Waktunya Cabut Gigi

Tulisan ini dimuat di Leisure Repulika hari Selasa tanggal 22 April 2014, di rubrik Buah Hati. Sayangnya, redaktur menulis saya sebagai ibu dua anak. Padahal sebenarnya, anak saya tiga orang 😦

Membujuk anak untuk pergi ke dokter gigi, bagi sebagian orangtua adalah hal yang menyulitkan. Sayapun mengalami hal yang sama. Padahal pergi ke dokter gigi paling tidak setahun dua kali, bisa lebih jika ada gigi susu yang goyang dan minta dicabut.
“Gigiku yang dulu ditambal sekarang goyang, Bu,” kata Atha, “jadi sakit rasanya kalau buat makan.”
“Ya, nanti sore kita ke dokter gigi,” sahut saya. “Bareng sama Shirin juga sekalian cabut gigi.” Gigi Shirin, adiknya, juga goyang dan harus dicabut. Saya selalu berpikir, melakukan hal yang menegangkan bersama-sama tentu lebih baik daripada sendirian. Kalau bukan sesuatu yang sifatnya darurat, biarlah mereka menjalaninya bersama-sama.
“Aku nggak mau!” tukas Shirin.
“Ah, tidak usah takut. Nggak sakit kok,” bujuk saya..
“Iya Dik. Kan kesananya sama Mbak,” timpal Atha.
“Aku takut sama kursinya yang naik turun,” rengek Shirin.
Saya tertawa. Syukurlah kalau hanya takut dengan kursinya, pikir saya lega. Nanti bisa diatur kursinya dulu yang ditinggikan dan Shirin duduk kalau kursi sudah berhenti.
Sampai disitu semua terlihat mudah. Tetapi ketika berada di ruang praktik dokter gigi, semua berbalik arah. Mungkin karena peralatan dokter gigi bentuknya menyeramkan, wajah mereka berdua langsung memucat.
“Aku nggak mau dicabuuuutt,” Atha yang tadi bergaya membujuk-bujuk adiknya, kini menangis histeris.
“Eh, cuma dipegang aja giginya pakai dingin-dingin, kok,” bujuk Pak Dokter Gigi dengan sabar.
“Nggak! Pasti habis itu dicabut!” teriak Atha. Dan tanpa diduga, ia melarikan diri dari ruang praktik.
Shirin yang melihat kakaknya lari, ikut menangis. Kini ketakutannya bukan hanya kursi yang bisa naik turun, tetapi juga ketakutan karena akan dicabut.
Ayahnya mengejar dan membujuk dengan susah payah. “Nanti Ayah belikan es krim. Es krim yang paling besar dan paling enak.” Mendengar kata es krim besar dan enak, Atha berhenti menangis dan kembali duduk di kursi.
Pak Dokter mengajaknya bergurau sambil tangannya bekerja dengan lincah. Nyes…tap. Hanya dalam satu detik, gigi susu goyang itu telah lepas.
“Nah, sudah selesai,” ujarnya senang. “Ayo giliran Shirin sekarang.”
“Aku juga mau es krim!” tuntutnya sebelum naik ke kursi dengan tenang.
Selesai cabut gigi, Pak Dokter memberi suvenir berupa alat-alat tulis. “Hadiah untuk anak yang berani ke dokter gigi. Kalau es krimnya, minta sama Ayah dan Ibu ya,” senyumnya lebar.
Setelah kejadian itu, kini setiap ada gigi goyang, anak-anak menghitung dengan cermat dan berkata, “Aku punya dua es krim di gigiku.” Lalu adiknya menimpali, “Kalau aku punya tiga!”

Advertisements

Satu Buku Cerita, Ratusan Gaya

Shirin_Leisure

Tulisan ini dimuat di Rubrik Buah Hati, Leisure, Republika tanggal 17 Desember 2013

Beda dikiiit sama naskah aslinya. Nah, kalau ada yang mau baca tulisan aslinya, yang ini:

Meski sudah bisa membaca sedikit-sedikit, Shirin (6 th) paling suka dibacakan cerita. Bukannya meminta dibacakan cerita di malam hari sebelum tidur seperti anak-anak yang lain, Shirin selalu minta dibacakan siang sepulang sekolah.

“Bacakan buku yang ini, Bu,” katanya sambil menyodorkan sebuah buku bergambar.

Aduh, makan siang belum siap di meja, ini malah ketambahan tugas baru membacakan cerita, batin saya. Dengan terburu-buru,  saya membuka buku cerita yang diminta dan mulai membacakannya.

“Ibu, jangan cepet-cepet bacanya. Aku nggak tahu ceritanya nanti,” protesnya. Ih, yang bener aja deh, batinku. Bukannya buku ini sudah dibaca ratusan kali?

“Iya deh, maaf,” sambil mulai membaca perlahan.

Satu buku selesai.  “Ibu masak dulu ya.”

“Bacakan lagi ya,” dia menawar. Saya mengangguk, dan berjanji membacakan buku lagi selesai memasak.

Ternyata buku yang dimintanya untuk dibacakan adalah buku yang sama. “Kamu nggak bosan, Nak?” tanya saya.

Shirin menggeleng. “Tadi Ibu nggak pakai gaya bacain ceritanya.”

Oh My God. Siapa bilang jadi Ibu mudah?

Barangkali tak hanya Shirin yang begitu. Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, seperti halnya orang dewasa, anak sudah bisa memilih apa saja yang disukai dan menjadi favoritnya. Yang jadi masalah, kalau satu buku harus diulang-ulang sekian kali, mending pingsan deh.

“Shirin tahu, nggak? Ibu bosan lho baca buku yang sama berulang-ulang,” saya mencoba berkelit.

“Tapi aku nggak bosan kok, Bu,” kilahnya. “Soalnya Ibu kan bacanya lain setiap hari.”

Iya sih. Saya sendiri merasa, kalau pikiran sedang santai, tenaga sedang lebih, kalimat yang dibacakan juga jadi lebih hidup. Mau pura-pura jadi kodok, burung, pesawat, atau pohon, semua dilakukan dengan senang hati. Dan sebaliknya, jujur saja saya juga sering menyunat kalimat kalau sedang kelelahan.

Mengulang-ulang cerita yang sama bagi Shirin, karena dia ingin tahu apakah hari ini cerita itu bisa lain dari yang kemarin atau tidak? Ada banyak versi yang dinantinya bahkan dari buku yang sama.

Tak terasa kegiatan ini juga mendorong Shirin untuk belajar perbendaharaan kata yang baru, dan mengajarkan padanya untuk mengucapkan kalimat yang tertata dengan baik.

“Jadi sekarang Shirin mau gaya yang mana?” tanya saya sambil membuka-buka buku ceritanya.

“Tolong Ibu juga ikut pura-pura makan kalau puding dan kue-kuenya keluar,” katanya. “Nanti Shirin juga ikut pura-pura makan.”

Saya tertawa. Bagian pura-pura makan pasti sama menyenangkannya dengan makan betulan bagi kami berdua.