Berburu Buku di Jalanan Kota Perth

Apa sih yang kalian rasakan kalau melihat tumpukan ribuan buku?

Kalau aku sendiri, yang kurasakan adalah merinding, deg-deg an, berdesir-desir, bahagiaaa banget. Hampir setara deh rasanya dengan jalan-jalan ke toko perabotan dan liat panci atau cetakan kue yang lucu-lucu…hahahaha…*mak-mak banget*

Nah, makanya mumpung aku lagi jalan-jalan ke Perth, Western Australia, aku nggak melewatkan kesempatan untuk berburu buku.

Tempat pertama yang kudatangi adalah Fremantle City.

Aku mulai jalan dari sini

Nah di Fremantle ini ada satu toko buku yang menarik perhatianku. Continue reading

Advertisements

Jodoh

Jodoh seperti halnya takdir, adalah misteri dalam hidup manusia. Tak ada siapapun yang bisa mengetahui dengan pasti sebelum Tuhan sendiri yang menunjukkan pada kita.
“Pokoknya, jalani saja hidup sebaik mungkin sampai menemukan jodoh kelak,” begitu kata ibu saya waktu itu.
Tetapi bagi saya ketidaktahuan ini benar-benar mengganggu hati saya. Bagaimana jika saya salah memilih? Bagaimana saya tahu seorang laki-laki benar-benar baik untuk saya atau tidak?
Saat saya masih duduk di bangku SMA, saya pernah bermimpi didatangi seseorang yang tak pernah saya kenal. Orang itu berkata kalau jodoh saya lahir tanggal 3 November. Ia bahkan menyebut tahun kelahirannya. Tapi anehnya sebelum pergi, dalam mimpi orang itu meralat kalau jodoh saya lahir tanggal 7 November. Saya sangat bingung mendengar ralatannya. Masih jelas dalam ingatan, dalam mimpi saya protes, “Sebenarnya yang mana yang benar? Tanggal 3 atau tanggal 7? Jadi suaminya dua, begitu?” Tapi orang itu tak menjawab pertanyaan saya hingga saya terbangun.
Maklum masih SMA, saya penasaran setengah mati. Saya kerahkan teman-teman saya mencari daftar nama semua kakak kelas yang lahir pada tanggal 3 atau 7 November, mulai dari yang terlihat paling keren. Tetapi tak ada satupun yang ditemukan. Continue reading

#K3BKartinian_Seorang Ibu Tambahan Dengan Kasih Sayang Sama Besar

image

Pada hari ketika aku dilahirkan, Mbah Kakung, kakekku ingin memberiku nama Zainab. Kata kakekku, ia ingin aku menjadi seorang yang murah hati seperti Zainab istri Rasulullah. Bude Fat, kakak sulung Bapak menolak. “Jangan diberi nama Zainab, nanti anak ini malu. Jangan-jangan namanya sama dengan nama ibu mertuanya,” kata Bude Fat setengah bercanda.

Aku mendengar cerita itu dari Eyang, nenekku, dan saat aku mendengar cerita itu, sama sekali tak pernah terlintas dalam pikiranku bahwa suatu hari nanti saat tiba waktunya aku menikah, ibu mertuaku ternyata benar-benar bernama Zainab (dengan ejaan Zaenab pada KTP nya)

Kedua orangtua suamiku tinggal di Banyuwangi, sekitar 25 km dari pusat kota.

Pada bulan Juni tahun 2000, setelah pesta pernikahan usai, aku tinggal disana selama seminggu. Sebuah tradisi yang baik kurasa, agar menantu baru ini bisa mengenal keluarga suaminya dengan lebih dekat.

Aku sangat menyukai bapak mertuaku. Bapak adalah orang yang disiplin, pendiam, sangat sabar dan tenang. Meski begitu ia adalah orang yang sangat mudah tertawa. Bapak selalu tertawa terkekeh-kekeh setiap kali aku bercerita. Kurasa hal yang membuatku menyukainya adalah karena aku menemukan banyak bagian sifat yang sama dengan sifat suamiku.

Kalau ibu mertuaku? Nah ini…

Sebelum menikah, ibuku sendiri (ibu kandung) sudah berpesan untuk menghormati ibu mertuaku. “Harus bisa menyesuaikan diri. Ibu mertua itu bukan orang lain. Ibu mertua adalah ibu tambahan dengan kasih sayang sama besar,” kata ibuku menasehati. Mungkin karena ibu sudah menduga bakal ada sesuatu yang terjadi, mengingat aku adalah orang yang keras kepala.

Aku cuma mengangguk-angguk saja. Aku sudah berniat untuk menyesuaikan diri kok, pikirku. Eh, tapi rencana dan kenyataan memang seringkali nggak sejalan.

Pertama kali aku bercakap-cakap dengan ibu mertuaku dengan agak panjang, yang dikatakannya adalah, “Pakai bedak dulu, pakai lipstik, baju yang rapi!”

*Pikiranku langsung buyar*

Bedak? Lipstik? Aku kan nggak suka dandan…

Dengan segan aku mencoret-coret wajahku dan memakai baju yang lebih rapi. Kukira aku bakal diajak pergi dengan dandanan seheboh itu, tetapi yang dikatakannya kemudian adalah, “Rumahnya disapu dan dipel dulu!”

Hihihi….kebayang kan gimana jengkelnya aku. Udah dandan dan berasa mau ngelenong, tapi ternyata cuma disuruh nyapu sama ngepel.

Beberapa hari pertama aku tinggal di sana, aku langsung tahu kalau semua kata-katanya adalah ‘perintah’ dan semua orang melakukan apa yang dikatakannya.

“Beli ini di warung!”

“Bersihkan yang itu dulu!”

“Pasangkan yang ini!”

Ada hal-hal yang mau kulakukan dengan senang, dan ada hal-hal yang tidak mau kulakukan. Seperti misalnya, aku paliing nggak suka nyapu halaman dengan sapu lidi. Bukan karena aku malas ya…tapi memang ada kan pekerjaan yang kita suka banget mengerjakannya, dan ada pekerjaan yang kita sebel mengerjakannya. Nah, menyapu halaman dengan sapu lidi ini aku benci banget deh pokoknya.

Malangnya, waktu itu ibu mertuaku menyuruhku menyapu halaman.

Karena aku orang yang sangat terus terang, aku langsung menjawab, “Nggak mau, ah Buk. Aku nggak suka disuruh nyapu pakai sapu lidi.”

*DUUEERRR*

Sumpah deh, dari wajah ibu mertuaku langsung kelihatan kaget. Aku yakin ini bantahan pertama dari menantunya. Selain aku baru 3 hari menjadi menantunya, menantu sebelumnya (istri kakak iparku) orangnya sabaaaar, mengalah, dan lembuut banget deh pokoknya.

Ibu mertuaku tampak jengkel. Tapi aku memilih untuk tak menurutinya. Aku berniat menikah dengan suamiku ini selamanya, jadi aku tidak akan membiarkan diriku melakukan hal-hal yang tak kusukai demi menyenangkan ibu mertuaku. Kalau aku melakukan hal-hal yang tak kusukai dengan terpaksa aku jadi jengkel dan hubungan dengan ibu mertua pasti tak lagi menyenangkan. Jadi aku mulai belajar menentukan sikap.

Sejak kasus menyapu halaman itu, kulihat ibu mertuaku justru lebih cair. Mungkin karena ibu menganggap aku sangat santai menanggapi dirinya, ibu jadi lebih bebas berbicara denganku. Dalam seminggu pertama itu pertengkaran kecil beberapa kali terjadi, tetapi aku bukan orang pendendam dan ibu mertuaku bukan orang pendendam, jadi nggak heran kalau dalam setengah jam kami sudah bersikap biasa lagi.

Butuh waktu bagiku untuk menganggap posisi ibu mertuaku sama dengan ibu kandungku sendiri. Ibu mertuaku sangat bossy dan suka seenaknya sendiri sementara ibuku membiarkanku melakukan apa yang kusukai, jadi wajar kalau aku sering sebal dengan sikap ibu mertuaku. Sampai suatu hari sebuah kejadian menyadarkanku bahwa seorang ibu itu manusia biasa, seperti kita semua yang masing-masing punya sifat berbeda.

Beberapa hari setelah kelahiran anak pertamaku yang sulit karena posisinya yang terbalik, aku mendapatkan infeksi. Sebuah kain kassa menempel dan terjepit di bekas jahitan jalan lahir dan ditarik paksa oleh seorang perawat, membuat luka jahitan yang belum kering menjadi bernanah. Badanku demam dan aku kesulitan berjalan meski hanya ke kamar mandi. Setiap kali berjalan aku pasti menangis saking sakitnya. Ibu mertuaku datang jauh-jauh dari Banyuwangi dan tiba di Yogya saat Subuh untuk melihat cucu keduanya, dan begitu kami bertemu ia langsung memelukku.

Tanpa memedulikan rasa lelahnya, ibu mertuaku ini langsung merebus air. Tadinya aku mengira air hangat itu untuk mandi anakku, ternyata tidak. Sambil meletakkan seember penuh air hangat ibu mertuaku berkata, “Sudah, jangan bergerak dulu Nduk. Ibuk mau menyekamu. Tidak usah berjalan kemana-mana kalau tidak terpaksa.”

Aku menolak, tapi ibu mertuaku memaksa.

Tangannya yang tebal dan kuat membasuh badanku dengan lembut.

“Ibuk akan memandikanmu sampai kamu sembuh,” katanya.

Aku terdiam mendengarnya.

Maturnuwun ya Nduk sudah melahirkan dengan selamat,” lanjutnya lagi sambil terus membasuhku.

Aku tersenyum kecil. Air mata menggenang di pelupuk mataku.

Jika ada sebuah titik pertemuan dalam sebuah hubungan, aku merasa kejadian itulah yang menjadi titik pertemuan hatiku dengan hati ibu mertuaku. Detik itu aku merasa, bahwa dia adalah ibuku, dan ibu mertuaku merasa bahwa aku adalah anaknya. Benar kata ibuku, ibu mertua adalah ibu tambahan dengan kasih sayang sama besar.

Tempat tinggal kami sangat berjarak sejauh 500 km, dan ini membuat kami tak setiap bulan bertemu. Karenanya sampai sekarang aku sangat senang jika ibu mertuaku tahu-tahu muncul di Yogya untuk tinggal beberapa hari bersama kami. Ibu mertuaku adalah seorang yang sangat efisien. Ia mengajarkanku menata segala macam barang dengan cara yang sangat militan. Belum pernah kan ada yang melihat tumpukan emping disusun vertikal dengan rapi di dalam toples? Nah, ibu mertuaku melakukannya. *Sumpah deh itu yang mau ngambil emping dari dalam toples sampai enggak tega melakukannya*

Kalau ibu mertuaku datang, rumahku kelihatan sangat longgar dan lapang. Ibu pintar banget membersihkan dan mengatur ruangan. Semua disusunnya dengan saaangat rapi. Aku berusaha menirunya, tetapi dalam hal ini sepertinya aku bukan pembelajar yang baik. Bahkan sayangnya, seminggu setelah ibu pulang, entah bagaimana caranya, kok rumahku sudah kembali lagi ke bentuk asal. Benar-benar bikin desperate.

Jika kami bertemu, aku dan ibu mertuaku seringkali bertukar resep. Kalau ibu ke Yogya, ibu akan memintaku memasak yang tak pernah dimasaknya di Banyuwangi, dan memilah mana yang cocok untuk seleranya dan selera bapak.

Kalau mertuaku sedang ke Yogya, aku biasanya mengajak ibu mertuaku untuk jalan-jalan berdua saja denganku. Meski kalau hendak pergi, biasanya aku prepare dulu sehari sebelumnya karena kekuatan ‘berjalan’ ibu mertuaku ini sungguh luar biasa untuk orang seumurnya. Sambil berjalan, menyusuri pusat perbelanjaan, dan berakhir di tempat makan, kami biasanya mengobrolkan banyak hal.

Nggak terasa, bulan Juni nanti aku sudah menikah selama 15 tahun. Artinya, sudah 15 tahun juga aku mengenalnya sebagai ibu mertuaku. Jangan ditanya apakah tak ada lagi pertengkaran dan perbedaan pendapat setelah tahun-tahun berlalu, karena jawabannya adalah sangat banyak. Banyak sekali pertengkaran dan perbedaan pendapat yang kami selisihkan. Apalagi meski jauh, aku berusaha meneleponnya paling tidak seminggu sekali, dan perbedaan pendapat bahkan bisa terjadi lebih banyak melalui telepon.Tapi setelah semua perbedaan pendapat itu selesai, ya sudah, kami adalah ibu dan anak lagi dalam ukuran normal. Hehehe…

Kurasa aku menyayanginya, seperti juga ia menyayangiku. Semua pertengkaran dan perbedaan pendapat yang langsung termaafkan begitu cepat tak akan terjadi pada orang yang tidak saling menyayangi. Aku meyakini itu.

Satu mimpiku yang belum terlaksana. Membawa ibu mertuaku pergi umroh. Ibu mertuaku sudah berhaji bertahun-tahun yang lalu saat suamiku masih anak-anak, jadi kebayang bagaimana kangennya beliau untuk pergi lagi kesana.

Semoga ya Buk….Semoga anak dan menantumu ini dilancarkan rejekinya untuk membawamu ke Tanah Suci. Aku tahu, meskipun Allah mengijinkan dan mengabulkan doa kami, tak seujung kukupun semua ini dapat membalas semua kebaikanmu sebagai ibu. Tak akan pernah.

 

Tulisan ini dibuat untuk meramaikan event #K3Bkartinian yang diselenggarakan oleh Kelompok Emak-Emak Blogger.

 

 

 

 

Hadiah Dari Si Hobi Jahit Untuk Si Hobi Masak.

WP_20150409_001[1]

Adikku yang nomer dua, Nurul Aini, punya kakak ipar bernama Zahrotun Nisaa.

Zah, ia biasa dipanggil, menurutku Zah ini seperti Midas. Tahu dongeng Midas dong ya? Itu, seorang raja yang bisa menyentuh semua benda dan menjadikannya emas. Nah, Zah ini punya tangan emas setiap kali berhadapan dengan sesuatu yang berbau crafting. Beri dia kain, pita, dan benang, maka sesuatu yang cantik akan menjelma di depan mata kita.

Keponakanku, si Hayun, yang juga keponakannya, paling bisa melihat keahlian budenya itu. Selagi ia tergila-gila dengan Frozen, Bude Zah nya nurutin bikin segala macam merchandise Frozen yang nggak bakalan ada duanya di toko manapun. Bukan hanya dari bentuk, tetapi juga dari perwujudan kasih sayang antara bude Zah dan keponakannya yang centil, Hayun.

Ini hadiah bude Zah buatan keponakannya Hayun,.
Ini hadiah bude Zah buatan keponakannya Hayun,.

Nah, suatu hari Zah bilang ke aku (waktu itu aku kayaknya lagi terkagum-kagum sama salah satu jahitannya)

“Mbak, kapan-kapan tak bikinin celemek ya.”

Aku tuh sebenarnya lumayan hobi sama masak memasak, dan lumayan jorok juga karena tiap bikin apapun, yang namanya kuah, tepung, minyak, atau bahan-bahan lain suka belepotan aja ke baju. Udah berencana sih beli celemek, tapi emang belum nyempatin beli beneran. Ditawari dibikinin celemek, tentu aja aku udah seneng aja dengernya.

Eh, kemarin adikku, Nurul, wasap ngasih tau kalau kiriman dari Zah ini datang.

IMG-20150408-WA0001[1]

Baru hari ini dia sempet bawain ke rumah…dan ya…ampuun…alhamdulillah…ini celemek bener-bener baguuuus. Kainnya haluuus, motifnya oke baaangeett, dan aku nggak tega mau berjorok-jorok saat memasak dengan celemek ini.

Adik iparku si Iqbal (adiknya Zah) bilang, “Paling-paling celemek itu cuma buat selfie aja.”

Hahahaha…

Baiklah, sepertinya begitu. Ini buktinya ..

IMG-20150409-WA0001[1]

Eh ya nggak ding. Celemek ini tetep bakal aku pakai tiap memasak. Memasak di dapur pun tetep harus kelihatan cantik kan ya… hehehe…

Tapi mungkin aku nggak akan terlalu jorok lagi kayak biasanya.

Makasih baaangeeet ya Zah. Ini kado paliiing istimewa dari Si Hobi Jahit buat Si Hobi Masak.

 

Uji Nyali di Rumah Sendiri

Rumah yang kutempati sejak kecil sampai sebelum menikah, adalah sebuah rumah joglo kuno di Kotagede yang dibangun tahun 1864. Banyak orang menganggap rumah kuno menyeramkan. Bukannya menolak anggapan itu, tapi bagiku yang tinggal di dalamnya mau tidak mau akhirnya terbiasa juga.

Kata kakekku, semua makhluk hidup berdampingan. Nah, mungkin saking akrabnya, makhluk lain penghuni rumah joglo itu ikut mengingatkan shalat saat waktu Maghrib tiba. Kalau yang belum shalat ada dua orang, jendela di ruang bernama senthong tengen, akan terbanting dengan sendirinya sebanyak dua kali. Kalau yang belum shalat ada tiga orang, ya terbantingnya tiga kali, dan seterusnya. Bagi yang nggak terbiasa pasti akan terbirit-birit ketakutan, tapi nyatanya kami bisa menerima cara mengingatkan yang cukup aneh itu sebagai kenyataan. Aku menyebutnya uji nyali

Makhluk lain ini juga senang bercanda.

Aku ingat dulu saat masih remaja, tiduran di atas tempat tidur sambil mendengarkan lagu Tommy Page Shoulder to Cry On dengan volume pol.

Everyone need… a shoulder to cry on..

Everyone need… a friend to rely on…

Aku ikut bernyanyi keras-keras ketika tiba-tiba tempat tidurku bergoyang. Refleks aku melihat ke arah lampu untuk memastikan apakah yang barusan karena gempa atau bukan. Tapi ternyata lampu tak bergerak sedikitpun.

“Wah, ada yang usil nih,” pikirku sambil melongok ke bawah tempat tidur, yakin banget kalau adikku akan kutemukan sedang meringis di kolong. Tapi ternyata tidak ada seorangpun disana.

Aku mulai was-was. Sambil melompat turun dari tempat tidur, aku mencoba menggoyangkan sendiri tempat tidur itu agar aku bisa mengetahui sejauh mana goyangan yang bisa kubuat. Ternyata? Tempat tidur kayu jati itu tidak bergeser sedikitpun saat kugoyangkan.

Jangan ditanya merindingnya bulu kudukku saat itu. Aku langsung lari tunggang langgang meninggalkan Tommy Page menyanyi sendirian. Oke deh, aku memang menganggapnya bercanda setelah kejadian itu lewat dua puluh tahun kemudian. Tapi saat itu tentu aku sangat ketakutan.

Keisengan makhluk lain ini, nggak terbatas pada penghuni rumah, tetapi juga tamu-tamu yang menginap. Yang paling sering adalah, tengah malam si tamu akan bangun karena mendengar suara-suara riuh orang-orang sedang berkumpul di pendopo. Seperti sebuah pertemuan besar. Nah, kalau si tamu berjalan ke arah pendopo maka yang didapatinya adalah pendopo gelap, lengang, dan tentu saja tak ada pertemuan apapun yang sedang berlangsung.

Takut? Herannya tidak. Semua tamu yang kami interogasi setelahnya hanya mengaku merinding sedikit, tetapi ya sudah, cuma begitu saja dan kembali tidur lagi seperti nggak terjadi apa-apa.

Teman-teman masa kecilku, juga menjadi saksi kalau makhluk lain yang tinggal di rumah ini tidak menyeramkan. Tapi tetap saja teman-temanku tak suka dengan mereka. Lho, kenapa? Tentu saja, karena dengan adanya makhluk lain ini, nggak ada yang bisa mengambil jambu air, mangga, jambu monyet, dan buah lain tanpa ijin, karena setiap ada anak yang berusaha mengambil tanpa ijin, sudah pasti makhluk lain ini menimpuki kepala mereka dengan buah-buahan itu tanpa ampun.

Setelah menikah, aku tidak lagi tinggal disana. Kami berdua membeli rumah di desa kecil beberapa kilometer dari Yogyakarta. Rumah kami berarsitektur modern minimalis, pokoknya jauuh dari gaya rumah joglo yang rumit dan berkesan tua. Tapi apakah dengan pindah ke rumah baru, makhluk lain menjadi bagian dari masa lalu? Ternyata nggak samasekali.

Seminggu pertama setelah pindah, aku mulai mendengar suara kaki anak kecil berlarian berkeliling rumah. Kukira tadinya aku yang salah dengar, karena waktu aku menanyakannya pada suamiku, dia menggeleng. “Aku nggak dengar apa-apa tuh.” Oh, baiklah. Jadi hanya aku saja yang mendengar.

Uji nyali yang kupikir akan berhenti setelah tak lagi tinggal di rumah joglo tua berusia lebih dari seabad, pupus sudah. Bukan hanya suara kaki kecil berlarian, tetapi juga suara desah nafas saat tak ada seorangpun di rumah selain aku, dan… yang terakhir, tempat tidurku di rumah ini bergoyang saat aku mendengarkan lagi lagu Shoulder to Cry On nya Tommy Page. Entah apa yang dipikirkan makhluk-makhluk lain itu, aku benar-benar tidak tahu.

Sesekali aku masih pulang ke Kotagede. Dan meski tak ada seorangpun disana, aku akan mengucap salam. Karena pernah sekali aku datang tanpa salam dan mengambil piring-piring almarhum ibu, sampai di halaman kedua spion sepeda motorku sudah berbalik arah 180 derajat ke arah depan.

Takut? Tidak juga.

Merinding? Hampir pasti. Tapi bagaimana lagi, aku kan menyebut ini sebagai uji nyali.

 

 

 

Seorang Wanita Berhati Surga

Tulisan ini ada di buku Wonder Women
Tulisan ini ada di buku Wonder Women

: lima belas tahun yang lalu

 

Sebut saja namanya Mbak Ginuk. Dia adalah seorang penjual ayam goreng yang berkeliling dari rumah ke rumah, mulai dari jam 10 pagi, setiap hari selain hari Minggu. Wanita itu berjalan menuntun sepeda bututnya, dengan keranjang berisi ayam goreng dalam kardus, dan berteriak, “Ayam gor-reengg!” setiap sepuluh detik sekali.

Mbak Ginuk tak pernah menaiki sepedanya. Tadinya aku mengira kalau wanita itu sengaja menuntun sepedanya agar tak ada seorangpun terlewat saat dia sedang menawarkan dagangannya, atau dia tak menaiki sepedanya karena takut keranjangnya yang berat di kanan dan kiri terjatuh tanpa disadarinya, atau berbagai alasan lain yang mirip dengan alasan yang kupikirkan. Tetapi ternyata aku keliru. Mbak Ginuk tetap menuntun sepedanya saat sore hari, ketika keranjang di kanan dan kirinya telah kosong, dan dagangannya telah habis terjual.

Dengan penasaran aku menanyakan padanya, sebuah pertanyaan usil yang kuberikan padanya setelah aku membeli separuh ayam goreng, sambal, dan lalap dalam kotak kardus berwarna putih. “Mbak Ginuk nggak capek nuntun sepeda kemana-mana? Kenapa nggak dinaikin saja? Kalau pulang jualan kan keranjangnya sudah kosong. Disuruh nuntun terus ya sama dukunnya?” godaku.

Mbak Ginuk terkekeh. Wanita itu menatapku dengan mata kanannya yang terpicing, bukan sengaja memicingkan mata padaku, melainkan mata kanannya memang terpicing sejak dia masih bayi, begitu katanya. “Mbak Niar ini lucu. Masak disuruh sama dukun? Orang Islam nggak boleh pergi ke dukun, Mbak.”

“Nah, lalu kenapa kok dituntun terus?” tanyaku penasaran.

Mbak Ginuk tertawa dengan wajah memerah. Saat tertawa, mata kanannya benar-benar hanya tampak seperti sebuah garis. “Saya nggak bisa naik sepeda, Mbak. Jadi kemana-mana ya harus dituntun begini.”

Oh. Aku tersenyum. Geli campur haru.

Karena tahu akan hal itu, aku jadi lebih sering memaksa ibu membeli ayam gorengnya. Tak apa. Ayamnya juga enak kok. Mbak Ginuk memasaknya dengan bumbu yang meresap hingga ke tulang. Kalah deh Pak Kolonel dari Amerika itu.

Mbak Ginuk memiliki seorang anak laki-laki berumur 8 tahun. Setiap kali ada yang menanyakan tentang anaknya, mata wanita itu bersinar bangga saat menjawabnya. Kurasa itu wajar. Anak lelakinya adalah anak yang baik, patuh, dan sangat menyayanginya. Aku pernah mendengar Mbak Ginuk bercerita pada ibu kalau anak lelakinya mau mengeroki punggungnya jika dia kelelahan dan masuk angin.

Untuk anaknya juga kurasa, Mbak Ginuk berusaha bekerja keras. Mbak Ginuk tak bisa mengandalkan suaminya begitu saja karena pria itu sering meninggalkan rumah begitu saja dan pulang tanpa membawa uang. “Bapaknya tole (sebutan untuk anak lelaki) itu masih berusaha mencari pekerjaan, jadi saya harus prihatin dulu,” ucapnya dengan suara lembut yang riang seperti biasanya. Tak sedikitpun tampak kekesalan pada wajahnya.

Mbak Ginuk adalah salah satu orang tersabar yang pernah kukenal. Dia tak keberatan dengan tingkat keprihatinan yang barangkali sulit dijalankan orang lain. Pernah suatu hari dia harus kehilangan berkotak-kotak ayam gorengnya di tempat parkir di depan pasar saat dia mengantarkan pesanan. Saat kembali dan mengetahui ayamnya telah menghilang, dia hanya memejamkan mata untuk menghilangkan marah, dan berhasil meyakinkan dirinya sendiri kalau ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan ayam goreng itu dibandingkan dengan dirinya. Subhanallah. Kata ibu aku jelas harus belajar banyak dari ceritanya, mengingat aku bisa saja kehilangan kesabaran hanya karena lauk di meja makan sudah didahului orang lain.

Sampai suatu hari Mbak Ginuk tak lewat lagi. Dia tak pernah berkeliling lagi dari rumah ke rumah, tak pernah menuntun sepedanya, bahkan tidak juga meski tanpa sepedanya. Dia tak kelihatan sama sekali.

Aku bertanya pada ibu. Bukan menanyakan Mbak Ginuk sebenarnya, melainkan ayam gorengnya. Aku benar-benar merasa kehilangan ayam gorengnya, dengan sambal bajak yang nikmat, dan lalapan yang selalu segar. Tetapi ibu sama saja sepertiku, tak tahu.

Seminggu menjadi dua minggu, kemudian tak terasa menjadi sebulan.

Setelah lewat sebulan, ibu mendengar sebuah kabar tentang Mbak Ginuk, dan menceritakannya padaku.

“Apa?!” tanyaku terkejut.

“Itu benar,” bisik ibuku.

Oh. Aku mengerutkan kening. Sedih dan gusar.

Mbak Ginuk tak berkeliling untuk berjualan karena masuk rumah sakit. Matanya bengkak dan bola matanya hampir keluar, tulang pipinya retak, dan gigi depannya rontok dua buah. Bukan, bukan mata kanannya yang bengkak melainkan mata kirinya, hingga kini dia kesulitan melihat. Tulang pipinya yang retak juga harus dirawat penuh oleh dokter. Giginya juga telah ditangani dokter gigi, meski kata dokter gigi dia harus merelakan dua giginya hilang sebelum waktunya. Semua terjadi karena suaminya. Pukulan suaminya.

Tak ada seorangpun yang menjenguk Mbak Ginuk. Sakit yang dialami karena kekerasan rumah tangga mungkin tak enak jika harus dijenguk. Barangkali suaminya akan lebih naik darah kalau perhatian orang-orang jatuh pada Mbak Ginuk. Karena perhatian yang diterima, berarti adalah penyalahan atas perbuatan suaminya. Akhirnya agar tak menjadi lebih runyam, ibuku, juga ibu-ibu yang lain, bersepakat tak akan datang ke rumahnya.

Saat Mbak Ginuk kembali bekerja, dan berhenti tepat di depan ibu-ibu yang sedang berkumpul, dan aku berada di dekat mereka, aku terpaksa tercekat ketika melihatnya. Kupejamkan mata sesaat. Tak tahan melihat bola mata kiri Mbak Ginuk yang seperti agak mencuat keluar, dengan warna putihnya yang kemerahan, seolah darah telah merembes kesana. Ditambah lagi dengan wajahnya yang rasanya lebih miring, dan mulutnya yang kosong karena dua gigi depannya menghilang. Tadinya kukira dengan mata kanan yang selalu terpicing saja sudah parah, tetapi ini lebih lagi. Wajahnya benar-benar menyedihkan.

Dengan penuh simpati, ibu-ibu menanyakan, bagaimana kabarnya. Berharap mendengar cerita versi lengkap dengan keluhan dan sedu sedannya. Tetapi semua harus menggigit jari karena Mbak Ginuk hanya tersenyum.

Dengan wajah seperti itu Mbak Ginuk berkata pada ibu-ibu kalau dia tak apa-apa. Alhamdulillah masih diberi kesehatan dan kekuatan, begitu dia bilang. Tuhan benar-benar Maha Adil, katanya.

Adil? Keadilan apa yang disadarinya dari wajah miring, gigi ompong, dan bola mata yang mencuat itu?

Dia merasa Tuhan itu adil karena di saat kejadian itu, anak lelakinya yang masih berumur 8 tahun, maju di depannya, melindunginya. Si pendiam itu berteriak pada bapaknya untuk berhenti, dan suaminya berhenti memukulinya. Tuhan Maha Adil karena, kalau tak ada anak lelakinya mungkin dia sudah mati terbunuh di tangan suaminya sendiri.

Dia merasa Tuhan itu adil karena meski telah mengalami hal sesulit itu, dia masih bisa sembuh dan kembali bekerja untuk menghidupi anaknya. Dia ingin mengumpulkan uang agar anak lelakinya masuk pesantren, katanya.

Dia juga merasa Tuhan itu adil, karena setelah peristiwa itu, suaminya ditahan polisi karena laporan dari tetangga-tetangga. Biarlah itu juga menjadi pelajaran baginya, katanya.

“Lalu bagaimana kalau suami Mbak Ginuk sudah keluar? Kembali kemana dia nanti?” tanya seorang ibu.

“Ya tentu ke rumah saya,” senyum Mbak Ginuk, “dia kan suami saya.”

Wanita itu tak dendam, karena katanya, semua orang memiliki tanggung jawabnya sendiri di dunia. Siapa yang bisa menjalankan sebaik-baiknya, dialah yang terbaik di mata Sang Pencipta. Tanggung jawabnya adalah menjadi ibu yang baik bagi anaknya dengan cara bekerja keras untuk menghidupinya, dan menjadi istri yang baik dengan cara bersabar.

Cukuplah baginya apa yang diterimanya dan harus diperjuangkannya di dunia. Dia tak akan mengeluh, tegasnya.

Kami menelan ludah dengan kecewa. Jelas kami tak akan mendapat tambahan gosip hangat dari korban kekerasannya secara langsung. Tetapi sebenarnya, tambahan cerita seberapapun tak akan pernah mengenyangkan siapapun yang mendengarnya, hanya akan menambah beban orang yang menjalaninya.

Bersama yang lain aku memilih ayam goreng yang akan kubeli, dan membayarnya cepat-cepat. Mbak Ginuk mengumpulkan lembaran-lembaran uang yang diterimanya dengan wajah riang. Tak ada yang lebih membahagiakannya selain dapat bekerja demi kehidupan yang lebih baik, bagi anak satu-satunya.

Saat Mbak Ginuk berpamitan dan kembali meneruskan langkahnya menuntun sepeda, kutatap punggungnya lekat-lekat. Kukagumi wanita itu karena kesabaran dan kekuatannya. Dalam setiap langkahnya, ada harapan untuk menjadikan diri dan keluarganya menjadi lebih baik dari sekarang. Dalam setiap harapannya tersimpan doa yang dikirimkan melalui kesabaran dan ikhlas, menerima dengan terbuka setiap putusan Tuhan baginya.

Aku terus menatap langkahnya yang menjauh. Di depan sana ada sebuah tikungan dan dia akan berbelok ke sana. Sebelum membelokkan sepedanya, tiba-tiba dia menoleh kembali ke arah kami.

Mbak Ginuk tersenyum ketika melihatku masih menatapnya. Dia tersenyum dengan dua gigi depannya yang menghilang, wajah miringnya yang entah kapan akan kembali seperti semula, dan sepasang mata yang begitu berlainan—satu seperti menghilang dan satu lagi berjejalan seperti ingin keluar.

Seharusnya aku iba melihatnya, tetapi melihat langkah tegapnya, juga senyumnya menatap dunia, aku tahu aku tak dapat merasa iba. Justru dialah orang yang beruntung di dunia. Karena dalam hatinya, Mbak Ginuk telah menciptakan surga.

 

 

 

 

 

Dunia Kata-Kata Shadra

Nggak terasa anak yang dulu kugosipin dalam tulisan ini, sekarang udah gede banget… hampir 14 tahun.  Semoga saja dia nggak iseng buka-buka blog ini dalam waktu dekat. hahahaha…

Ini fotonya waktu umur 5 tahun.

DSC03344

Saat anak sulungku, Shadra, berumur 2,5 tahun, dia telah belajar kata-kata beberapa langkah lebih cepat dibanding dengan teman-temannya. Mungkin itu juga karena dia terlambat belajar berjalan. Kata orang-orang tua jaman dulu, kalau anak terlambat berjalan biasanya dia berbicara lebih cepat. Barangkali itulah yang terjadi dengan anakku.

Senang juga rasanya mempunyai anak yang pintar bicara. Paling tidak, karena dia sudah dapat berbicara dengan jelas, aku tak pernah keliru mengartikan kata-katanya. Jadi tidak mungkin terjadi aku mengambilkannya ‘beras’ karena dia meminta ‘gelas’, misalnya.

Kami, aku dan suamiku, juga merasa terhibur mendengar celotehannya yang bermacam-macam. Di usianya saat itu, dia sudah bisa menyusun cerita sederhana dengan runtut. Dia sudah bisa bercerita, dengan siapa hari itu dia bermain dan apa yang dimainkannya, misalnya.

Tetapi tak jarang juga, kepandaiannya berbicara membuatku kerepotan. Sebagai gambaran, waktu itu kami mengontrak rumah di sebuah lingkungan perumahan yang padat penduduk. Rumah di daerah itu kecil-kecil, dan tembok kami menyatu dengan tembok tetangga. Suara ketukan kecil di dinding saja bisa terdengar sampai rumah tetangga. Dan kadang-kadang itu menjadi salah satu masalah.

Pernah suatu pagi, Shadra telat bangun. Ayahnya sudah ke kantor pagi-pagi sekali, dan aku sedang mandi. Begitu dia membuka mata, tak ada seorangpun yang ditemuinya, dan yang didengarnya hanya suara gayung cebar-cebur di kamar mandi. Dia sih tidak menangis. Shadra hanya bangun dan melangkah ke arah kamar mandi, menghampiri suara gayung yang didengarnya.

“Ibuuu…,” panggilnya.

“Ya, Nak. Sebentar yaa,” kataku dari kamar mandi. Sabun masih belepotan di wajahku, dan sampo masih berbusa di kepalaku.

“Ibuuu!” teriaknya keras. Dia mengetuk pintu kamar mandi dengan kepalan kecil tangannya.

“Iya, iyaa… sabar yaa,” ucapku lagi, masih sibuk menggosok wajah.

“Ayaaah…,” teriaknya sama keras dengan tadi.

Lho! Kok jadi manggil ayah?

“Ayah ke kantor, Nak,” bujukku dari dalam kamar mandi sambil mengguyur wajahku dengan air.

Shadra tak sabar mendengarnya. Bujukanku sama sekali tak menenangkannya. Anak itu justru tambah keras memukul pintu kamar mandi yang terbuat dari seng. Bang! Bang! Bang!

“Ibuuuu! Ayaaaahhh!” teriaknya seperti memanggil dalam jarak 20 meter. “Bukaaaiinn kamaal mandinyaaaaaa…”

Glek. Aku terpaku mendengarnya. Suara cekikikan yang jelas-jelas kudengar dari arah dapur tetangga sebelah membuat wajahku merah padam. Aduuuuh! Gawat! Mereka pasti mengira aku sedang di dalam kamar mandi bersama dengan suamiku dan meninggalkan anakku yang malang di depan pintu, membiarkannya memanggil-manggil kami.

“Naakk… Ayah pergi ke kantoooorr!” sahutku dengan suara keras, agar tetangga mendengar. “Ibuu sendiriaaannn di kamar mandiii!”

“Hwaaaa…!” Gawat. Dia mulai menangis karena merasa dibentak. “Ibuuu! Ayaaah! Bukaiin pintunyaaa! Aku mau masuuk…”

Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Payah nih. Tidak ada cara apapun yang bisa membuat tetangga-tetanggaku tahu kalau anakku bukan ‘anak-malang’ yang ditinggal berduaan di kamar mandi, kecuali aku harus cepat-cepat keluar setelah menyingkirkan semua busa ini dari rambutku. Byuuuurrr…

Setelah insiden gedoran kamar mandi selesai, bukan berarti tak ada lagi yang terjadi. Shadra ini, justru karena masih kecil maka dia begitu jujur dan polos. Bagi orang dewasa seperti orangtuanya, kejujurannya kadang merepotkan.

Suatu hari setelah berbelanja, aku mendapati bawang merah yang kubeli dari tukang sayur ternyata tak semuanya kering. Ada beberapa yang telah membusuk, padahal harganya cukup tinggi saat itu. Udangnya juga sebagian tak segar, dan dicampur begitu saja dengan udang yang bagus dalam satu plastik yang sama.

Aku kesal melihatnya, dan berkata pada suamiku. “Lihat, Yah. Kadang orang mau untung cepat, tapi merugikan orang lain. Barang busuk semua begini dijual,” ungkapku kesal. Padahal sih yang busuk sebenarnya tidak semua. Tomat dan bayam yang kubeli juga masih segar tadi. Aku hanya ingin berkata kalau seharusnya penjual tak membiarkan barang busuk sampai ke tangan pembeli.

Suamiku mengangguk penuh simpati, dan Shadra juga meniru ekspresi wajah ayahnya. Tetapi esoknya, semua yang terjadi di luar dugaanku.

Saat ibu-ibu berkumpul di depan untuk membeli sayur, tiba-tiba pahlawan kecilku ini menyeruak menerobos kaki ibu-ibu yang lain. Dengan wajah serius dia berkata pada si penjual sayur. “Kemalin, udangnya busuk, bawangnya busuk, tumatnya busuk, semua busuk.”

What???

Ibu-ibu tetangga mulai tertawa mendengarnya. Sementara warna merah mulai menjalari wajahku, juga wajah penjual sayur.

“Apa yang busuk?” mata si penjual sayur menatapku. Wajahnya tak terima.

“Oh, eh. Bawang, sedikit,” ujarku tak enak. “Udang juga, sedikit.”

“Busuk. Semua,” Shadra menimpali dengan serius.

Kugendong anakku cepat-cepat.

Penjual sayur berwajah galak itu mulai merepet. Dia mengomel panjang lebar tentang dia juga korban dan bukan orang yang bersalah, dia hanya mendapat barang itu dari pasar dan penjual di pasarlah yang tidak jujur, dan terakhir dia mengatakan di musim hujan begini bawang merah memang tak semua bagus. Semua bukan salahnya, dan tentu aku seharusnya tak mengajari anakku yang masih balita mengatakan dagangannya busuk.

Ap-paa??? Oh, ini benar-benar kacau. Mana mungkin aku mengajari anakku untuk menyerangnya? Memangnya aku komandan pasukan khusus? Meski aku menjelaskan padanya hingga jungkir balik sirkus, dia tak akan percaya sedikitpun pada kata-kataku. Baiklaaah…

Tetapi kadang kupikir-pikir, anak memang hanya merekam kejadian di sekitarnya, yang dilihatnya. Akulah yang harus lebih berhati-hati supaya tak membuatnya melihat atau mendengar sesuatu yang bisa ditirukannya, atau diceritakannya pada orang lain.

Sayangnya, tak setiap kali aku bisa sehati-hati itu. Kadangkala ada kejadian-kejadian tak sengaja yang muncul begitu saja. Seperti siang ini.

Aku sengaja masak opor ayam. Shadra baru suka makanan berkuah santan, dan aku berharap dia makan banyak hari ini. Kulebihkan jumlah santannya agar ayamnya lebih empuk. Selain itu aku juga ingin membaca sebuah novel, jadi kalau kutinggalkan ayam itu dengan santan yang lebih banyak, aku tak akan khawatir kuahnya cepat habis di atas api.

Novelnya asyik dan membuat aku lupa diri. Aku membaca dan membaca di ruang tamu sambil menggosok-gosok punggung Shadra yang tiduran di pangkuanku, lupa sama sekali pada oporku. Bau ayam panggang mulai tercium. Hmm, enak. Siapa yang masak ayam panggang nih? Batinku. Tapi aneh, bau ayam panggang sepertinya tercium dari arah belakang rumahku sendiri.

Astaga! Aku melonjak seperti tersengat listrik. Oporku! Oporku! Aku berlari panik. Shadra mengikutiku dari belakang dengan wajah yang ikut panik. Kuahnya lenyap berganti dengan sisa bumbu dan santan yang kecokelatan membakar ayam. Dengan terburu-buru aku meraih lap dari jemuran dan kuangkat wajan dari kompor minyak tanahku. Lap yang kupegang rupanya terlalu dekat dengan api dan apipun menyambar ujungnya. Separuh panik, separuh jengkel, aku menginjak-injak lap itu agar apinya padam. Kutatap ayam di wajan dan kusendok perlahan ke dalam piring. Memang sih, nggak terlalu mirip dengan opor. Opor keringpun tidak. Tetapi baunya tak terlalu gosong dan aku bisa mengatakan kalau aku sengaja membuat ayam panggang, suamiku tak akan tahu.

“Shadra, makan dulu yuk,” ajakku setelah semua kusiapkan. Nasi hangat dan ayam kecelakaan telah siap di meja makan.

Lho, dimana anakku? Aku keluar rumah dan mencarinya ke rumah sebelah. Sepertinya aku mendengar suaranya di sana. Ternyata benar. Anakku memang berada di sana, bersama seorang kakek dan nenek, juga anaknya, yang tinggal di sebelah rumahku. Mereka sedang tertawa terbahak-bahak seperti nonton Srimulat manggung.

“Jadi ibu masak apa?” tanya si nenek tetangga.

“Nih, masak celana Ayah.” Itu suara Shadra, ditimpali tawa riuh mereka sekeluarga.

Astaga! Apa maksudnya? Apa maksudnya? Aku merangsek masuk ke dalam. Kulihat Shadra sedang berdiri di depan mereka, membawa celana dalam ayahnya yang ujungnya terbakar. Sesuatu yang kukira sebagai lap dan ternyata harta karun berharga. Hiks. Masak celana ayah, katanya? Gubrak…

Anakku Shadra suka makan kerupuk kaleng keliling yang dijual oleh seorang laki-laki yang dipanggil dengan sebutan, ‘Mamang Kerupuk.’ Meski begitu, aku tak membelikannya setiap hari karena takut MSG dalam kerupuk akan mengganggu kesehatannya.

Tadinya dia memang menanyakannya, tetapi aku menjawab, “Ibu punya kerupuk udang, ibu punya emping. Yuk digoreng.” Dan berhasil. Anakku tak terlalu menanyakan Mamang Kerupuk lagi. Kalau Mamang Kerupuk lewat dan dia sedang bermain di rumah anak tetangga, Shadra tak lagi pulang dan merengek-rengek minta dibelikan.

Maksudku, kukira aku berhasil, sampai pada suatu hari si Mamang Kerupuk berhenti tepat di depan rumah sambil tersenyum lebar padaku, yang segera menghampirinya karena sepertinya dia sedang ingin berbicara denganku. “Ada apa, Mang?” tanyaku ingin tahu.

Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar catatan. “Sudah genep sarebu, Bu.”

“Apanya, Mang?” tanyaku bingung.

“Itu, puteranya ambil kerupuk saya sudah sepuluh kali tiap maen di jalan. Jadi genep sarebu.”

Anakku hutang kerupuk? Di usianya yang belum genap 3 tahun? Oh My God! Speechless.

Menjadi ibu memang menyenangkan, meski tak dapat dipungkiri terkadang kelelahan. Begitupun aku. Apalagi istirahat siang baru bisa kulakukan kalau anakku juga tertidur lelap di sampingku. Di luar itu, selagi dia masih terbangun, aku tentu tak dapat tidur begitu saja.

Siang itu seperti biasa Shadra tidur. Aku ikut tertidur di sampingnya. Aku baru saja mencuci dan menyeterika pakaian, dan aku ingin terlelap barang sebentar. Rasanya baru saja mata ini terpejam ketika lamat-lamat aku mendengar suara tetanggaku bertanya heran.

“Lho, Shadra kok nggak tidur siang?”

“Sudah,” jawabnya keras, “Sudah tidul siang!”

“Ibu mana?” tanya tetanggaku.

“Ibu tidul. Pusing!” jawab Shadra. Pusing? Dadaku mulai berdetak kencang. Kenapa tiba-tiba dia berkata aku pusing? Apalagi yang hendak dikatakannya?

“Wah ibu pusing ya. Sakit apa?” tanya tetanggaku bersimpati.

“Sakit… sakit pusing. Nggak punya uang,” jawabnya mantap.

Tetanggaku tertawa mendengar jawaban lucu itu.

Aku memejamkan mata sambil menghela nafas. Aku ingat pernah mengatakan itu padanya saat dia meminta jeli berwarna merah menyala. “Ibu pusing kalau kamu jajan terus. Ibu nggak punya uang!” kataku waktu itu. Tapi itu kan cuma alasan biar dia nggak jajan sembarangan.

“Kalau begitu jangan main jauh-jauh, ya,” kata tetanggaku, “masuk sana temani Ibu.”

Tak kudengar dia menjawab, tetapi suara langkah berlari terdengar masuk ke dalam rumah. Anakku muncul dari balik pintu kamar dan memelukku erat-erat.

“Temani ibu, ah,” katanya dengan riang. Lalu dia mulai berceloteh dengan keras tentang macam-macam.

Aku hanya bisa tersenyum pasrah. Ah, anakku. Duniamu saat ini memang dunia kata-kata. Ibumu bisa apa?

 

Kisah ini juga bisa dibaca di buku ini
Kisah ini juga bisa dibaca di buku ini

 

 

 

 

 

 

 

 

Jalan-Jalan Ke Taman Balekambang Solo

Sehari sebelum liburan Paskah tanggal 3 April  kemarin, Mbak Ruwi Meita ngajakin aku pergi ke Solo. Keponakannya, seorang gadis kecil bernama Nares, sedang ditinggal dinas mamanya selama 6 bulan, dan Mbak Ruwi pengen ngajakin Nares jalan-jalan buat refreshing. Kebetulan Mbak Saptorini, sahabat kami tinggal disana dan mau banget direpotkan untuk ketemu kami. Sebenarnya tadinya janjian juga sama Mbak Aniek, tetapi sayang beliau sakit 😦

“Oke deh, aku bawa anak juga ya…” kataku, dan si bungsulah yang kubawa. Kami janjian, siapa yang paling dulu sampai ke stasiun, dialah yang antri beli tiket kereta. Nah, mengingat betapa rempongnya kami bangun pagi dan gedubrakan…tentu bisa ditebak siapa yang bisa sampai duluan ke stasiun. Hehehe…

Nah, ternyata pas aku masih di jalan, Mbak Ruwi wasap supaya aku nggak usah buru-buru ke stasiun karena dia udah dapet tiket yang jam 8.20 karena yang paling pagi habis. Waduh…ya sudah…gimana lagi? Pagi jam 8.20 kereta kami berangkat ke Solo. Mbak Ruwi, Ima putrinya, Nares keponakannya, aku, dan Shirin anakku.

Meski Shirin dan Nares seumur tapi mereka masih malu-malu buat ngobrol dan main bareng. Maklum baru ketemu sekali ini. Cuaca cenderung mendung ketika kami tiba di Solo. Sambil nunggu Mbak Saptorini, foto-foto dulu… IMG_0450

Nggak lama Mbak Saptorini dateng sama suaminya… (Suaminya baik banget nawarin antri tiket kereta buat pulangnya. Makasih banget ya Om…)

“Ke Taman Balekambang aja yuk, biar anak-anak puas lari-larian,” ajak Mbak Rini. Kemana aja maulah. Yang penting bisa angon bocah. Hahaha…

Kami langsung nyari taksi buat pergi kesana. Tempatnya nggak jauh dari stasiun Purwosari. Eh ternyata Taman Balekambang itu sebuah taman yang lumayan luas. Seneng banget ngelihat teduhnya pohon-pohon besar disana. Dari jauh kami melihat sebuah danau kecil. Masuknya gratis lagi… IMG_0454

Banyak rusa dan angsa dibiarkan berkeliaran disana. Sayang nggak sempat foto karena Shirin tuh rada takut sama semua binatang yang kakinya empat, kecuali yang udah jadi rendang atau semur daging giling. Dia minta naik perahu keliling danau. Di tengah danau ada patung Partini Tuin.

Tadinya aku bilang ke Mbak Ruwi.. “Kok Tuin ya namanya? Bahasa apa ‘Tuin’ itu?” “Di depan ada patung tulisannya ‘Partina’ kurasa kalau yang disini namanya ‘Partini’ mereka berdua adalah kembar. Twin. Nulisnya Tuin karena mereka orang Jawa.” Analisa Mbak Ruwi sepertinya meyakinkan. Aku langsung menerima itu sebagai keyakinan sejarah putri Solo.

Hihihi… Eh… asyik juga lho naik perahu keliling danau ini… dan yang paling asyik, hanya rp 5000,- saja. Ini benar-benar piknik yang irit. FB_20150404_09_34_57_Saved_Picture[1]

Tapi tunggu dulu dong..irit di mainan, tentu nggak irit di jajan. Anak bungsuku ini makan tiap 10 menit sekali. Begitu datang dia udah histeris menunjuk jajanan dari kejauhan. “Ibuu! Ada kentang ulir! Lihat…yang itu sosis panggang! Mmmm…” Menjelang siang, kami istirahat di tepi kolam Partina Tuin. Membiarkan anak-anak main dan kami ngobrol bertiga. IMG_0463

Nggak terasa ngobrol seru sampai jam makan siang. Kami memutuskan nyari makan dulu di dekat stasiun, sambil istirahat dan sholat. Abis makan, dan nunggu di stasiun, eh hujan turun deres bangeeet….bahkan sampai di Yogya juga masih hujaaaan….hiks. Kurang rasanya main seharian ini. Nanti kalau liburan lagi, insya Allah kita ketemu lagi ya temen-temen. Main kemana-mana kalau dibarengi dengan niat bersilaturahmi, kok rasanya bikin hati bahagia…

Gado-Gado Femina_Memasak

Ini tulisan lama sebenarnya. Dimuat di majalah Femina no 25/Juni/2014. Anehnya, tulisan ini kok dimuat di bulan Juni, bulan ulang tahun pernikahan saya dan ayahnya anak-anak. Jadi ya…geli sendiri mengingat betapa kacaunya masa lalu saya dalam hal perdapuran. Hahaha…

Ini ceritanya….

Jika melihat bagaimana lahapnya anak-anak saya menyantap semua hidangan yang saya masak untuk mereka, atau mendengar pujian suami pada masakan saya, atau menjawab teman-teman yang menanyakan resep hidangan arisan yang saya buat, tak seorangpun yang mengenal saya saat ini percaya kalau dulu saya tak bisa memasak apapun selain merebus air.
Suami saya salah satu saksi kalau kata-kata saya benar.
Pernah dulu sebelum menikah, dia mampir ke rumah. Waktu saya tanya apakah dia sudah makan, dia menjawab belum. Demi harga diri, saya bilang akan membuatkannya telur dadar isi bayam. Kedengarannya itu cukup keren kan untuk lauk sarapan?
Ibu menanam sayur-sayuran di kebun belakang, jadi saya segera pergi kesana untuk memetik beberapa helai daun bayam. Setelah mendapatkan daun bayam, sayapun pergi ke dapur dan mulai mencucinya.
“Buat apa daunnya?” tanya Ibu tiba-tiba.
“Telur dadar isi bayam,” jawab saya pe-de.
Ibu membelalakkan mata. Kelihatannya sangat terkejut. Tentu dong, Ibu pasti berpikir kalau anak gadisnya begitu terampil dan kreatif memikirkan isian untuk telur dadar calon suaminya, batin saya ge-er. Tapi cuping hidung yang tadinya mengembang mendadak kempis seketika saat Ibu tertawa geli. “Aduh, Niar. Itu bukan daun bayam, itu daun…terong.”
Astaga. Saya hanya melongo. Masa sih? Beneran ya ini daun terong? Belum lagi tawa Ibu langsung disambar dengan semangat oleh suami saya yang saat itu masih calon suami. “Mau ngeracun aku deh kayaknya,” sindirnya sambil tertawa tergelak-gelak.
Fiuh…malu itu jelas. Tapi saya bukan jenis orang yang mudah patah karena ditertawakan.
Apakah setelah insiden daun terong itu saya lantas turun ke dapur untuk belajar? Oh, tidak. Sejak kecil saya diajarkan untuk belajar dari buku, jadi yang saya buka pertama kali adalah buku.
Saya belajar mengenali jenis-jenis minyak, jenis-jenis terigu, jenis-jenis sayuran dan cara mengolahnya, belajar tentang semua jenis lauk pauk dan cara mengolahnya, jenis-jenis masakan berbagai negara dan deskripsi mengenai rasanya, dan sebagainya. Bagi orang lain mungkin itu sangat berlebihan, tetapi bagi saya pengetahuan dasar akan membuat kepercayaan diri untuk memulai menjadi lebih besar.
Saya mulai belajar mengikuti resep dengan teliti dan mencobanya. Tetapi kadang karena di resep hanya disebutkan urutannya dan tidak disebutkan waktunya, saya pernah memasukkan daging ayam dengan jarak hanya 3 menit dari saya memasukkan sayuran ketika membuat sup. Dengan jengkel saya terpaksa melihat daging ayam kampung yang masih sangat liat bercampur dengan sayuran yang telah hancur di dalam kuah sup.
Jumlah minyak goreng yang dituangkan juga tak pernah disebut dengan rinci di dalam resep, sehingga saya pernah membuat nasi goreng dengan jumlah minyak yang sama seperti saya menggoreng tempe.
Jangan ditanya kalau sedang menggoreng ikan. Pertama kali saya tahu kalau ikan dan cumi-cumi bisa meletus ketika digoreng, saya lari untuk mengambil helm dan handuk untuk melindungi wajah dan badan dari cipratan minyak. Oke, saya tahu kalau itu sangat konyol. Tapi pada dasarnya saya sangat ketakutan, dan tak seorangpun menyadari bahwa dapur adalah salah satu tempat yang sama berbahayanya dengan jalan raya, atau bahkan medan perang.
Tak hanya sekali atau dua kali saya merusakkan bahan makanan. Saya memecahkan 6 butir telur saat memasukkannya dalam air mendidih karena tak tahu kalau suhu telur yang dingin dari kulkas tak bisa menahan panasnya air mendidih. Saya membuang kelapa yang saya parut sampai lecet-lecet karena tak tahu kalau kelapa parut tak tahan berada di suhu ruang terlalu lama. Saya membuang semangkuk besar gulai ikan karena lupa mengeluarkan kotoran dari daging ikannya. Saya memasak nasi seperti bubur, atau sebaliknya masih seperti kerikil. Dan masih banyak lagi.
Mungkin karena jengkel, saya mulai mencicipi bumbu-bumbu mentah untuk mengetahui rasa dasarnya, dan tanpa diduga itu sangat berguna. Suatu hari saya dan suami mampir ke warung mi ayam dan setelah beberapa suap saya mendorong mangkuknya sambil menggeleng. “Daging ayamnya dibumbui jinten terlalu banyak. Aneh. Mi ayam kok pakai jinten.”
Sejak itu saya mulai mempelajari resep dengan cara baru, yaitu mencicipinya. Toh saya memang hobi mencoba berbagai jenis masakan, jadi ini kegiatan yang asyik buat saya.
Dari rasa bumbu-bumbu yang tertangkap dan ditebak oleh lidah saya, saya mulai mengkonfirmasi melalui resep, lalu mencoba memasaknya. Dengan mengingat rasa bumbu, saya mulai mengkombinasi bahan makanan dengan bumbu yang saya pikir tepat. Dan waktu terus berlalu dengan hadirnya ketiga buah hati saya.
Kini ketika mereka memakan ratusan jenis masakan yang saya hidangkan untuk mereka dan ayah mereka berkata, “Tahu nggak, dulu Ibu pernah hampir membuatkan Ayah telur dadar isi daun terong.” Mereka hanya mengangkat alis tak percaya. “Masa sih, Yah?”

Artikel Gado-Gado di majalah Femina edisi 20/2014

Bermula dari ‘kelelahan psikis’ yang mau tidak mau harus kualami ketika suamiku menjadi ketua rt, maka aku bertekad akan menuliskannya saat tugas itu paripurna.
Tak tik tuk di depan laptop selama 15 menit, dan langsung kirim lewat surel. Sebulan kemudian Mbak Ratnasanti dari Femina memberitahu kalau artikel ini akan dimuat.

Senengnya pake banget. Ini tulisan kedua yang kukirim ke Femina, dan pertama kalinya dimuat disana. 😊

Ini naskah aslinya, ada beberapa perubahan dari redaksi deh kayaknya.

Ketua RT
Yuniar Khairani

Suami saya terpilih menjadi ketua RT dua tahun yang lalu, berdasarkan suara terbanyak. Itu pertama kalinya ia menjadi ketua RT, sehingga anak-anak bertanya, “Tugas Ketua RT itu ngapain sih, Yah?”
Suami saya menjawab, “Paling hanya rapat, memimpin warga untuk kegiatan tertentu, dan membuat surat-surat pengantar.”
Masuk akal juga. Ketua RT kan aparat terendah dalam pemerintahan. Dibayar juga enggak. Mana mungkin diberi tugas yang berat-berat, pikir saya.
Tetapi pikiran itu ternyata dipatahkan oleh sebuah ketukan keras ditengah malam. Seorang ibu-ibu tetangga kami berdiri dengan gemetar di depan pintu.
“Tolong, Pak. Ada orang yang hendak mengambil mobil saya. Katanya, suami saya berhutang padanya, dan saya yang harus membayar.”
Suami ibu itu sudah berminggu-minggu pergi dari rumah tanpa meninggalkan pesan. Wajar kalau istrinya kebingungan ketika tahu-tahu ada orang yang ingin mengambil mobilnya untuk membayar hutang suaminya.
Sebagai ketua RT, suami saya datang untuk menjadi saksi penangguhan pengambilan paksa itu, paling tidak hingga suaminya ditemukan.
Saya juga baru tahu, kalau ketua RT selalu menjadi penengah ketika ada warga yang bertengkar. Kadang memang bisa diselesaikan, tetapi sering juga tidak karena usia pertengkarannya sudah melalui pergantian 4 ketua RT.
Dari soal parkir mobil tamu tetangga depan rumah yang menghalangi jalan keluar mobilnya, kata-kata kasar yang menyulut makian, sampah yang dilempar sembarangan di depan rumah tetangga, anjing tetangga yang berkeliaran dan membuang kotoran di halaman orang lain, sampai hal paling sepele seperti air cucian mobil yang mengalir ke halaman tetangganya.
Jam pengaduan warga juga nyaris seperti hotline service. Benar-benar 24 jam. Sebuah pertengkaran bisa membuat pintu rumah kami diketuk jam 11 malam, dan suami saya mendengar argumentasi yang sulit diputus, sementara saya mendengar dengan gemas dari balik pintu kamar, kepingin berteriak, “Masa sih masalah begitu saja diributkan?!”
“Paling tidak, masalah yang terjadi hanya seputar tetangga saja, Yah,” saya berusaha menghibur, sementara suami mengiyakan. Eh, tapi ternyata kami salah besar.
Puluhan orang yang tak kami kenal dari berbagai desa mendatangi kami. Menanyakan salah seorang tetangga kami yang memang sudah berminggu-minggu tak terlihat di rumah. Tadinya kami mengira si tetangga sedang pergi karena ada pekerjaan di luar kota, tetapi ternyata orang-orang itu mencari tetangga kami karena mereka telah ditipu. Mereka meminjam uang beberapa juta pada tetangga kami dengan jaminan surat tanah, dan ternyata surat tanahnya dijadikan agunan di bank oleh tetangga kami dengan nilai puluhan kali lipat. Masalahnya, tetangga kami kini melarikan diri, jadi orang-orang itulah yang harus membayar hutang tetangga kami pada bank.
Karena urusan ini, hampir setiap hari orang datang ke rumah kami meski hanya sekedar mengurai kebingungan dengan berbicara dengan Pak RT. Tentu saja, lagi-lagi ketukan pintu di rumah kami tak kenal waktu. Meski begitu, suami saya tetap tak bisa berbuat apa-apa selain memberi foto kopi KTP tetangga kami, yang ternyata terbukti memiliki puluhan nama berbeda, entah bagaimana caranya.
Kesabaran juga dibutuhkan ketika harus menghadapi tetangga yang sulit, terutama dalam soal pembayaran.
“Saya tidak mau membayar kas sosial! Saya juga tidak mau membayar satpam! Saya tidak mempunyai anak balita, jadi saya tidak mau ditarik iuran untuk Posyandu! Saya tidak mau membayar apapun karena tagihan-tagihan ini telah mengganggu keuangan keluarga saya!” teriaknya berapi-api sambil menggebrak meja tamu di rumah bendahara RT, yang langsung lari untuk mengadukan ini kepada suami saya.
Sebagai Ketua RT, suami saya memberi kesempatan tetangga yang ini untuk menyampaikan keberatan pada saat pertemuan warga. “Iuran apapun, bukan Ketua RT yang menentukan, Pak, melainkan kesepakatan bersama dari warga. Satpam juga kita butuhkan untuk membantu kenyamanan dan keamanan lingkungan kita, bukan?”
“Saya tetap tidak mau membayar. Satpam tak perlu lewat di depan rumah saya!” katanya tetap dengan nada berapi-api.
Meskipun suami saya tetap bersabar, terus terang saja kalau boleh, pengen rasanya menggetok kepala tetangga itu. Bagaimana coba cara Satpam berkeliling perumahan kalau tidak boleh lewat di depan rumahnya? Begitu sampai di depan rumahnya, Satpam harus terbang, begitu ya? Antara ingin ketawa dan prihatin.