Ibu Tiri

Cerpen Majalah Ummi Februari 2016
Cerpen Majalah Ummi Februari 2016

 

Kertas sobekan buku tulis itu tergeletak begitu saja di meja makan. Niti yang baru saja kembali dari ladang tebu Madukismo senja itu, membaca tulisan Deni disana.

“Aku pergi. Nggak usah dicari.”

Begitu yang terbaca oleh Niti di tulisan tegak-tegak milik Deni.

Rasa khawatir mulai menyeruak saat Niti berhasil mencerna maksud tulisan itu. Ia segera pergi ke dapur, yang sekaligus adalah kamar Deni. Tak ada satupun pakaian Deni tergantung di atas dipan, dan sepiring lenthok [1]lauk makan malam menghilang.

“Ayik, Mas Deni bilang tidak kemana dia pergi?” Niti membuka tirai bilik dan menemukan Ayik anak perempuannya sedang berjongkok sambil memeluk tas sekolah barunya. Bahunya tersedu sedan berusaha meredam tangis agar tak terdengar.

“Kamu kenapa?” Niti meraih bahu Ayik. Tas di pelukan Ayik terlepas.

“Masya Allah!” pekik Niti sambil menutup mulutnya. Tas itu terkoyak-koyak. Niti paham sekarang penyebab lelehan air mata Ayik.

Niti berjongkok. “Mas Deni yang melakukan ini?” suaranya terdengar menuduh. Ia tak bermaksud melakukan itu, tetapi pikirannya langsung mengaitkan kepergian Deni dengan rusaknya tas Ayik.

Ayik mengangguk. Kali ini tangisnya pecah.

***

“Deni tidak ada di rumah teman-temannya,” ujar Wahir, ayah Deni. “Kemana dia sebenarnya?”

Niti tak berani menjawab. Suaminya tadi sudah naik pitam mendengar dugaan yang dilontarkannya, bahwa kemungkinan kepergian Deni adalah karena ia telah merusak tas Ayik.

“Kenapa Deni bisa merusak tas Ayik?” gumam Wahir geram.

Niti hanya menunduk, menatap kakinya yang berjari lebar dan pecah-pecah karena seharian berada di ladang.

“Kemungkinan Deni marah karena Ayik dibelikan tas baru, dan ia tidak,” Niti mengucapkan dugaannya tentang perasaan Deni, dengan ragu-ragu, siap menerima kemarahan suaminya. Continue reading

Aroma Kesedihan

cerpen ini pernah dimuat di majalah Femina. Tadinya judulnya Gadis Hujan, tapi karena dimuatnya bareng sama cerber mbak Ruwi Meita yang berjudul Tarian Hujan maka redaksi mengganti judul menjadi Aroma Kesedihan.

Barangkali hingga kini Naira tak pernah tahu kalau bayangannya menyisakan belenggu dalam kehidupanku. Kepergian Naira di senja kala itu seperti ujung belati yang siap menusukku berkali-kali, yang meskipun aku mati, belati itu tak akan berhenti menusukku. Tiap kali aku menoleh ke belakang atas sebab apapun, aku selalu merasa apapun yang kulihat akan tampak untuk terakhir kalinya bagiku. Seperti waktu itu.
Aku tak akan pernah lupa. Aku mengenal Naira sebagai Account Executive di kantorku. Tidak ada yang istimewa dengannya. Mungkin selamanya akan begitu, kalau saja pertemuan malam itu tak terjadi.
Malam itu, ketika aku keluar dari sebuah restoran Jepang, hujan turun dengan deras. Semua orang berlari menepi mencari perlindungan, kecuali seorang gadis yang berdiri di tengah derasnya timpahan hujan.
Kukira tadinya ia akan berlari menepi menghindari ribuan tusukan, tapi ternyata tidak. Ia justru menengadahkan wajahnya menantang langit. Membiarkan semua membasahi hingga mata kaki. Ia tak berusaha merapatkan jaket suedenya, seolah berusaha agar jumpsuit di dalamnya ikut basah lebih cepat. Dari belakang ia tampak seperti seorang yang berniat terjun dari bibir jurang.
Entah kenapa pikiran itu yang menyelinap di benakku. Membuat perutku melilit dan jantungku berhenti berdetak. Antara ingin berteriak menahannya, atau diam-diam mendatangi dan memeluknya dari belakang. Pikiran ini membuatku gila.
Aku tak tahan melihatnya, dan mulai berjalan ke arahnya dengan berbekal payung. Sungguh ini bukan karena aku lelaki sok romantis. Aku bahkan saat itu tak merasa mengenalnya. Semua kulakukan lebih karena aku kesal dan khawatir melihat kekeraskepalaannya.
“Kurasa payung ini tak ada gunanya untukmu,” sesalku tiba-tiba, merasa bodoh karena menaungkan payung di atas kepala seseorang yang sepenuhnya telah kuyup. Aku menoleh menatapnya, dan terkejut saat menyadari kalau ia adalah Naira.
Meski kaget karena tiba-tiba Manager HRD yang selama ini hanya ditemuinya di kantor berdiri di bawah payung berdua dengannya, ia menoleh ke arahku tanpa suara. Di bawah cahaya lampu jalanan harus kuakui ia sangat cantik. Wajahnya lembut, dengan sepasang mata yang menatap tenang. Entah kenapa aku baru menyadarinya sekarang.
“Malam ini aku sedang membutuhkan hujan. Sendirian.” Ia berkata lirih, namun tegas.
Aku pasti tersihir, karena ketika ia seolah mengusirku, aku justru berkata, “Aku juga sedang membutuhkan hujan,” ujarku. Melipat payung dan menjejalkannya ke dalam ranselku.
Ia tak menatapku, tak berbicara lagi padaku, tak juga menolakku. Hanya membawa langkahnya menyusuri setapak basah di luar jalur trotoar. Sementara aku mengikutinya dari belakang, sambil menimbang apa yang sebaiknya kulakukan atau kukatakan. Lalu aku memilih untuk berhenti, dan mengikutinya dari pandangan hingga ia menghilang.
Tapi itulah awal kedekatan kami. Kedekatan yang tercipta dari senyum, anggukan sopan, obrolan-obrolan sederhana di sela jam makan siang, yang tak terasa telah berlangsung selama dua bulan.
Kali kedua aku berada di restoran Jepang itu, aku telah duduk disana bersama Naira.
“Aku benci wasabi,” ujarnya sebelum sashiminya datang.
“Uap senyawa dalam wasabi bisa membangunkan orang yang kehilangan kesadaran,” aku terkekeh.
Ia hanya tersenyum kecil.
Menatap wajah Naira hatiku bergetar. Wajah itu selalu menampilkan ekspresi tak terbaca, yang bagiku justru seperti sebuah pusaran yang menyedotku ke sebuah petualangan jiwa yang tak bisa kutebak.
Malam itu di luar hujan sedang menderas. Tiba-tiba hujan itu mengingatkanku pada gadis yang berdiri di bawahnya dua bulan yang lalu. Ingatan itu membuatku ingin merengkuhnya.
Seperti ada dorongan tak terbendung dari dalam diriku, berkata tanpa tahu malu, “Hujan yang turun selalu mengingatkanku padamu. Ingatan barangkali alat pembunuh terkejam yang diciptakan Tuhan, karena entah kenapa aku selalu merasa tak berdaya saat ingatan ini tentangmu.”
Ia sepertinya diciptakan dari bongkahan gunung es, atau tebing batu karang. Karena ia hanya tersenyum kecil seolah terbiasa mendengar setiap lelaki yang ditemuinya melontarkan rayuan untuknya dimana saja.
Aku tertegun dan hendak memperbaiki sikapku yang mungkin terkesan kurangajar dan membuatnya salah paham, ketika tiba-tiba handphonenya menderingkan lagu Endless Love. Pada seseorang di seberang, ia berbicara dengan nada patuh, menjelaskan posisinya, meminta maaf, dan kembali memasukkan handphone ke dalam tas selempang rajutnya.
Aku menduga dengan tak suka, mungkin kekasihnya yang menanyakan keberadaannya. Menanti kedatangannya dengan gelisah dan cemas.
Aku memalingkan wajah ke atas. Berpura-pura sangat tertarik memandangi langit-langit restoran. Lalu kudengar dia berkata dengan suaranya yang ringan. “Seandainya saja aku bisa terus bersamamu…”
Kata-katanya terdengar seperti paduan orkestra di panggung yang megah. Hingga aku bisa mengingat detik-detik ketika ia mengucapkannya telah membuat kegelisahanku terurai seketika. Sejak itu namanya sering kusebut diam-diam saat malam-malam berdetak panjang.
“Menurutmu, kenapa manusia harus menjalani keberadaannya di dunia?” Naira tiba-tiba bertanya pada suatu senja. Kami berdua memutuskan berjalan kaki sepulang jam kantor. Sebelum perempatan di depan ada sebuah bangku panjang berwarna hijau tepat di tepi taman. Jika kami beruntung, mungkin kami bisa duduk disana untuk berbicara apa saja.
“Jackpot! Bangku itu kosong!” kuraih telapak tangannya dan membawanya berlari kecil mengejar bangku yang duduk anggun menunggu kedatangan kami. Aku sangat gembira mendapati bangku ini lengang.
“Kau tak menjawab pertanyaanku,” setengah merutuk, setengah terengah karena berlari, ia menuntut jawabanku.
“Kurasa manusia harus menjalani hidupnya untuk menyempurnakan kesadaran dirinya,” ujarku.
Naira menghela nafas lirih. “Lalu jika ada seseorang tak bahagia, apakah berarti kesadaran dirinya tak sempurna?”
“Aku tak yakin,” aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Dalam pembicaraan ini aku menangkap matanya yang luka. Luka yang tak kuketahui darimana asalnya. Dan aku ingin pembicaraan ini segera beralih langsung ke inti pembicaraan saja.
Maka aku berkata, “Seorang filsuf bernama Heidegger mengatakan setiap bayi yang lahir membawa kesadaran akan kematiannya. Karena justru kematian seseorang yang membuatnya bermakna dan membawanya pada kebahagiaan.”
“Berarti Heidegger keliru,” gumamnya. “Aku tak ingin mati untuk mendapatkan kebahagiaan. Aku ingin hidup dan bahagia di dalamnya.”
“Kau bahagia, bukan?” tanyaku canggung. Merasa terpojok tiba-tiba karena merasa tak benar-benar mengenalnya.
Naira menatap ke arahku. Lekat. Sebelum akhirnya setetes air matanya jatuh di pipi kiri, lalu setetes lagi di pipi kanan. “Kalau aku bahagia, aku tak perlu menangis di bawah hujan saat itu agar tak seorangpun tahu.” Suaranya berderak pelan, dan pecah perlahan.
Tanganku mengusap pipinya lembut. Merengkuhnya sedekat mungkin. Memasukkannya dalam sendi hidupku. Memeluknya membuatku membaca lukanya, membuatku merasa tertikam luka yang sama. Tapi anehnya, di saat yang sama aku menyadari kalau pelukan ini tak akan meredakan apapun. Semua tak akan berubah.
“Kita tak bisa bersama lagi,” suaranya patah. “Aku akan menikah dengan orang lain.”
“Jangan lakukan itu, Naira.” Aku mempererat pelukanku. Panik.
Ia menggeleng kukuh. Wajahnya basah oleh air mata. “Aku harus melakukannya demi orangtuaku. Mereka lebih penting dari diriku, atau dirimu.”
Didorongnya dadaku menjauh. Dada yang kini terasa berderai lepas karena ia berkata, “Jangan jatuh cinta padaku.”
“Aku tak akan jatuh cinta padamu. Aku hanya akan berdiri di tempat yang sama, mencintaimu dengan caraku. Karena bagiku mencintai adalah menjadi sesuatu bagi orang yang dicintainya. Bukannya jatuh, karena jatuh berarti bisa berdiri, melangkah lagi, dan pergi.”
Ia tak berkata apa-apa. Hanya mengusap sisa air matanya, dan membiarkanku menatap punggungnya yang menjauh pergi.
Sehelai daun jatuh di bawah kakiku. Aku menatap kosong.
***
Naira resign dari kantor keesokan paginya, dan menutup seluruh kemungkinanku mendekatinya. Sampai tiga tahun kemudian suaranya mendesak di telepon.
“Temui aku,” nafasnya patah-patah.
Tubuhku menegang. Untuknya, aku masih lelaki yang sama dengan diriku dulu. Seolah memang begitulah yang telah ditulis dalam buku nasib, tiap pertemuan bersama Naira adalah saat langit membuka dan menderaskan air yang menghujan bumi.
Dihadapanku, Naira berdiri seperti sebatang pohon yang melengkung setelah badai menerpa. Hatiku teriris melihatnya. Ia tak lagi sama dengan Naira yang pertama kali kulihat menantang hujan. Ia berbeda dengan Naira yang membuatku mengira terbuat dari bongkahan gunung es atau tebing batu karang.
Ia menunduk sambil mengusap perutnya dengan lembut.
Aku menunduk ke arah yang sama dan menyadari kalau lengkungan tubuhnya mungkin karena bebannya pada bagian tubuh yang dielusnya.
“Ada apa?” suaraku terdengar cemas. Aku sendiri merasa tak sabar atas sikapku. Aku ingin segera tahu apa yang terjadi. Begitu Naira menutup teleponnya tadi, aku melesat seolah terbang ke tempat ini.
Naira menatapku dengan wajahnya yang bergurat, dan cekungan dalam di bawah matanya.
“Aku akan mengatakan padanya kalau ini sudah berakhir.” Naira mengatakannya perlahan, seolah aku tak akan memahaminya jika ia berkata lebih cepat.
“Aku wanita yang punya harga diri! Aku tak akan membiarkan diriku terus berada bersamanya. Aku manusia yang ingin bahagia.” Naira menegaskan kata-katanya, dan mengulanginya beberapa kali. Tubuhnya gemetar. “Entah kenapa aku merasa harus mengatakannya padamu,” isaknya, “kurasa aku hanya membutuhkan kekuatan.”
Aku memegang kedua lengannya dan mengangguk untuk menguatkannya. “Ya. Lakukan apapun yang kau inginkan, Naira. Apapun…” ujarku.
“Aku tak ingin bayiku tumbuh bersama seorang ayah yang penyiksa,” suaranya parau dan bergelombang. Kedua matanya basah dipenuhi air mata. Namun, tak sedikitpun ia terlihat lemah di hadapanku.
Aku terkejut, tapi mulai memahami situasinya.
Di dalam mobil yang kubawa, aku berkali-kali mencuri pandang melalui sudut mata kiriku. Menelusuri wajah cekung Naira yang telah bertekad bulat. Hatiku terasa nyeri memandanginya. Seandainya saja aku berjuang lebih keras dulu untuk mendapatkannya.
“Aku akan mengakhiri segalanya saat kami bertemu nanti,” ucapnya dingin.
Aku mendengarkan.
“Aku memutuskan ini karena aku tak pernah memercayai kata-kata filsuf yang kau ucapkan dulu,” sambungnya.
“Filsuf?” Aku sedikit tercengang. Tak siap akan pembicaraan ini.
“Bahwa kematian seseoranglah yang membuat dirinya bermakna dan membawanya pada kebahagiaan,” ia berkata, “Heidegger bodoh itu.”
Aku tertawa kecil. “Ya, aku senang karena kau tak memercayainya. Tapi Heidegger tak bodoh.”
Naira tersenyum kecil. Ia selalu tersenyum sekecil itu seingatku.
Melihatnya begitu rapuh, rasanya aku ingin menangis keras-keras jika saja ia tak sedang berada di sampingku.
“Naira,” suaraku berderak tanpa bisa kutahan.
Naira menoleh. Menunggu.
“Kau tahu, aku tetap berdiri di tempat yang sama, untukmu.”
“Jangan… mencintaiku,” jawabnya tercekat. Ia mengusap perutnya seolah mencari kekuatan.
“Jangan menghalangi jalanku lagi, Naira. Jangan!”
“Aku akan menyelesaikan ini dulu,” suaranya melembut. Menahanku.
Hujan di senja itu mereda. Dari kaca spion aku melihat punggungnya menghadapku, menjauh. Saat aku menoleh ke belakang, ia telah berbelok masuk ke sebuah gang.
***
Tanah basah. Hujan selalu menguarkan bau khas yang sejak kini kunamai dengan aroma kesedihan. Sejak pertemuan terakhirku dengannya, hingga kini aku masih mengutuki kenyataan diriku yang lemah dan tak mampu menjadi lelakinya.
Tahukah ia kalau selama ini ia telah menghunjamku dengan telak melalui kata-katanya, “Jangan mencintaiku…”
Karena dengan kata-kata itu ia telah mendorongku menjauh sebelum aku berhasil mendekat. Ia membuatku bersimpuh pada tanah merah pusaranya, dan menangis sejadinya menyesali banyak ketidakbecusanku memperjuangkan cinta.
Seandainya saja ia tak bertemu lelaki itu lebih dulu, seandainya saja aku berani menyambar tangannya dan berlari menjauhi segala penderitaannya.
Seandainya saja aku tak mengijinkannya keluar dari mobilku, seandainya saja aku tahu apa yang akan terjadi dan melindunginya dari mata pisau suaminya… Seandainya saja aku adalah lelaki yang lebih baik dari diriku sekarang.
Aku tak pernah tahu apakah belenggu di hatiku ini bisa lepas.
Aku merasa begitu sendiri. Sementara hujan di luar menderas. Kali ini tanpa kehadiran Naira.

Reuni

(Cerpen ini dimuat di majalah Femina no 8/2015)

Risti melihat sekilas jam digital di layar handphonenya. Masih kurang 10 menit dari jam yang disepakati untuk berkumpul di tempat ini. Sebuah restoran yang sarat ornamen tradisional Jawa milik seorang pangeran, di sebelah barat keraton Yogya. Beberapa teman saat kuliah di Fakultas Fisipol UGM memutuskan untuk berkumpul di restoran ini.
“Sudah sepuluh tahun kita tidak saling bertemu lho, Ris. Ayo dong, cari tempat makan yang enak dan khas Yogya buat bernostalgia,” usul Ari di grup WhatSapp.
Tujuh orang menyetujui, dan minggu lalu Risti menelepon restoran Jawa ini untuk memesan tempat untuk hari ini.
Yola datang bersama suaminya Wahyu. Mereka berdua adalah salah satu teman yang menikah dengan teman seangkatan. Ari, Yani, Dio, dan Eka, menyusul hanya selang dua menit dari Yola dan Wahyu. Risti tersenyum lebar menyambut mereka.
“Kalian tepat waktu,” ucapnya senang. Dipeluknya Yola dan Yani erat.
“Risti, kamu masih cantik banget kayak dulu. Ya kan, Yan?” cubit Yola pada pipi Risti sambil menoleh pada Yani. Yani tersenyum mengiyakan.
“Aku hanya masih cantik, tapi kalian berdua makin cantik,” balas Risti tertawa, sambil menyilakan Eka, Dio, Ari, dan Wahyu untuk duduk.
Royal secang dingin tersaji pertama untuk mereka. Minuman dingin yang bercampur dengan rasa hangat jahe di dalam secang memberikan sensasi yang menenangkan Risti, terlebih ketika Ari tiba-tiba bertanya. “Hanya tujuh orang saja yang bisa datang?”
“Yang lain tak sempat,” jawab Risti buru-buru. “Perjalanan Ke Yogya di luar waktu libur sulit dilakukan.”
Yang lain mengangguk mengerti.
Satu orang lagi yang sempat datang justru tak kuundang ke tempat ini, batin Risti.
Pramusaji mengantarkan tujuh piring panekuk karamel, sementara Eka bertanya, “Berapa anakmu sekarang, Ris?”
“Risti sudah punya tiga anak,” sahut Yola. “Justru kami yang belum. Kepingin sekali rasanya. Sudah 5 tahun kami menikah dan belum juga diberikan keturunan.”
Wahyu mengangguk. “Aku sudah membawa Yola ke Singapura untuk cek kesehatan. Mereka juga berkata tak ada masalah.”
“Mungkin Yola kelelahan. Jam kerja presenter televisi kan padat sekali,” sambung Dio, yang disusul anggukan Wahyu.
“Semoga Tuhan memberi kalian kemudahan,” Yani, teman Risti yang sekarang menjadi penulis novel, berkata lembut. “Aku harus menunggu 6 tahun sebelum mendapatkan dua anak kembar melalui bayi tabung di Surabaya. Tabunganku habis untuk biaya bayi tabung, tapi memiliki anak benar-benar anugerah.” Mata Yani berbinar menatap teman-temannya.
Risti memotong panekuknya lambat-lambat. Suaminya pernah berkata kalau ia terlalu sering memarahi anak-anak karena alasan kedisiplinan. Setiap kali Risti selalu bersikeras bahwa suaminyalah yang terlalu penyabar, dan akhirnya bisa dimanfaatkan oleh anak-anak.
“Menjadi Ibu adalah sebuah pelajaran mengenai lautan kesabaran yang tak boleh habis terutama saat buah hatinya masih kanak-kanak. Sebab hanya di dalam lautan kesabaran itu mereka berlindung, dan belajar untuk menjadi manusia yang lebih baik dari kedua orangtuanya,” begitu suaminya selalu berkata.
Perasaan sesal menyelinap tiba-tiba di hati Risti. Anak-anak begitu cepat lahir setelah pernikahan mereka. Rumah yang masih mengontrak, ia yang mendadak diberhentikan beberapa bulan yang lalu dari department store tempatnya bekerja dengan alasan perampingan pegawai, uang yang tak pernah tersisa banyak, membuat semua tekanan meningkat hingga titik kulminasi tertinggi. Hampir setiap kali ketiga anaknya yang menjadi korban. Tak pernah terbayangkan olehnya kalau dirinyalah yang dipilih Tuhan, seperti Yola dan Yani yang begitu sulit untuk mendapatkan keturunan.
Jika begitu, mampukah Risti dan suaminya mengikuti program bayi tabung seharga ratusan juta? Yani berkata, tabungannya habis untuk itu. Sementara Risti? Tabungannya tak pernah lebih dari 2 juta. Selalu saja habis untuk segala tetek bengek ini dan itu.
“Eka sudah nikah kan?” tanya Dio tiba-tiba sambil menatap Eka, dosen Sosiologi yang memang pendiam. “Katanya kamu pacaran sama gadis Perancis saat ambil S2 di Sorbonne?”
Eka terbahak. “Itu gosip! Belum ada yang sreg di hati,” katanya sambil menatap sup bola daging yang baru saja diletakkan pramusaji di depannya.
Semua lantas riuh menanggapi. Eka yang introvert mengingatkan Risti pada suaminya. Kalau saja bukan dia yang menanyakan hubungan mereka berdua, Risti tak yakin apakah dulu suaminya bisa melamarnya.
“Kalau saja seorang istri bisa diusahakan juga melalui tabung, aku ikut dengan Yani ke Surabaya,” canda Eka, membuat semua tertawa mendengarnya.
Pembicaraan beralih ke pekerjaan Dio ketika pramusaji membawa Nasi Blawong lengkap dengan lauk baceman ke meja mereka. Dio memiliki sebuah agen travel besar yang melayani tour dalam dan luar negeri.
“Ari dan istrinya jadi pelanggan setiaku,” Dio tersenyum lebar.
“Tetap saja mahal,” sungut Ari.
“Ah, sepertinya tak ada yang mahal untuk politikus besar seperti kau,” Dio tersenyum. “Lagipula aku hanya ambil sedikit untung.”
Perjalanan ke luar negeri lantas menjadi topik pembicaraan mereka. Risti mengais nasi di piringnya dengan hati tak nyaman saat Yola dan Wahyu mulai bertanya tentang biaya visa yang harus dikeluarkan kalau mereka hendak berlibur ke Australia.
Teringat oleh Risti percakapan suatu pagi bersama suaminya. “Kapan kita pergi menengok Mama?” Yang dimaksud Risti adalah ibunya yang tinggal seorang diri di Ternate sejak kepergian Papa.
Suaminya hanya mengangguk sambil menekuri hasil ulangan harian murid-muridnya. Lalu ditatapnya wajah Risti. “Kita kumpulkan dulu uangnya ya, Ris.”
Tapi Risti tahu, uang yang mereka kumpulkan tak pernah menganak sungai melainkan hanya sebatas kucuran talang yang baru bisa menjadi tadah saat hujan.
Risti tak pernah mengeluh meski rindunya pada Mama harus puas sebatas mendengar suara beliau di telepon. Meski begitu, tak urung hati Risti begitu perih saat berhadapan dengan Yola dan Wahyu yang dengan santai mengirimkan uang 3,5 juta ke rekening Dio hanya untuk visa keberangkatan mereka ke Australia.
“Kami ikut agen travel kamu, deh. Liburan sekalian bulan madu,” putus Yola dengan suara berseri setelah setuju dengan angka yang diajukan oleh Dio, yang bagi Risti itu seperti kepulangannya 10 kali bolak-balik ke Ternate bersama suami dan ketiga anaknya dengan pesawat.
“Kalau suamimu, darimana asalnya Ris?” Eka tiba-tiba bertanya.
Risti yang tengah menyendokkan sambal goreng guramehnya, tergagap menaruh kembali sendoknya.
“Gombong.”
“Gombong?” tanya Yani. “Kamu pernah cerita suamimu guru SD kan?”
Risti hendak mengiyakan ketika tiba-tiba Ari menyambar. “Kalau dengar Gombong, aku jadi ingat dengan teman seangkatan kita, Mudi.”
“Mudi yang mana sih?” Yola mengerutkan kening.
“Halaah… itu, yang orangnya pendek tapi badannya kekar di bagian bahu. Kayak Hulk,” Wahyu mengingatkan sambil menyenggol bahu istrinya setengah mencandai, “sama mantan pacar sendiri lupa.”
Tawa meledak di sekitar telinga Risti yang ikut mengulas senyum tipis.
“Aku agak lupa,” Yani berusaha mengingat. “Apakah Mudi orangnya sangat pendiam?”
Eka mengangguk. “Ya, setahuku Mudi sangat pendiam. Setelah lulus dari Fisipol UGM aku tak pernah lagi bertemu dengannya. Mungkin sekarang ia kembali ke Gombong.”
“Kurasa Mudi bukan pendiam, tapi ia sering diam karena logat bicaranya yang lain. Pertama kali masuk ruang kuliah dia mengenalkan dirinya dengan sebutan inyong. Semua tertawa terpingkal-pingkal waktu itu,” cetus Ari.
“Tapi lama-lama dia bisa menyesuaikan diri, kok,” sahut Eka lagi.
“Kalau soal logat sih biasa. UGM memang jadi tempat berkumpul mahasiswa dari seluruh Indonesia. Yang lucu justru saat Mudi naksir Risti,” cetus Dio.
Semua tertawa menatap Risti yang tengah meminum Royal Secangnya lambat-lambat.
“Oh, aku ingat. Mudi yang sering pakai celana merah marun lusuh itu kan?” seru Yani senang berhasil mengingat.
Ari mengiyakan sambil terus tertawa.
“Mudi memang terlalu berani, bahkan nyaris tidak tahu diri,” sambung Dio. “Bayangkan saja, selain sama sekali tidak fashionable, Mudi sama sekali tidak ganteng. Tapi nyalinya besar untuk naksir Risti, yang menurutku paling cantik seangkatan kita.”
“Untunglah Risti kita baik hati dan tak menolaknya dengan kasar,” sambung Eka lagi sambil tersenyum ke arah Risti.
“Kok diam saja sih Ris? Terkenang dengan pesona Mudi ya?” ledek Wahyu yang disambung tawa lainnya.
Risti meletakkan sendoknya begitu saja. Nasi Blawong di hadapannya tak terlalu cocok dengan lidahnya. Sebenarnya ia tadi hendak memilih memesan Nasi Punar yang lebih mirip dengan nasi uduk, tetapi entahlah, Risti tak yakin apakah Nasi Punar juga akan bisa dimakannya dengan baik saat ini.
“Mudi orang yang baik. Aku tak berniat menyakitinya,” ujarnya pelan.
Kata-kata Risti tak membuat teman-temannya berhenti mengolok-olok Mudi. Risti tak menyalahkan mereka. Mudi memang seorang lelaki yang lugu dan polos saat itu. Meski ia sangat jujur, dan sesungguhnya juga sangat bijaksana, tetapi Risti tahu, untuk sekedar bahan gurauan, kejujuran dan kebijaksanaan Mudi adalah hal terakhir yang akan mereka bahas.
Seorang pramusaji datang membawakan hidangan penutup. Seporsi Manuk Nom. Resep puding Jawa milik dapur keraton, tape ketan hijau yang dikukus bersama kocokan telur, vanili, dan gula, lalu disajikan bersama sepasang emping melinjo yang dipasang di kiri kanan seolah sayap seekor burung.
Kedatangan Manuk Nom sesaat menghentikan pembicaraan mereka tentang Mudi.
Pada suapan pertama puding dingin itu memasuki rongga mulutnya, Risti tiba-tiba teringat suaminya pernah berkata. “Bagiku kau seperti seekor burung yang bebas terbang dan tak terjangkau. Tapi aku yakin, setiap burung yang terbang paling tinggi sekalipun akan membutuhkan rumah untuk pulang. Aku berusaha keras menjadi rumah untukmu, dan sangat bersyukur ketika kau menerima bahwa akulah rumahmu.”
Risti memotong Manuk Nom di piring kecilnya dengan lembut. Sebenarnya ia tak terlalu suka dengan rasa tape ketan yang tajam. Tapi di dalam puding telur ini rasa tajam itu tersamarkan. Mengingatkan dirinya dan suaminya yang begitu berbeda dalam semua. Kecuali cinta.
Sekilas Risti menatap teman-temannya. Di hadapan Manuk Nom masing-masing hening seolah memikirkan pusat nuraninya sendiri, yang bagai seekor burung muda terbang mencari hakikat diri. Yola si presenter dan Wahyu suaminya, Eka si dosen, Dio si pengusaha travel, Ari si politikus, Yani si penulis, dan dirinya sendiri.
Mungkin saja, seperti dirinya yang sesak, teman-temannya juga punya kesesakan serupa dalam hidup. Tapi hidup tak boleh hanya sekedar hidup. Semua harus dijalani dengan cara terbang tinggi. Semakin tinggi.
Potongan terakhir Manuk Nom di piring masing-masing, dengan pikiran yang tak terjangkau oleh benak yang lain. Risti hanya tahu yang ada di benaknya sendiri.
Mulai detik ini ia tak boleh diam. Ia akan bekerja lagi, lalu menjadi ibu yang menjadi lautan kesabaran, dan terutama…menjadi istri yang bangga pada suaminya. Reuni ini harus membuatnya menjadi manusia yang lebih baik.
Risti melihat jam digital di layar handphonenya. Tak terasa, reuni kecil ini memakan waktu hampir 2 jam. Sebuah panggilan masuk, dan Risti berbicara sebentar.
“Aku harus pulang. Mudi menungguku di rumah,” ujarnya tersenyum.
“Mudi? Mudi yang kita bicarakan dari tadi? Kenapa ia tiba-tiba menunggumu di rumah?” Dio bertanya.
Di tengah keheranan luar biasa dari teman-temannya, senyum Risti mengembang. “Karena ia, suamiku.”