Reuni

(Cerpen ini dimuat di majalah Femina no 8/2015)

Risti melihat sekilas jam digital di layar handphonenya. Masih kurang 10 menit dari jam yang disepakati untuk berkumpul di tempat ini. Sebuah restoran yang sarat ornamen tradisional Jawa milik seorang pangeran, di sebelah barat keraton Yogya. Beberapa teman saat kuliah di Fakultas Fisipol UGM memutuskan untuk berkumpul di restoran ini.
“Sudah sepuluh tahun kita tidak saling bertemu lho, Ris. Ayo dong, cari tempat makan yang enak dan khas Yogya buat bernostalgia,” usul Ari di grup WhatSapp.
Tujuh orang menyetujui, dan minggu lalu Risti menelepon restoran Jawa ini untuk memesan tempat untuk hari ini.
Yola datang bersama suaminya Wahyu. Mereka berdua adalah salah satu teman yang menikah dengan teman seangkatan. Ari, Yani, Dio, dan Eka, menyusul hanya selang dua menit dari Yola dan Wahyu. Risti tersenyum lebar menyambut mereka.
“Kalian tepat waktu,” ucapnya senang. Dipeluknya Yola dan Yani erat.
“Risti, kamu masih cantik banget kayak dulu. Ya kan, Yan?” cubit Yola pada pipi Risti sambil menoleh pada Yani. Yani tersenyum mengiyakan.
“Aku hanya masih cantik, tapi kalian berdua makin cantik,” balas Risti tertawa, sambil menyilakan Eka, Dio, Ari, dan Wahyu untuk duduk.
Royal secang dingin tersaji pertama untuk mereka. Minuman dingin yang bercampur dengan rasa hangat jahe di dalam secang memberikan sensasi yang menenangkan Risti, terlebih ketika Ari tiba-tiba bertanya. “Hanya tujuh orang saja yang bisa datang?”
“Yang lain tak sempat,” jawab Risti buru-buru. “Perjalanan Ke Yogya di luar waktu libur sulit dilakukan.”
Yang lain mengangguk mengerti.
Satu orang lagi yang sempat datang justru tak kuundang ke tempat ini, batin Risti.
Pramusaji mengantarkan tujuh piring panekuk karamel, sementara Eka bertanya, “Berapa anakmu sekarang, Ris?”
“Risti sudah punya tiga anak,” sahut Yola. “Justru kami yang belum. Kepingin sekali rasanya. Sudah 5 tahun kami menikah dan belum juga diberikan keturunan.”
Wahyu mengangguk. “Aku sudah membawa Yola ke Singapura untuk cek kesehatan. Mereka juga berkata tak ada masalah.”
“Mungkin Yola kelelahan. Jam kerja presenter televisi kan padat sekali,” sambung Dio, yang disusul anggukan Wahyu.
“Semoga Tuhan memberi kalian kemudahan,” Yani, teman Risti yang sekarang menjadi penulis novel, berkata lembut. “Aku harus menunggu 6 tahun sebelum mendapatkan dua anak kembar melalui bayi tabung di Surabaya. Tabunganku habis untuk biaya bayi tabung, tapi memiliki anak benar-benar anugerah.” Mata Yani berbinar menatap teman-temannya.
Risti memotong panekuknya lambat-lambat. Suaminya pernah berkata kalau ia terlalu sering memarahi anak-anak karena alasan kedisiplinan. Setiap kali Risti selalu bersikeras bahwa suaminyalah yang terlalu penyabar, dan akhirnya bisa dimanfaatkan oleh anak-anak.
“Menjadi Ibu adalah sebuah pelajaran mengenai lautan kesabaran yang tak boleh habis terutama saat buah hatinya masih kanak-kanak. Sebab hanya di dalam lautan kesabaran itu mereka berlindung, dan belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik dari kedua orangtuanya,” begitu suaminya selalu berkata.
Perasaan sesal menyelinap tiba-tiba di hati Risti. Anak-anak begitu cepat lahir setelah pernikahan mereka. Rumah yang masih mengontrak, ia yang mendadak diberhentikan beberapa bulan yang lalu dari department store tempatnya bekerja dengan alasan perampingan pegawai, uang yang tak pernah tersisa banyak, membuat semua tekanan meningkat hingga titik kulminasi tertinggi. Hampir setiap kali ketiga anaknya yang menjadi korban. Tak pernah terbayangkan olehnya kalau dirinyalah yang dipilih Tuhan, seperti Yola dan Yani yang begitu sulit untuk mendapatkan keturunan.
Jika begitu, mampukah Risti dan suaminya mengikuti program bayi tabung seharga ratusan juta? Yani berkata, tabungannya habis untuk itu. Sementara Risti? Tabungannya tak pernah lebih dari 2 juta. Selalu saja habis untuk segala tetek bengek ini dan itu.
“Eka sudah nikah kan?” tanya Dio tiba-tiba sambil menatap Eka, dosen Sosiologi yang memang pendiam. “Katanya kamu pacaran sama gadis Perancis saat ambil S2 di Sorbonne?”
Eka terbahak. “Itu gosip! Belum ada yang sreg di hati,” katanya sambil menatap sup bola daging yang baru saja diletakkan pramusaji di depannya.
Semua lantas riuh menanggapi. Eka yang introvert mengingatkan Risti pada suaminya. Kalau saja bukan dia yang menanyakan hubungan mereka berdua, Risti tak yakin apakah dulu suaminya bisa melamarnya.
“Kalau saja seorang istri bisa diusahakan juga melalui tabung, aku ikut dengan Yani ke Surabaya,” canda Eka, membuat semua tertawa mendengarnya.
Pembicaraan beralih ke pekerjaan Dio ketika pramusaji membawa Nasi Blawong lengkap dengan lauk baceman ke meja mereka. Dio memiliki sebuah agen travel besar yang melayani tour dalam dan luar negeri.
“Ari dan istrinya jadi pelanggan setiaku,” Dio tersenyum lebar.
“Tetap saja mahal,” sungut Ari.
“Ah, sepertinya tak ada yang mahal untuk politikus besar seperti kau,” Dio tersenyum. “Lagipula aku hanya ambil sedikit untung.”
Perjalanan ke luar negeri lantas menjadi topik pembicaraan mereka. Risti mengais nasi di piringnya dengan hati tak nyaman saat Yola dan Wahyu mulai bertanya tentang biaya visa yang harus dikeluarkan kalau mereka hendak berlibur ke Australia.
Teringat oleh Risti percakapan suatu pagi bersama suaminya. “Kapan kita pergi menengok Mama?” Yang dimaksud Risti adalah ibunya yang tinggal seorang diri di Ternate sejak kepergian Papa.
Suaminya hanya mengangguk sambil menekuri hasil ulangan harian murid-muridnya. Lalu ditatapnya wajah Risti. “Kita kumpulkan dulu uangnya ya, Ris.”
Tapi Risti tahu, uang yang mereka kumpulkan tak pernah menganak sungai melainkan hanya sebatas kucuran talang yang baru bisa menjadi tadah saat hujan.
Risti tak pernah mengeluh meski rindunya pada Mama harus puas sebatas mendengar suara beliau di telepon. Meski begitu, tak urung hati Risti begitu perih saat berhadapan dengan Yola dan Wahyu yang dengan santai mengirimkan uang 3,5 juta ke rekening Dio hanya untuk visa keberangkatan mereka ke Australia.
“Kami ikut agen travel kamu, deh. Liburan sekalian bulan madu,” putus Yola dengan suara berseri setelah setuju dengan angka yang diajukan oleh Dio, yang bagi Risti itu seperti kepulangannya 10 kali bolak-balik ke Ternate bersama suami dan ketiga anaknya dengan pesawat.
“Kalau suamimu, darimana asalnya Ris?” Eka tiba-tiba bertanya.
Risti yang tengah menyendokkan sambal goreng guramehnya, tergagap menaruh kembali sendoknya.
“Gombong.”
“Gombong?” tanya Yani. “Kamu pernah cerita suamimu guru SD kan?”
Risti hendak mengiyakan ketika tiba-tiba Ari menyambar. “Kalau dengar Gombong, aku jadi ingat dengan teman seangkatan kita, Mudi.”
“Mudi yang mana sih?” Yola mengerutkan kening.
“Halaah… itu, yang orangnya pendek tapi badannya kekar di bagian bahu. Kayak Hulk,” Wahyu mengingatkan sambil menyenggol bahu istrinya setengah mencandai, “sama mantan pacar sendiri lupa.”
Tawa meledak di sekitar telinga Risti yang ikut mengulas senyum tipis.
“Aku agak lupa,” Yani berusaha mengingat. “Apakah Mudi orangnya sangat pendiam?”
Eka mengangguk. “Ya, setahuku Mudi sangat pendiam. Setelah lulus dari Fisipol UGM aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Mungkin sekarang ia kembali ke Gombong.”
“Kurasa Mudi bukan pendiam, tapi ia sering diam karena logat bicaranya yang lain. Pertama kali masuk ruang kuliah dia mengenalkan dirinya dengan sebutan inyong. Semua tertawa terpingkal-pingkal waktu itu,” cetus Ari.
“Tapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri, kok,” sahut Eka lagi.
“Kalau soal logat sih biasa. UGM memang jadi tempat berkumpul mahasiswa dari seluruh Indonesia. Yang lucu justru saat Mudi naksir Risti,” cetus Dio.
Semua tertawa menatap Risti yang tengah meminum Royal Secangnya lambat-lambat.
“Oh, aku ingat. Mudi yang sering pakai celana merah marun lusuh itu kan?” seru Yani senang berhasil mengingat.
Ari mengiyakan sambil terus tertawa.
“Mudi memang terlalu berani, bahkan nyaris tidak tahu diri,” sambung Dio. “Bayangkan saja, selain sama sekali tidak fashionable, Mudi sama sekali tidak ganteng. Tapi nyalinya besar untuk naksir Risti, yang menurutku paling cantik seangkatan kita.”
“Untunglah Risti kita baik hati dan tak menolaknya dengan kasar,” sambung Eka lagi sambil tersenyum ke arah Risti.
“Kok diam saja sih Ris? Terkenang dengan pesona Mudi ya?” ledek Wahyu yang disambung tawa lainnya.
Risti meletakkan sendoknya begitu saja. Nasi Blawong di hadapannya tak terlalu cocok dengan lidahnya. Sebenarnya ia tadi hendak memilih memesan Nasi Punar yang lebih mirip dengan nasi uduk, tetapi entahlah, Risti tak yakin apakah Nasi Punar juga akan bisa dimakannya dengan baik saat ini.
“Mudi orang yang baik. Aku tak berniat menyakitinya,” ujarnya pelan.
Kata-kata Risti tak membuat teman-temannya berhenti mengolok-olok Mudi. Risti tak menyalahkan mereka. Mudi memang seorang lelaki yang lugu dan polos saat itu. Meski ia sangat jujur, dan sesungguhnya juga sangat bijaksana, tetapi Risti tahu, untuk sekedar bahan gurauan, kejujuran dan kebijaksanaan Mudi adalah hal terakhir yang akan mereka bahas.
Seorang pramusaji datang membawakan hidangan penutup. Seporsi Manuk Nom. Resep puding Jawa milik dapur keraton, tape ketan hijau yang dikukus bersama kocokan telur, vanili, dan gula, lalu disajikan bersama sepasang emping melinjo yang dipasang di kiri kanan seolah sayap seekor burung.
Kedatangan Manuk Nom sesaat menghentikan pembicaraan mereka tentang Mudi.
Pada suapan pertama puding dingin itu memasuki rongga mulutnya, Risti tiba-tiba teringat suaminya pernah berkata. “Bagiku kau seperti seekor burung yang bebas terbang dan tak terjangkau. Tapi aku yakin, setiap burung yang terbang paling tinggi sekalipun akan membutuhkan rumah untuk pulang. Aku berusaha keras menjadi rumah untukmu, dan sangat bersyukur ketika kau menerima bahwa akulah rumahmu.”
Risti memotong Manuk Nom di piring kecilnya dengan lembut. Sebenarnya ia tak terlalu suka dengan rasa tape ketan yang tajam. Tapi di dalam puding telur ini rasa tajam itu tersamarkan. Mengingatkan dirinya dan suaminya yang begitu berbeda dalam semua. Kecuali cinta.
Sekilas Risti menatap teman-temannya. Di hadapan Manuk Nom masing-masing hening seolah memikirkan pusat nuraninya sendiri, yang bagai seekor burung muda terbang mencari hakikat diri. Yola si presenter dan Wahyu suaminya, Eka si dosen, Dio si pengusaha travel, Ari si politikus, Yani si penulis, dan dirinya sendiri.
Mungkin saja, seperti dirinya yang sesak, teman-temannya juga punya kesesakan serupa dalam hidup. Tapi hidup tak boleh hanya sekedar hidup. Semua harus dijalani dengan cara terbang tinggi. Semakin tinggi.
Potongan terakhir Manuk Nom di piring masing-masing, dengan pikiran yang tak terjangkau oleh benak yang lain. Risti hanya tahu yang ada di benaknya sendiri.
Mulai detik ini ia tak boleh diam. Ia akan bekerja lagi, lalu menjadi ibu yang menjadi lautan kesabaran, dan terutama…menjadi istri yang bangga pada suaminya. Reuni ini harus membuatnya menjadi manusia yang lebih baik.
Risti melihat jam digital di layar handphonenya. Tak terasa, reuni kecil ini memakan waktu hampir 2 jam. Sebuah panggilan masuk, dan Risti berbicara sebentar.
“Aku harus pulang. Mudi menungguku di rumah,” ujarnya tersenyum.
“Mudi? Mudi yang kita bicarakan dari tadi? Kenapa ia tiba-tiba menunggumu di rumah?” Dio bertanya.
Di tengah keheranan luar biasa dari teman-temannya, senyum Risti mengembang. “Karena ia, suamiku.”