Sepatu Baru Kuri Si Pencuri

Cerpen ini juara harapan 1 Lomba Menulis Cerpen Anak dalam rangka Hari Buku yang diadakan oleh Perpustakaan Kota Yogyakarta tahun 2012

 

Kuri adalah seorang pencuri yang lihai. Pekerjaannya jelas bukan pekerjaan yang bagus dan terhormat, tetapi Kuri tak peduli. Kuri telah terbiasa mencuri sejak kecil dan akhirnya menganggap bahwa hal itulah satu-satunya yang bisa dia lakukan.

Suatu hari saat Kuri berjalan menuju sebuah rumah milik seorang pedagang kaya untuk mencuri sebuah berlian, tiba-tiba kakinya tersandung batu. “Aduh!” serunya kesakitan. Dilihatnya ujung sepatunya yang menganga lebar. Rupanya sepatu itu jebol karena tersandung.

Kuri berdecak dengan kesal. “Sepatu payah,” gerutunya. “Gara-gara sepatu usang ini, aku tidak bisa mencuri berlian itu sekarang. Sepertinya aku harus membeli sepatu baru.”

Maka Kuri si Pencuri berjalan mencari toko sepatu. Dia ingin segera memiliki sepatu baru. Sepatu yang paling nyaman dan ringan agar langkah-langkahnya tak terdengar oleh orang lain. Dan sampailah dia di sebuah toko sepatu kecil di sudut kota. Toko Sepatu BIN.

Di dalam toko sepatu Bin, Kuri melihat berkeliling. Meskipun toko itu kecil, tetapi sepatu yang dijual jumlahnya ribuan pasang. Rak sepatu disusun dari bawah hingga menyentuh langit-langit ruangan. Kuri mencoba mencari sepatu pria, tetapi meski dia kini telah mengetahui tempatnya, Kuri tetap saja bingung karena banyaknya sepatu yang dipajang disana.

“Ada yang bisa kubantu?” tanya Pak Bin, si pemilik toko sepatu. “Sepertinya kau kebingungan.”

“Aku mencari sepatu yang bagus. Tak masalah kalau harus membayar mahal,” tegas Kuri.

“Hendak kau pakai kemana sepatu itu?” tanya Pak Bin.

“Bekerja,” jawab Kuri pendek.

“Dan apa pekerjaanmu?” Pak Bin kembali bertanya dengan wajah ramah.

“Aku tak akan menjawab. Aku hanya akan membeli sepatu,” tukas Kuri.

Pak Bin tersenyum. “Tentu saja pertanyaanku harus kau jawab. Kalau kau seorang olahragawan aku tak mungkin memberimu sepatu dansa, dan kalau kau seorang pegawai kantor aku tak mungkin memberimu sepatu but untuk bertani. Jadi itu sebabnya aku perlu tahu apa pekerjaanmu.”

Kuri mengalah. “Aku seorang pencuri,” katanya, “Jadi aku membutuhkan sepatu yang sangat ringan agar tak seorangpun mendengar suara langkahku.”

Pak Bin terkejut mendengarnya. Tetapi pemilik toko yang ramah itu tetap tersenyum. “Aku mengerti,” jawabnya. Lalu dia berjalan ke rak bagian tengah, dan naik ke tangga untuk mengambil sepasang sepatu yang terpasang di rak bagian atas.

Diulurkannya sepatu itu ke arah Kuri dan Kuripun menerimanya. Sepatu itu berwarna cokelat dengan benang keemasan.

“Sepatu ini terbuat dari sayap lebah,” ujar Pak Bin.

“Sepatu yang sangat ringan,” desis Kuri kagum.

“Ya,” pak Bin setuju. “Benang emasnya juga menyatukan dengan kuat. Tetapi sayangnya, sol sepatunya belum sempurna. Ada bahan lain yang harus kutambahkan agar lebih ringan lagi. Maukah kau menunggu?” Pak Bin menawarkan.

Kuri mengangguk senang. “Tentu saja aku mau. Aku akan menunggu dengan sabar.” Diserahkannya kembali sepatu itu pada Pak Bin.

Pak Bin tak membutuhkan waktu yang lama untuk menyempurnakan sepatu itu. Harga sepatunya memang cukup mahal, tetapi Kuri tak keberatan sama sekali. Dia segera membayar sepatunya dan langsung memakainya saat itu juga.

“Sepatu ini adalah sepatu paling ringan yang pernah kupakai,” gumam Kuri senang. “Aku bisa mencuri dimanapun tanpa ketahuan orang lain.” Lalu dia teringat akan berlian di rumah pedagang kaya yang hendak dicurinya, dan Kuri mulai melangkah kesana.

Tetapi aneh sekali, sepatunya seolah tak mau dibawa kesana. Dengan santai sepatu itu membuat Kuri melangkah ringan ke arah yang berlawanan. “Hei, aku mau kesana! Aku mau kesana!” tunjuk Kuri kebingungan ke arah rumah pedagang kaya. Tetapi seolah kaki Kuri tak punya kekuasaan lagi, dengan lincah Kuri melompat-lompat menuju ke sebuah panti asuhan yang sederhana, dan berhenti tepat di depan pagar.

Kuri mengerutkan kening. “Apa yang bisa kucuri dari sini?” pikirnya tak senang. Dilihatnya beberapa anak laki-laki dan perempuan bermain di halaman bersama dengan ibu pengasuh panti.

“Hei ada yang datang!” seru seorang anak perempuan, membuat teman-temannya menoleh.

Seorang anak laki-laki kecil berlari membuka pintu pagar sambil tersenyum lebar, menampakkan gigi depannya yang ompong. “Paman hendak menengok kami, ya?”

“Oh, eh,” Kuri tergagap. “Tidak.”

“Paman bawa oleh-oleh apa?” tanyanya lagi.

“Hus! Hilal, itu nggak sopan! Jangan berkata begitu pada tamu,” tegur ibu pengasuh panti. “Silahkan masuk, Pak.”

“Aku bukan tamu. Aku bukan…” kilahnya gugup. Tapi anak-anak panti asuhan itu tak mendengarkannya. Mereka sangat senang jika ada tamu yang datang. Setahu mereka, semua tamu yang datang sangat baik dan ramah. Maka tanpa malu-malu mereka berebut menggandeng lengan Kuri dan mengajaknya ke dalam.

Kuri ingin menolak, tetapi kakinya terasa sangat ringan. Dia belum pernah merasakan seperti ini sebelumnya, tetapi langkah kakinya yang ringan saat memasuki halaman panti asuhan membuat Kuri tiba-tiba berkata dengan ramah pada anak-anak itu. “Kalian mau dibelikan es krim?”

“Mau! Mauu! Horee!” seru anak-anak itu kegirangan.

Kuri si Pencuri berjalan keluar untuk mencari es krim. Langkahnya ringan seperti terbang, dan Kuri kembali dengan puluhan kotak es krim yang segera dibagikannya kepada anak-anak yang ada disana.

Kuri benar-benar heran dengan dirinya sendiri. Sebelumnya dia tak pernah mengalami hal ini. Yang selalu dilakukannya adalah mengambil milik orang lain, dan bukan memberi pada orang lain. Hari ini, Kuri merasa dirinya benar-benar berbeda.

Tiba-tiba dia teringat pada berlian yang hendak dicurinya dan pergi dari panti asuhan itu. Tetapi lagi-lagi, kakinya tak mau melangkah kesana dan justru berbalik arah untuk menolong seorang nenek yang ingin menyeberang jalan. Setiap kali Kuri berniat untuk mencuri, maka kakinya melangkah ke arah yang berlawanan dan menemukan kebaikan. Begitu terus menerus, sehingga Kuri tak bisa mencuri apapun seperti biasanya.

Kuri benar-benar heran dan berusaha mengingat-ingat sejak kapan semua ini terjadi. Dipandanginya sepatu yang dipakainya. Sepatu sayap lebah dengan benang emas yang membuat kakinya sangat ringan melangkah. Seharusnya sepatu ini sangat cocok untuk seorang pencuri, tetapi kenapa kakinya tak bisa lagi melangkah ke tempat-tempat yang akan dicurinya? Lalu Kuri teringat pada Pak Bin si pemilik toko sepatu yang menambahkan bahan untuk membuat sepatu ini lebih ringan, dan dia sangat penasaran. Diputuskannya untuk kembali ke toko sepatu itu dan menanyakannya.

“Sepatu itu memang sangat ringan,” Pak Bin terkekeh-kekeh ketika Kuri bertanya di depan tokonya. “Aku hanya menambahkan sedikit bahan kebaikan di solnya, agar sepatu itu ringan melangkahkan kakimu untuk berbuat baik.”

“Tapi aku tak bisa hidup jika tidak mencuri sesuatu,” bantah Kuri.

“Kurasa tidak!” kilah Pak Bin, “Hidup adalah sebuah kebiasaan. Jika kau terbiasa melakukan perbuatan baik, maka kau akan lupa bagaimana berbuat jahat.”

“Sepatu ini menghalangiku,” tukas Kuri pelan.

“Sepatu itu membantumu,” tegas Pak Bin. “Pulanglah, dan pakai terus sepatu itu kemanapun kau pergi.”

Tak ada yang bisa dilakukan Kuri selain memakai sepatu itu dan membawanya pulang. Bagaimanapun juga, sepatu itu adalah sepatu paling ringan yang pernah dikenakannya dan dia akan terus memakainya sampai dia menemukan sepatu yang lebih baik.

Tetapi sepatu itu memang merubah Kuri. Sejak dia memakai sepatu itu, Kuri hanya bisa melangkah ke tempat-tempat dia bisa melakukan kebaikan. Semakin lama, kebaikan yang dilakukannya semakin banyak, dan Kuri jadi terbiasa melakukannya. Diapun melupakan pekerjaan lamanya sebagai pencuri, dan memilih untuk mencari pekerjaan lain. Kuri merasa lebih tenang dan bahagia dengan kehidupannya sekarang.

Beberapa minggu kemudian, setelah membantu seorang gadis kecil menurunkan kucingnya dari atas pohon, Kuri tiba-tiba teringat pada Pak Bin dan ingin mengucapkan terimakasih karena telah menjual sepatu sayap lebah itu kepadanya.

Tetapi apa yang terjadi?

Meski Kuri telah menyusuri jalanan di sudut kota itu sebanyak puluhan kali, Toko Sepatu BIN tak juga ditemukannya. Kuri bertanya pada setiap pejalan, tetapi tak seorangpun pernah melihat atau bahkan mendengar apapun tentang toko sepatu itu.

 

 

 

Yogyakarta, 24 Juni 2012

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s