Uji Nyali di Rumah Sendiri

Rumah yang kutempati sejak kecil sampai sebelum menikah, adalah sebuah rumah joglo kuno di Kotagede yang dibangun tahun 1864. Banyak orang menganggap rumah kuno menyeramkan. Bukannya menolak anggapan itu, tapi bagiku yang tinggal di dalamnya mau tidak mau akhirnya terbiasa juga.

Kata kakekku, semua makhluk hidup berdampingan. Nah, mungkin saking akrabnya, makhluk lain penghuni rumah joglo itu ikut mengingatkan shalat saat waktu Maghrib tiba. Kalau yang belum shalat ada dua orang, jendela di ruang bernama senthong tengen, akan terbanting dengan sendirinya sebanyak dua kali. Kalau yang belum shalat ada tiga orang, ya terbantingnya tiga kali, dan seterusnya. Bagi yang nggak terbiasa pasti akan terbirit-birit ketakutan, tapi nyatanya kami bisa menerima cara mengingatkan yang cukup aneh itu sebagai kenyataan. Aku menyebutnya uji nyali

Makhluk lain ini juga senang bercanda.

Aku ingat dulu saat masih remaja, tiduran di atas tempat tidur sambil mendengarkan lagu Tommy Page Shoulder to Cry On dengan volume pol.

Everyone need… a shoulder to cry on..

Everyone need… a friend to rely on…

Aku ikut bernyanyi keras-keras ketika tiba-tiba tempat tidurku bergoyang. Refleks aku melihat ke arah lampu untuk memastikan apakah yang barusan karena gempa atau bukan. Tapi ternyata lampu tak bergerak sedikitpun.

“Wah, ada yang usil nih,” pikirku sambil melongok ke bawah tempat tidur, yakin banget kalau adikku akan kutemukan sedang meringis di kolong. Tapi ternyata tidak ada seorangpun disana.

Aku mulai was-was. Sambil melompat turun dari tempat tidur, aku mencoba menggoyangkan sendiri tempat tidur itu agar aku bisa mengetahui sejauh mana goyangan yang bisa kubuat. Ternyata? Tempat tidur kayu jati itu tidak bergeser sedikitpun saat kugoyangkan.

Jangan ditanya merindingnya bulu kudukku saat itu. Aku langsung lari tunggang langgang meninggalkan Tommy Page menyanyi sendirian. Oke deh, aku memang menganggapnya bercanda setelah kejadian itu lewat dua puluh tahun kemudian. Tapi saat itu tentu aku sangat ketakutan.

Keisengan makhluk lain ini, nggak terbatas pada penghuni rumah, tetapi juga tamu-tamu yang menginap. Yang paling sering adalah, tengah malam si tamu akan bangun karena mendengar suara-suara riuh orang-orang sedang berkumpul di pendopo. Seperti sebuah pertemuan besar. Nah, kalau si tamu berjalan ke arah pendopo maka yang didapatinya adalah pendopo gelap, lengang, dan tentu saja tak ada pertemuan apapun yang sedang berlangsung.

Takut? Herannya tidak. Semua tamu yang kami interogasi setelahnya hanya mengaku merinding sedikit, tetapi ya sudah, cuma begitu saja dan kembali tidur lagi seperti nggak terjadi apa-apa.

Teman-teman masa kecilku, juga menjadi saksi kalau makhluk lain yang tinggal di rumah ini tidak menyeramkan. Tapi tetap saja teman-temanku tak suka dengan mereka. Lho, kenapa? Tentu saja, karena dengan adanya makhluk lain ini, nggak ada yang bisa mengambil jambu air, mangga, jambu monyet, dan buah lain tanpa ijin, karena setiap ada anak yang berusaha mengambil tanpa ijin, sudah pasti makhluk lain ini menimpuki kepala mereka dengan buah-buahan itu tanpa ampun.

Setelah menikah, aku tidak lagi tinggal disana. Kami berdua membeli rumah di desa kecil beberapa kilometer dari Yogyakarta. Rumah kami berarsitektur modern minimalis, pokoknya jauuh dari gaya rumah joglo yang rumit dan berkesan tua. Tapi apakah dengan pindah ke rumah baru, makhluk lain menjadi bagian dari masa lalu? Ternyata nggak samasekali.

Seminggu pertama setelah pindah, aku mulai mendengar suara kaki anak kecil berlarian berkeliling rumah. Kukira tadinya aku yang salah dengar, karena waktu aku menanyakannya pada suamiku, dia menggeleng. “Aku nggak dengar apa-apa tuh.” Oh, baiklah. Jadi hanya aku saja yang mendengar.

Uji nyali yang kupikir akan berhenti setelah tak lagi tinggal di rumah joglo tua berusia lebih dari seabad, pupus sudah. Bukan hanya suara kaki kecil berlarian, tetapi juga suara desah nafas saat tak ada seorangpun di rumah selain aku, dan… yang terakhir, tempat tidurku di rumah ini bergoyang saat aku mendengarkan lagi lagu Shoulder to Cry On nya Tommy Page. Entah apa yang dipikirkan makhluk-makhluk lain itu, aku benar-benar tidak tahu.

Sesekali aku masih pulang ke Kotagede. Dan meski tak ada seorangpun disana, aku akan mengucap salam. Karena pernah sekali aku datang tanpa salam dan mengambil piring-piring almarhum ibu, sampai di halaman kedua spion sepeda motorku sudah berbalik arah 180 derajat ke arah depan.

Takut? Tidak juga.

Merinding? Hampir pasti. Tapi bagaimana lagi, aku kan menyebut ini sebagai uji nyali.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s