Rinso Cair Soulmate-nya Mesin Cuciku

Tahu nggak salah satu pekerjaan ibu rumah tangga yang bisa bikin mood melakukan pekerjaan lain jadi menghilang seketika? Yak, benar. Men-cu-ci.

Duluu waktu aku belum punya mesin cuci, aku merendam baju-baju kotorku dengan deterjen bubuk di dalam ember besar sampai lama. Durasi waktunya mungkin sekitar… umm… kira-kira sampai aku lupa kalau punya cucian 😀  Kadang saking pegelnya nyuci pakai tangan, aku menginjak-injaknya sambil membayangkan jadi Song Hae Kyoo di film-film Korea… hi hi hi.

Setelah punya anak, dan dapet lungsuran mesin cuci top loading yang manual, pekerjaan mencuci sedikit terbantu meskipun nggak bisa dibilang puas sama hasil cuciannya. Aku masih pake deterjen bubuk juga waktu itu, dan yang paling menjengkelkan dari mencuci dengan deterjen bubuk yang dimasukkan ke dalam mesin cuci model begitu adalah, sisa sabun masih melekat di beberapa sudut pakaian, dan meninggalkan noda putih-putih berkerak yang baru ketahuan setelah pakaian kering dan siap disetrika    . Hrrgghhh… sebeeel banget deh rasanya. Niatnya sih mencuci pakaian kotor biar bersih, tetapi malah jadi kerja ulang mencuci pakai tangan.

Beberapa tahun yang lalu, pas kebetulan ada rejeki buat beli mesin cuci yang front loading. Saat-saat pertemuanku dengannya (nya dibaca = si mesin cuci front loading) begitu indah. Aku menjejalkan banyak pakaian, bahkan yang baru sekali pakai, kayak orang lagi katarsis mencuci. Hi hi hi… seperti biasa, kumasukkan deterjen bubuk ke dalam laci-laci di sebelah kiri atas mesin.  Padahal sebelumnya sih, petugas yang dikirim dari mesin cuci itu udah bolak-balik ngingetin supaya aku pakai sabun cair, tapi memang kuabaikan karena menurutku, sabun cair lebih mahal.

Kuliatiin terus mesin cuci itu bekerja. Diputar, dibanting, semua dilakukan dengan lembut tapi mantap. Kayaknya bersih nih, pikirku. Ternyata oh ternyata, setelah selesai proses pencucian, dan kubuka laci di sebelah kiri atas tempat aku menaruh deterjen bubuk, apa yang terjadi saudara-saudara?  Deterjen bubuk itu meng-gum-pal. Ya, menggumpal dan lengket di sana, menempel di sisi-sisi laci mesin cuci seolah mengejekku karena dari tadi sama saja aku mencuci tanpa memakai deterjen  😦   Hiks… itu sih namanya sama banget kayak bikin sup jagung tanpa jagung.

Setelah kejadian itu, aku memutuskan untuk membeli deterjen cair.

Deterjen cair yang pertama kali kubeli adalah deterjen laundry kiloan itu, yang sebotol gede harganya nggak sampai sepuluh ribu. Murah nih, pikirku senang. Maklum mak-mak kan puas kalau dapet barang dengan harga miring. Pertamanya sih kayaknya oke-oke aja. Cucian jadi lebih bersih, dan mesin cuci bekerja tanpa masalah. Tapi setelah seminggu, anakku nanya, “Bu, tadinya rok yang ini bunga-bunganya jelas kok sekarang agak kabur ya?”

Whaatt??? Ternyata ‘bersih’ tadi bukan bersih, tapi luntur. Deterjen laundry tadi dengan sukses bikin pakaian cepat lusuh.

Lalu kutemukan Rinso Cair di toko dekat rumah. Ada dua pilihan, yang bungkus hijau itu Rinso Anti Noda, dan yang bungkus pink Rinso Molto Ultra. Aku memilih yang hijau. Karena baru nyoba, aku beli bungkus sachet. Harganya murah, seribu rupiah aja.

Pakaian dengan noda parah seperti kerah baju, noda es krim, jilbab seragam yang kena minyak gorengan, kupisah untuk kurendam dengan Rinso Anti Noda dan baru dimasukkan ke mesin cuci bersama pakaian lain. Saat hendak kumasukkan ke dalam mesin cuci, alhamdulillah, noda-noda itu hilang lho. Memang nggak bohong ni deterjen. Rinso cair 2x lebih efektif, meresap lebih ke dalam serat kain saat perendaman, untuk seluruh cucian sehari-hari. Kalau ada yang masih lugu kayak aku dulu dan mau lihat-lihat websitenya sebelum percaya, langsung aja deh kalian meluncur kesini http://www.rinso.co.id/.

Daan saat pakaian-pakaian itu kering, wuiiih.. benar-benar kepuasan seorang ibu dimanjakan karena dengan harga seribu rupiah untuk sekali pemakaian, 20 potong pakaian bersih tanpa noda. Udah gitu, karena nyucinya pakai mesin cuci, jadi nggak capek lagi deh. Ibarat orang, ni mesin cuci udah nemu soul mate nya, jodoh sejatinya sampai akhir usia.. dan sebagai pemiliknya, akupun merasa bahagia… cieeeh… *kayak abis ngejodohin siapaaa gitu rasanya… hi hi hi…

Dua Jiwa Yang Berbagi Jalan

Nadia melihat bayangan dirinya di cermin. Malam ini bukan malam biasa yang dihabiskannya untuk membaca atau browsing internet di dalam kamar. Malam ini bukan pula malam untuk mendengarkan musik keras-keras yang menempel ketat melalui headset di telinganya. Malam ini dia akan mengobrol di teras depan. Istimewa. Karena dia akan mengobrol bersama Nega.

Dirapikannya warna nude pada bibirnya menggunakan tisu. Sebenarnya warnanya sangat lembut dan terasa ringan. Tetapi Nadia tak urung merasa kurang pede dengan riasan smoked eyes nya. “Terlalu mencolok,” pikirnya.

Dia berencana hendak menghapusnya ketika tiba-tiba didengarnya, “Nadiaa, ada yang mencarimu.” Suara Ibu. Pasti Nega.  Dia mulai panik. Hendak buru-buru keluar atau menghapus riasannya terlebih dahulu. Akhirnya dia memilih yang pertama dengan pertimbangan, lipstik warna nude dan riasan smoked eyes tak akan terlalu memalukan untuk menghadapi Nega pertama kali di teras depannya.

Nadia tersenyum. Lega juga dia melihat Nega mengenakan kemeja yang dipadu dengan jins warna gelap. Cukup serius untuk sekedar ngobrol di teras tetapi sepadan dengan riasan matanya. Wajah Nega memerah sesaat melihat senyum Nadia.

“Aku datang lebih awal karena…agar…maksudku,” panik Nega mendengar kata-katanya sendiri yang tak beraturan, “Supaya aku lebih lama bersamamu, kurasa.” Dihembuskannya nafas lega setelah kalimat itu berakhir seolah salah satu beban telah terangkat. Kini ganti Nadia yang merasa ada api menyala ringan menyentuh pipinya. Anehnya rasa panas dipipinya menimbulkan rasa sejuk yang menjelajah hingga ke sudut-sudut hatinya dan membuatnya merasa tenteram.

Nadia memilih kursi tepat di depan Nega.

“Kamu cantik, Nad,” lembut ucapan Nega.

“Mungkin karena lampu teras remang-remang,” jawab Nadia sekenanya.

Nega tersenyum. “Aku tetap menganggapmu cantik saat pagi dan siang di sekolah tetapi mungkin kamu juga benar bahwa saat ini efek cahaya ikut berpengaruh.”

Nadia tertawa mendengarnya. Nega juga tertawa. Tiba-tiba saja suasana jadi lebih mencair karenanya. Nadia jadi berpikir, barangkali dia tak perlu terlalu gugup menghadapi Nega. Nega pun berpikir, barangkali Nadia memang butuh suasana lebih santai seperti di teras rumah untuk tertawa.

***

Pertama kali Nega bertemu dengan Nadia adalah saat ujian akhir semester. Bangku ujian disusun berdasar nomor absen dan kelas dua duduk bersebelahan dengan kelas satu. Mata pelajaran yang sama dengan soal yang berbeda. Nadia duduk di bangku paling kiri pada urutan ketiga, Nega duduk dibangku belakangnya.

Saat itu Muad teman sekelas Nadia mencolek lengan kanan cewek itu sambil berbisik, “32 apa?”

Nadia tak menanggapinya.

Tangan Muad kembali terulur. Tak puas mencolek diapun meremas ringan lengan Nadia, “Kalau 15?”

Nadia menepis dengan gusar. Dengan tak sabar dia berdiri dan melotot ke arah Muad. Tak puas dengan melotot saja, Nadia berteriak lantang, “Jangan pegang-pegang! Tahu!”

Seisi kelas meledak tertawa tiba-tiba mengejek kesialan Muad. Wajah Muad merah seketika begitupun dengan Nadia. Tapi pada detik itu juga Nega terpana. Wajah merah padam Nadia dan matanya yang masih melotot marah ke arah Muad menimbulkan perasaan asing dalam dirinya. Seperti batu besar yang dihantamkan berulang untuk menghancurkan sebutir intan. Hatinya penasaran. Di mata Nega, Nadia terlihat begitu cantik saat sedang membela diri.

Tetapi untuk berkenalan tentu saja tak semudah yang dibayangkan oleh Nega. Berkali-kali Nega mengatur sejumlah kalimat dalam kepalanya, “Hai, aku Nega. Kamu?” atau, “Kenalan dong” atau, “Aku tahu namamu Nadia tapi kamu belum tahu namaku kan?”

Sialnya semua terdengar konyol apalagi ketika dia memikirkannya dengan mata terpejam. Apa yang ada dalam benaknya semua sudah dicoba oleh yang lain tetapi Nadia tak menganggap penting semua yang berbau ‘cari muka’. Nega tak berani berucap sepatah katapun untuk sekedar menyapa Nadia karena cewek itu selalu berjalan dengan tatapan lurus yang angkuh yang terbaca oleh Nega sebagai Nadia –jangan tegur aku—Arsita. Secantik itu dengan nama tengah seperti itu, mana berani Nega menegurnya?

Saat semua  kemungkinan terlihat tak memungkinkan untuk sekedar dicoba sekalipun, tiba-tiba Nadia mendekat padanya seusai ujian hari terakhir, saat itu Nega sedang duduk di tepi lapangan basket sambil menengadah memandang hamparan langit, dan dia tersenyum tipis.

Tanpa bertanya atau meminta ijin, Nadia duduk disampingnya dan berkata, “Jika sedang memandang langit apa yang sedang kau pikirkan, Nega?” Hati Nega berdegup. Pikirannya terbelah dua antara ingin segera menjawab atau bertanya ge-er terlebih dahulu untuk mencari tahu bagaimana Nadia bisa tahu namanya. Dia memutuskan hal lain, yaitu mencari jawaban yang dia pikir dapat membuat Nadia terkesan. Sayang jawaban itu tak kunjung ditemukannya. Lemot! Makinya pada dirinya sendiri. “Luas mungkin.” Jawaban bodoh! makinya lagi. Ini satu-satunya kesempatan untuk berbicara dan dia menjawab dengan kata ‘luas’. Memangnya dia menanyakan ukuran empang Haji Yadi?

“Kalau aku, aku selalu menganggap langit adalah kebebasan.” Nadia menerawang ke atas. “Aku sering merasa ingin pergi kesana,” bisiknya.

Lalu seperti tersadar pada sesuatu dia berdiri dan mengibaskan roknya yang terkena debu lapangan. “Oh, ya, terimakasih.”

Nega mengernyitkan dahi, “Untuk apa?”

Nadia tersenyum, “Karena tidak menyapaku seperti yang lain. Hatiku selalu tak enak jika disapa berlebihan. Kaulah satu-satunya yang tak melakukannya.” Lalu diulurkannya segulung kertas kecil. Nega membukanya, melihat sekilas gambar kelinci tersenyum di sudut kanan bawah dan membaca tulisan tangan Nadia. Jam 7 malam di teras depan rumahku, Jalan Munggur 43. Ini undangan. Undangan dari Nadia. Hore! Hore! Yes! Dia ingin melompat-lompat di tepi lapangan tetapi hatinya membentak keras-keras agar dia lebih menahan diri.

Nadia bergegas melangkah pergi. “Nanti malam aku pasti datang,” katanya pelan. Nadia menoleh sekilas menatap lembut mata Nega, meninggalkan senyum tipis pada cowok itu dan tak menoleh lagi.

***

Archet duduk di depan toilet puteri di seberang kantin. Karena jam pulang sekolah telah cukup lama maka tak ada seorangpun tampak disana. Dinyalakannya sebatang rokok mentol dan dihisapnya dalam-dalam. Sesaat kemudian dihembuskannya asap rokok perlahan. Dahi cewek itu berkerut karena beban pikiran yang dirasanya cukup mengganggu. Dia memikirkan Nadia. Nadia yang terlalu lemah, perasa, dan lembut. Dia sudah membahas hal ini berkali-kali dengan Nadia.

“Aku tak mau sesuatu yang buruk menimpamu lagi Nadia. Bukankah kita telah memutuskan bahwa tak ada seorangpun laki-laki di dunia ini yang bisa dipercaya. Bahkan laki-laki yang telah kita anggap sebagai ayah kita sendiripun tidak!”

Nadia kelihatan tak suka mendengar nada suara Archet yang mulai mengkritiknya, “Jangan terlalu usil. Aku sudah menuruti saranmu untuk menjaga jarak dengan semua cowok-cowok disekolah ini. Puas?” keras suaranya meski tak sekeras Archet.

Archet memang keras kepala. Dia adalah tipe angin yang datang dan pergi sesuka yang dimauinya, tak suka diatur dan diberi saran. Archet selalu mengangap dirinya lebih kuat dari siapapun terutama dari Nadia. Nadia harus mengalah karena dialah yang bisa melindungi Nadia. “Kau memberikan alamat rumah kita pada cowok itu.” sinis suara Archet terdengar.

Nadia melotot, “Dia lain Chet, dia lain. Cowok itu punya nama. Nega. Aku lebih suka kau juga menyebut namanya dengan benar. Nanti malam aku akan menemuinya dan aku tak suka kau menggangguku. Mengerti?” Gemetar suara Nadia. Selama ini dia memang menghindar berselisih paham dengan Archet. Keras kepala dan kalimatnya yang terkadang kasar hampir selalu membuat Nadia menangis. Dia sulit melawan Archet.

Archet menghela napas dengan sedih, “Nadia, ingatkah kamu hari ketika ayah meninggalkan ibu dan pergi dari rumah? Lalu ingatkah kamu hari ketika Om Handi datang untuk menjadi bapak tiri kita? Lalu ingatkah kamu hari ketika…”

“Aku tak mau mendengar lagi!” bentak Nadia sambil melotot tajam, tapi tak urung suaranya bergetar juga.

Archet meradang seketika. Dia berdiri dan balas membentak Nadia, “Kau harus mendengar! Karena saat Om Handi memaksamu waktu itu tak ada ibu yang bisa membelamu dan tak ada aku yang bisa melindungimu. Itulah yang membuat semua itu terjadi. Karena kau lemah Nadia! Kau tak mampu menjaga dirimu sendiri! Dan kau akan mengulang hal yang sama? Ayo katakan padaku. Jawab!!!” Nadia terpaku nanar. Matanya berkaca-kaca dan seketika itu juga dia berlari pulang tanpa menunggu Archet lagi.

Archet sangat terpukul. Sama terpukulnya dengan Nadia. Selama ini dia hanya berusaha melindungi Nadia. Nadia tak bisa mengandalkan Ibu untuk membelanya. Saat Om Handi memperkosanya dan Nadia mengadu pada Ibu, Ibu tak segera percaya. Ibu justru memukuli Nadia dengan gagang pel sekuat tenaga. Gagang pel dari kayu itu patah dan Nadia tersungkur dengan punggung memar dan tulang terasa remuk. Lebih dari itu Nadia sangat hancur dengan serpihan hati tersebar kemana-mana. Saat air mata Nadia telah mengering, Archet datang menawarkan bantuan. Dia menghibur Nadia dan memeluknya persis seperti yang Nadia inginkan. Archet satu-satunya yang mempercayai ceritanya. “Aku juga turut melihat kejadian itu diam-diam, Nadia. Akulah saksinya,” bisiknya saat itu. Archet yang dengan keras berkata sekali lagi pada ibu ketika Om Handi ada. Sehingga dari pembelaan diri Om Handi yang tak meyakinkan, ibu langsung tahu kalau Om Handi suaminya, ayah tiri anaknya, telah berdusta. Nadia benar.

Ibu menangis dan mengusir Om Handi saat itu. Mereka bercerai tak lama kemudian dan dengan cepat Om Handi pergi dari kehidupan mereka. Tetapi bagi Nadia, luka yang tersisa hidup berkedut bagaikan monster selamanya dalam jiwanya. Archet tahu persis akan hal itu. Itulah sebabnya dia tak membiarkan Nadia sendirian mulai sekarang. Nadia terlalu lemah dan tak bisa melindungi diri sendiri. Tetapi dia bisa. Archet mampu melakukannya.

***

Malam itu sempurna bagi Nadia. Dia senang Nega tak selalu memandangnya lekat-lekat dan mengucapkan hal-hal konyol. Dia lega karena Nega memilih topik pembicaraan tentang banyak novel, tentang film, tentang masa kecilnya. Paling tidak dia bisa membuktikan pada Archet bahwa cowok yang satu ini memang berbeda. Nega bahkan tak berusaha duduk disebelahnya sama sekali. Tatapannya menggetarkan hati justru karena sejuk dan tak menjelajahi. Mereka tertawa lepas karena hal yang sama. Baru kali ini Nadia merasa ada sesuatu dalam dirinya yang bertekad mempertahankan perasaannya. Sepertinya dia menyukai Nega. Archet harus mengetahui hal ini supaya dia tak terlalu mengkhawatirkan dirinya. Nega tak akan berbuat sesuatu yang akan mencelakakan dirinya. Tak seperti Om Handi.

“Aku senang mengobrol denganmu malam ini,” Nadia kali ini berusaha menatap mata Nega sambil tersenyum.

Wajah Nega sedikit memerah, “Yah, aku juga.” Dia kelihatan menimbang-nimbang ingin mengatakan sesuatu. Nadia menunggu. “Aku sangat menyukaimu, Nadia. Aku menyukai dirimu yang mandiri dan mampu melindungi diri sendiri. Kukira tadinya kamu sangat galak tapi ternyata tidak. Kamu sangat lembut dan perasa tetapi sekaligus tangguh saat dirimu sendiri memerlukannya. Kamu pasti ingat betapa malunya Muad saat kamu membentaknya saat ujian,” Nega tersenyum geli mengingatnya.

Nadia terlihat bingung, “Aku membentak Muad? Kenapa? Kapan?” Nega mengerutkan dahi dan memandang Nadia dengan bingung, “Yah, saat itu Muad bertanya jawaban ujian padamu. Tapi…tapi dia mencolekmu juga dan kamu langsung berdiri dan membentaknya di depan kelas,” jawabnya ragu-ragu. Nega tak yakin Nadia bisa melupakan kejadian itu dengan sangat cepat. “Aku…aku benar-benar tak ingat. Sungguh,” ujarnya gugup.

Tiba-tiba Archet muncul di hadapan mereka dan memotong pembicaraan, “Tentu saja Nadia tak mengingatnya. Saat tangan Muad mulai tak sopan akulah yang membentaknya. Biar dia tahu rasa,” Archet dengan ketus melotot ke arah Nega, “Aku juga akan berbuat hal yang sama jika kamu mulai kurang ajar pada Nadia.”

Nadia terlihat serba salah tetapi Archet segera menukas, “Dan kamu tertarik dengan Nadia karena dia begitu tegas dan mampu melindungi dirinya sendiri? Hah! Itu artinya akulah yang kau cintai, Nega. Dan bukan Nadia.”

Nadia kelihatan sangat pucat, “Hentikan sekarang, Archet. Cukup,” katanya. Archet terdiam tetapi wajahnya mengeras.

Nega benar-benar shock sekarang, “Lebih baik aku pulang sekarang. Istirahatlah Nadia, kau terlihat sangat lelah,” katanya dengan suara bergetar. Lalu dia keluar halaman dan mulai menyalakan mesin sepeda motornya. Dikenakannya helmnya dan pergi tanpa menoleh lagi. Meninggalkan Nadia dan Archet di teras depan.

***

Nega tidur telentang di atas tempat tidurnya. Di sebelahnya tertumpuk jurnal-jurnal psikologi dan beberapa buku yang menjelaskan tentang skizophrenia. Malam itu sambil memandang langit-langit kamarnya Nega mulai merangkai peristiwa demi peristiwa. Nadia yang dikenalnya terkadang memiliki tatapan lembut dan sifat periang. Dia begitu murah hati dan mudah memaafkan. Sayang dia kadang-kadang terlihat terlalu lemah. Tetapi akhir-akhir ini, dia melihat sosok Nadia dengan sedikit berbeda. Nadia lebih mandiri, tangguh, dan tak mudah menyerah. Sedikit galak dan sombong memang, tetapi benar-benar perpaduan yang membuat hati Nega tergelitik.

Tetapi setelah kejadian tadi, rasanya dia akan memilih mundur. Dia tak akan mendekat dahulu pada Nadia hingga batas waktu yang tak terhingga. Mungkin dia memang cowok pengecut, tetapi dia tahu diri untuk mundur sekarang. Dia belum siap menghadapi seorang gadis dengan dua sisi kepribadian. Kepribadian ganda. Dia tak akan sanggup. Lalu dia memejamkan mata. Berusaha mengusir bayangan Nadia dari pelupuk matanya. Air mata menetes perlahan dari kelopaknya yang terpejam. Dirinya merasa sangat tak berguna karena tak memiliki kemampuan apapun untuk menolong Nadia.

***

“Kamu dengar sendiri tadi Nadia, dia lebih memilih aku daripada kamu. Dia lebih suka cewek tegas dan mandiri. Bukan yang lemah seperti kamu. Barangkali kamu harus merelakan Nega untuk aku. Mulai sekarang kamu jangan pernah muncul jika Nega ada di dekatku. Aku akan lebih banyak muncul. Barangkali aku akan menyakitinya jika dia tak mencintai aku dengan sepantasnya!” Archet tertawa terbahak-bahak.

Nadia menangis tersedu-sedu di tengah lengkingan tawa Archet. Hatinya berperang melawan patah hatinya pada Nega dan perasaan ingin menyakiti Nega jika tak membalas cintanya.

Nadia masih menangis dan tertawa di saat yang bersamaan. Ditatapnya bayangan dirinya di cermin. Selama ini cermin itu menjadi saksi atas percakapannya dengan Archet atau percakapan Archet dan dirinya. Dia tahu bahwa mereka berdua menjadi satu dalam tubuh Nadia Arsita, tetapi dia tak bisa menolaknya. Dia membutuhkan Archet. Sangat membutuhkannya.

 

 

(pernah dimuat di Majalah Say)

Kisah Mak-Mak Jalanan

Salah satu kisah di buku ini:

 

Sebut saja namanya Mbak Ginuk. Dia adalah seorang penjual ayam goreng yang berkeliling dari rumah ke rumah, mulai dari jam 10 pagi, setiap hari selain hari Minggu. Wanita itu berjalan menuntun sepeda bututnya, dengan keranjang berisi ayam goreng dalam kardus, dan berteriak, “Ayam gor-reengg!” setiap sepuluh detik sekali.

Mbak Ginuk tak pernah menaiki sepedanya. Tadinya aku mengira kalau wanita itu sengaja menuntun sepedanya agar tak ada seorangpun terlewat saat dia sedang menawarkan dagangannya, atau dia tak menaiki sepedanya karena takut keranjangnya yang berat di kanan dan kiri terjatuh tanpa disadarinya, atau berbagai alasan lain yang mirip dengan alasan yang kupikirkan. Tetapi ternyata aku keliru. Mbak Ginuk tetap menuntun sepedanya saat sore hari, ketika keranjang di kanan dan kirinya telah kosong, dan dagangannya telah habis terjual.

Dengan penasaran aku menanyakan padanya, sebuah pertanyaan usil yang kuberikan padanya setelah aku membeli separuh ayam goreng, sambal, dan lalap dalam kotak kardus berwarna putih. “Mbak Ginuk nggak capek nuntun sepeda kemana-mana? Kenapa nggak dinaikin saja? Kalau pulang jualan kan keranjangnya sudah kosong. Disuruh nuntun terus ya sama dukunnya?” godaku.

Mbak Ginuk terkekeh. Wanita itu menatapku dengan mata kanannya yang terpicing, bukan sengaja memicingkan mata padaku, melainkan mata kanannya memang terpicing sejak dia masih bayi, begitu katanya. “Mbak Niar ini lucu. Masak disuruh sama dukun? Orang Islam nggak boleh pergi ke dukun, Mbak.”

“Nah, lalu kenapa kok dituntun terus?” tanyaku penasaran.

Mbak Ginuk tertawa dengan wajah memerah. Saat tertawa, mata kanannya benar-benar hanya tampak seperti sebuah garis. “Saya nggak bisa naik sepeda, Mbak. Jadi kemana-mana ya harus dituntun begini.”

Oh. Aku tersenyum. Geli campur haru.

Karena tahu akan hal itu, aku jadi lebih sering memaksa ibu membeli ayam gorengnya. Tak apa. Ayamnya juga enak kok. Mbak Ginuk memasaknya dengan bumbu yang meresap hingga ke tulang. Kalah deh Pak Kolonel dari Amerika itu.

Mbak Ginuk memiliki seorang anak laki-laki berumur 8 tahun. Setiap kali ada yang menanyakan tentang anaknya, mata wanita itu bersinar bangga saat menjawabnya. Kurasa itu wajar. Anak lelakinya adalah anak yang baik, patuh, dan sangat menyayanginya. Aku pernah mendengar Mbak Ginuk bercerita pada ibu kalau anak lelakinya mau mengeroki punggungnya jika dia kelelahan dan masuk angin.

Untuk anaknya juga kurasa, Mbak Ginuk berusaha bekerja keras. Mbak Ginuk tak bisa mengandalkan suaminya begitu saja karena pria itu sering meninggalkan rumah begitu saja dan pulang tanpa membawa uang. “Bapaknya tole (sebutan untuk anak lelaki) itu masih berusaha mencari pekerjaan, jadi saya harus prihatin dulu,” ucapnya dengan suara lembut yang riang seperti biasanya. Tak sedikitpun tampak kekesalan pada wajahnya.

Mbak Ginuk adalah salah satu orang tersabar yang pernah kukenal. Dia tak keberatan dengan tingkat keprihatinan yang barangkali sulit dijalankan orang lain. Pernah suatu hari dia harus kehilangan berkotak-kotak ayam gorengnya di tempat parkir di depan pasar saat dia mengantarkan pesanan. Saat kembali dan mengetahui ayamnya telah menghilang, dia hanya memejamkan mata untuk menghilangkan marah, dan berhasil meyakinkan dirinya sendiri kalau ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan ayam goreng itu dibandingkan dengan dirinya. Subhanallah. Kata ibu aku jelas harus belajar banyak dari ceritanya, mengingat aku bisa saja kehilangan kesabaran hanya karena lauk di meja makan sudah didahului orang lain.

Sampai suatu hari Mbak Ginuk tak lewat lagi. Dia tak pernah berkeliling lagi dari rumah ke rumah, tak pernah menuntun sepedanya, bahkan tidak juga meski tanpa sepedanya. Dia tak kelihatan sama sekali.

Aku bertanya pada ibu. Bukan menanyakan Mbak Ginuk sebenarnya, melainkan ayam gorengnya. Aku benar-benar merasa kehilangan ayam gorengnya, dengan sambal bajak yang nikmat, dan lalapan yang selalu segar. Tetapi ibu sama saja sepertiku, tak tahu.

Seminggu menjadi dua minggu, kemudian tak terasa menjadi sebulan.

Setelah lewat sebulan, ibu mendengar sebuah kabar tentang Mbak Ginuk, dan menceritakannya padaku.

“Apa?!” tanyaku terkejut.

“Itu benar,” bisik ibuku.

Oh. Aku mengerutkan kening. Sedih dan gusar.

Mbak Ginuk tak berkeliling untuk berjualan karena masuk rumah sakit. Matanya bengkak dan bola matanya hampir keluar, tulang pipinya retak, dan gigi depannya rontok dua buah. Bukan, bukan mata kanannya yang bengkak melainkan mata kirinya, hingga kini dia kesulitan melihat. Tulang pipinya yang retak juga harus dirawat penuh oleh dokter. Giginya juga telah ditangani dokter gigi, meski kata dokter gigi dia harus merelakan dua giginya hilang sebelum waktunya. Semua terjadi karena suaminya. Pukulan suaminya.

Tak ada seorangpun yang menjenguk Mbak Ginuk. Sakit yang dialami karena kekerasan rumah tangga mungkin tak enak jika harus dijenguk. Barangkali suaminya akan lebih naik darah kalau perhatian orang-orang jatuh pada Mbak Ginuk. Karena perhatian yang diterima, berarti adalah penyalahan atas perbuatan suaminya. Akhirnya agar tak menjadi lebih runyam, ibuku, juga ibu-ibu yang lain, bersepakat tak akan datang ke rumahnya.

Saat Mbak Ginuk kembali bekerja, dan berhenti tepat di depan ibu-ibu yang sedang berkumpul, dan aku berada di dekat mereka, aku terpaksa tercekat ketika melihatnya. Kupejamkan mata sesaat. Tak tahan melihat bola mata kiri Mbak Ginuk yang seperti agak mencuat keluar, dengan warna putihnya yang kemerahan, seolah darah telah merembes kesana. Ditambah lagi dengan wajahnya yang rasanya lebih miring, dan mulutnya yang kosong karena dua gigi depannya menghilang. Tadinya kukira dengan mata kanan yang selalu terpicing saja sudah parah, tetapi ini lebih lagi. Wajahnya benar-benar menyedihkan.

Dengan penuh simpati, ibu-ibu menanyakan, bagaimana kabarnya. Berharap mendengar cerita versi lengkap dengan keluhan dan sedu sedannya. Tetapi semua harus menggigit jari karena Mbak Ginuk hanya tersenyum.

Dengan wajah seperti itu Mbak Ginuk berkata pada ibu-ibu kalau dia tak apa-apa. Alhamdulillah masih diberi kesehatan dan kekuatan, begitu dia bilang. Tuhan benar-benar Maha Adil, katanya.

Adil? Keadilan apa yang disadarinya dari wajah miring, gigi ompong, dan bola mata yang mencuat itu?

Dia merasa Tuhan itu adil karena di saat kejadian itu, anak lelakinya yang masih berumur 8 tahun, maju di depannya, melindunginya. Si pendiam itu berteriak pada bapaknya untuk berhenti, dan suaminya berhenti memukulinya. Tuhan Maha Adil karena, kalau tak ada anak lelakinya mungkin dia sudah mati terbunuh di tangan suaminya sendiri.

Dia merasa Tuhan itu adil karena meski telah mengalami hal sesulit itu, dia masih bisa sembuh dan kembali bekerja untuk menghidupi anaknya. Dia ingin mengumpulkan uang agar anak lelakinya masuk pesantren, katanya.

Dia juga merasa Tuhan itu adil, karena setelah peristiwa itu, suaminya ditahan polisi karena laporan dari tetangga-tetangga. Biarlah itu juga menjadi pelajaran baginya, katanya.

“Lalu bagaimana kalau suami Mbak Ginuk sudah keluar? Kembali kemana dia nanti?” tanya seorang ibu.

“Ya tentu ke rumah saya,” senyum Mbak Ginuk, “dia kan suami saya.”

Wanita itu tak dendam, karena katanya, semua orang memiliki tanggung jawabnya sendiri di dunia. Siapa yang bisa menjalankan sebaik-baiknya, dialah yang terbaik di mata Sang Pencipta. Tanggung jawabnya adalah menjadi ibu yang baik bagi anaknya dengan cara bekerja keras untuk menghidupinya, dan menjadi istri yang baik dengan cara bersabar.

Cukuplah baginya apa yang diterimanya dan harus diperjuangkannya di dunia. Dia tak akan mengeluh, tegasnya.

Kami menelan ludah dengan kecewa. Jelas kami tak akan mendapat tambahan gosip hangat dari korban kekerasannya secara langsung. Tetapi sebenarnya, tambahan cerita seberapapun tak akan pernah mengenyangkan siapapun yang mendengarnya, hanya akan menambah beban orang yang menjalaninya.

Bersama yang lain aku memilih ayam goreng yang akan kubeli, dan membayarnya cepat-cepat. Mbak Ginuk mengumpulkan lembaran-lembaran uang yang diterimanya dengan wajah riang. Tak ada yang lebih membahagiakannya selain dapat bekerja demi kehidupan yang lebih baik, bagi anak satu-satunya.

Saat Mbak Ginuk berpamitan dan kembali meneruskan langkahnya menuntun sepeda, kutatap punggungnya lekat-lekat. Kukagumi wanita itu karena kesabaran dan kekuatannya. Dalam setiap langkahnya, ada harapan untuk menjadikan diri dan keluarganya menjadi lebih baik dari sekarang. Dalam setiap harapannya tersimpan doa yang dikirimkan melalui kesabaran dan ikhlas, menerima dengan terbuka setiap putusan Tuhan baginya.

Aku terus menatap langkahnya yang menjauh. Di depan sana ada sebuah tikungan dan dia akan berbelok ke sana. Sebelum membelokkan sepedanya, tiba-tiba dia menoleh kembali ke arah kami.

Mbak Ginuk tersenyum ketika melihatku masih menatapnya. Dia tersenyum dengan dua gigi depannya yang menghilang, wajah miringnya yang entah kapan akan kembali seperti semula, dan sepasang mata yang begitu berlainan—satu seperti menghilang dan satu lagi berjejalan seperti ingin keluar.

Seharusnya aku iba melihatnya, tetapi melihat langkah tegapnya, juga senyumnya menatap dunia, aku tahu aku tak dapat merasa iba. Justru dialah orang yang beruntung di dunia. Karena dalam hatinya, Mbak Ginuk telah menciptakan surga.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ara dan Balon Kebahagiaan

Ara adalah seorang anak perempuan yang tinggal bersama nenek dan bibinya karena orangtuanya bekerja di luar negeri. Mereka saling menyayangi sehingga meski tak tinggal bersama orangtuanya, Ara tak pernah merasa sedih dan kesepian.

Suatu hari, nenek Ara sakit keras dan meninggal dunia. Ara sangat sedih dan merasa kehilangan.

Selama berhari-hari Ara hanya menangis dan mengurung diri di dalam kamar. Dia tak ingin pergi bermain, tak ingin pergi ke sekolah, tak ingin makan, tak ingin mandi, dan tak ingin bertemu dengan siapapun. Satu-satunya yang diinginkan oleh Ara adalah bertemu kembali dengan neneknya dan memeluknya erat-erat seperti biasanya, tetapi tentu saja hal itu tak dapat dilakukannya lagi.

Bibinya, Bibi Kima, berusaha menghiburnya.

“Ayolah Ara, jangan bersedih lagi. Kau bisa jatuh sakit jika begini,” bujuk Bibi Kima dari depan pintu kamarnya. Ara tak menjawab. Air mata menetes perlahan dari sudut matanya tanpa henti. Ara merasa dirinya sangat kesepian tanpa nenek.

Malam itu juga, Ara bermimpi.

Nenek datang mengenakan pakaian indah dan tersenyum lembut padanya.

“Ara, kau ini anak perempuan yang selalu ceria. Apa yang terjadi padamu sampai kau begini?” tanya nenek.

“Aku sangat sedih kehilangan Nenek,” jawab Ara pelan. Nenek masih tersenyum, “Cobalah berjalan-jalan keluar untuk menghilangkan kesedihanmu, Ara. Jika kau terus mengurung dirimu di dalam kamar tanpa berbuat apa-apa, lama-lama kau bisa sakit,” kata nenek sambil memeluk Ara erat-erat.

Lalu Ara terbangun. Mimpi itu terasa begitu nyata dan pelukan nenek membuat semangat Ara timbul. Pagi harinya, Ara keluar dari kamar, mandi, dan makan sepiring kecil nasi goreng. Bibi Kima sangat senang melihatnya.

“Hari ini aku ingin berjalan-jalan, Bibi,” putus Ara.

“Boleh saja asalkan tak terlalu jauh. Saat makan siang, kau sudah harus kembali ke rumah seperti biasa,” kata Bibi Kima.

Ara mengangguk setuju.

Belum berapa jauh dari rumah, dia bertemu dengan seorang penjual balon. Penjual balon itu menyapa Ara, “Halo, gadis kecil yang cantik. Apakah kau mau membeli balon? Pilih saja warnanya. Mau yang merah, kuning, hijau, ungu atau biru?”

Ara menggeleng, “Pak, aku sudah terlalu besar untuk bermain balon. Umurku sudah 9 tahun.”

Penjual balon itu tak kurang akal, “Mungkin kau ingin membelinya untuk adikmu?”

“Aku tak punya adik,” Ara menjawab. Penjual balon itu mengamati wajah Ara, “Kelihatannya kau baru saja berhenti menangis. Matamu sembap dan wajahmu terlihat sedih.”

Ara tak berkata apa-apa.

“Aku akan memberimu sebuah balon. Balon yang ini lain, namanya Balon Kebahagiaan. Dengan memegang balon ini kau akan merasa lebih baik.” Diulurkannya sebuah balon bening yang tadi tak terlihat oleh Ara. Ara menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Kemudian dia kembali berjalan.

Angin berhembus perlahan. Aneh, semakin lama, balon yang dipegangnya erat-erat mulai mengikuti arah angin. Balon itu mulai membawa Ara terbang di angkasa. Oh, oh, Ara sangat ketakutan ketika menyadarinya. Tetapi dia tak mungkin melepaskan pegangannya dan melompat begitu saja karena dia akan terluka jika melakukannya.

“Akan dibawa kemana aku?” bisiknya cemas. Tak lama kemudian, balon kebahagiaan itu membawanya terbang di atas  perpustakaan kecil di dalam kampung. Ara ingat, dulu nenek sering membeli beberapa buku anak-anak setiap bulan dengan uang pensiunnya. Kata nenek, buku-buku itu akan disumbangkannya ke perpustakaan kampung agar anak-anak yang tak mampu membeli buku-buku juga dapat terus membaca. Kalau nenek masih hidup, pasti nenek akan mengirim buku juga ke perpustakaan kecil ini, pikir Ara.

Tiba-tiba Ara mendengar anak-anak berkata, “Betapa menyedihkan kalau Nenek Tuti tak ada. Hanya dia yang peduli dengan perpustakaan kecil ini.” Ara kaget mendengarnya. Nenek Tuti adalah nama neneknya.

“Ah, Nenek Tuti sangat baik. Mari kita doakan dia. Karena Nenek Tutilah kita semua dapat membaca banyak buku bagus yang tak bisa kita beli. Kita harus menjadi anak-anak yang pintar supaya Nenek Tuti bangga.”

Ah, ternyata nenek menyumbangkan buku-buku itu ke perpustakaan ini, pikir Ara. Angin kembali berhembus dan membawa balon yang dipegangnya kembali terbang. Kali ini balon kebahagiaan membawanya ke sebuah kebun kecil. Beberapa orang wanita seumur dengan neneknya sedang berjongkok sambil menyiangi rumput.

Ara mendengar seseorang berkata, “Bu Tuti berpesan, kalau tanaman obat ini harus kita rawat baik-baik agar siapapun yang membutuhkannya dapat mendapatkannya dengan cepat.”

“Benar. Bu Tuti orang yang sangat baik. Kita akan selalu mendoakannya agar dia mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.”

Balon kebahagiaan kembali membawa Ara terbang. Kali ini balon itu terbang di atas sebuah panti asuhan. Tiba-tiba dilihatnya Bibi Kima datang membawa sebuah bungkusan besar. Anak-anak balita itu berlari ke halaman untuk menjemput Bibi Kima.

“Mana Nenek Tuti? Kenapa bukan dia yang datang kemari?” tanya mereka.

“Mulai sekarang, Bibi Kima yang akan kemari ya. Bibi juga akan membawakan kalian susu dan pakaian seperti Nenek Tuti dahulu,” senyum Bibi Kima.

Ara sangat terharu melihat semua itu. Kini dia tahu, kalau tak hanya dia yang merasa kehilangan neneknya. Banyak orang-orang yang juga mengenal nenek, merasakan kehilangan dan kesedihan yang sama. Tetapi mereka tak larut dalam kesedihan berlama-lama. Mereka justru meneruskan kebaikan nenek agar kebaikan itu tetap dirasakan sama persis seperti ketika nenek masih ada. Dengan begitu neneknya, Nenek Tuti, tetap ada dalam hati mereka dan  kebaikannya terus dirasakan seperti sebelumnya.

Balon kebahagiaan terbang membawa Ara kembali ke rumahnya. Dia sudah melihat banyak hal hari ini, dan anehnya, kesedihannya mulai menghilang berganti dengan rasa syukur dan bahagia.

Ara berdiri di halaman sambil menggenggam erat tali balonnya. “Balon kebahagiaan, terimakasih telah menemaniku pagi ini. Selamat jalan. Sampaikan salamku pada Nenek jika kau bertemu dengannya. Aku berjanji akan meneruskan kebaikan-kebaikan Nenek.”

Lalu dilepaskannya balon kebahagiaan itu mengangkasa ke udara.

Kisah Mak-Mak Berani Malu

Semua kisah para Mak di buku ini dijamin bikin perut keram :-p

Ini potongan salah satu adegan. *Wesyehh kayak apa aja :-p

:

Suatu hari setelah berbelanja, aku mendapati bawang merah yang kubeli dari tukang sayur ternyata tak semuanya kering. Ada beberapa yang telah membusuk, padahal harganya cukup tinggi saat itu. Udangnya juga sebagian tak segar, dan dicampur begitu saja dengan udang yang bagus dalam satu plastik yang sama.

Aku kesal melihatnya, dan berkata pada suamiku. “Lihat, Yah. Kadang orang mau untung cepat, tapi merugikan orang lain. Barang busuk semua begini dijual,” ungkapku kesal. Padahal sih yang busuk sebenarnya tidak semua. Tomat dan bayam yang kubeli juga masih segar tadi. Aku hanya ingin berkata kalau seharusnya penjual tak membiarkan barang busuk sampai ke tangan pembeli.

Suamiku mengangguk penuh simpati, dan Shadra juga meniru ekspresi wajah ayahnya. Tetapi esoknya, semua yang terjadi di luar dugaanku.

Saat ibu-ibu berkumpul di depan untuk membeli sayur, tiba-tiba pahlawan kecilku ini menyeruak menerobos kaki ibu-ibu yang lain. Dengan wajah serius dia berkata pada si penjual sayur. “Kemalin, udangnya busuk, bawangnya busuk, tumatnya busuk, semua busuk.”

What???

Ibu-ibu tetangga mulai tertawa mendengarnya. Sementara warna merah mulai menjalari wajahku, juga wajah penjual sayur.

“Apa yang busuk?” mata si penjual sayur menatapku. Wajahnya tak terima.

“Oh, eh. Bawang, sedikit,” ujarku tak enak. “Udang juga, sedikit.”

“Busuk. Semua,” Shadra menimpali dengan serius.

Kugendong anakku cepat-cepat.

Penjual sayur berwajah galak itu mulai merepet. Dia mengomel panjang lebar tentang dia juga korban dan bukan orang yang bersalah, dia hanya mendapat barang itu dari pasar dan penjual di pasarlah yang tidak jujur, dan terakhir dia mengatakan di musim hujan begini bawang merah memang tak semua bagus. Semua bukan salahnya, dan tentu aku seharusnya tak mengajari anakku yang masih balita mengatakan dagangannya busuk.

Ap-paa??? Oh, ini benar-benar kacau. Mana mungkin aku mengajari anakku untuk menyerangnya? Memangnya aku komandan pasukan khusus? Meski aku menjelaskan padanya hingga jungkir balik sirkus, dia tak akan percaya sedikitpun pada kata-kataku.

 

Naaah itu baru sebagian keciil.. 🙂 yang lain banyaak yang lebih lucu lagi. Buruan pada pergi ke Gramedia dan beli segera.

(Buku ini ada karena rasa cinta kami pada Rumah Dunia).

Endless Love

Salah satu kisah cintaku kutulis disini…

Kapan-kapan deh ku posting di blog. Kalau sekarang sih sampulnya aja dulu ya…

Semua kisah cinta di buku ini dijamin bakal bikin serasa pertama menikah lagi deh 😀  Sayangnya buku ini habis, belum dicetak ulang lagi.

Kabarnya sih kalau udah restock bisa dipesen kembaleeh 😀

Biografi Opal si Pendongeng Cilik

Anak lelaki ini bernama Mohammad Naufal Firdausyan. Dia anak lelaki biasa seperti anak lain seumurnya. Yang membuatnya istimewa di mataku adalah kelucuan dan tingkah polosnya.

Opal adalah seorang yang punya bakat alami untuk menghibur orang lain. Dia telah mendongeng di banyak tempat, dan mendongengi ribuan anak.

Buku ini diterbitkan oleh Tiga Ananda, imprint Penerbit Tiga Serangkai.

Kalau mau mengikuti kisah perjuangan Opal untuk mencapai mimpi-mimpinya, baca aja deh buku ini 🙂

Salah Satu Cerpenku di Buku Ini

Cerpen yang kutulis di sana berjudul Ara dan Balon Kebahagiaan.

Sebenarnya aku menulis cerpen itu karena tiba-tiba kangen banget sama almarhumah ibu. Sepeninggal ibu, aku memang kayak kehilangan motivasi buat nulis-nulis kayak biasanya.

Nah, di cerpen ini aku bercerita tentang Ara, seorang anak perempuan yang sedih karena kehilangan neneknya. Dia merasa hidupnya tak lagi berarti tanpa nenek yang sangat disayanginya. Ketika suatu ketika Ara bertemu dengan penjual balon yang memberinya sebuah balon yang dapat membawanya terbang mengangkasa, balon itu membawanya melihat orang-orang terdekat neneknya tetap meneruskan kebaikan si nenek semasa hidupnya.

Ara jadi menyadari, bahwa neneknya memang telah pergi, tetapi kebaikan dan kenangan akan dirinya akan terus hidup dan diteruskan oleh orang-orang yang menyayanginya.

Yah… setelah nulis cerpen ini aku memang sedikit lega gitu 🙂

 

Penasaraan sama ceritanya? Buka sendiri deh 😉

https://kyuniar.wordpress.com/2013/10/27/ara-dan-balon-kebahagiaan/

Buku Parenting

Buku Parenting  ini terbitan Penerbit Gelar.

Buku ini berisi panduan mendidik anak. Memang nggak semua chapter di buku ini pengalamanku, malah aku lebih banyak nulis pengalaman orang lain. Tapi cukup berguna deh buat ibu-ibu supaya tampil lebih ‘meyakinkan’ di depan anak-anak. He he he…