Gado-Gado Femina_Memasak

Ini tulisan lama sebenarnya. Dimuat di majalah Femina no 25/Juni/2014. Anehnya, tulisan ini kok dimuat di bulan Juni, bulan ulang tahun pernikahan saya dan ayahnya anak-anak. Jadi ya…geli sendiri mengingat betapa kacaunya masa lalu saya dalam hal perdapuran. Hahaha…

Ini ceritanya….

Jika melihat bagaimana lahapnya anak-anak saya menyantap semua hidangan yang saya masak untuk mereka, atau mendengar pujian suami pada masakan saya, atau menjawab teman-teman yang menanyakan resep hidangan arisan yang saya buat, tak seorangpun yang mengenal saya saat ini percaya kalau dulu saya tak bisa memasak apapun selain merebus air.
Suami saya salah satu saksi kalau kata-kata saya benar.
Pernah dulu sebelum menikah, dia mampir ke rumah. Waktu saya tanya apakah dia sudah makan, dia menjawab belum. Demi harga diri, saya bilang akan membuatkannya telur dadar isi bayam. Kedengarannya itu cukup keren kan untuk lauk sarapan?
Ibu menanam sayur-sayuran di kebun belakang, jadi saya segera pergi kesana untuk memetik beberapa helai daun bayam. Setelah mendapatkan daun bayam, sayapun pergi ke dapur dan mulai mencucinya.
“Buat apa daunnya?” tanya Ibu tiba-tiba.
“Telur dadar isi bayam,” jawab saya pe-de.
Ibu membelalakkan mata. Kelihatannya sangat terkejut. Tentu dong, Ibu pasti berpikir kalau anak gadisnya begitu terampil dan kreatif memikirkan isian untuk telur dadar calon suaminya, batin saya ge-er. Tapi cuping hidung yang tadinya mengembang mendadak kempis seketika saat Ibu tertawa geli. “Aduh, Niar. Itu bukan daun bayam, itu daun…terong.”
Astaga. Saya hanya melongo. Masa sih? Beneran ya ini daun terong? Belum lagi tawa Ibu langsung disambar dengan semangat oleh suami saya yang saat itu masih calon suami. “Mau ngeracun aku deh kayaknya,” sindirnya sambil tertawa tergelak-gelak.
Fiuh…malu itu jelas. Tapi saya bukan jenis orang yang mudah patah karena ditertawakan.
Apakah setelah insiden daun terong itu saya lantas turun ke dapur untuk belajar? Oh, tidak. Sejak kecil saya diajarkan untuk belajar dari buku, jadi yang saya buka pertama kali adalah buku.
Saya belajar mengenali jenis-jenis minyak, jenis-jenis terigu, jenis-jenis sayuran dan cara mengolahnya, belajar tentang semua jenis lauk pauk dan cara mengolahnya, jenis-jenis masakan berbagai negara dan deskripsi mengenai rasanya, dan sebagainya. Bagi orang lain mungkin itu sangat berlebihan, tetapi bagi saya pengetahuan dasar akan membuat kepercayaan diri untuk memulai menjadi lebih besar.
Saya mulai belajar mengikuti resep dengan teliti dan mencobanya. Tetapi kadang karena di resep hanya disebutkan urutannya dan tidak disebutkan waktunya, saya pernah memasukkan daging ayam dengan jarak hanya 3 menit dari saya memasukkan sayuran ketika membuat sup. Dengan jengkel saya terpaksa melihat daging ayam kampung yang masih sangat liat bercampur dengan sayuran yang telah hancur di dalam kuah sup.
Jumlah minyak goreng yang dituangkan juga tak pernah disebut dengan rinci di dalam resep, sehingga saya pernah membuat nasi goreng dengan jumlah minyak yang sama seperti saya menggoreng tempe.
Jangan ditanya kalau sedang menggoreng ikan. Pertama kali saya tahu kalau ikan dan cumi-cumi bisa meletus ketika digoreng, saya lari untuk mengambil helm dan handuk untuk melindungi wajah dan badan dari cipratan minyak. Oke, saya tahu kalau itu sangat konyol. Tapi pada dasarnya saya sangat ketakutan, dan tak seorangpun menyadari bahwa dapur adalah salah satu tempat yang sama berbahayanya dengan jalan raya, atau bahkan medan perang.
Tak hanya sekali atau dua kali saya merusakkan bahan makanan. Saya memecahkan 6 butir telur saat memasukkannya dalam air mendidih karena tak tahu kalau suhu telur yang dingin dari kulkas tak bisa menahan panasnya air mendidih. Saya membuang kelapa yang saya parut sampai lecet-lecet karena tak tahu kalau kelapa parut tak tahan berada di suhu ruang terlalu lama. Saya membuang semangkuk besar gulai ikan karena lupa mengeluarkan kotoran dari daging ikannya. Saya memasak nasi seperti bubur, atau sebaliknya masih seperti kerikil. Dan masih banyak lagi.
Mungkin karena jengkel, saya mulai mencicipi bumbu-bumbu mentah untuk mengetahui rasa dasarnya, dan tanpa diduga itu sangat berguna. Suatu hari saya dan suami mampir ke warung mi ayam dan setelah beberapa suap saya mendorong mangkuknya sambil menggeleng. “Daging ayamnya dibumbui jinten terlalu banyak. Aneh. Mi ayam kok pakai jinten.”
Sejak itu saya mulai mempelajari resep dengan cara baru, yaitu mencicipinya. Toh saya memang hobi mencoba berbagai jenis masakan, jadi ini kegiatan yang asyik buat saya.
Dari rasa bumbu-bumbu yang tertangkap dan ditebak oleh lidah saya, saya mulai mengkonfirmasi melalui resep, lalu mencoba memasaknya. Dengan mengingat rasa bumbu, saya mulai mengkombinasi bahan makanan dengan bumbu yang saya pikir tepat. Dan waktu terus berlalu dengan hadirnya ketiga buah hati saya.
Kini ketika mereka memakan ratusan jenis masakan yang saya hidangkan untuk mereka dan ayah mereka berkata, “Tahu nggak, dulu Ibu pernah hampir membuatkan Ayah telur dadar isi daun terong.” Mereka hanya mengangkat alis tak percaya. “Masa sih, Yah?”

Advertisements

6 thoughts on “Gado-Gado Femina_Memasak

  1. Saya juga baru belajar masak setelah menikah Mbak. Prestasi masak saya sangat ‘gemilang’. Di usia 26 tahun, saya akhirnya berhasil menggoreng telur ceplok. Apa yang mendorong saya menggoreng telur ceplok sendirian? Karena saat itu 1 rumah puasa dan tak ada lauk sebiji pun…hahaha…

    • hahaha…mbak Rizka, dulu saya pernah diketawain temen gara2 pas goreng telur dadar wajannya berbusa.
      “Telurnya beracun!” *panik*
      Temenku sampai sekarang kalau inget itu selalu bilang, “Culun banget kamu dulu ya…”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s