Seorang Wanita Berhati Surga

Tulisan ini ada di buku Wonder Women
Tulisan ini ada di buku Wonder Women

: lima belas tahun yang lalu

 

Sebut saja namanya Mbak Ginuk. Dia adalah seorang penjual ayam goreng yang berkeliling dari rumah ke rumah, mulai dari jam 10 pagi, setiap hari selain hari Minggu. Wanita itu berjalan menuntun sepeda bututnya, dengan keranjang berisi ayam goreng dalam kardus, dan berteriak, “Ayam gor-reengg!” setiap sepuluh detik sekali.

Mbak Ginuk tak pernah menaiki sepedanya. Tadinya aku mengira kalau wanita itu sengaja menuntun sepedanya agar tak ada seorangpun terlewat saat dia sedang menawarkan dagangannya, atau dia tak menaiki sepedanya karena takut keranjangnya yang berat di kanan dan kiri terjatuh tanpa disadarinya, atau berbagai alasan lain yang mirip dengan alasan yang kupikirkan. Tetapi ternyata aku keliru. Mbak Ginuk tetap menuntun sepedanya saat sore hari, ketika keranjang di kanan dan kirinya telah kosong, dan dagangannya telah habis terjual.

Dengan penasaran aku menanyakan padanya, sebuah pertanyaan usil yang kuberikan padanya setelah aku membeli separuh ayam goreng, sambal, dan lalap dalam kotak kardus berwarna putih. “Mbak Ginuk nggak capek nuntun sepeda kemana-mana? Kenapa nggak dinaikin saja? Kalau pulang jualan kan keranjangnya sudah kosong. Disuruh nuntun terus ya sama dukunnya?” godaku.

Mbak Ginuk terkekeh. Wanita itu menatapku dengan mata kanannya yang terpicing, bukan sengaja memicingkan mata padaku, melainkan mata kanannya memang terpicing sejak dia masih bayi, begitu katanya. “Mbak Niar ini lucu. Masak disuruh sama dukun? Orang Islam nggak boleh pergi ke dukun, Mbak.”

“Nah, lalu kenapa kok dituntun terus?” tanyaku penasaran.

Mbak Ginuk tertawa dengan wajah memerah. Saat tertawa, mata kanannya benar-benar hanya tampak seperti sebuah garis. “Saya nggak bisa naik sepeda, Mbak. Jadi kemana-mana ya harus dituntun begini.”

Oh. Aku tersenyum. Geli campur haru.

Karena tahu akan hal itu, aku jadi lebih sering memaksa ibu membeli ayam gorengnya. Tak apa. Ayamnya juga enak kok. Mbak Ginuk memasaknya dengan bumbu yang meresap hingga ke tulang. Kalah deh Pak Kolonel dari Amerika itu.

Mbak Ginuk memiliki seorang anak laki-laki berumur 8 tahun. Setiap kali ada yang menanyakan tentang anaknya, mata wanita itu bersinar bangga saat menjawabnya. Kurasa itu wajar. Anak lelakinya adalah anak yang baik, patuh, dan sangat menyayanginya. Aku pernah mendengar Mbak Ginuk bercerita pada ibu kalau anak lelakinya mau mengeroki punggungnya jika dia kelelahan dan masuk angin.

Untuk anaknya juga kurasa, Mbak Ginuk berusaha bekerja keras. Mbak Ginuk tak bisa mengandalkan suaminya begitu saja karena pria itu sering meninggalkan rumah begitu saja dan pulang tanpa membawa uang. “Bapaknya tole (sebutan untuk anak lelaki) itu masih berusaha mencari pekerjaan, jadi saya harus prihatin dulu,” ucapnya dengan suara lembut yang riang seperti biasanya. Tak sedikitpun tampak kekesalan pada wajahnya.

Mbak Ginuk adalah salah satu orang tersabar yang pernah kukenal. Dia tak keberatan dengan tingkat keprihatinan yang barangkali sulit dijalankan orang lain. Pernah suatu hari dia harus kehilangan berkotak-kotak ayam gorengnya di tempat parkir di depan pasar saat dia mengantarkan pesanan. Saat kembali dan mengetahui ayamnya telah menghilang, dia hanya memejamkan mata untuk menghilangkan marah, dan berhasil meyakinkan dirinya sendiri kalau ada seseorang yang jauh lebih membutuhkan ayam goreng itu dibandingkan dengan dirinya. Subhanallah. Kata ibu aku jelas harus belajar banyak dari ceritanya, mengingat aku bisa saja kehilangan kesabaran hanya karena lauk di meja makan sudah didahului orang lain.

Sampai suatu hari Mbak Ginuk tak lewat lagi. Dia tak pernah berkeliling lagi dari rumah ke rumah, tak pernah menuntun sepedanya, bahkan tidak juga meski tanpa sepedanya. Dia tak kelihatan sama sekali.

Aku bertanya pada ibu. Bukan menanyakan Mbak Ginuk sebenarnya, melainkan ayam gorengnya. Aku benar-benar merasa kehilangan ayam gorengnya, dengan sambal bajak yang nikmat, dan lalapan yang selalu segar. Tetapi ibu sama saja sepertiku, tak tahu.

Seminggu menjadi dua minggu, kemudian tak terasa menjadi sebulan.

Setelah lewat sebulan, ibu mendengar sebuah kabar tentang Mbak Ginuk, dan menceritakannya padaku.

“Apa?!” tanyaku terkejut.

“Itu benar,” bisik ibuku.

Oh. Aku mengerutkan kening. Sedih dan gusar.

Mbak Ginuk tak berkeliling untuk berjualan karena masuk rumah sakit. Matanya bengkak dan bola matanya hampir keluar, tulang pipinya retak, dan gigi depannya rontok dua buah. Bukan, bukan mata kanannya yang bengkak melainkan mata kirinya, hingga kini dia kesulitan melihat. Tulang pipinya yang retak juga harus dirawat penuh oleh dokter. Giginya juga telah ditangani dokter gigi, meski kata dokter gigi dia harus merelakan dua giginya hilang sebelum waktunya. Semua terjadi karena suaminya. Pukulan suaminya.

Tak ada seorangpun yang menjenguk Mbak Ginuk. Sakit yang dialami karena kekerasan rumah tangga mungkin tak enak jika harus dijenguk. Barangkali suaminya akan lebih naik darah kalau perhatian orang-orang jatuh pada Mbak Ginuk. Karena perhatian yang diterima, berarti adalah penyalahan atas perbuatan suaminya. Akhirnya agar tak menjadi lebih runyam, ibuku, juga ibu-ibu yang lain, bersepakat tak akan datang ke rumahnya.

Saat Mbak Ginuk kembali bekerja, dan berhenti tepat di depan ibu-ibu yang sedang berkumpul, dan aku berada di dekat mereka, aku terpaksa tercekat ketika melihatnya. Kupejamkan mata sesaat. Tak tahan melihat bola mata kiri Mbak Ginuk yang seperti agak mencuat keluar, dengan warna putihnya yang kemerahan, seolah darah telah merembes kesana. Ditambah lagi dengan wajahnya yang rasanya lebih miring, dan mulutnya yang kosong karena dua gigi depannya menghilang. Tadinya kukira dengan mata kanan yang selalu terpicing saja sudah parah, tetapi ini lebih lagi. Wajahnya benar-benar menyedihkan.

Dengan penuh simpati, ibu-ibu menanyakan, bagaimana kabarnya. Berharap mendengar cerita versi lengkap dengan keluhan dan sedu sedannya. Tetapi semua harus menggigit jari karena Mbak Ginuk hanya tersenyum.

Dengan wajah seperti itu Mbak Ginuk berkata pada ibu-ibu kalau dia tak apa-apa. Alhamdulillah masih diberi kesehatan dan kekuatan, begitu dia bilang. Tuhan benar-benar Maha Adil, katanya.

Adil? Keadilan apa yang disadarinya dari wajah miring, gigi ompong, dan bola mata yang mencuat itu?

Dia merasa Tuhan itu adil karena di saat kejadian itu, anak lelakinya yang masih berumur 8 tahun, maju di depannya, melindunginya. Si pendiam itu berteriak pada bapaknya untuk berhenti, dan suaminya berhenti memukulinya. Tuhan Maha Adil karena, kalau tak ada anak lelakinya mungkin dia sudah mati terbunuh di tangan suaminya sendiri.

Dia merasa Tuhan itu adil karena meski telah mengalami hal sesulit itu, dia masih bisa sembuh dan kembali bekerja untuk menghidupi anaknya. Dia ingin mengumpulkan uang agar anak lelakinya masuk pesantren, katanya.

Dia juga merasa Tuhan itu adil, karena setelah peristiwa itu, suaminya ditahan polisi karena laporan dari tetangga-tetangga. Biarlah itu juga menjadi pelajaran baginya, katanya.

“Lalu bagaimana kalau suami Mbak Ginuk sudah keluar? Kembali kemana dia nanti?” tanya seorang ibu.

“Ya tentu ke rumah saya,” senyum Mbak Ginuk, “dia kan suami saya.”

Wanita itu tak dendam, karena katanya, semua orang memiliki tanggung jawabnya sendiri di dunia. Siapa yang bisa menjalankan sebaik-baiknya, dialah yang terbaik di mata Sang Pencipta. Tanggung jawabnya adalah menjadi ibu yang baik bagi anaknya dengan cara bekerja keras untuk menghidupinya, dan menjadi istri yang baik dengan cara bersabar.

Cukuplah baginya apa yang diterimanya dan harus diperjuangkannya di dunia. Dia tak akan mengeluh, tegasnya.

Kami menelan ludah dengan kecewa. Jelas kami tak akan mendapat tambahan gosip hangat dari korban kekerasannya secara langsung. Tetapi sebenarnya, tambahan cerita seberapapun tak akan pernah mengenyangkan siapapun yang mendengarnya, hanya akan menambah beban orang yang menjalaninya.

Bersama yang lain aku memilih ayam goreng yang akan kubeli, dan membayarnya cepat-cepat. Mbak Ginuk mengumpulkan lembaran-lembaran uang yang diterimanya dengan wajah riang. Tak ada yang lebih membahagiakannya selain dapat bekerja demi kehidupan yang lebih baik, bagi anak satu-satunya.

Saat Mbak Ginuk berpamitan dan kembali meneruskan langkahnya menuntun sepeda, kutatap punggungnya lekat-lekat. Kukagumi wanita itu karena kesabaran dan kekuatannya. Dalam setiap langkahnya, ada harapan untuk menjadikan diri dan keluarganya menjadi lebih baik dari sekarang. Dalam setiap harapannya tersimpan doa yang dikirimkan melalui kesabaran dan ikhlas, menerima dengan terbuka setiap putusan Tuhan baginya.

Aku terus menatap langkahnya yang menjauh. Di depan sana ada sebuah tikungan dan dia akan berbelok ke sana. Sebelum membelokkan sepedanya, tiba-tiba dia menoleh kembali ke arah kami.

Mbak Ginuk tersenyum ketika melihatku masih menatapnya. Dia tersenyum dengan dua gigi depannya yang menghilang, wajah miringnya yang entah kapan akan kembali seperti semula, dan sepasang mata yang begitu berlainan—satu seperti menghilang dan satu lagi berjejalan seperti ingin keluar.

Seharusnya aku iba melihatnya, tetapi melihat langkah tegapnya, juga senyumnya menatap dunia, aku tahu aku tak dapat merasa iba. Justru dialah orang yang beruntung di dunia. Karena dalam hatinya, Mbak Ginuk telah menciptakan surga.

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s