Dunia Kata-Kata Shadra

Nggak terasa anak yang dulu kugosipin dalam tulisan ini, sekarang udah gede banget… hampir 14 tahun.  Semoga saja dia nggak iseng buka-buka blog ini dalam waktu dekat. hahahaha…

Ini fotonya waktu umur 5 tahun.

DSC03344

Saat anak sulungku, Shadra, berumur 2,5 tahun, dia telah belajar kata-kata beberapa langkah lebih cepat dibanding dengan teman-temannya. Mungkin itu juga karena dia terlambat belajar berjalan. Kata orang-orang tua jaman dulu, kalau anak terlambat berjalan biasanya dia berbicara lebih cepat. Barangkali itulah yang terjadi dengan anakku.

Senang juga rasanya mempunyai anak yang pintar bicara. Paling tidak, karena dia sudah dapat berbicara dengan jelas, aku tak pernah keliru mengartikan kata-katanya. Jadi tidak mungkin terjadi aku mengambilkannya ‘beras’ karena dia meminta ‘gelas’, misalnya.

Kami, aku dan suamiku, juga merasa terhibur mendengar celotehannya yang bermacam-macam. Di usianya saat itu, dia sudah bisa menyusun cerita sederhana dengan runtut. Dia sudah bisa bercerita, dengan siapa hari itu dia bermain dan apa yang dimainkannya, misalnya.

Tetapi tak jarang juga, kepandaiannya berbicara membuatku kerepotan. Sebagai gambaran, waktu itu kami mengontrak rumah di sebuah lingkungan perumahan yang padat penduduk. Rumah di daerah itu kecil-kecil, dan tembok kami menyatu dengan tembok tetangga. Suara ketukan kecil di dinding saja bisa terdengar sampai rumah tetangga. Dan kadang-kadang itu menjadi salah satu masalah.

Pernah suatu pagi, Shadra telat bangun. Ayahnya sudah ke kantor pagi-pagi sekali, dan aku sedang mandi. Begitu dia membuka mata, tak ada seorangpun yang ditemuinya, dan yang didengarnya hanya suara gayung cebar-cebur di kamar mandi. Dia sih tidak menangis. Shadra hanya bangun dan melangkah ke arah kamar mandi, menghampiri suara gayung yang didengarnya.

“Ibuuu…,” panggilnya.

“Ya, Nak. Sebentar yaa,” kataku dari kamar mandi. Sabun masih belepotan di wajahku, dan sampo masih berbusa di kepalaku.

“Ibuuu!” teriaknya keras. Dia mengetuk pintu kamar mandi dengan kepalan kecil tangannya.

“Iya, iyaa… sabar yaa,” ucapku lagi, masih sibuk menggosok wajah.

“Ayaaah…,” teriaknya sama keras dengan tadi.

Lho! Kok jadi manggil ayah?

“Ayah ke kantor, Nak,” bujukku dari dalam kamar mandi sambil mengguyur wajahku dengan air.

Shadra tak sabar mendengarnya. Bujukanku sama sekali tak menenangkannya. Anak itu justru tambah keras memukul pintu kamar mandi yang terbuat dari seng. Bang! Bang! Bang!

“Ibuuuu! Ayaaaahhh!” teriaknya seperti memanggil dalam jarak 20 meter. “Bukaaaiinn kamaal mandinyaaaaaa…”

Glek. Aku terpaku mendengarnya. Suara cekikikan yang jelas-jelas kudengar dari arah dapur tetangga sebelah membuat wajahku merah padam. Aduuuuh! Gawat! Mereka pasti mengira aku sedang di dalam kamar mandi bersama dengan suamiku dan meninggalkan anakku yang malang di depan pintu, membiarkannya memanggil-manggil kami.

“Naakk… Ayah pergi ke kantoooorr!” sahutku dengan suara keras, agar tetangga mendengar. “Ibuu sendiriaaannn di kamar mandiii!”

“Hwaaaa…!” Gawat. Dia mulai menangis karena merasa dibentak. “Ibuuu! Ayaaah! Bukaiin pintunyaaa! Aku mau masuuk…”

Aku menggigit bibirku kuat-kuat. Payah nih. Tidak ada cara apapun yang bisa membuat tetangga-tetanggaku tahu kalau anakku bukan ‘anak-malang’ yang ditinggal berduaan di kamar mandi, kecuali aku harus cepat-cepat keluar setelah menyingkirkan semua busa ini dari rambutku. Byuuuurrr…

Setelah insiden gedoran kamar mandi selesai, bukan berarti tak ada lagi yang terjadi. Shadra ini, justru karena masih kecil maka dia begitu jujur dan polos. Bagi orang dewasa seperti orangtuanya, kejujurannya kadang merepotkan.

Suatu hari setelah berbelanja, aku mendapati bawang merah yang kubeli dari tukang sayur ternyata tak semuanya kering. Ada beberapa yang telah membusuk, padahal harganya cukup tinggi saat itu. Udangnya juga sebagian tak segar, dan dicampur begitu saja dengan udang yang bagus dalam satu plastik yang sama.

Aku kesal melihatnya, dan berkata pada suamiku. “Lihat, Yah. Kadang orang mau untung cepat, tapi merugikan orang lain. Barang busuk semua begini dijual,” ungkapku kesal. Padahal sih yang busuk sebenarnya tidak semua. Tomat dan bayam yang kubeli juga masih segar tadi. Aku hanya ingin berkata kalau seharusnya penjual tak membiarkan barang busuk sampai ke tangan pembeli.

Suamiku mengangguk penuh simpati, dan Shadra juga meniru ekspresi wajah ayahnya. Tetapi esoknya, semua yang terjadi di luar dugaanku.

Saat ibu-ibu berkumpul di depan untuk membeli sayur, tiba-tiba pahlawan kecilku ini menyeruak menerobos kaki ibu-ibu yang lain. Dengan wajah serius dia berkata pada si penjual sayur. “Kemalin, udangnya busuk, bawangnya busuk, tumatnya busuk, semua busuk.”

What???

Ibu-ibu tetangga mulai tertawa mendengarnya. Sementara warna merah mulai menjalari wajahku, juga wajah penjual sayur.

“Apa yang busuk?” mata si penjual sayur menatapku. Wajahnya tak terima.

“Oh, eh. Bawang, sedikit,” ujarku tak enak. “Udang juga, sedikit.”

“Busuk. Semua,” Shadra menimpali dengan serius.

Kugendong anakku cepat-cepat.

Penjual sayur berwajah galak itu mulai merepet. Dia mengomel panjang lebar tentang dia juga korban dan bukan orang yang bersalah, dia hanya mendapat barang itu dari pasar dan penjual di pasarlah yang tidak jujur, dan terakhir dia mengatakan di musim hujan begini bawang merah memang tak semua bagus. Semua bukan salahnya, dan tentu aku seharusnya tak mengajari anakku yang masih balita mengatakan dagangannya busuk.

Ap-paa??? Oh, ini benar-benar kacau. Mana mungkin aku mengajari anakku untuk menyerangnya? Memangnya aku komandan pasukan khusus? Meski aku menjelaskan padanya hingga jungkir balik sirkus, dia tak akan percaya sedikitpun pada kata-kataku. Baiklaaah…

Tetapi kadang kupikir-pikir, anak memang hanya merekam kejadian di sekitarnya, yang dilihatnya. Akulah yang harus lebih berhati-hati supaya tak membuatnya melihat atau mendengar sesuatu yang bisa ditirukannya, atau diceritakannya pada orang lain.

Sayangnya, tak setiap kali aku bisa sehati-hati itu. Kadangkala ada kejadian-kejadian tak sengaja yang muncul begitu saja. Seperti siang ini.

Aku sengaja masak opor ayam. Shadra baru suka makanan berkuah santan, dan aku berharap dia makan banyak hari ini. Kulebihkan jumlah santannya agar ayamnya lebih empuk. Selain itu aku juga ingin membaca sebuah novel, jadi kalau kutinggalkan ayam itu dengan santan yang lebih banyak, aku tak akan khawatir kuahnya cepat habis di atas api.

Novelnya asyik dan membuat aku lupa diri. Aku membaca dan membaca di ruang tamu sambil menggosok-gosok punggung Shadra yang tiduran di pangkuanku, lupa sama sekali pada oporku. Bau ayam panggang mulai tercium. Hmm, enak. Siapa yang masak ayam panggang nih? Batinku. Tapi aneh, bau ayam panggang sepertinya tercium dari arah belakang rumahku sendiri.

Astaga! Aku melonjak seperti tersengat listrik. Oporku! Oporku! Aku berlari panik. Shadra mengikutiku dari belakang dengan wajah yang ikut panik. Kuahnya lenyap berganti dengan sisa bumbu dan santan yang kecokelatan membakar ayam. Dengan terburu-buru aku meraih lap dari jemuran dan kuangkat wajan dari kompor minyak tanahku. Lap yang kupegang rupanya terlalu dekat dengan api dan apipun menyambar ujungnya. Separuh panik, separuh jengkel, aku menginjak-injak lap itu agar apinya padam. Kutatap ayam di wajan dan kusendok perlahan ke dalam piring. Memang sih, nggak terlalu mirip dengan opor. Opor keringpun tidak. Tetapi baunya tak terlalu gosong dan aku bisa mengatakan kalau aku sengaja membuat ayam panggang, suamiku tak akan tahu.

“Shadra, makan dulu yuk,” ajakku setelah semua kusiapkan. Nasi hangat dan ayam kecelakaan telah siap di meja makan.

Lho, dimana anakku? Aku keluar rumah dan mencarinya ke rumah sebelah. Sepertinya aku mendengar suaranya di sana. Ternyata benar. Anakku memang berada di sana, bersama seorang kakek dan nenek, juga anaknya, yang tinggal di sebelah rumahku. Mereka sedang tertawa terbahak-bahak seperti nonton Srimulat manggung.

“Jadi ibu masak apa?” tanya si nenek tetangga.

“Nih, masak celana Ayah.” Itu suara Shadra, ditimpali tawa riuh mereka sekeluarga.

Astaga! Apa maksudnya? Apa maksudnya? Aku merangsek masuk ke dalam. Kulihat Shadra sedang berdiri di depan mereka, membawa celana dalam ayahnya yang ujungnya terbakar. Sesuatu yang kukira sebagai lap dan ternyata harta karun berharga. Hiks. Masak celana ayah, katanya? Gubrak…

Anakku Shadra suka makan kerupuk kaleng keliling yang dijual oleh seorang laki-laki yang dipanggil dengan sebutan, ‘Mamang Kerupuk.’ Meski begitu, aku tak membelikannya setiap hari karena takut MSG dalam kerupuk akan mengganggu kesehatannya.

Tadinya dia memang menanyakannya, tetapi aku menjawab, “Ibu punya kerupuk udang, ibu punya emping. Yuk digoreng.” Dan berhasil. Anakku tak terlalu menanyakan Mamang Kerupuk lagi. Kalau Mamang Kerupuk lewat dan dia sedang bermain di rumah anak tetangga, Shadra tak lagi pulang dan merengek-rengek minta dibelikan.

Maksudku, kukira aku berhasil, sampai pada suatu hari si Mamang Kerupuk berhenti tepat di depan rumah sambil tersenyum lebar padaku, yang segera menghampirinya karena sepertinya dia sedang ingin berbicara denganku. “Ada apa, Mang?” tanyaku ingin tahu.

Dia merogoh sakunya dan mengeluarkan selembar catatan. “Sudah genep sarebu, Bu.”

“Apanya, Mang?” tanyaku bingung.

“Itu, puteranya ambil kerupuk saya sudah sepuluh kali tiap maen di jalan. Jadi genep sarebu.”

Anakku hutang kerupuk? Di usianya yang belum genap 3 tahun? Oh My God! Speechless.

Menjadi ibu memang menyenangkan, meski tak dapat dipungkiri terkadang kelelahan. Begitupun aku. Apalagi istirahat siang baru bisa kulakukan kalau anakku juga tertidur lelap di sampingku. Di luar itu, selagi dia masih terbangun, aku tentu tak dapat tidur begitu saja.

Siang itu seperti biasa Shadra tidur. Aku ikut tertidur di sampingnya. Aku baru saja mencuci dan menyeterika pakaian, dan aku ingin terlelap barang sebentar. Rasanya baru saja mata ini terpejam ketika lamat-lamat aku mendengar suara tetanggaku bertanya heran.

“Lho, Shadra kok nggak tidur siang?”

“Sudah,” jawabnya keras, “Sudah tidul siang!”

“Ibu mana?” tanya tetanggaku.

“Ibu tidul. Pusing!” jawab Shadra. Pusing? Dadaku mulai berdetak kencang. Kenapa tiba-tiba dia berkata aku pusing? Apalagi yang hendak dikatakannya?

“Wah ibu pusing ya. Sakit apa?” tanya tetanggaku bersimpati.

“Sakit… sakit pusing. Nggak punya uang,” jawabnya mantap.

Tetanggaku tertawa mendengar jawaban lucu itu.

Aku memejamkan mata sambil menghela nafas. Aku ingat pernah mengatakan itu padanya saat dia meminta jeli berwarna merah menyala. “Ibu pusing kalau kamu jajan terus. Ibu nggak punya uang!” kataku waktu itu. Tapi itu kan cuma alasan biar dia nggak jajan sembarangan.

“Kalau begitu jangan main jauh-jauh, ya,” kata tetanggaku, “masuk sana temani Ibu.”

Tak kudengar dia menjawab, tetapi suara langkah berlari terdengar masuk ke dalam rumah. Anakku muncul dari balik pintu kamar dan memelukku erat-erat.

“Temani ibu, ah,” katanya dengan riang. Lalu dia mulai berceloteh dengan keras tentang macam-macam.

Aku hanya bisa tersenyum pasrah. Ah, anakku. Duniamu saat ini memang dunia kata-kata. Ibumu bisa apa?

 

Kisah ini juga bisa dibaca di buku ini
Kisah ini juga bisa dibaca di buku ini

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s