#K3BKartinian_Seorang Ibu Tambahan Dengan Kasih Sayang Sama Besar

image

Pada hari ketika aku dilahirkan, Mbah Kakung, kakekku ingin memberiku nama Zainab. Kata kakekku, ia ingin aku menjadi seorang yang murah hati seperti Zainab istri Rasulullah. Bude Fat, kakak sulung Bapak menolak. “Jangan diberi nama Zainab, nanti anak ini malu. Jangan-jangan namanya sama dengan nama ibu mertuanya,” kata Bude Fat setengah bercanda.

Aku mendengar cerita itu dari Eyang, nenekku, dan saat aku mendengar cerita itu, sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa suatu hari nanti saat tiba waktunya aku menikah, ibu mertuaku ternyata benar-benar bernama Zainab (dengan ejaan Zaenab pada KTP nya)

Kedua orangtua suamiku tinggal di Banyuwangi, sekitar 25 km dari pusat kota.

Pada bulan Juni tahun 2000, setelah pesta pernikahan usai, aku tinggal disana selama seminggu. Sebuah tradisi yang baik kurasa, agar menantu baru ini bisa mengenal keluarga suaminya dengan lebih dekat.

Aku sangat menyukai bapak mertuaku. Bapak adalah orang yang disiplin, pendiam, sangat sabar dan tenang. Meski begitu ia adalah orang yang sangat mudah tertawa. Bapak selalu tertawa terkekeh-kekeh setiap kali aku bercerita. Kurasa hal yang membuatku menyukainya adalah karena aku menemukan banyak bagian sifat yang sama dengan sifat suamiku.

Kalau ibu mertuaku? Nah ini…

Sebelum menikah, ibuku sendiri (ibu kandung) sudah berpesan untuk menghormati ibu mertuaku. “Harus bisa menyesuaikan diri. Ibu mertua itu bukan orang lain. Ibu mertua adalah ibu tambahan dengan kasih sayang sama besar,” kata ibuku menasehati. Mungkin karena ibu sudah menduga bakal ada sesuatu yang terjadi, mengingat aku adalah orang yang keras kepala.

Aku cuma mengangguk-angguk saja. Aku sudah berniat untuk menyesuaikan diri kok, pikirku. Eh, tapi rencana dan kenyataan memang seringkali nggak sejalan.

Pertama kali aku bercakap-cakap dengan ibu mertuaku dengan agak panjang, yang dikatakannya adalah, “Pakai bedak dulu, pakai lipstik, baju yang rapi!”

*Pikiranku langsung buyar*

Bedak? Lipstik? Aku kan nggak suka dandan…

Dengan segan aku mencoret-coret wajahku dan memakai baju yang lebih rapi. Kukira aku bakal diajak pergi dengan dandanan seheboh itu, tetapi yang dikatakannya kemudian adalah, “Rumahnya disapu dan dipel dulu!”

Hihihi….kebayang kan gimana jengkelnya aku. Udah dandan dan berasa mau ngelenong, tapi ternyata cuma disuruh nyapu sama ngepel.

Beberapa hari pertama aku tinggal di sana, aku langsung tahu kalau semua kata-katanya adalah ‘perintah’ dan semua orang melakukan apa yang dikatakannya.

“Beli ini di warung!”

“Bersihkan yang itu dulu!”

“Pasangkan yang ini!”

Ada hal-hal yang mau kulakukan dengan senang, dan ada hal-hal yang tidak mau kulakukan. Seperti misalnya, aku paliing nggak suka nyapu halaman dengan sapu lidi. Bukan karena aku malas ya…tapi memang ada kan pekerjaan yang kita suka banget mengerjakannya, dan ada pekerjaan yang kita sebel mengerjakannya. Nah, menyapu halaman dengan sapu lidi ini aku benci banget deh pokoknya.

Malangnya, waktu itu ibu mertuaku menyuruhku menyapu halaman.

Karena aku orang yang sangat terus terang, aku langsung menjawab, “Nggak mau, ah Buk. Aku nggak suka disuruh nyapu pakai sapu lidi.”

*DUUEERRR*

Sumpah deh, dari wajah ibu mertuaku langsung kelihatan kaget. Aku yakin ini bantahan pertama dari menantunya. Selain aku baru 3 hari menjadi menantunya, menantu sebelumnya (istri kakak iparku) orangnya sabaaaar, mengalah, dan lembuut banget deh pokoknya.

Ibu mertuaku tampak jengkel. Tapi aku memilih untuk tak menurutinya. Aku berniat menikah dengan suamiku ini selamanya, jadi aku tidak akan membiarkan diriku melakukan hal-hal yang tak kusukai demi menyenangkan ibu mertuaku. Kalau aku melakukan hal-hal yang tak kusukai dengan terpaksa aku jadi jengkel dan hubungan dengan ibu mertua pasti tak lagi menyenangkan. Jadi aku mulai belajar menentukan sikap.

Sejak kasus menyapu halaman itu, kulihat ibu mertuaku justru lebih cair. Mungkin karena ibu menganggap aku sangat santai menanggapi dirinya, ibu jadi lebih bebas berbicara denganku. Dalam seminggu pertama itu pertengkaran kecil beberapa kali terjadi, tetapi aku bukan orang pendendam dan ibu mertuaku bukan orang pendendam, jadi nggak heran kalau dalam setengah jam kami sudah bersikap biasa lagi.

Butuh waktu bagiku untuk menganggap posisi ibu mertuaku sama dengan ibu kandungku sendiri. Ibu mertuaku sangat bossy dan suka seenaknya sendiri sementara ibuku membiarkanku melakukan apa yang kusukai, jadi wajar kalau aku sering sebal dengan sikap ibu mertuaku. Sampai suatu hari sebuah kejadian menyadarkanku bahwa seorang ibu itu manusia biasa, seperti kita semua yang masing-masing punya sifat berbeda.

Beberapa hari setelah kelahiran anak pertamaku yang sulit karena posisinya yang terbalik, aku mendapatkan infeksi. Sebuah kain kassa menempel dan terjepit di bekas jahitan jalan lahir dan ditarik paksa oleh seorang perawat, membuat luka jahitan yang belum kering menjadi bernanah. Badanku demam dan aku kesulitan berjalan meski hanya ke kamar mandi. Setiap kali berjalan aku pasti menangis saking sakitnya. Ibu mertuaku datang jauh-jauh dari Banyuwangi dan tiba di Yogya saat Subuh untuk melihat cucu keduanya, dan begitu kami bertemu ia langsung memelukku.

Tanpa memedulikan rasa lelahnya, ibu mertuaku ini langsung merebus air. Tadinya aku mengira air hangat itu untuk mandi anakku, ternyata tidak. Sambil meletakkan seember penuh air hangat ibu mertuaku berkata, “Sudah, jangan bergerak dulu Nduk. Ibuk mau menyekamu. Tidak usah berjalan kemana-mana kalau tidak terpaksa.”

Aku menolak, tapi ibu mertuaku memaksa.

Tangannya yang tebal dan kuat membasuh badanku dengan lembut.

“Ibuk akan memandikanmu sampai kamu sembuh,” katanya.

Aku terdiam mendengarnya.

Maturnuwun ya Nduk sudah melahirkan dengan selamat,” lanjutnya lagi sambil terus membasuhku.

Aku tersenyum kecil. Air mata menggenang di pelupuk mataku.

Jika ada sebuah titik pertemuan dalam sebuah hubungan, aku merasa kejadian itulah yang menjadi titik pertemuan hatiku dengan hati ibu mertuaku. Detik itu aku merasa, bahwa dia adalah ibuku, dan ibu mertuaku merasa bahwa aku adalah anaknya. Benar kata ibuku, ibu mertua adalah ibu tambahan dengan kasih sayang sama besar.

Tempat tinggal kami sangat berjarak sejauh 500 km, dan ini membuat kami tak setiap bulan bertemu. Karenanya sampai sekarang aku sangat senang jika ibu mertuaku tahu-tahu muncul di Yogya untuk tinggal beberapa hari bersama kami. Ibu mertuaku adalah seorang yang sangat efisien. Ia mengajarkanku menata segala macam barang dengan cara yang sangat militan. Belum pernah kan ada yang melihat tumpukan emping disusun vertikal dengan rapi di dalam toples? Nah, ibu mertuaku melakukannya. *Sumpah deh itu yang mau ngambil emping dari dalam toples sampai enggak tega melakukannya*

Kalau ibu mertuaku datang, rumahku kelihatan sangat longgar dan lapang. Ibu pintar banget membersihkan dan mengatur ruangan. Semua disusunnya dengan saaangat rapi. Aku berusaha menirunya, tetapi dalam hal ini sepertinya aku bukan pembelajar yang baik. Bahkan sayangnya, seminggu setelah ibu pulang, entah bagaimana caranya, kok rumahku sudah kembali lagi ke bentuk asal. Benar-benar bikin desperate.

Jika kami bertemu, aku dan ibu mertuaku seringkali bertukar resep. Kalau ibu ke Yogya, ibu akan memintaku memasak yang tak pernah dimasaknya di Banyuwangi, dan memilah mana yang cocok untuk seleranya dan selera bapak.

Kalau mertuaku sedang ke Yogya, aku biasanya mengajak ibu mertuaku untuk jalan-jalan berdua saja denganku. Meski kalau hendak pergi, biasanya aku prepare dulu sehari sebelumnya karena kekuatan ‘berjalan’ ibu mertuaku ini sungguh luar biasa untuk orang seumurnya. Sambil berjalan, menyusuri pusat perbelanjaan, dan berakhir di tempat makan, kami biasanya mengobrolkan banyak hal.

Nggak terasa, bulan Juni nanti aku sudah menikah selama 15 tahun. Artinya, sudah 15 tahun juga aku mengenalnya sebagai ibu mertuaku. Jangan ditanya apakah tak ada lagi pertengkaran dan perbedaan pendapat setelah tahun-tahun berlalu, karena jawabannya adalah sangat banyak. Banyak sekali pertengkaran dan perbedaan pendapat yang kami selisihkan. Apalagi meski jauh, aku berusaha meneleponnya paling tidak seminggu sekali, dan perbedaan pendapat bahkan bisa terjadi lebih banyak melalui telepon.Tapi setelah semua perbedaan pendapat itu selesai, ya sudah, kami adalah ibu dan anak lagi dalam ukuran normal. Hehehe…

Kurasa aku menyayanginya, seperti juga ia menyayangiku. Semua pertengkaran dan perbedaan pendapat yang langsung termaafkan begitu cepat tak akan terjadi pada orang yang tidak saling menyayangi. Aku meyakini itu.

Satu mimpiku yang belum terlaksana. Membawa ibu mertuaku pergi umroh. Ibu mertuaku sudah berhaji bertahun-tahun yang lalu saat suamiku masih anak-anak, jadi kebayang bagaimana kangennya beliau untuk pergi lagi kesana.

Semoga ya Buk….Semoga anak dan menantumu ini dilancarkan rejekinya untuk membawamu ke Tanah Suci. Aku tahu, meskipun Allah mengijinkan dan mengabulkan doa kami, tak seujung kukupun semua ini dapat membalas semua kebaikanmu sebagai ibu. Tak akan pernah.

 

Tulisan ini dibuat untuk meramaikan event #K3Bkartinian yang diselenggarakan oleh Kelompok Emak-Emak Blogger.

 

 

 

 

Advertisements

17 thoughts on “#K3BKartinian_Seorang Ibu Tambahan Dengan Kasih Sayang Sama Besar

  1. Begitu makjleb saat baca bagian ini: “Maturnuwun ya Nduk sudah melahirkan dengan selamat,” lanjutnya lagi sambil terus membasuhku.
    Huwaaa.. meleleh hati saya Mak :”( Hebat sekali mertua Mak Yuniar ini ^_^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s