Tiga Keping Cokelat

Cerpen ini dimuat di Kompas Minggu 17 Mei 2015
Cerpen ini dimuat di Kompas Minggu 17 Mei 2015

Arka meletakkan tiga keping cokelat di meja belajarnya dengan hati-hati. Arka mendapatkan cokelat-cokelat itu dari Sandra.

“Bentuknya lucu-lucu, ya,” cetus Arka tadi sambil memandangi ketiga cokelat itu.

Sandra mengangguk. “Iya. Ini namanya cokelat praline. Cokelat ini sengaja dicairkan dulu sebelum dibentuk menjadi bermacam-macam. Ada isinya juga lho. Kalau kamu menggigit yang berbentuk bunga mawar, di dalamnya ada selai stroberi. Yang bentuk sepatu itu di dalamnya berisi potongan kacang, dan yang berbentuk hati isinya selai jeruk. Enak deh pokoknya.”

Arka terkagum-kagum mendengarnya. Ia jarang makan cokelat. Kalaupun ibu membelikannya di toko Babah Li, cokelatnya selalu berbentuk batangan.

Tak bosan-bosannya Arka menatap cokelat-cokelat itu. Karena bentuknya lucu-lucu, Arka sayang untuk memakannya.

“Arka, bantu Ibu cuci piring di kedai, dong!” suara Tio, kakaknya, mengejutkan Arka, yang buru-buru menangkupkan tangannya di atas cokelat-cokelat itu.

“Eh, iya Kak. Tunggu sebentar,” jawabnya sambil membuka kotak pensilnya dan menaruh ketiga cokelatnya disana.

“Apa itu?” tanya Tio ingin tahu.

Arka terdiam. Sejenak ia berpikir untuk memberikan satu keping cokelat untuk Tio. Tapi beberapa saat kemudian Arka menjadi ragu-ragu. Bukankah ketiga cokelat itu rasanya berlainan? Kalau aku memberikan satu pada Kak Tio, maka aku tidak bisa merasakan ketiga-tiganya, pikirnya.

Lalu Arka menggeleng cepat-cepat. “Ini penghapus baru,” suaranya bergetar saat berbohong.

Tio tak berkata apa-apa, dan Arka lega karena sepertinya kakaknya percaya.

Saat mencuci piring-piring di kedai, Arka terus berpikir tentang cokelat-cokelat itu. “Mana yang lebih dulu akan kumakan?” pikirnya bingung.

Selesai membantu Ibu, Arka kembali ke meja belajarnya. Diintipnya ketiga cokelat di dalam kotak pensilnya.

“Aku akan mengerjakan pe-er ku dulu, baru memakan cokelatnya,” ujarnya sambil menyiapkan buku-bukunya. Dengan tekun dikerjakannya pe-er menggambar peta Pulau Sumatera.

Arka baru saja mulai mewarnai laut dengan spidol berwarna biru ketika ia tiba-tiba merasa mengantuk, dan tidur menelungkup di meja. Ketika terbangun, betapa terkejutnya ia ketika mendapati kotak pensil berisi cokelat telah menghilang.

Arka mencari di bawah meja, di atas tempat tidur, di dalam tas, di meja tamu, di meja makan, di lemari pakaian, tapi ia tak menemukan kotak pensilnya dimanapun.

Arka masuk ke kamar Tio untuk bertanya, dan dilihatnya kotak pensilnya berada di atas meja belajar kakaknya.

“Ini dia,” katanya senang. Dibukanya tutup kotak pensil dan kaget karena ternyata ketiga cokelat itu telah menghilang.

“Kak Tio!” serunya. “Kak Tio mengambil cokelatku ya?”

Tio yang sedang membaca majalah memandang bingung. “Cokelat apa?”

“Ah, jangan pura-pura tidak tahu! Cokelat itu kutaruh di dalam kotak pensil, dan sekarang cokelatnya tak ada. Pasti Kakak yang mengambilnya!” kaki Arka menjejak lantai.

Wajah Tio memerah. “Itu namanya menuduh tanpa bukti!” teriaknya.

“Mau bukti apa lagi? Kotak pensilku hilang dari meja dan kutemukan di mejamu,” Arka tak mau kalah.

“Sudah kubilang aku tidak tahu!” tegas Tio jengkel.

Arka sangat marah mendengarnya. Ia mulai mendorong kakaknya. Mereka berdua sudah hendak berkelahi kalau Ibu tak datang dan melerai.

“Ada apa dengan kalian?” Ibu mengerutkan kening.

“Kak Tio mengambil cokelatku!” seru Arka.

“Tidak!” bantah Tio.

“Tapi kotak pensilku ada di meja Kak Tio,” Arka bersikeras.

“Ibu tadi yang mengambil kotak pensilmu. Sewaktu Ibu hendak mengembalikan lagi ke kamarmu, telepon berbunyi, jadi Ibu menaruhnya dulu di meja Kak Tio,” jelas Ibu.

“Lalu kenapa cokelat-cokelatku hilang?” tanya Arka.

“Cokelat yang ada di kotak pensil?” Ibu balik bertanya. “Tadi waktu kamu tertidur di meja, kotak pensilmu penuh semut. Ternyata semut-semut itu mengerubungi cokelat. Tentu saja Ibu membuangnya,” kata Ibu.

“Dibuang?” Arka memekik.

“Lain kali kau harus cepat memakannya sebelum didahului semut,” ujar Tio.

Arka mengangguk perlahan. “Lain kali aku akan membaginya denganmu sebelum didahului semut, Kak,” sesalnya.

 

Sepatu Baru Kuri Si Pencuri

Cerpen ini juara harapan 1 Lomba Menulis Cerpen Anak dalam rangka Hari Buku yang diadakan oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta tahun 2012

 

Kuri adalah seorang pencuri yang lihai. Pekerjaannya jelas bukan pekerjaan yang bagus dan terhormat, tetapi Kuri tak peduli. Kuri telah terbiasa mencuri sejak kecil dan akhirnya menganggap bahwa hal itulah satu-satunya yang bisa dia lakukan.

Suatu hari saat Kuri berjalan menuju sebuah rumah milik seorang pedagang kaya untuk mencuri sebuah berlian, tiba-tiba kakinya tersandung batu. “Aduh!” serunya kesakitan. Dilihatnya ujung sepatunya yang menganga lebar. Rupanya sepatu itu jebol karena tersandung.

Kuri berdecak dengan kesal. “Sepatu payah,” gerutunya. “Gara-gara sepatu usang ini, aku tidak bisa mencuri berlian itu sekarang. Sepertinya aku harus membeli sepatu baru.”

Maka Kuri si Pencuri berjalan mencari toko sepatu. Dia ingin segera memiliki sepatu baru. Sepatu yang paling nyaman dan ringan agar langkah-langkahnya tak terdengar oleh orang lain. Dan sampailah dia di sebuah toko sepatu kecil di sudut kota. Toko Sepatu BIN.

Di dalam toko sepatu Bin, Kuri melihat berkeliling. Meskipun toko itu kecil, tetapi sepatu yang dijual jumlahnya ribuan pasang. Rak sepatu disusun dari bawah hingga menyentuh langit-langit ruangan. Kuri mencoba mencari sepatu pria, tetapi meski dia kini telah mengetahui tempatnya, Kuri tetap saja bingung karena banyaknya sepatu yang dipajang disana.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Pak Bin, si pemilik toko sepatu. “Sepertinya kau kebingungan.”

“Aku mencari sepatu yang bagus. Tak masalah kalau harus membayar mahal,” tegas Kuri.

“Hendak kau pakai kemana sepatu itu?” tanya Pak Bin.

“Bekerja,” jawab Kuri pendek.

“Dan apa pekerjaanmu?” Pak Bin kembali bertanya dengan wajah ramah.

“Aku tak akan menjawab. Aku hanya akan membeli sepatu,” tukas Kuri.

Pak Bin tersenyum. “Tentu saja pertanyaanku harus kau jawab. Kalau kau seorang olahragawan aku tak mungkin memberimu sepatu dansa, dan kalau kau seorang pegawai kantor aku tak mungkin memberimu sepatu but untuk bertani. Jadi itu sebabnya aku perlu tahu apa pekerjaanmu.”

Kuri mengalah. “Aku seorang pencuri,” katanya, “Jadi aku membutuhkan sepatu yang sangat ringan agar tak seorangpun mendengar suara langkahku.”

Pak Bin terkejut mendengarnya. Tetapi pemilik toko yang ramah itu tetap tersenyum. “Aku mengerti,” jawabnya. Lalu dia berjalan ke rak bagian tengah, dan naik ke tangga untuk mengambil sepasang sepatu yang terpasang di rak bagian atas.

Diulurkannya sepatu itu ke arah Kuri dan Kuripun menerimanya. Sepatu itu berwarna cokelat dengan benang keemasan.

“Sepatu ini terbuat dari sayap lebah,” ujar Pak Bin.

“Sepatu yang sangat ringan,” desis Kuri kagum.

“Ya,” pak Bin setuju. “Benang emasnya juga menyatukan dengan kuat. Tetapi sayangnya, sol sepatunya belum sempurna. Ada bahan lain yang harus kutambahkan agar lebih ringan lagi. Maukah kau menunggu?” Pak Bin menawarkan.

Kuri mengangguk senang. “Tentu saja aku mau. Aku akan menunggu dengan sabar.” Diserahkannya kembali sepatu itu pada Pak Bin.

Pak Bin tak membutuhkan waktu yang lama untuk menyempurnakan sepatu itu. Harga sepatunya memang cukup mahal, tetapi Kuri tak keberatan sama sekali. Dia segera membayar sepatunya dan langsung memakainya saat itu juga.

“Sepatu ini adalah sepatu paling ringan yang pernah kupakai,” gumam Kuri senang. “Aku bisa mencuri dimanapun tanpa ketahuan orang lain.” Lalu dia teringat akan berlian di rumah pedagang kaya yang hendak dicurinya, dan Kuri mulai melangkah kesana.

Tetapi aneh sekali, sepatunya seolah tak mau dibawa kesana. Dengan santai sepatu itu membuat Kuri melangkah ringan ke arah yang berlawanan. “Hei, aku mau kesana! Aku mau kesana!” tunjuk Kuri kebingungan ke arah rumah pedagang kaya. Tetapi seolah kaki Kuri tak punya kekuasaan lagi, dengan lincah Kuri melompat-lompat menuju ke sebuah panti asuhan yang sederhana, dan berhenti tepat di depan pagar.

Kuri mengerutkan kening. “Apa yang bisa kucuri dari sini?” pikirnya tak senang. Dilihatnya beberapa anak laki-laki dan perempuan bermain di halaman bersama dengan ibu pengasuh panti.

“Hei ada yang datang!” seru seorang anak perempuan, membuat teman-temannya menoleh.

Seorang anak laki-laki kecil berlari membuka pintu pagar sambil tersenyum lebar, menampakkan gigi depannya yang ompong. “Paman hendak menengok kami, ya?”

“Oh, eh,” Kuri tergagap. “Tidak.”

“Paman bawa oleh-oleh apa?” tanyanya lagi.

“Hus! Hilal, itu nggak sopan! Jangan berkata begitu pada tamu,” tegur ibu pengasuh panti. “Silahkan masuk, Pak.”

“Aku bukan tamu. Aku bukan…” kilahnya gugup. Tapi anak-anak panti asuhan itu tak mendengarkannya. Mereka sangat senang jika ada tamu yang datang. Setahu mereka, semua tamu yang datang sangat baik dan ramah. Maka tanpa malu-malu mereka berebut menggandeng lengan Kuri dan mengajaknya ke dalam.

Kuri ingin menolak, tetapi kakinya terasa sangat ringan. Dia belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya, tetapi langkah kakinya yang ringan saat memasuki halaman panti asuhan membuat Kuri tiba-tiba berkata dengan ramah pada anak-anak itu. “Kalian mau dibelikan es krim?”

“Mau! Mauu! Horee!” seru anak-anak itu kegirangan.

Kuri si Pencuri berjalan keluar untuk mencari es krim. Langkahnya ringan seperti terbang, dan Kuri kembali dengan puluhan kotak es krim yang segera dibagikannya kepada anak-anak yang ada disana.

Kuri benar-benar heran dengan dirinya sendiri. Sebelumnya dia tak pernah mengalami hal ini. Yang selalu dilakukannya adalah mengambil milik orang lain, dan bukan memberi pada orang lain. Hari ini, Kuri merasa dirinya benar-benar berbeda.

Tiba-tiba dia teringat pada berlian yang hendak dicurinya dan pergi dari panti asuhan itu. Tetapi lagi-lagi, kakinya tak mau melangkah kesana dan justru berbalik arah untuk menolong seorang nenek yang ingin menyeberang jalan. Setiap kali Kuri berniat untuk mencuri, maka kakinya melangkah ke arah yang berlawanan dan menemukan kebaikan. Begitu terus menerus, sehingga Kuri tak bisa mencuri apapun seperti biasanya.

Kuri benar-benar heran dan berusaha mengingat-ingat sejak kapan semua ini terjadi. Dipandanginya sepatu yang dipakainya. Sepatu sayap lebah dengan benang emas yang membuat kakinya sangat ringan melangkah. Seharusnya sepatu ini sangat cocok untuk seorang pencuri, tetapi kenapa kakinya tak bisa lagi melangkah ke tempat-tempat yang akan dicurinya? Lalu Kuri teringat pada Pak Bin si pemilik toko sepatu yang menambahkan bahan untuk membuat sepatu ini lebih ringan, dan dia sangat penasaran. Diputuskannya untuk kembali ke toko sepatu itu dan menanyakannya.

“Sepatu itu memang sangat ringan,” Pak Bin terkekeh-kekeh ketika Kuri bertanya di depan tokonya. “Aku hanya menambahkan sedikit bahan kebaikan di solnya, agar sepatu itu ringan melangkahkan kakimu untuk berbuat baik.”

“Tapi aku tak bisa hidup jika tidak mencuri sesuatu,” bantah Kuri.

“Kurasa tidak!” kilah Pak Bin, “Hidup adalah sebuah kebiasaan. Jika kau terbiasa melakukan perbuatan baik, maka kau akan lupa bagaimana berbuat jahat.”

“Sepatu ini menghalangiku,” tukas Kuri pelan.

“Sepatu itu membantumu,” tegas Pak Bin. “Pulanglah, dan pakai terus sepatu itu kemanapun kau pergi.”

Tak ada yang bisa dilakukan Kuri selain memakai sepatu itu dan membawanya pulang. Bagaimanapun juga, sepatu itu adalah sepatu paling ringan yang pernah dikenakannya dan dia akan terus memakainya sampai dia menemukan sepatu yang lebih baik.

Tetapi sepatu itu memang merubah Kuri. Sejak dia memakai sepatu itu, Kuri hanya bisa melangkah ke tempat-tempat dia bisa melakukan kebaikan. Semakin lama, kebaikan yang dilakukannya semakin banyak, dan Kuri jadi terbiasa melakukannya. Diapun melupakan pekerjaan lamanya sebagai pencuri, dan memilih untuk mencari pekerjaan lain. Kuri merasa lebih tenang dan bahagia dengan kehidupannya sekarang.

Beberapa minggu kemudian, setelah membantu seorang gadis kecil menurunkan kucingnya dari atas pohon, Kuri tiba-tiba teringat pada Pak Bin dan ingin mengucapkan terimakasih karena telah menjual sepatu sayap lebah itu kepadanya.

Tetapi apa yang terjadi?

Meski Kuri telah menyusuri jalanan di sudut kota itu sebanyak puluhan kali, Toko Sepatu BIN tak juga ditemukannya. Kuri bertanya pada setiap pejalan, tetapi tak seorangpun pernah melihat atau bahkan mendengar apapun tentang toko sepatu itu.

 

 

 

Yogyakarta, 24 Juni 2012

Cerpen Anak Kompas_Kembar Bertukar

Cerpen Kompas Anak
Cerpen Kompas Anak

Nabila dan Nadira adalah dua anak perempuan kembar yang manis. Keduanya sangat mirip satu sama lain. Kata Bunda, itu karena mereka berdua adalah kembar identik.

Hampir semua orang kesulitan membedakan mereka, apalagi kalau Nabila dan Nadira memakai pakaian yang sama. Teman-teman, guru, bahkan kakek dan nenek akan sulit mengenali mereka.

Kalau Bunda sih bisa membedakan mereka dengan mudah. “Bunda bisa membedakan kalian meski dengan mata terpejam,” Bunda menyombong. Ayah tertawa mendengarnya, tapi mengakui kebenaran kata-kata Bunda.

Ayah sendiri kadang-kadang masih tertukar membedakan. “Nabila, ayo kerjakan pe-ermu sebelum bermain.”

“Ayah, ini aku Nadira.”

“Oh, maaf Nadira. Ayah mengira kau Nabila.”

“He he he… iya aku memang Nabila,” cengir Nabila yang disambut gelitikan Ayah yang jengkel karena digoda.

Tapi sebenarnya meski memiliki wajah yang sangat mirip, Nabila dan Nadira memiliki perbedaan pada hal lainnya. Misalnya, Nabila lebih suka makanan yang bersantan tetapi Nadira lebih suka yang berkuah bening, Nabila pintar berhitung, sementara Nadira sangat cepat menghapal, Nabila senang tertawa sedangkan Nadira lebih pendiam.

Minggu depan sekolah Nabila dan Nadira mengadakan ulangan harian untuk semua mata pelajaran.

“Kamu enak, Dira, hanya belajar sedikit saja sudah hapal semuanya,” cetus Nabila iri sambil memandang Nadira yang membaca buku IPS sambil makan kacang dengan santai.

“Humm, justru yang enak itu kamu, Bila. Pelajaran Matematikamu selalu bagus nilainya. Hanya menghitung sebentar, eh… langsung ketemu jawabannya,” sahut Nadira. “Seandainya aku bisa begitu, alangkah senangnya.”

Saat hari ulangan tiba, Nabila dan Nadira berusaha mengerjakan soal sebaik mungkin. Tetapi keduanya kecewa ketika hasil ulangan dibagikan.

“Aku mendapat nilai 6 di pelajaran Matematika,” keluh Nadira.

“Nih lihat ulangan IPSku,” Nabila menyodorkan kertas ulangan bertuliskan angka 5 dengan spidol merah.

“Tak apa. Bagi yang nilainya masih di bawah 7, ada kesempatan untuk mengulang lagi besok,” Bu Tini, guru mereka memberitahu.

Nabila mengerling ke arah Nadira. “Aku tahu cara yang lebih mudah bagi kita,” dia lalu berbisik pelan ke telinga Nadira.

“Aku tidak mau. Itu berbahaya!” pekik Nadira tertahan.

“Sssst… kita belum pernah mencobanya kan? Sekali inii saja,” bujuk Nabila.

Nadira tercenung beberapa saat sambil berpikir, dan beberapa saat kemudian dia mengangguk perlahan.

Keesokan harinya, Nabila memakai seragam yang bertuliskan nama Nadira dan Nadira memakai seragam yang bertuliskan nama Nabila. Ya, mereka merencanakan untuk bertukar.

Tetapi seragam itu tak luput dari perhatian Bunda. “Lho kok kalian bertukar seragam?” tanya Bunda heran, “Namanya jadi terbalik kan.”

Nabila dan Nadira berpura-pura kaget dan melirik nama yang tertempel di dada. “Oh iya… aduh, aku tak memperhatikan,” seru Nabila.

“Kami akan bertukar seragam di sekolah saja, Bunda,” sambung Nadira sambil menyendokkan nasi gorengnya cepat-cepat agar terlihat terburu-buru.

Bunda mengangguk setuju. Tak curiga.

Saat ulangan perbaikan, semua berjalan lancar. Tak ada seorangpun yang tahu kalau Nabila mengerjakan ulangan Matematika milik Nadira, dan tak ada seorangpun yang curiga ketika Nadira mengerjakan ulangan IPS milik Nabila.

Bu Tini mengangguk-angguk dengan puas melihat hasil ulangan perbaikan mereka. Keduanya mendapat nilai 10 untuk perbaikan nilai Matematika dan IPS.

“Ibu sangat puas dengan usaha kalian,” ucap Bu Tini bangga. “Kalian bisa menjadi contoh bagi anak-anak yang lain, jika mau berusaha keras pasti bisa mendapatkan nilai yang bagus.”

Nabila dan Nadira terdiam. Mereka memandangi hasil ulangan yang dibagikan. Nilainya memang 10, tetapi mereka heran karena tak merasa bangga dan senang. Hati mereka justru merasa sangat terganggu sekarang.

Seseorang mengetuk pintu kelas. Bu Tini membukanya dan tersenyum lebar. Beberapa saat kemudian Bu Tini berkata pada anak-anak.

“Pak Mantri dari Puskesmas datang untuk memberi suntikan imunisasi bagi yang belum mendapatkannya kemarin,” Bu Tini memberitahu.

Nadira terbelalak mendengarnya. “Gawat, aku tidak mau disuntik dua kali!” ujarnya panik.

“Memangnya kenapa kamu harus disuntik dua kali?” tanya Nabila heran, “Yang belum disuntik itu aku,” katanya.

Memang, beberapa hari yang lalu ketika Pak Mantri datang ke sekolah untuk memberi suntikan imunisasi, ada beberapa anak yang belum mendapatkannya karena kehabisan stok vaksin. Ada lima anak yang belum disuntik, termasuk Nabila.

Nadira melotot sambil menunjuk nama NABILA yang tertera di seragamnya. “Semua mengira Nabila adalah aku,” tegasnya.

Nabila tersentak. Benar juga. Aduh! Ini benar-benar super gawat. Mereka berpikir sejenak, lalu Nabila berkata, “Kita harus mengaku…”

“…dan jangan lupa mengembalikan hasil ulangan kita,” tambah Nadira.

“Benar. Tak enak rasanya berbohong seperti ini,” kata Nabila setuju. “Lain kali aku akan belajar lebih keras agar bisa sepertimu.”

“Aku juga akan belajar lebih keras agar bisa sebaik dirimu.”

Nabila dan Nadira saling tersenyum, dan keduanya menghampiri Bu Tini dengan langkah gagah.

Ara dan Balon Kebahagiaan

Ara adalah seorang anak perempuan yang tinggal bersama nenek dan bibinya karena orangtuanya bekerja di luar negeri. Mereka saling menyayangi sehingga meski tak tinggal bersama orangtuanya, Ara tak pernah merasa sedih dan kesepian.

Suatu hari, nenek Ara sakit keras dan meninggal dunia. Ara sangat sedih dan merasa kehilangan.

Selama berhari-hari Ara hanya menangis dan mengurung diri di dalam kamar. Dia tak ingin pergi bermain, tak ingin pergi ke sekolah, tak ingin makan, tak ingin mandi, dan tak ingin bertemu dengan siapapun. Satu-satunya yang diinginkan oleh Ara adalah bertemu kembali dengan neneknya dan memeluknya erat-erat seperti biasanya, tetapi tentu saja hal itu tak dapat dilakukannya lagi.

Bibinya, Bibi Kima, berusaha menghiburnya.

“Ayolah Ara, jangan bersedih lagi. Kau bisa jatuh sakit jika begini,” bujuk Bibi Kima dari depan pintu kamarnya. Ara tak menjawab. Air mata menetes perlahan dari sudut matanya tanpa henti. Ara merasa dirinya sangat kesepian tanpa nenek.

Malam itu juga, Ara bermimpi.

Nenek datang mengenakan pakaian indah dan tersenyum lembut padanya.

“Ara, kau ini anak perempuan yang selalu ceria. Apa yang terjadi padamu sampai kau begini?” tanya nenek.

“Aku sangat sedih kehilangan Nenek,” jawab Ara pelan. Nenek masih tersenyum, “Cobalah berjalan-jalan keluar untuk menghilangkan kesedihanmu, Ara. Jika kau terus mengurung dirimu di dalam kamar tanpa berbuat apa-apa, lama-lama kau bisa sakit,” kata nenek sambil memeluk Ara erat-erat.

Lalu Ara terbangun. Mimpi itu terasa begitu nyata dan pelukan nenek membuat semangat Ara timbul. Pagi harinya, Ara keluar dari kamar, mandi, dan makan sepiring kecil nasi goreng. Bibi Kima sangat senang melihatnya.

“Hari ini aku ingin berjalan-jalan, Bibi,” putus Ara.

“Boleh saja asalkan tak terlalu jauh. Saat makan siang, kau sudah harus kembali ke rumah seperti biasa,” kata Bibi Kima.

Ara mengangguk setuju.

Belum berapa jauh dari rumah, dia bertemu dengan seorang penjual balon. Penjual balon itu menyapa Ara, “Halo, gadis kecil yang cantik. Apakah kau mau membeli balon? Pilih saja warnanya. Mau yang merah, kuning, hijau, ungu atau biru?”

Ara menggeleng, “Pak, aku sudah terlalu besar untuk bermain balon. Umurku sudah 9 tahun.”

Penjual balon itu tak kurang akal, “Mungkin kau ingin membelinya untuk adikmu?”

“Aku tak punya adik,” Ara menjawab. Penjual balon itu mengamati wajah Ara, “Kelihatannya kau baru saja berhenti menangis. Matamu sembap dan wajahmu terlihat sedih.”

Ara tak berkata apa-apa.

“Aku akan memberimu sebuah balon. Balon yang ini lain, namanya Balon Kebahagiaan. Dengan memegang balon ini kau akan merasa lebih baik.” Diulurkannya sebuah balon bening yang tadi tak terlihat oleh Ara. Ara menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Kemudian dia kembali berjalan.

Angin berhembus perlahan. Aneh, semakin lama, balon yang dipegangnya erat-erat mulai mengikuti arah angin. Balon itu mulai membawa Ara terbang di angkasa. Oh, oh, Ara sangat ketakutan ketika menyadarinya. Tetapi dia tak mungkin melepaskan pegangannya dan melompat begitu saja karena dia akan terluka jika melakukannya.

“Akan dibawa kemana aku?” bisiknya cemas. Tak lama kemudian, balon kebahagiaan itu membawanya terbang di atas  perpustakaan kecil di dalam kampung. Ara ingat, dulu nenek sering membeli beberapa buku anak-anak setiap bulan dengan uang pensiunnya. Kata nenek, buku-buku itu akan disumbangkannya ke perpustakaan kampung agar anak-anak yang tak mampu membeli buku-buku juga dapat terus membaca. Kalau nenek masih hidup, pasti nenek akan mengirim buku juga ke perpustakaan kecil ini, pikir Ara.

Tiba-tiba Ara mendengar anak-anak berkata, “Betapa menyedihkan kalau Nenek Tuti tak ada. Hanya dia yang peduli dengan perpustakaan kecil ini.” Ara kaget mendengarnya. Nenek Tuti adalah nama neneknya.

“Ah, Nenek Tuti sangat baik. Mari kita doakan dia. Karena Nenek Tutilah kita semua dapat membaca banyak buku bagus yang tak bisa kita beli. Kita harus menjadi anak-anak yang pintar supaya Nenek Tuti bangga.”

Ah, ternyata nenek menyumbangkan buku-buku itu ke perpustakaan ini, pikir Ara. Angin kembali berhembus dan membawa balon yang dipegangnya kembali terbang. Kali ini balon kebahagiaan membawanya ke sebuah kebun kecil. Beberapa orang wanita seumur dengan neneknya sedang berjongkok sambil menyiangi rumput.

Ara mendengar seseorang berkata, “Bu Tuti berpesan, kalau tanaman obat ini harus kita rawat baik-baik agar siapapun yang membutuhkannya dapat mendapatkannya dengan cepat.”

“Benar. Bu Tuti orang yang sangat baik. Kita akan selalu mendoakannya agar dia mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.”

Balon kebahagiaan kembali membawa Ara terbang. Kali ini balon itu terbang di atas sebuah panti asuhan. Tiba-tiba dilihatnya Bibi Kima datang membawa sebuah bungkusan besar. Anak-anak balita itu berlari ke halaman untuk menjemput Bibi Kima.

“Mana Nenek Tuti? Kenapa bukan dia yang datang kemari?” tanya mereka.

“Mulai sekarang, Bibi Kima yang akan kemari ya. Bibi juga akan membawakan kalian susu dan pakaian seperti Nenek Tuti dahulu,” senyum Bibi Kima.

Ara sangat terharu melihat semua itu. Kini dia tahu, kalau tak hanya dia yang merasa kehilangan neneknya. Banyak orang-orang yang juga mengenal nenek, merasakan kehilangan dan kesedihan yang sama. Tetapi mereka tak larut dalam kesedihan berlama-lama. Mereka justru meneruskan kebaikan nenek agar kebaikan itu tetap dirasakan sama persis seperti ketika nenek masih ada. Dengan begitu neneknya, Nenek Tuti, tetap ada dalam hati mereka dan  kebaikannya terus dirasakan seperti sebelumnya.

Balon kebahagiaan terbang membawa Ara kembali ke rumahnya. Dia sudah melihat banyak hal hari ini, dan anehnya, kesedihannya mulai menghilang berganti dengan rasa syukur dan bahagia.

Ara berdiri di halaman sambil menggenggam erat tali balonnya. “Balon kebahagiaan, terimakasih telah menemaniku pagi ini. Selamat jalan. Sampaikan salamku pada Nenek jika kau bertemu dengannya. Aku berjanji akan meneruskan kebaikan-kebaikan Nenek.”

Lalu dilepaskannya balon kebahagiaan itu mengangkasa ke udara.

Penculik-Penculik Cantik

Ibu mematikan televisi. Acara berita kriminal telah selesai. “Nah, tuh kamu lihat sendiri kan banyak anak diculik sekarang ini.  Kamu harus lebih hati-hati. Jangan mudah percaya dengan orang yang tak dikenal!” nasihat Ibu pada Gea.

Gea terkikik geli, “Bu, memangnya Gea anak balita? Dijual juga nggak laku Bu. Mana Gea makannya banyak lagi! Lagipula mana ada yang meminta tebusan dari guru seperti Ibu?” tawanya.

Ibu melotot, “Eeh. Kita harus tetap waspada agar tidak membuka jalan bagi kejahatan,” katanya menirukan ucapan presenter di akhir acara.

Siang itu Gea dan beberapa temannya pulang sekolah lebih lambat daripada biasanya karena harus menyelesaikan Mading sekolah terbitan bulan ini. Setelah itu mereka berpisah karena harus pulang ke rumah masing-masing. Ada yang dijemput, ada yang naik sepeda, ada yang berjalan kaki, dan ada yang naik bis. Gea naik bis kota karena rumahnya cukup jauh dan tak ada yang menjemputnya.

Bis kota cukup penuh siang ini karena pulangnya Gea berbarengan dengan jam pulang para pegawai negeri. AC bis tak cukup memadai untuk mendinginkan penumpang berdesakan sebanyak ini. Gea mengipas-ngipas wajahnya dengan saputangan. Dia merasa sangat haus.

Tiba-tiba seorang gadis cantik berumur kira-kira 20 tahun, berambut sebahu disebelahnya tersenyum padanya. “Turun dimana, dik?”

Gea membalas sapaannya dengan senyum juga, “Masih agak jauh. Di dekat balaikota,” katanya.

Gadis itu mengangguk kemudian berbicara dengan temannya yang memakai jilbab warna biru muda disebelahnya.

Gea mulai terkantuk-kantuk ketika gadis berambut sebahu tadi menawarinya permen mint. Karena tak suka dengan rasa pedasnya Gea menolak, “Terimakasih”, sahutnya sambil menggeleng. Gadis itu memasukkan permennya ke dalam kantung  celana jinsnya.

Gadis itu kembali berbisik-bisik pada teman berjilbab di sebelahnya. Hati Gea mulai merasa tak enak. Tiba-tiba dia teringat pesan Ibu untuk berhati-hati karena sekarang ini banyak penculik berkeliaran. Jangan-jangan kali ini dialah yang akan menjadi korban. Apalagi gadis itu tadi menawarinya permen mint yang barangkali obat bius. Hiii… Ah, tapi apa mungkin mereka penculik? Mereka masih sangat muda dan cantik.

“Siapa namamu, dik?” tanya gadis yang memakai jilbab.

Gea memandang berkeliling dengan ragu, berharap yang ditanya adalah orang lain dan bukan dia. Tapi gadis itu jelas bertanya padanya. “Ehm, nama saya Tiyan,” jawabnya berbohong.

Gadis itu kelihatan terkejut. Dia kembali berbisik-bisik dengan temannya gadis berambut sebahu. Dari gerak bibirnya Gea menangkap sedikit kalimat, “…bukan…Gea.”

Gea terbelalak tak percaya. Masa iya sih, dia menjadi target penculikan? Lalu kalau bukan dia kenapa gadis itu mengetahui namanya? Hati Gea berdebar-debar. Dia merasa ketakutan. Dibayangkannya dirinya diculik dan dijual ke luar negeri seperti kata Ibu. gea mulai menimbang-nimbang apa yang sebaiknya dia lakukan. Kalau dia turun sekarang dan berganti bis lain justru akan lebih berbahaya. Akhirnya dia memutuskan untuk tetap naik bis yang sama. Paling tidak jika dia berhenti di tempat biasa dia hanya perlu berlari sekitar 100 meter untuk sampai kerumah.

Setelah bertanya tentang namanya, kedua gadis itu tak mengganggunya lagi. Gea mulai merasa agak tenang. Saat bis mulai mendekati balaikota, Gea beringsut mendekati pintu keluar, dan melompat keluar begitu bis berhenti.

Bis segera berjalan lagi. Gea menoleh ke belakang dan hatinya merasa tenang ketika kedua gadis cantik yang mencurigakan itu tak mengikutinya turun dari bis.

Gea berjalan menyeberangi jalan raya dan mulai masuk jalan kecil menuju rumahnya. Ketika dia iseng menoleh kebelakang… gawat! Ternyata kedua gadis cantik itu berada tak jauh darinya.

“Wah, ternyata mereka benar-benar penculik!”, bisik Gea pada dirinya sendiri. Kali ini hatinya benar-benar resah. Dia berpikir keras untuk menghindari kedua penculik cantik itu. Gea berjalan lebih cepat untuk menghilangkan jejak, dia harus segera sampai ke rumah dan meminta pertolongan Ibu.

Lalu berlarilah Gea secepat-cepatnya. Tak lama lagi dia akan sampai. Empat rumah lagi, dua rumah lagi, satu rumah lagi. Dan ini dia rumahnya. Tempat teraman di dunia. Sett…masuklah Gea ke dalam rumah dan dia segera berteriak memanggil Ibunya.

“Ibu, Ibu, tadi ada dua orang penculik cantik hendak menculikku,” ceritanya terengah-engah.

Ibu memeluknya dengan wajah bingung. “Coba ceritakan lagi dari awal” kata Ibu menenangkan Gea.

Gea baru saja akan membuka mulutnya ketika terdengar suara ketukan di pintu depan. Ibu bergegas menuju pintu dan membukanya. Dua orang gadis cantik yang akan menculiknya berdiri disana. Gea memekik perlahan.

Tapi pekikannya kalah dengan suara seruan Ibu yang terlihat senang sekali melihat kedatangan kedua penculik tadi. Gea menatap mereka bertiga keheranan dan dia mendekat. “Nah, ternyata benar dia puteri Bu Mimi. Wajahnya benar-benar mirip bu Mimi, maka kami mengikutinya tadi,” kata gadis berjilbab, “Tapi waktu dia berkata namanya Tiyan, kami jadi bingung karena seingat kami namanya Gea. Ibu terlihat bingung.

“Kami sudah bertemu di dalam bis tadi dan Gea bilang nama Gea adalah Tiyan,” jelas Gea dengan terpaksa.

Ternyata kedua gadis itu murid kesayangan Ibu di SMP dulu. Uni dan Wika. Kini mereka kuliah di luar kota dan ingin menjenguk Ibu.

“Ha ha ha..pantas saja Gea tadi berlari sangat kencang. Ternyata dia mengira kami penculik,” tawa Mbak Wika gadis yang berjilbab.

“Bukan hanya penculik. Tetapi penculik cantik,” kata Ibu.

Mereka tertawa.

Ibu mengelus rambut Gea yang ikut tertawa malu-malu.

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

Mencari Pelaku Kaca Jendela Yang Pecah

Siang itu hari sangat terik. Fahra berkali-kali menuangkan es batu kedalam gelas sirupnya. Dia sedang mengerjakan pr nya ketika tiba-tiba terdengar suara praangg!! Fahra bergegas melongok ke jendela kamarnya yang berada di lantai dua dan melihat seorang anak laki-laki berseragam merah putih, berambut cepak dan mengenakan sepatu kets hitam berlari menjauhi rumah Pak Pras yang jendela rumahnya pecah dihantam batu.

Fahra melihat Pak Pras berteriak dan berlari ke jalan bermaksud mengejar anak laki-laki itu. Fahra ikut turun dan menghampiri Pak Pras.

“Anak itu lari ke sana Pak,” tunjuknya ke arah warung Bu Min.

Fahra bukan anak yang suka mengadu tetapi dia paling kesal melihat orang yang lari dari tanggung jawab setelah melakukan kesalahan.

“Kamu bisa mengenalinya?” tanya Pak Pras tergesa.

Fahra menggeleng. “Rasanya tidak Pak. Fahra hanya melihatnya dari belakang tetapi kita harus segera mengejarnya,” kata Fahra mengingatkan.

Pak Pras berlari ke arah yang ditunjukkan dan Fahra mengikutinya.

Diam-diam Fahra senang karena ada yang memecahkan jendela Pak Pras. Eitts, bukannya membela anak nakal itu lho. Tapi Fahra senang karena memiliki kesempatan untuk mendapatkan kasus baru. Dia sungguh-sungguh terobsesi ingin menjadi detektif. Dia menyebutkan ini sebagai cita-citanya sementara Ibu menyebutnya ‘Si Tukang Ikut Campur’, hi hi hi. Tapi Pak Pras senang Fahra mengikutinya. Bagaimanapun Pak Pras tahu bahwa dalam beberapa kasus yang pernah terjadi di sekitar sini Fahralah yang berhasil memecahkannya.

“Wah, bagaimana ini Fahra? Kenapa begini banyak anak-anak di warung Bu Min?” tanya Pak Pras bingung, “Lalu siapa yang memecahkan jendelaku?”

Fahra tersenyum , “Pak, warung Bu Min kan paling dekat dengan SD jadi memang biasanya banyak anak-anak jajan disini”

“Apa tidak mungkin dia sudah pergi ke tempat lain?” tanya Pak Pras ragu-ragu.

Fahra menunjuk pada gang sempit jalan keluar masuk ke warung Bu Min ke arah sekolah, semua yang lewat hanya bisa berjalan satu persatu. “Tak ada yang bisa berlari tanpa menabrak siapapun dan membuat keributan lebih besar dengan jalan sesempit itu, Pak. Dia pasti masih disini”

Fahra mencari-cari dengan matanya. “Anak itu berseragam, berambut cepak dan bersepatu kets hitam,” ujarnya pelan.

Pak Pras turut mencari anak laki-laki dengan ciri-ciri yang disebut Fahra. Akhirnya ditemukanlah lima anak laki-laki mirip dengan yang digambarkan Fahra. “Kamu mengenali mereka sebagai pemecah kaca jendela?” tanya Pak Pras.

Fahra menggeleng tetapi dia menghampiri kelima anak laki-laki itu dan menjelaskan bahwa dia dan Pak Pras sedang mencari anak laki-laki yang memecahkan kaca jendela rumah Pak Pras dan salah satu dari mereka adalah pelakunya.

“Aku dan Dio membaca komik disini sejak tadi sambil makan bakso,” bantah seorang diantaranya. Yang disebutkan sebagai Dio mengangguk-angguk mengiyakan, “Kami masing-masing jadi punya alibi kan? Oh ya, kalau kau kurang percaya ada Meisya tadi yang ingin meminjam komikku,” kata Dio tiba-tiba teringat dan dia memanggil Meisya yang mengangguk mengiyakan. “Nah, Meisya ingin meminjam komikku sekitar 15 menit yang lalu. Jadi pastinya bukan aku atau Romi yang memecahkan kacanya.” Fahra mengangguk.

Lalu Fahra melihat kearah anak laki-laki ketiga. Tak dilihatnya sisa makanan apapun di dekatnya. Fahra mulai mencurigai bahwa anak itu tentulah baru datang hingga belum sempat memesan apapun.

“Kau baru saja datang?” tanyanya.

Dia menggeleng dengan gugup. “Aku memang tak memesan apapun dari tadi. Aku hanya duduk saja karena uang jajanku telah habis saat istirahat pertama tadi.”

“Lalu kenapa kau disini?” tanya Fahra lagi.

“Aku sedang menunggu uang pembayaran Bu Min untuk bihun goreng yang kutitipkan disini.”

Lalu dia melangkah ke arah Bu Min yang tersenyum ramah padanya, “Maaf menunggu terlalu lama ya Nafi,” kata Bu Min.

Nafi tersenyum, “Tak apa Bu Min.”

Mendengar ucapan Bu Min, Fahra memutuskan Nafi pun punya alibi yang kuat.

Ditatapnya dua anak laki-laki yang tersisa. Seorang sedang menyendokkan es krim pelan-pelan ke mulutnya dan seorang lagi sedang menyeruput es tehnya dalam gelas yang hampir kosong.

“Aku disini dari tadi,” kata si peminum teh.

“Sama. Aku juga!”, sambung si Es krim.

“Ada yang melihat kalian disana dari tadi?” tanya Fahra sambil menatap sekeliling mencari jawaban.

Tak ada yang menjawab. Si peminum teh merasa perlu menjelaskan, “Aku memang berkeliling dari tadi. Mencari-cari makanan apa yang menarik seleraku. Ternyata kupikir-pikir aku kenyang dan hanya ingin minum saja.”

“Aku sudah disini sejak tadi. Sekitar 20 menit yang lalu aku membeli es krim dan berkeliling seperti dia. Banyak yang melihatku!” jawabnya tanpa ditanya ketika Fahra melihat ke arahnya.

Fahra mengangguk-angguk. Kemudian berbalik menghadap Pak Pras.

Pak Pras menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Kelihatannya pelakunya tak akan ditemukan. Semua berada disini ketika kaca jendelaku pecah,” keluhnya.

Fahra tersenyum, “Tenang, Pak. Pelakunya adalah salah satu dari mereka,” kata Fahra sambil menunjuk seorang anak laki-laki. “Es krim yang dibeli 20 menit yang lalu sudah pasti akan meleleh di hari sepanas ini dalam waktu 5 menit saja,” lanjutnya tenang.

(jadi pemenang pilihan di :

 Sayembara Menulis Cerita Misteri Majalah Bobo 2009)

Makan Siang Mika

WP_20140425_012

Uuh.. hari ini Mika benar-benar lapar. Tadi pagi dia bangun kesiangan dan hanya sempat meminum segelas susu saja. Ditinggalkannya sepotong roti berlapis keju dan daging asap di meja makan dan direlakannya sarapan lezat itu untuk Mbak Rini, kakaknya yang sudah duduk di bangku SMP.

Sialnya karena terburu-buru Mika juga lupa membawa uang sakunya sehingga dia tidak bisa jajan. Ini benar-benar ‘hari perut kosong’, keluhnya sambil mengamati teman-temannya jajan dari balik jendela kelas.

Siangnya Mika pulang sekolah dengan segera. Perutnya benar-benar keroncongan. Dibayangkannya masakan Bunda hari ini. Kemarin dia melihat ikan cakalang di dalam freezer jadi barangkali hari ini Bunda akan memasaknya menjadi ikan bakar. Hmmm… lezat! Apalagi kalau Bunda juga membuat sambal dabu-dabunya. Wuih, benar-benar mantap! Nanti dia tinggal membuat es teh untuk minumannya. Membayangkan itu Mika bergegas mempercepat langkahnya.

“Bundaa!” serunya sambil mengetuk pintu karena ternyata pintu depan dalam keadaan terkunci. Barangkali Bunda pergi ke pasar bersama Rika adik bungsunya. Mika pun mengangkat pot pohon jeruk limau dan mengambil kunci di bawah pot. Hanya anggota keluarganyalah yang tahu tempat penyimpanan rahasia ini. Mika segera membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.

Benar. Tak ada seorangpun di dalam rumah. Mika mencuci tangan dan mengganti baju seragamnya. Lalu dengan bersemangat dia membuka tutup meja makan. Wup! Benar-benar di luar dugaan! Meja makan kosong… Mika melihat sekeliling dengan bingung.

“Barangkali Bunda menyimpannya di lemari dapur,” pikirnya. Ketika membuka pintu lemari dia baru tahu kalau dia keliru. “Lalu dimana lauknya disimpan?” batinnya.

Dibukanya pintu kulkas. Betapa kagetnya Mika melihat sayur mayur masih dalam keadaan utuh dan ikan masih mentah di dalam freezer.

Aaahh!! Ingin rasanya Mika marah. Eit! Tunggu! Ternyata Bunda meninggalkan pesan untuknya di pintu kulkas. Mika sayang, Bunda tak sempat memasak. Rika sakit perut dan Bunda membawanya ke dokter. Tolong Mika masak sendiri ya untuk makan siang.

Wah! Keterlaluan! Kenapa Rika sakit di saat dia sedang sangat lapar?

Bisa saja dia memasak telur dadar supaya mudah. Tetapi dia benar-benar ingin ikan bakar untuk makan siang. Bagaimana ya?

Mika menghela nafas panjang. Dikumpulkannya tekad untuk menahan rasa laparnya.

“Mika, kalau kau berkorban sedikit maka kau akan dapat menu makan siang yang kau mau. Ikan bakar dan sambal dabu-dabu. Tahanlah laparmu sebentar, ya,” bujuknya pada diri sendiri.

Mika mulai mengumpulkan bahan-bahan masakannya. Disiapkannya ikan dan bumbunya. Mika sudah pintar memasak Bunda sering memuji masakannya dengan berkata, “Waktu Bunda kelas 5 SD  Bunda belum bisa masak seperti kamu lho, Mika.” Tetapi Mika belum pernah memasak dalam keadaan lapar seperti sekarang. Rasanya dia bisa berkhayal sebagai anak yatim piatu dalam keadaan seperti ini. Hiks!

Digorengnya ikan setengah matang terlebih dahulu. Plop!! Mata ikan yang meletus membuatnya kaget. Tangannya terciprat sedikit minyak. “Auw” jeritnya tertahan. Cepat-cepat ditaruhnya tangannya di bawah keran air. Dioleskannya mentega dan kecap pada ikan. Siap untuk dibakar.

Ditaruhnya alat pemanggang di atas kompor dan mulai dibakarnya ikan satu-satu. Bau khas ikan yang dibakar mulai memenuhi dapur. Sambil menunggu ikan dibakar, Mika membuat sambal. Setelah semua siap, hati Mika sangat senang. Akhirnya dia bisa makan siang sekarang. Diambilnya piring dan dibukanya rice cooker. Dan ternyata…oo..oouww…kosong! Tak sebutir nasipun ada disana. Badannya terasa lunglai. Kali ini dia ingin sekali menangis. Mika menghentakkan kaki dengan jengkel, tetapi mau tak mau dia terpaksa memasak nasi juga.

Satu jam kemudian nasi Mika matang. Ditatanya semua di meja makan. Mika duduk dan mulai berdoa. Baru saja dia menaruh nasi panas di piring, tiba-tiba dia mendengar suara di depan rumah. Mika keluar dan mendapati seorang Ibu menggandeng anak laki-laki kecil.

“Kami belum makan seharian, Nak. Apa kami bisa minta nasi putih saja?” tanya Ibu itu dengan suara pelan. Mika tertegun mendengarnya. Dia pun masuk kedalam rumah.

Saat keluar Mika sudah membawa seluruh masakannya di teras. Diulurkannya dua buah piring pada Ibu itu.

“Mari makan bersama saya Bu. Saya juga lapar sekali” ujar Mika dengan ramah.

Bagi Mika, makan siangnya hari ini adalah makan siang paling istimewa. Rasa terimakasih yang terpancar dari mata Ibu dan anak itu membuat Mika belajar banyak arti bersyukur. Dan dia senang karena siang ini Bunda tak sempat memasak untuknya.

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

Kelompok Dodol

Di kelas Bian ada beberapa anak yang tak terlalu pintar dan tak terlalu bisa bergaul. Mereka adalah Ari, Tiwi, dan Guna. Mereka duduk berkelompok di bangku tengah kelas dan berteman akrab satu sama lain karena teman yang lain tak terlalu memperhatikan mereka. Bian menyebut mereka Kelompok Dodol dan diam-diam sering menertawakan tingkah kikuk mereka dari belakang.

“Lihat apa yang sedang dilakukan Kelompok Dodol,” bisiknya pada Rahma ketika melihat mereka bertiga mengerjakan tugas dari Miss Risa beratih dialog dalam bahasa Inggris.

Rahma dan Bian terkekeh  geli mendengar bahasa Inggris bercampur logat Jawa, bahasa Ibu mereka. “Bahasa Inggris gaya baru,” kata Rahma. Bian tertawa setuju.

Suatu hari Bian tak masuk sekolah selama 2 hari. Badannya panas. Hari ini dia mulai berangkat sekolah kembali meski rasa pusingnya masih mengganggu. Yang paling penting suhu tubuhnya tak panas lagi. Bian mulai menyiapkan dirinya kembali. Pasti banyak ketinggalan yang harus dikejarnya selama 2 hari tak masuk sekolah.

Tetapi betapa kagetnya dia saat di sekolah Bian menyadari bukan saja ketinggalan pelajaran yang harus dikejarnya tetapi juga hal baru yang harus dibiasakannya sampai akhir semester ini. Selama dia tidak masuk kemarin Bu Tatik wali kelas 5, meminta murid-murid membentuk kelompok belajar. Masing-masing kelompok berisi 4 orang. Karena Bian tidak masuk, Bian ditempatkan bersama Ari, Tiwi, dan Guna dalam satu kelompok karena tak seorangpun yang mau berada dalam kelompok mereka.

“Aku ada dalam Kelompok Dodol??” jerit Bian histeris.

Rahma dan Astri hanya mengangkat bahu, “Habis mau bagaimana lagi? Kamu kan tidak masuk sekolah ketika kelompok belajar dibentuk. Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” kata mereka.

Bian menghentakkan kaki dengan kesal. Tapi benar kata mereka, dia tak bisa berbuat apa-apa. Maka diapun terpaksa harus menerima kenyataan ini. Dia adalah Kelompok Dodol sekarang.

“Nanti sore kita mulai belajar kelompok. Bagaimana kalau di rumahku?” kata Guna.

Semua mengangguk setuju. Bian hanya diam saja.

“Kita kerjakan tugas Sainsnya nanti saja kalau begitu. Wah kita akan membuat model tata surya bersama-sama. Asyik sekali” kata Tiwi gembira disambut senyum yang lain.

Tapi Bian tetap diam saja. Maka Tiwi, Ari dan Guna pun memandang kearahnya, “Atau Bian punya ide lain?” tanya Guna ramah.

Bian menggeleng kaku, “Ide kalian sudah paling top deh,” jawabnya masam.

“Nah, mulai nanti sore di rumah Guna kalau begitu, ya,” Ari menegaskan diikuti anggukan yang lain.

Mereka membawa bahan-bahan yang diperlukan ke rumah Guna. Guna sendiri menyediakan kawat dan bola plastik berbagai macam ukuran sebagai model planet. Karena menyadari diantara mereka Bian yang paling pintar maka mereka banyak mengandalkan Bian untuk menyusun tata surya dengan benar. Tetapi Bian menyusunnya dengan malas. Ari, Tiwi, dan Guna berusaha keras membuat Bian merasa nyaman. Ari menggunting kawat untuk Bian sesuai ukuran, Tiwi mengeluarkan banyak candaan yang hanya dibalas Bian dengan senyum tipis, dan Guna menyediakan minuman untuk mereka setelah bertanya pada Bian dia ingin minum apa. Tetapi toh tugas mereka tak mungkin selesai pada hari itu juga. Karena itu mereka membuat janji untuk bertemu lagi di rumah Guna.

“Aku tak mau datang lagi!” kata Bian.

Semua memandangnya bingung, “Aku tak mau ikut kelompok kalian. Kelompok Dodol,” katanya. Bian mencibir dan bergegas pulang.

Saat hari pengumpulan tugas tiba, Bian melihat kelompok Dodol telah berhasil menyelesaikan tugas Sains mereka. Sebuah model tata surya yang bagus, Bian mengakui dalam hati. Dia agak menyesal meninggalkan kelompok belajarnya itu. Karena keluar dari kelompok, maka dia terpaksa mengerjakan tugasnya sendiri. Bian membuat jam pasir.

Satu persatu kelompok belajar menunjuk wakilnya maju untuk mempresentasikan hasil karyanya. Saat tiba giliran Kelompok Dodol, Guna maju dan berkata, “Kelompok kami membuat model tata surya. Tetapi kami menyerahkan presentasi ini kepada Bian sebagai ketua kelompok.”

Semua bertepuk tangan menanti Bian maju ke depan. Bian menatap Guna, Ari dan Tiwi, tetapi mereka pura-pura tak melihat. Akhirnya Bian terpaksa maju ke depan. Diapun mempresentasikan hasil karya Kelompok Dodol. Sambil berbicara dia melirik papan yang menyangga model tata surya itu. Nama Bian tertulis di urutan teratas. Selesai presentasi, semua bertepuk tangan untuknya. Bian memang pandai berbicara.

Bu Tatik memuji kelompok Bian sebagai kelompok belajar dengan hasil karya  ilmiah terbaik. Ari, Tiwi, dan Guna berseru gembira. Sementara Bian diam-diam menyentuh jam pasir di dalam tasnya. Dia tak tahu harus bagaimana. Dia tak ikut serta dalam pembuatan model tata surya itu tetapi namanya tercantum disana dan dia ikut mendapat nilai tertinggi.

Bian menghampiri Guna, Tiwi, dan Ari. “Kenapa kalian berbuat begitu?” tanyanya.

Tiwi tersenyum, “Bukankah kau memang ada dalam kelompok kami?”

“Besok sore kita berpindah tempat ke rumah Ari”, tambah Guna.

“Terimakasih Bian, tanpa kamu tadi presentasi kita tak akan sebagus itu,” puji Ari.

Bian duduk di depan mereka. “Aku minta maaf karena pergi dari kelompok sebagus kalian. Aku menyesal.” Diulurkannya jam pasir buatannya ke arah mereka bertiga, “Ini untuk kalian. Agar kalian ingat saat aku memanggil kalian Kelompok Dodol dan agar aku ingat kalian telah memaafkanku dengan mudah.”

Guna berkata, “Kita memang Kelompok Dodol kok, manis dan legit.”

Disambut huuu yang panjang dari lainnya.

 

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

 

 

Idola-Idola Teru

Teru menarik rambutnya yang telah dioles dengan styling foam ke atas agar terlihat berdiri. Dengan perlahan diraihnya hair dryer mama dan dinyalakannya perlahan. Dengan segera hawa panas mengalir melalui benda itu dan Teru mengarahkan ke rambutnya yang berdiri. Beberapa saat kemudian, selesailah tatanan rambutnya yang terbaru. Diapun siap berangkat sekolah setelah tak lupa memasang gelang akar-akaran di pergelangan tangannya.

“Astaga Teruuu,” jerit Mama dari meja makan melihat penampilan Teru. “Kamu apakan rambutmu?”

Teru meraba rambut berdirinya dengan wajah tersipu. “Ini lho, Ma, aku kepingin sekali punya rambut keren seperti Ugi,” jawabnya.

Mama mengerutkan kening, “Ugi siapa. Dia pakai gelang seperti itu juga?” Mama merasa tak mengenal nama itu. Apa ada teman atau saudara yang namanya Ugi?

Teru cengengesan, “Ugi penyanyi lagu Yang Pertama itu lho Ma.”

Mama menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah tak senang, “Tapi jangan berdandan seperti itu di sekolah, dong!”

Teru hanya nyengir saja, “Iya deh, Ma. Jangan khawatir. Tidak apa-apa kok!”

Ternyata di sekolah Teru benar-benar ditegur oleh Pak Guru. “Boleh-boleh saja berdandan seperti ini jika hendak berjalan-jalan atau menyanyi di panggung, tetapi jangan menata rambut seperti itu jika hendak ke sekolah dan tak perlu memasang gelang-gelang seperti ini. “Tidak rapi Teru” Begitu kata Pak Guru.

Saat Teru bercerita pada mama, mama bukannya membela justru menyodorkan selembar kertas padanya.

“Mama tadi men download berita tentang Ugi. Ugi itu tertangkap basah berpesta narkoba di rumah temannya” Mama bergidik ngeri. “Jangan mengidolakan penyanyi yang seperti itu dong. Boleh saja kalau kamu suka lagunya, itu berarti kamu menghargai hasil karyanya. Apalagi kalau lagunya memang benar-benar bagus. Tetapi sudah, sebatas itu saja. Tidak perlu meniru dandanan rambutnya dan memakai gelang mirip dia. Apalagi meniru gaya hidupnya memakai narkoba. Hiiii…” Mama berusaha menasihati Teru.

Tetapi Teru tak bisa menghentikan kebiasaannya. Begitu dia menyukai penyanyi atau bintang film tertentu, dia berusaha meniru dandanannya, sepatu kesukaannya, gaya rambutnya. Mama sangat kesal dibuatnya. Belum lagi kamar Teru yang dindingnya penuh tertutup berbagai macam poster idolanya.

Suatu hari mama menunjukkan padanya sebuah daftar yang berisi nama-nama artis. Teru membacanya dan mama bertanya, “Kenal nama-nama itu?”

Teru mengangguk yakin, “Jelas dong, Ma. Memangnya kenapa?”

Mama mengambil kembali daftar nama-nama itu dan membuat tiga buah kolom yang bertulis nama, negatif, dan positif.

Teru melihat mama dengan terheran-heran. “Apa itu Ma?”

Mama hanya berujar, “Lihat saja sendiri”

Lalu mama menyuruh Teru memilih nama-nama artis yang disukainya dari daftar dan boleh menambahkan sendiri jika nama artis yang diidolakannya tidak termasuk dalam daftar. Teru melakukannya dengan senang hati dan mama mencatat nama-nama artis idola Teru ke dalam kolom bertulis Nama yang mama buat.

“Nah, sudah Ma. Kayaknya sudah semuanya tuh,” gumam Teru. Lalu mama mulai bertanya apa saja yang membuat Teru suka pada artis itu. Teru menyebutkan dengan semangat apa saja yang membuatnya menyukai idola-idolanya tersebut. “Lagunya bagus, Ma,” atau, “Orangnya sopan, Ma,” atau, “Jaketnya selalu keren.” Dan mama menuliskan semuanya pada daftar kolom positif.

Selanjutnya mama kembali menanyakan pada Teru apa saja berita negatif yang Teru tahu tentang artis idolanya. Teru paham dengan pertanyaan mama dan mulai menyebutkan sisi negatif idolanya. “Kawin cerai kayaknya deh, Ma,” atau, “Pernah ketangkap karena narkoba,” atau, “Dia tidak lulus sekolah ya?” atau, “Dia suka berbicara tidak sopan.” Dan mama dengan tekun menuliskan semua itu pada daftar kolom negatif.

Selesai sudah. Mama menunjukkan catatan itu pada Teru dan Teru sangat terkejut saat melihatnya. Dari 20 nama artis idolanya, hanya seorang saja yang disebutkan oleh Teru memiliki akting yang bagus, dalam film yang bagus, tetapi di kehidupan sebenarnya dia juga sopan pada orang lain, hormat pada orangtuanya, dan rajin beribadah.

Teru termangu-mangu menatap daftar yang dibuat mama, “Jadi begini ya orang yang menjadi idola Teru?”

Mama pura-pura terkejut, “Lho, tadi itu Teru sendiri lho yang bilang. Mama kan hanya menuliskannya untukmu.”

Mama kemudian meraih bahu Teru dan berkata, “Boleh-boleh saja mempunyai idola seorang artis terkenal. Tetapi belajarlah menyukai karya orang itu saja, menyukai hanya prestasinya saja. Kita tidak usah mengikuti kehidupan pribadinya, mengikuti dandanannya, gaya rambutnya. Biarlah semua orang menjadi diri mereka sendiri. Termasuk kau sendiri Teru,” begitu kata mama.

Teru menatap mama. Kemudian dia mengangguk mengerti, “Teru tahu maksud Mama. Kita boleh suka pada lagu dan film tertentu tanpa harus mati-matian mengikuti gayanya. Begitu kan?”

Mama terlihat senang, “Betul, anak pintar!”

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

 

 

Hadiah Ulang Tahun Kakek Rusli

Tiar melangkah masuk melalui pintu samping Panti Wreda Waskita. Disanalah terletak ruang santai yang dipakai oleh kakek-kakek dan nenek-nenek disana untuk melakukan apapun yang disukainya pada sore hari. Ada yang membaca, ada yang merajut, ada yang membuat bunga, ada yang saling mengobrol sesama teman.

Tak ada seorangpun kerabat Tiar yang tinggal disana, tetapi setiap hari Sabtu sore dia selalu datang tepat pukul 4 untuk Kakek Rusli. Kakek Rusli sangat senang membaca tetapi penyakit katarak di mata kirinya mengganggu penglihatan sehingga dia tak lagi bisa membaca tanpa bantuan. Karenanya Kakek Rusli sangat gembira saat Tiar hadir untuk membantunya meski hanya seminggu sekali.

“Buku apa yang kita baca hari ini, Kek?” tanya Tiar sambil meraih dua buah buku di meja.

“Kakek sedang ingin dibacakan majalah kesehatan saja” Kakek Rusli mengulurkan majalah kesehatan edisi terbaru milik Panti. Tiar menurut dan mulai membacakan artikel yang ditunjuk Kakek Rusli.

“Kakek sudah lama tinggal disini?” Tiar bertanya saat hendak berpamitan pulang.

Kakek Rusli mengangguk, “Hampir sepuluh tahun. Sebenarnya anak Kakek satu-satunya tinggal di kota yang tak terlalu jauh dari sini.  Tetapi kakek tidak kerasan tinggal disana. Pagi-pagi semua sudah pergi dari rumah dan sore baru semua pulang. Kakek kesepian dan memilih untuk tinggal disini.”

Tiar mengangguk-angguk, “Mereka sering kesini, Kek?”

Kakek Rusli mengangguk, “Hanya anak Kakek yang datang setahun sekali”

Tiar mengerutkan kening, “Lalu cucu kakek?”, sambil memandang Kakek Rusli.

“Damira tak pernah kesini. Anak sekolah sekarang bukankah sibuknya bukan main?” Kakek Rusli tertawa mendengar jawabannya sendiri.

Setelah berjanji akan kembali pada Sabtu depan, Tiarpun pulang.

Saat Tiar datang di hari Sabtu berikutnya, kakek Rusli memintanya untuk membacakan sebuah novel. Tetapi belum sepuluh halaman Tiar membaca, Kakek Rusli sudah minta berhenti. Tiar heran sekali mendengarnya tetapi Kakek Rusli memang terlihat sedih dan tak bersemangat.

“Kakek boleh bercerita padaku kalau ingin,” kata Tiar lembut sambil disentuhnya lengan Kakek Rusli.

“Dua hari lagi Kakek berulang tahun. Umur Kakek sudah banyak”, gurau Kakek Rusli, “75 tahun tetapi kakek tak pernah bertemu Damira.” Kakek Rusli mendesah. Dipandanginya Tiar lama-lama, “Damira barangkali juga seumurmu. Sepuluh tahun bukan?”.

Tiar mengangguk. Dia tak lagi punya kakek ataupun nenek satupun. Seandainya punya tentu dia akan rajin mengunjungi mereka. Bukankah enak sekali memiliki kakek dan nenek? Masakan nenek selalu enak dan seorang kakek pasti mau bermain apa saja.

Tiar benar-benar iba pada Kakek Rusli. Dia dapat merasakan kerinduan Kakek Rusli pada cucunya. Dia jadi teringat saat pertama Bu Sisi pengasuh panti mengantarkannya pada Kakek Rusli sebagai relawan yang mau memberikan waktunya untuk membacakan buku-buku, Kakek Rusli bertanya apakah dia anak perempuan? Apakah umurnya sepuluh tahun? Baru Kakek Rusli bertanya padanya, “Siapa namamu?”

Tiba-tiba Tiar teringat untuk mendatangi Bu Sisi. Diceritakanlah maksudnya untuk meminta alamat keluarga Kakek Rusli. Dia ingin membawa Damira kesini di hari ulang tahun kakeknya. Bu Sisi memberikan dengan senang hati.

Perjalanan dengan bis kesana membutuhkan waktu 4 jam. Saat sampai di alamat yang dituju Damira belum pulang dari les pianonya. Bahkan di hari Minggu seperti ini keluarga mereka sangat sibuk. Pak Edu ayah Damira sangat terkejut dengan kedatangan Tiar saat Tiar memperkenalkan diri. Dia menanyakan keadaan Kakek Rusli dengan khawatir. Tiar menjelaskan maksud kedatangannya dan Pak Edu mengangguk mengerti.

“Damira”, panggilnya, “Kakek ingin bertemu denganmu di hari ulang tahunnya besok.”

Damira terlihat kaget dan tak berkata apa-apa. Tetapi betapa terkejutnya Tiar saat sesaat kemudian Damira menggelengkan kepala.

“Kakek ingin melihatmu di hari ulang tahunnya” jelas Pak Edu.

“Aku tidak mau. Orang tua selalu berbau aneh dan berbicara melantur. Ayah boleh kesana sendiri,” kata Damira sambil melenggang masuk ke dalam kamar.

“Ibunya sudah meninggal saat dia masih bayi sehingga dia tak belajar banyak tentang kasih sayang,” bela Pak Edu.

Tetapi Tiar benar-benar jengkel melihatnya. Dia berlari mengejar Damira dan bertambah jengkel saat Damira pura-pura memejamkan mata di atas tempat tidurnya saat melihatnya, “Damira, apakah kau sayang pada ayahmu?” tanyanya perlahan.

Damira tak menjawab.

“Kalau kau sudah dewasa dan memiliki anak sendiri, tak maukah kau mengenalkan anakmu pada ayahmu? Dan kalau kau sudah tua apakah kau mau tak seorangpun mengingatmu? Kalau kau mau tahu, kaulah hadiah yang paling ditunggu Kakek Rusli di hari ulang tahunnya,” lanjut Tiar.

Tak menunggu jawaban Damira diapun beranjak pergi dan berpamitan pada Pak Edu yang berjanji untuk datang ke Panti esok hari. Tiar hanya mengangguk sambil susah payah menahan air matanya yang hampir tumpah.

“Tunggu!” seru Damira dan Tiar menoleh. “Baiklah.Aku akan kesana…”

Tiar menatap Dania tapi tak mengucapkan apa-apa.

Esoknya saat Tiar pergi ke panti, dilihatnya Kakek Rusli sedang tertawa-tawa bersama Pak Edu dikamarnya sambil memeluk bahu Damira erat-erat. Mereka tak menyadari kehadiran Tiar. Tiar tersenyum melihat raut bahagia di wajah kakek Rusli. Dia memutuskan untuk tak mengganggu mereka dan diapun pergi setelah meletakkan sebuah novel berlilit pita di depan pintu kamar Kakek Rusli.

 

(Pernah dimuat di Majalah Bobo)