleh Dibagi

Memiliki adalah sebuah kesadaran yang tumbuh pada diri anak akan eksistensinya. Baginya benda-benda yang diberikan untuknya adalah dunianya. Rasa amannya kadang bergantung pada benda-benda yang biasa dilihatnya. Kalau ada pigura bergambar Eeyore di meja itu berarti kamarku, kalau mobil-mobilan yang itu patah roda depannya itu milikku, dan sebagainya. Tak selalu benda itu bagus tetapi kata ‘milikku’ menjadikan rasa aman bahwa dirinya dicintai dan dianggap istimewa.

Karenanya jika ada anak lain yang datang ke ‘wilayah’nya dan tiba-tiba meminta bagiannya untuk turut serta dalam permainan yang selama ini menjadi miliknya sendiri anak menjadi sangat protektif pada benda-benda itu. Pada saat-saat yang dianggap genting oleh si anak, peristiwa itu kadang dipandang sepele oleh orang tua. Kita kadang berdiri sambil memandang tak setuju.

“Adri, coba pinjamkan mainanmu sebentar pada Qila. Ayo jangan pelit.”

Lalu si anak akan membalas pandangan itu dengan harga diri yang terluka dan semakin memperebutkan benda yang di depan mereka. Biasanya pada Ibu-ibu yang memberi atensi berlebih akan segera membela anaknya masing-masing dan segera terjadi bahwa si pemilik mainan yang akan dikorbankan demi bersikap sopan dan bagi anak permainan itu apapun yang telah diperebutkan menjadi tidak menyenangkan lagi karena campur tangan berlebih orangtua.

Kata pelit, dalam hal ini adalah kata terlarang yang harus dihindari. Tak ingatkah kita bahwa kita juga benci jika ada yang meminjam sepatu yang baru dua hari kita beli, atau meminjam gaun kita yang meski telah lama itu adalah kado pertama dari suami setelah menikah? Anakpun tak berbeda dengan kita. Selama ini bermain adalah keseluruhan dunianya. Alangkah sulit dan mengagetkan jika dia harus membagi apa yang selama ini menjadi miliknya sendiri pada orang lain yang jelas-jelas punya minat yang sama dengannya.

Tetapi bagaimanapun seorang Ibu harus bisa mengajarkan cara berbagi. Katakan pada anak bahwa dengan berbagi boneka, misalnya, tidak akan merusak kebahagiaannya bermain. Mintalah anak memegang boneka yang lain dan katakan bahwa Ibu bangga anaknya mau berbagi. Tetapi jangan lupa berikan waktu untuk mengatur lamanya anak harus bergantian.

“Kalau sudah 3 menit, kalian harus bertukar ya” (Waktu yang bisa ditoleransi oleh anak usia 3 tahun adalah 3 menit). Anak seusia mereka biasanya belum mengetahui waktu, maka putarlah timer pada telepon seluler untuk memperdengarkan pergantian gilirannya. Kalau dengan cara itu mereka masih berebut, dampingi anak-anak bermain. Biasanya dengan adanya orangtua disamping mereka, mereka akan berusaha mencari penyelesaian sendiri, dengan catatan bahwa orang tua dapat menahan diri untuk ikut campur.

Kadang yang terjadi adalah anak yang lebih kecil berebut dengan anak yang lebih besar, jika yang terjadi demikian biasanya adalah anak yang lebih kecil tertarik dengan mainan yang dipegang oleh anak yang lebih besar. Mintalah anak yang lebih besar untuk mengalah dan beri waktu 2 menit untuk anak yang lebih kecil untuk memegang mainan itu. Biasanya pada anak yang lebih kecil, jika rasa ingin tahunya untuk memegang benda itu sudah terpenuhi dia akan melepas dengan mudah dan cepat tanpa menoleh lagi. Maka beri pengertian anak yang lebih besar untuk bersabar dan beri dia pujian jika berhasil menunggu tanpa merasa kesal.

Ada kalanya kedua cara itu justru tak berhasil untuk anak yang lebih besar. Jika setelah Ibu menunggu dan mencoba mainan yang sama terus diperebutkan dengan cara yang kasar, mendekatlah ke arah mereka dan berada sejajar sebelum berkata, “Bergantianlah atau mainan ini akan disimpan sampai kalian memutuskan untuk berbagi.” Dengan ‘ancaman’ itu biasanya mereka akan bernegosiasi dengan cara yang benar.

Berbagi merupakan keahlian yang sangat penting untuk anak. Karena dalam perkembangan selanjutnya kemampuan berbagi akan memberi arah baik pada kemampuan bersosialisasi dan bersikap rasional.

Maaf Sebenarnya Tidak Terlalu Sulit

WP_20140425_005

Di sebuah kerajaan tinggallah Puteri yang manis dan lucu bernama Puteri Kira. Dia selalu menghibur orang lain dengan canda tawanya. Sayangnya Puteri Kira sulit mengucap kata maaf jika melakukan kesalahan.  

Pernah suatu hari saat istri Perdana Menteri mengundangnya minum teh, Puteri Kira tak sengaja memecahkan hiasan kristal di sudut ruangan. Istri Perdana Menteri sangat sedih melihat hiasan kesayangannya pecah. Sayangnya, Puteri Kira tak berkata apa-apa. Dia tidak meminta maaf sedikitpun.

Puteri Kira juga pernah melemparkan sepatu Bu Mona Koki Istana ke atas pohon dan menyangkut disana. Sebenarnya Puteri Kira tak bermaksud usil atau nakal. Dia hanya ingin menolong Bu Mona mengejar kucing yang mencuri ikan dari dapur istana. Tadinya dia berpikir untuk melempar kucing dengan batu tetapi tiba-tiba dia melihat sepatu Bu Mona tergeletak tak jauh dari sana dan langsung saja dia melemparkan sepatu Bu Mona ke arah kucing yang berada di atas pohon. Kucing yang dilempar tak kena sasaran tetapi sepatu Bu Mona tersangkut di tempat paling tinggi dan tak bisa diambil lagi. Bu Mona tercengang melihat kejadian ini. Puteri Kira pun tak kalah kagetnya, “Wah, rupanya anda kehilangan sepatu, Bu Mona,” katanya. Tanpa meminta maaf sedikitpun. Bu Mona sangat kecewa. Sebenarnya dia ingin mendengar kata ‘maaf’ dari Puteri Kira.

Wida, anak Tukang Kebun Istana sahabatnya selalu mengingatkan, “Kalau kau membuat kesalahan janganlah lupa meminta maaf, Puteri Kira. Karena betapapun manis dan lucunya kau orang akan marah padamu bila kau tak mau meminta maaf saat berbuat kesalahan,” tetapi Puteri Kira hanya tersenyum-senyum. Tak terlalu menanggapi nasehat Wida dengan serius.

Bahkan dia mengulanginya lagi dengan menggoda Puteri Biana kakaknya. Puteri Biana meninggalkan sepotong kue coklat untuk dimakannya setelah makan siang. Tetapi tanpa sepengetahuan Puteri Biana, Puteri Kira memakannya dan mengganti kue coklatnya dengan tanah liat. Wah! Nakal sekali ya? Saat Puteri Biana tahu, dia sangat marah. Tetapi Puteri Kira hanya tertawa terbahak-bahak, “Kakak ini tidak bisa diajak bercanda,” katanya geli. Atas kenakalannya dia tak meminta maaf sedikitpun.

Pada suatu siang, Wida mengajak Puteri Kira bermain di taman. “Ayo Puteri kita bermain di taman. Ayahku membuatkan ayunan yang kuat untuk kita.” Betapa senangnya Puteri Kira. Dia berlari-lari bersama Wida menuju ayunan yang dimaksud. Sampai disana Puteri Kira langsung menaiki ayunannya dan mendorong tubuhnya kencang-kencang. Dia tertawa-tawa gembira.

“Ayo Wida! Giliranmu sekarang!” kata Puteri Kira sambil meloncat turun dari ayunan. Wida menaiki ayunan dan mendorong tubuhnya perlahan.

“Ayo ayun lagi Wida. Kamu penakut sekali,” ejek Puteri Kira.

“Aku hanya tidak mau mengayun terlalu kencang, Puteri Kira. Itu berbahaya,” katanya tenang. Tetapi tanpa mempedulikan ucapan Wida, Puteri Kira terus mendorong ayunan Wida.

Sambil tertawa-tawa Puteri Kira terus mengayun dan mengayun lebih kencang. Tak dipedulikannya sahabatnya menjerit ketakutan meminta tolong.

“Hentikan, Puteri! Hentikan!” serunya memohon.

Puteri Kira memutuskan untuk berhenti mendorong melihat Wida benar-benar ketakutan. “Ah, sekali lagi lalu aku akan berhenti mendorong,” kata Puteri Kira dalam hati. Didorongnya lagi ayunan Wida untuk terakhir kalinya dengan lebih keras.

Tapi tanda diduga Wida ikut meluncur ke udara bersamaan dengan ayunannya dan jatuh ke tanah setelah sebelumnya kepala Wida membentur batu. Betapa kagetnya Puteri Kira ketika melihat sahabatnya jatuh dan terluka. Melihat Wida tak bergerak Puteri Kira berlari mencari pertolongan. Para pengawal dan Pak Hori ayah Wida segera berlari menghampiri Wida.

Berbeda dengan Puteri Kira. Dia justru berlari menjauh. Dia sangat ketakutan dan menyesal. Dia tahu bahwa Wida jatuh karena kesalahannya dan dia seharusnya mempertanggungjawabkan perbuatannya tetapi dia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Hari demi hari berlalu. Puteri Kira belum sekalipun menjenguk Wida. Dia hanya tahu kabar Wida dari para koki istana. Wida mulai sembuh meski dahinya luka dan dia harus banyak beristirahat. Puteri Biana kakaknya bertanya dengan heran kenapa dia tak juga menjenguk Wida. Puteri Kira mengungkapkan banyak alasan tetapi sebenarnya adalah dia tak tahu bagaimana harus mengucapkan kata ‘maaf’.

Puteri Kira berusaha tidak peduli. Lama-lama Wida akan sembuh dan mulai berteman lagi dengannya, pikirnya, dengan begitu dia tak perlu meminta maaf. Tetapi ternyata setelah sembuh Wida lebih memilih bermain di luar istana bersama anak-anak lain. Puteri Kira tetap sendirian. Dia sangat merindukan Wida tetapi tak tahu bagaimana memulai berteman kembali tanpa meminta maaf. Maaf itu ternyata sangat sulit diucapkan, keluhnya.

Akhirnya karena tidak tahan Puteri Kira memutuskan untuk mendatangi sahabatnya.

“Apa kabar?” tanyanya kaku.

Wida mengangguk, “Baik,”sahutnya.

“Sudah sehat?” tanyanya lagi.

Wida mengangguk lagi dan mulai beranjak pergi, “Aku ditunggu teman-temanku,” katanya.

Puteri Kira tak tahan lagi, “Maaf. Aku minta maaf!” teriaknya.

Wida kelihatan terkejut. Puteri Kira pun tak kalah terkejut mendengar suaranya sendiri.

Wida tersenyum dan memeluk Puteri Kira sahabatnya. “Aku sudah memaafkan,” ujarnya. Puteri Kira sangat lega mendengarnya. Dia sendiri heran ternyata mengucapkan maaf tak sesulit yang dia bayangkan.

 

pernah dimuat di majalah Bobo

 

Uji Nyali di Rumah Sendiri

Rumah yang kutempati sejak kecil sampai sebelum menikah, adalah sebuah rumah joglo kuno di Kotagede yang dibangun tahun 1864. Banyak orang menganggap rumah kuno menyeramkan. Bukannya menolak anggapan itu, tapi bagiku yang tinggal di dalamnya mau tidak mau akhirnya terbiasa juga.

Kata kakekku, semua makhluk hidup berdampingan. Nah, mungkin saking akrabnya, makhluk lain penghuni rumah joglo itu ikut mengingatkan shalat saat waktu Maghrib tiba. Kalau yang belum shalat ada dua orang, jendela di ruang bernama senthong tengen, akan terbanting dengan sendirinya sebanyak dua kali. Kalau yang belum shalat ada tiga orang, ya terbantingnya tiga kali, dan seterusnya. Bagi yang nggak terbiasa pasti akan terbirit-birit ketakutan, tapi nyatanya kami bisa menerima cara mengingatkan yang cukup aneh itu sebagai kenyataan. Aku menyebutnya uji nyali

Makhluk lain ini juga senang bercanda.

Aku ingat dulu saat masih remaja, tiduran di atas tempat tidur sambil mendengarkan lagu Tommy Page Shoulder to Cry On dengan volume pol.

Everyone need… a shoulder to cry on..

Everyone need… a friend to rely on…

Aku ikut bernyanyi keras-keras ketika tiba-tiba tempat tidurku bergoyang. Refleks aku melihat ke arah lampu untuk memastikan apakah yang barusan karena gempa atau bukan. Tapi ternyata lampu tak bergerak sedikitpun.

“Wah, ada yang usil nih,” pikirku sambil melongok ke bawah tempat tidur, yakin banget kalau adikku akan kutemukan sedang meringis di kolong. Tapi ternyata tidak ada seorangpun disana.

Aku mulai was-was. Sambil melompat turun dari tempat tidur, aku mencoba menggoyangkan sendiri tempat tidur itu agar aku bisa mengetahui sejauh mana goyangan yang bisa kubuat. Ternyata? Tempat tidur kayu jati itu tidak bergeser sedikitpun saat kugoyangkan.

Jangan ditanya merindingnya bulu kudukku saat itu. Aku langsung lari tunggang langgang meninggalkan Tommy Page menyanyi sendirian. Oke deh, aku memang menganggapnya bercanda setelah kejadian itu lewat dua puluh tahun kemudian. Tapi saat itu tentu aku sangat ketakutan.

Keisengan makhluk lain ini, nggak terbatas pada penghuni rumah, tetapi juga tamu-tamu yang menginap. Yang paling sering adalah, tengah malam si tamu akan bangun karena mendengar suara-suara riuh orang-orang sedang berkumpul di pendopo. Seperti sebuah pertemuan besar. Nah, kalau si tamu berjalan ke arah pendopo maka yang didapatinya adalah pendopo gelap, lengang, dan tentu saja tak ada pertemuan apapun yang sedang berlangsung.

Takut? Herannya tidak. Semua tamu yang kami interogasi setelahnya hanya mengaku merinding sedikit, tetapi ya sudah, cuma begitu saja dan kembali tidur lagi seperti nggak terjadi apa-apa.

Teman-teman masa kecilku, juga menjadi saksi kalau makhluk lain yang tinggal di rumah ini tidak menyeramkan. Tapi tetap saja teman-temanku tak suka dengan mereka. Lho, kenapa? Tentu saja, karena dengan adanya makhluk lain ini, nggak ada yang bisa mengambil jambu air, mangga, jambu monyet, dan buah lain tanpa ijin, karena setiap ada anak yang berusaha mengambil tanpa ijin, sudah pasti makhluk lain ini menimpuki kepala mereka dengan buah-buahan itu tanpa ampun.

Setelah menikah, aku tidak lagi tinggal disana. Kami berdua membeli rumah di desa kecil beberapa kilometer dari Yogyakarta. Rumah kami berarsitektur modern minimalis, pokoknya jauuh dari gaya rumah joglo yang rumit dan berkesan tua. Tapi apakah dengan pindah ke rumah baru, makhluk lain menjadi bagian dari masa lalu? Ternyata nggak samasekali.

Seminggu pertama setelah pindah, aku mulai mendengar suara kaki anak kecil berlarian berkeliling rumah. Kukira tadinya aku yang salah dengar, karena waktu aku menanyakannya pada suamiku, dia menggeleng. “Aku nggak dengar apa-apa tuh.” Oh, baiklah. Jadi hanya aku saja yang mendengar.

Uji nyali yang kupikir akan berhenti setelah tak lagi tinggal di rumah joglo tua berusia lebih dari seabad, pupus sudah. Bukan hanya suara kaki kecil berlarian, tetapi juga suara desah nafas saat tak ada seorangpun di rumah selain aku, dan… yang terakhir, tempat tidurku di rumah ini bergoyang saat aku mendengarkan lagi lagu Shoulder to Cry On nya Tommy Page. Entah apa yang dipikirkan makhluk-makhluk lain itu, aku benar-benar tidak tahu.

Sesekali aku masih pulang ke Kotagede. Dan meski tak ada seorangpun disana, aku akan mengucap salam. Karena pernah sekali aku datang tanpa salam dan mengambil piring-piring almarhum ibu, sampai di halaman kedua spion sepeda motorku sudah berbalik arah 180 derajat ke arah depan.

Takut? Tidak juga.

Merinding? Hampir pasti. Tapi bagaimana lagi, aku kan menyebut ini sebagai uji nyali.

 

 

 

Seorang Wanita Berhati Surga

Tulisan ini ada di buku Wonder Women
Tulisan ini ada di buku Wonder Women

: lima belas tahun yang lalu

 

Sebut saja namanya Mbak Ginuk. Dia adalah seorang penjual ayam goreng yang berkeliling dari rumah ke rumah, mulai dari jam 10 pagi, setiap hari selain hari Minggu. Wanita itu berjalan menuntun sepeda bututnya, dengan keranjang berisi ayam goreng dalam kardus, dan berteriak, “Ayam gor-reengg!” setiap sepuluh detik sekali.

Mbak Ginuk tak pernah menaiki sepedanya. Tadinya aku mengira kalau wanita itu sengaja menuntun sepedanya agar tak ada seorangpun terlewat saat dia sedang menawarkan dagangannya, atau dia tak menaiki sepedanya karena takut keranjangnya yang berat di kanan dan kiri terjatuh tanpa disadarinya, atau berbagai alasan lain yang mirip dengan alasan yang kupikirkan. Tetapi ternyata aku keliru. Mbak Ginuk tetap menuntun sepedanya saat sore hari, ketika keranjang di kanan dan kirinya telah kosong, dan dagangannya telah habis terjual.

Dengan penasaran aku menanyakan padanya, sebuah pertanyaan usil yang kuberikan padanya setelah aku membeli separuh ayam goreng, sambal, dan lalap dalam kotak kardus berwarna putih. “Mbak Ginuk nggak capek nuntun sepeda kemana-mana? Kenapa nggak dinaikin saja? Kalau pulang jualan kan keranjangnya sudah kosong. Disuruh nuntun terus ya sama dukunnya?” godaku.

Mbak Ginuk terkekeh. Wanita itu menatapku dengan mata kanannya yang terpicing, bukan sengaja memicingkan mata padaku, melainkan mata kanannya memang terpicing sejak dia masih bayi, begitu katanya. “Mbak Niar ini lucu. Masak disuruh sama dukun? Orang Islam nggak boleh pergi ke dukun, Mbak.”

“Nah, lalu kenapa kok dituntun terus?” tanyaku penasaran.

Mbak Ginuk tertawa dengan wajah memerah. Saat tertawa, mata kanannya benar-benar hanya tampak seperti sebuah garis. “Saya nggak bisa naik sepeda, Mbak. Jadi kemana-mana ya harus dituntun begini.”

Oh. Aku tersenyum. Geli campur haru.

Karena tahu akan hal itu, aku jadi lebih sering memaksa ibu membeli ayam gorengnya. Tak apa. Ayamnya juga enak kok. Mbak Ginuk memasaknya dengan bumbu yang meresap hingga ke tulang. Kalah deh Pak Kolonel dari Amerika itu.

Mbak Ginuk memiliki seorang anak laki-laki berumur 8 tahun. Setiap kali ada yang menanyakan tentang anaknya, mata wanita itu bersinar bangga saat menjawabnya. Kurasa itu wajar. Anak lelakinya adalah anak yang baik, patuh, dan sangat menyayanginya. Aku pernah mendengar Mbak Ginuk bercerita pada ibu kalau anak lelakinya mau mengeroki punggungnya jika dia kelelahan dan masuk angin.

Untuk anaknya juga kurasa, Mbak Ginuk berusaha bekerja keras. Mbak Ginuk tak bisa mengandalkan suaminya begitu saja karena pria itu sering meninggalkan rumah begitu saja dan pulang tanpa membawa uang. “Bapaknya tole (sebutan untuk anak lelaki) itu masih berusaha mencari pekerjaan, jadi saya harus prihatin dulu,” ucapnya dengan suara lembut yang riang seperti biasanya. Tak sedikitpun tampak kekesalan pada wajahnya.

Mbak Ginuk adalah salah satu orang tersabar yang pernah kukenal. Dia tak keberatan dengan tingkat keprihatinan yang barangkali sulit dijalankan orang lain. Pernah suatu hari dia harus kehilangan berkotak-kotak ayam gorengnya di tempat parkir di depan pasar saat dia mengantarkan pesanan. Saat kembali dan mengetahui ayamnya telah menghilang, dia hanya memejamkan mata untuk menghilangkan marah, dan berhasil meyakinkan dirinya sendiri kalau ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan ayam goreng itu dibandingkan dengan dirinya. Subhanallah. Kata ibu aku jelas harus belajar banyak dari ceritanya, mengingat aku bisa saja kehilangan kesabaran hanya karena lauk di meja makan sudah didahului orang lain.

Sampai suatu hari Mbak Ginuk tak lewat lagi. Dia tak pernah berkeliling lagi dari rumah ke rumah, tak pernah menuntun sepedanya, bahkan tidak juga meski tanpa sepedanya. Dia tak kelihatan sama sekali.

Aku bertanya pada ibu. Bukan menanyakan Mbak Ginuk sebenarnya, melainkan ayam gorengnya. Aku benar-benar merasa kehilangan ayam gorengnya, dengan sambal bajak yang nikmat, dan lalapan yang selalu segar. Tetapi ibu sama saja sepertiku, tak tahu.

Seminggu menjadi dua minggu, kemudian tak terasa menjadi sebulan.

Setelah lewat sebulan, ibu mendengar sebuah kabar tentang Mbak Ginuk, dan menceritakannya padaku.

“Apa?!” tanyaku terkejut.

“Itu benar,” bisik ibuku.

Oh. Aku mengerutkan kening. Sedih dan gusar.

Mbak Ginuk tak berkeliling untuk berjualan karena masuk rumah sakit. Matanya bengkak dan bola matanya hampir keluar, tulang pipinya retak, dan gigi depannya rontok dua buah. Bukan, bukan mata kanannya yang bengkak melainkan mata kirinya, hingga kini dia kesulitan melihat. Tulang pipinya yang retak juga harus dirawat penuh oleh dokter. Giginya juga telah ditangani dokter gigi, meski kata dokter gigi dia harus merelakan dua giginya hilang sebelum waktunya. Semua terjadi karena suaminya. Pukulan suaminya.

Tak ada seorangpun yang menjenguk Mbak Ginuk. Sakit yang dialami karena kekerasan rumah tangga mungkin tak enak jika harus dijenguk. Barangkali suaminya akan lebih naik darah kalau perhatian orang-orang jatuh pada Mbak Ginuk. Karena perhatian yang diterima, berarti adalah penyalahan atas perbuatan suaminya. Akhirnya agar tak menjadi lebih runyam, ibuku, juga ibu-ibu yang lain, bersepakat tak akan datang ke rumahnya.

Saat Mbak Ginuk kembali bekerja, dan berhenti tepat di depan ibu-ibu yang sedang berkumpul, dan aku berada di dekat mereka, aku terpaksa tercekat ketika melihatnya. Kupejamkan mata sesaat. Tak tahan melihat bola mata kiri Mbak Ginuk yang seperti agak mencuat keluar, dengan warna putihnya yang kemerahan, seolah darah telah merembes kesana. Ditambah lagi dengan wajahnya yang rasanya lebih miring, dan mulutnya yang kosong karena dua gigi depannya menghilang. Tadinya kukira dengan mata kanan yang selalu terpicing saja sudah parah, tetapi ini lebih lagi. Wajahnya benar-benar menyedihkan.

Dengan penuh simpati, ibu-ibu menanyakan, bagaimana kabarnya. Berharap mendengar cerita versi lengkap dengan keluhan dan sedu sedannya. Tetapi semua harus menggigit jari karena Mbak Ginuk hanya tersenyum.

Dengan wajah seperti itu Mbak Ginuk berkata pada ibu-ibu kalau dia tak apa-apa. Alhamdulillah masih diberi kesehatan dan kekuatan, begitu dia bilang. Tuhan benar-benar Maha Adil, katanya.

Adil? Keadilan apa yang disadarinya dari wajah miring, gigi ompong, dan bola mata yang mencuat itu?

Dia merasa Tuhan itu adil karena di saat kejadian itu, anak lelakinya yang masih berumur 8 tahun, maju di depannya, melindunginya. Si pendiam itu berteriak pada bapaknya untuk berhenti, dan suaminya berhenti memukulinya. Tuhan Maha Adil karena, kalau tak ada anak lelakinya mungkin dia sudah mati terbunuh di tangan suaminya sendiri.

Dia merasa Tuhan itu adil karena meski telah mengalami hal sesulit itu, dia masih bisa sembuh dan kembali bekerja untuk menghidupi anaknya. Dia ingin mengumpulkan uang agar anak lelakinya masuk pesantren, katanya.

Dia juga merasa Tuhan itu adil, karena setelah peristiwa itu, suaminya ditahan polisi karena laporan dari tetangga-tetangga. Biarlah itu juga menjadi pelajaran baginya, katanya.

“Lalu bagaimana kalau suami Mbak Ginuk sudah keluar? Kembali kemana dia nanti?” tanya seorang ibu.

“Ya tentu ke rumah saya,” senyum Mbak Ginuk, “dia kan suami saya.”

Wanita itu tak dendam, karena katanya, semua orang memiliki tanggung jawabnya sendiri di dunia. Siapa yang bisa menjalankan sebaik-baiknya, dialah yang terbaik di mata Sang Pencipta. Tanggung jawabnya adalah menjadi ibu yang baik bagi anaknya dengan cara bekerja keras untuk menghidupinya, dan menjadi istri yang baik dengan cara bersabar.

Cukuplah baginya apa yang diterimanya dan harus diperjuangkannya di dunia. Dia tak akan mengeluh, tegasnya.

Kami menelan ludah dengan kecewa. Jelas kami tak akan mendapat tambahan gosip hangat dari korban kekerasannya secara langsung. Tetapi sebenarnya, tambahan cerita seberapapun tak akan pernah mengenyangkan siapapun yang mendengarnya, hanya akan menambah beban orang yang menjalaninya.

Bersama yang lain aku memilih ayam goreng yang akan kubeli, dan membayarnya cepat-cepat. Mbak Ginuk mengumpulkan lembaran-lembaran uang yang diterimanya dengan wajah riang. Tak ada yang lebih membahagiakannya selain dapat bekerja demi kehidupan yang lebih baik, bagi anak satu-satunya.

Saat Mbak Ginuk berpamitan dan kembali meneruskan langkahnya menuntun sepeda, kutatap punggungnya lekat-lekat. Kukagumi wanita itu karena kesabaran dan kekuatannya. Dalam setiap langkahnya, ada harapan untuk menjadikan diri dan keluarganya menjadi lebih baik dari sekarang. Dalam setiap harapannya tersimpan doa yang dikirimkan melalui kesabaran dan ikhlas, menerima dengan terbuka setiap putusan Tuhan baginya.

Aku terus menatap langkahnya yang menjauh. Di depan sana ada sebuah tikungan dan dia akan berbelok ke sana. Sebelum membelokkan sepedanya, tiba-tiba dia menoleh kembali ke arah kami.

Mbak Ginuk tersenyum ketika melihatku masih menatapnya. Dia tersenyum dengan dua gigi depannya yang menghilang, wajah miringnya yang entah kapan akan kembali seperti semula, dan sepasang mata yang begitu berlainan—satu seperti menghilang dan satu lagi berjejalan seperti ingin keluar.

Seharusnya aku iba melihatnya, tetapi melihat langkah tegapnya, juga senyumnya menatap dunia, aku tahu aku tak dapat merasa iba. Justru dialah orang yang beruntung di dunia. Karena dalam hatinya, Mbak Ginuk telah menciptakan surga.

 

 

 

 

 

Dunia Kata-Kata Shadra

Nggak terasa anak yang dulu kugosipin dalam tulisan ini, sekarang udah gede banget… hampir 14 tahun.  Semoga saja dia nggak iseng buka-buka blog ini dalam waktu dekat. hahahaha…

Ini fotonya waktu umur 5 tahun.

DSC03344

Saat anak sulungku, Shadra, berumur 2,5 tahun, dia telah belajar kata-kata beberapa langkah lebih cepat dibanding dengan teman-temannya. Mungkin itu juga karena dia terlambat belajar berjalan. Kata orang-orang tua jaman dulu, kalau anak terlambat berjalan biasanya dia berbicara lebih cepat. Barangkali itulah yang terjadi dengan anakku.

Senang juga rasanya mempunyai anak yang pintar bicara. Paling tidak, karena dia sudah dapat berbicara dengan jelas, aku tak pernah keliru mengartikan kata-katanya. Jadi tidak mungkin terjadi aku mengambilkannya ‘beras’ karena dia meminta ‘gelas’, misalnya.

Kami, aku dan suamiku, juga merasa terhibur mendengar celotehannya yang bermacam-macam. Di usianya saat itu, dia sudah bisa menyusun cerita sederhana dengan runtut. Dia sudah bisa bercerita, dengan siapa hari itu dia bermain dan apa yang dimainkannya, misalnya.

Tetapi tak jarang juga, kepandaiannya berbicara membuatku kerepotan. Sebagai gambaran, waktu itu kami mengontrak rumah di sebuah lingkungan perumahan yang padat penduduk. Rumah di daerah itu kecil-kecil, dan tembok kami menyatu dengan tembok tetangga. Suara ketukan kecil di dinding saja bisa terdengar sampai rumah tetangga. Dan kadang-kadang itu menjadi salah satu masalah.

Pernah suatu pagi, Shadra telat bangun. Ayahnya sudah ke kantor pagi-pagi sekali, dan aku sedang mandi. Begitu dia membuka mata, tak ada seorangpun yang ditemuinya, dan yang didengarnya hanya suara gayung cebar-cebur di kamar mandi. Dia sih tidak menangis. Shadra hanya bangun dan melangkah ke arah kamar mandi, menghampiri suara gayung yang didengarnya.

“Ibuuu…,” panggilnya.

“Ya, Nak. Sebentar yaa,” kataku dari kamar mandi. Sabun masih belepotan di wajahku, dan sampo masih berbusa di kepalaku.

“Ibuuu!” teriaknya keras. Dia mengetuk pintu kamar mandi dengan kepalan kecil tangannya.

“Iya, iyaa… sabar yaa,” ucapku lagi, masih sibuk menggosok wajah.

“Ayaaah…,” teriaknya sama keras dengan tadi.

Lho! Kok jadi manggil ayah?

“Ayah ke kantor, Nak,” bujukku dari dalam kamar mandi sambil mengguyur wajahku dengan air.

Shadra tak sabar mendengarnya. Bujukanku sama sekali tak menenangkannya. Anak itu justru tambah keras memukul pintu kamar mandi yang terbuat dari seng. Bang! Bang! Bang!

“Ibuuuu! Ayaaaahhh!” teriaknya seperti memanggil dalam jarak 20 meter. “Bukaaaiinn kamaal mandinyaaaaaa…”

Glek. Aku terpaku mendengarnya. Suara cekikikan yang jelas-jelas kudengar dari arah dapur tetangga sebelah membuat wajahku merah padam. Aduuuuh! Gawat! Mereka pasti mengira aku sedang di dalam kamar mandi bersama dengan suamiku dan meninggalkan anakku yang malang di depan pintu, membiarkannya memanggil-manggil kami.

“Naakk… Ayah pergi ke kantoooorr!” sahutku dengan suara keras, agar tetangga mendengar. “Ibuu sendiriaaannn di kamar mandiii!”

“Hwaaaa…!” Gawat. Dia mulai menangis karena merasa dibentak. “Ibuuu! Ayaaah! Bukaiin pintunyaaa! Aku mau masuuk…”

Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Payah nih. Tidak ada cara apapun yang bisa membuat tetangga-tetanggaku tahu kalau anakku bukan ‘anak-malang’ yang ditinggal berduaan di kamar mandi, kecuali aku harus cepat-cepat keluar setelah menyingkirkan semua busa ini dari rambutku. Byuuuurrr…

Setelah insiden gedoran kamar mandi selesai, bukan berarti tak ada lagi yang terjadi. Shadra ini, justru karena masih kecil maka dia begitu jujur dan polos. Bagi orang dewasa seperti orangtuanya, kejujurannya kadang merepotkan.

Suatu hari setelah berbelanja, aku mendapati bawang merah yang kubeli dari tukang sayur ternyata tak semuanya kering. Ada beberapa yang telah membusuk, padahal harganya cukup tinggi saat itu. Udangnya juga sebagian tak segar, dan dicampur begitu saja dengan udang yang bagus dalam satu plastik yang sama.

Aku kesal melihatnya, dan berkata pada suamiku. “Lihat, Yah. Kadang orang mau untung cepat, tapi merugikan orang lain. Barang busuk semua begini dijual,” ungkapku kesal. Padahal sih yang busuk sebenarnya tidak semua. Tomat dan bayam yang kubeli juga masih segar tadi. Aku hanya ingin berkata kalau seharusnya penjual tak membiarkan barang busuk sampai ke tangan pembeli.

Suamiku mengangguk penuh simpati, dan Shadra juga meniru ekspresi wajah ayahnya. Tetapi esoknya, semua yang terjadi di luar dugaanku.

Saat ibu-ibu berkumpul di depan untuk membeli sayur, tiba-tiba pahlawan kecilku ini menyeruak menerobos kaki ibu-ibu yang lain. Dengan wajah serius dia berkata pada si penjual sayur. “Kemalin, udangnya busuk, bawangnya busuk, tumatnya busuk, semua busuk.”

What???

Ibu-ibu tetangga mulai tertawa mendengarnya. Sementara warna merah mulai menjalari wajahku, juga wajah penjual sayur.

“Apa yang busuk?” mata si penjual sayur menatapku. Wajahnya tak terima.

“Oh, eh. Bawang, sedikit,” ujarku tak enak. “Udang juga, sedikit.”

“Busuk. Semua,” Shadra menimpali dengan serius.

Kugendong anakku cepat-cepat.

Penjual sayur berwajah galak itu mulai merepet. Dia mengomel panjang lebar tentang dia juga korban dan bukan orang yang bersalah, dia hanya mendapat barang itu dari pasar dan penjual di pasarlah yang tidak jujur, dan terakhir dia mengatakan di musim hujan begini bawang merah memang tak semua bagus. Semua bukan salahnya, dan tentu aku seharusnya tak mengajari anakku yang masih balita mengatakan dagangannya busuk.

Ap-paa??? Oh, ini benar-benar kacau. Mana mungkin aku mengajari anakku untuk menyerangnya? Memangnya aku komandan pasukan khusus? Meski aku menjelaskan padanya hingga jungkir balik sirkus, dia tak akan percaya sedikitpun pada kata-kataku. Baiklaaah…

Tetapi kadang kupikir-pikir, anak memang hanya merekam kejadian di sekitarnya, yang dilihatnya. Akulah yang harus lebih berhati-hati supaya tak membuatnya melihat atau mendengar sesuatu yang bisa ditirukannya, atau diceritakannya pada orang lain.

Sayangnya, tak setiap kali aku bisa sehati-hati itu. Kadangkala ada kejadian-kejadian tak sengaja yang muncul begitu saja. Seperti siang ini.

Aku sengaja masak opor ayam. Shadra baru suka makanan berkuah santan, dan aku berharap dia makan banyak hari ini. Kulebihkan jumlah santannya agar ayamnya lebih empuk. Selain itu aku juga ingin membaca sebuah novel, jadi kalau kutinggalkan ayam itu dengan santan yang lebih banyak, aku tak akan khawatir kuahnya cepat habis di atas api.

Novelnya asyik dan membuat aku lupa diri. Aku membaca dan membaca di ruang tamu sambil menggosok-gosok punggung Shadra yang tiduran di pangkuanku, lupa sama sekali pada oporku. Bau ayam panggang mulai tercium. Hmm, enak. Siapa yang masak ayam panggang nih? Batinku. Tapi aneh, bau ayam panggang sepertinya tercium dari arah belakang rumahku sendiri.

Astaga! Aku melonjak seperti tersengat listrik. Oporku! Oporku! Aku berlari panik. Shadra mengikutiku dari belakang dengan wajah yang ikut panik. Kuahnya lenyap berganti dengan sisa bumbu dan santan yang kecokelatan membakar ayam. Dengan terburu-buru aku meraih lap dari jemuran dan kuangkat wajan dari kompor minyak tanahku. Lap yang kupegang rupanya terlalu dekat dengan api dan apipun menyambar ujungnya. Separuh panik, separuh jengkel, aku menginjak-injak lap itu agar apinya padam. Kutatap ayam di wajan dan kusendok perlahan ke dalam piring. Memang sih, nggak terlalu mirip dengan opor. Opor keringpun tidak. Tetapi baunya tak terlalu gosong dan aku bisa mengatakan kalau aku sengaja membuat ayam panggang, suamiku tak akan tahu.

“Shadra, makan dulu yuk,” ajakku setelah semua kusiapkan. Nasi hangat dan ayam kecelakaan telah siap di meja makan.

Lho, dimana anakku? Aku keluar rumah dan mencarinya ke rumah sebelah. Sepertinya aku mendengar suaranya di sana. Ternyata benar. Anakku memang berada di sana, bersama seorang kakek dan nenek, juga anaknya, yang tinggal di sebelah rumahku. Mereka sedang tertawa terbahak-bahak seperti nonton Srimulat manggung.

“Jadi ibu masak apa?” tanya si nenek tetangga.

“Nih, masak celana Ayah.” Itu suara Shadra, ditimpali tawa riuh mereka sekeluarga.

Astaga! Apa maksudnya? Apa maksudnya? Aku merangsek masuk ke dalam. Kulihat Shadra sedang berdiri di depan mereka, membawa celana dalam ayahnya yang ujungnya terbakar. Sesuatu yang kukira sebagai lap dan ternyata harta karun berharga. Hiks. Masak celana ayah, katanya? Gubrak…

Anakku Shadra suka makan kerupuk kaleng keliling yang dijual oleh seorang laki-laki yang dipanggil dengan sebutan, ‘Mamang Kerupuk.’ Meski begitu, aku tak membelikannya setiap hari karena takut MSG dalam kerupuk akan mengganggu kesehatannya.

Tadinya dia memang menanyakannya, tetapi aku menjawab, “Ibu punya kerupuk udang, ibu punya emping. Yuk digoreng.” Dan berhasil. Anakku tak terlalu menanyakan Mamang Kerupuk lagi. Kalau Mamang Kerupuk lewat dan dia sedang bermain di rumah anak tetangga, Shadra tak lagi pulang dan merengek-rengek minta dibelikan.

Maksudku, kukira aku berhasil, sampai pada suatu hari si Mamang Kerupuk berhenti tepat di depan rumah sambil tersenyum lebar padaku, yang segera menghampirinya karena sepertinya dia sedang ingin berbicara denganku. “Ada apa, Mang?” tanyaku ingin tahu.

Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar catatan. “Sudah genep sarebu, Bu.”

“Apanya, Mang?” tanyaku bingung.

“Itu, puteranya ambil kerupuk saya sudah sepuluh kali tiap maen di jalan. Jadi genep sarebu.”

Anakku hutang kerupuk? Di usianya yang belum genap 3 tahun? Oh My God! Speechless.

Menjadi ibu memang menyenangkan, meski tak dapat dipungkiri terkadang kelelahan. Begitupun aku. Apalagi istirahat siang baru bisa kulakukan kalau anakku juga tertidur lelap di sampingku. Di luar itu, selagi dia masih terbangun, aku tentu tak dapat tidur begitu saja.

Siang itu seperti biasa Shadra tidur. Aku ikut tertidur di sampingnya. Aku baru saja mencuci dan menyeterika pakaian, dan aku ingin terlelap barang sebentar. Rasanya baru saja mata ini terpejam ketika lamat-lamat aku mendengar suara tetanggaku bertanya heran.

“Lho, Shadra kok nggak tidur siang?”

“Sudah,” jawabnya keras, “Sudah tidul siang!”

“Ibu mana?” tanya tetanggaku.

“Ibu tidul. Pusing!” jawab Shadra. Pusing? Dadaku mulai berdetak kencang. Kenapa tiba-tiba dia berkata aku pusing? Apalagi yang hendak dikatakannya?

“Wah ibu pusing ya. Sakit apa?” tanya tetanggaku bersimpati.

“Sakit… sakit pusing. Nggak punya uang,” jawabnya mantap.

Tetanggaku tertawa mendengar jawaban lucu itu.

Aku memejamkan mata sambil menghela nafas. Aku ingat pernah mengatakan itu padanya saat dia meminta jeli berwarna merah menyala. “Ibu pusing kalau kamu jajan terus. Ibu nggak punya uang!” kataku waktu itu. Tapi itu kan cuma alasan biar dia nggak jajan sembarangan.

“Kalau begitu jangan main jauh-jauh, ya,” kata tetanggaku, “masuk sana temani Ibu.”

Tak kudengar dia menjawab, tetapi suara langkah berlari terdengar masuk ke dalam rumah. Anakku muncul dari balik pintu kamar dan memelukku erat-erat.

“Temani ibu, ah,” katanya dengan riang. Lalu dia mulai berceloteh dengan keras tentang macam-macam.

Aku hanya bisa tersenyum pasrah. Ah, anakku. Duniamu saat ini memang dunia kata-kata. Ibumu bisa apa?

 

Kisah ini juga bisa dibaca di buku ini
Kisah ini juga bisa dibaca di buku ini

 

 

 

 

 

 

 

 

Ara dan Balon Kebahagiaan

Ara adalah seorang anak perempuan yang tinggal bersama nenek dan bibinya karena orangtuanya bekerja di luar negeri. Mereka saling menyayangi sehingga meski tak tinggal bersama orangtuanya, Ara tak pernah merasa sedih dan kesepian.

Suatu hari, nenek Ara sakit keras dan meninggal dunia. Ara sangat sedih dan merasa kehilangan.

Selama berhari-hari Ara hanya menangis dan mengurung diri di dalam kamar. Dia tak ingin pergi bermain, tak ingin pergi ke sekolah, tak ingin makan, tak ingin mandi, dan tak ingin bertemu dengan siapapun. Satu-satunya yang diinginkan oleh Ara adalah bertemu kembali dengan neneknya dan memeluknya erat-erat seperti biasanya, tetapi tentu saja hal itu tak dapat dilakukannya lagi.

Bibinya, Bibi Kima, berusaha menghiburnya.

“Ayolah Ara, jangan bersedih lagi. Kau bisa jatuh sakit jika begini,” bujuk Bibi Kima dari depan pintu kamarnya. Ara tak menjawab. Air mata menetes perlahan dari sudut matanya tanpa henti. Ara merasa dirinya sangat kesepian tanpa nenek.

Malam itu juga, Ara bermimpi.

Nenek datang mengenakan pakaian indah dan tersenyum lembut padanya.

“Ara, kau ini anak perempuan yang selalu ceria. Apa yang terjadi padamu sampai kau begini?” tanya nenek.

“Aku sangat sedih kehilangan Nenek,” jawab Ara pelan. Nenek masih tersenyum, “Cobalah berjalan-jalan keluar untuk menghilangkan kesedihanmu, Ara. Jika kau terus mengurung dirimu di dalam kamar tanpa berbuat apa-apa, lama-lama kau bisa sakit,” kata nenek sambil memeluk Ara erat-erat.

Lalu Ara terbangun. Mimpi itu terasa begitu nyata dan pelukan nenek membuat semangat Ara timbul. Pagi harinya, Ara keluar dari kamar, mandi, dan makan sepiring kecil nasi goreng. Bibi Kima sangat senang melihatnya.

“Hari ini aku ingin berjalan-jalan, Bibi,” putus Ara.

“Boleh saja asalkan tak terlalu jauh. Saat makan siang, kau sudah harus kembali ke rumah seperti biasa,” kata Bibi Kima.

Ara mengangguk setuju.

Belum berapa jauh dari rumah, dia bertemu dengan seorang penjual balon. Penjual balon itu menyapa Ara, “Halo, gadis kecil yang cantik. Apakah kau mau membeli balon? Pilih saja warnanya. Mau yang merah, kuning, hijau, ungu atau biru?”

Ara menggeleng, “Pak, aku sudah terlalu besar untuk bermain balon. Umurku sudah 9 tahun.”

Penjual balon itu tak kurang akal, “Mungkin kau ingin membelinya untuk adikmu?”

“Aku tak punya adik,” Ara menjawab. Penjual balon itu mengamati wajah Ara, “Kelihatannya kau baru saja berhenti menangis. Matamu sembap dan wajahmu terlihat sedih.”

Ara tak berkata apa-apa.

“Aku akan memberimu sebuah balon. Balon yang ini lain, namanya Balon Kebahagiaan. Dengan memegang balon ini kau akan merasa lebih baik.” Diulurkannya sebuah balon bening yang tadi tak terlihat oleh Ara. Ara menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Kemudian dia kembali berjalan.

Angin berhembus perlahan. Aneh, semakin lama, balon yang dipegangnya erat-erat mulai mengikuti arah angin. Balon itu mulai membawa Ara terbang di angkasa. Oh, oh, Ara sangat ketakutan ketika menyadarinya. Tetapi dia tak mungkin melepaskan pegangannya dan melompat begitu saja karena dia akan terluka jika melakukannya.

“Akan dibawa kemana aku?” bisiknya cemas. Tak lama kemudian, balon kebahagiaan itu membawanya terbang di atas perpustakaan kecil di dalam kampung. Ara ingat, dulu nenek sering membeli beberapa buku anak-anak setiap bulan dengan uang pensiunnya. Kata nenek, buku-buku itu akan disumbangkannya ke perpustakaan kampung agar anak-anak yang tak mampu membeli buku-buku juga dapat terus membaca. Kalau nenek masih hidup, pasti nenek akan mengirim buku juga ke perpustakaan kecil ini, pikir Ara.

Tiba-tiba Ara mendengar anak-anak berkata, “Betapa menyedihkan kalau Nenek Tuti tak ada. Hanya dia yang peduli dengan perpustakaan kecil ini.” Ara kaget mendengarnya. Nenek Tuti adalah nama neneknya.

“Ah, Nenek Tuti sangat baik. Mari kita doakan dia. Karena Nenek Tutilah kita semua dapat membaca banyak buku bagus yang tak bisa kita beli. Kita harus menjadi anak-anak yang pintar supaya Nenek Tuti bangga.”

Ah, ternyata nenek menyumbangkan buku-buku itu ke perpustakaan ini, pikir Ara. Angin kembali berhembus dan membawa balon yang dipegangnya kembali terbang. Kali ini balon kebahagiaan membawanya ke sebuah kebun kecil. Beberapa orang wanita seumur dengan neneknya sedang berjongkok sambil menyiangi rumput.

Ara mendengar seseorang berkata, “Bu Tuti berpesan, kalau tanaman obat ini harus kita rawat baik-baik agar siapapun yang membutuhkannya dapat mendapatkannya dengan cepat.”

“Benar. Bu Tuti orang yang sangat baik. Kita akan selalu mendoakannya agar dia mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.”

Balon kebahagiaan kembali membawa Ara terbang. Kali ini balon itu terbang di atas sebuah panti asuhan. Tiba-tiba dilihatnya Bibi Kima datang membawa sebuah bungkusan besar. Anak-anak balita itu berlari ke halaman untuk menjemput Bibi Kima.

“Mana Nenek Tuti? Kenapa bukan dia yang datang kemari?” tanya mereka.

“Mulai sekarang, Bibi Kima yang akan kemari ya. Bibi juga akan membawakan kalian susu dan pakaian seperti Nenek Tuti dahulu,” senyum Bibi Kima.

Ara sangat terharu melihat semua itu. Kini dia tahu, kalau tak hanya dia yang merasa kehilangan neneknya. Banyak orang-orang yang juga mengenal nenek, merasakan kehilangan dan kesedihan yang sama. Tetapi mereka tak larut dalam kesedihan berlama-lama. Mereka justru meneruskan kebaikan nenek agar kebaikan itu tetap dirasakan sama persis seperti ketika nenek masih ada. Dengan begitu neneknya, Nenek Tuti, tetap ada dalam hati mereka dan kebaikannya terus dirasakan seperti sebelumnya.

Balon kebahagiaan terbang membawa Ara kembali ke rumahnya. Dia sudah melihat banyak hal hari ini, dan anehnya, kesedihannya mulai menghilang berganti dengan rasa syukur dan bahagia.

Ara berdiri di halaman sambil menggenggam erat tali balonnya. “Balon kebahagiaan, terimakasih telah menemaniku pagi ini. Selamat jalan. Sampaikan salamku pada Nenek jika kau bertemu dengannya. Aku berjanji akan meneruskan kebaikan-kebaikan Nenek.”

Lalu dilepaskannya balon kebahagiaan itu mengangkasa ke udara.