Maaf Sebenarnya Tidak Terlalu Sulit

WP_20140425_005

Di sebuah kerajaan tinggallah Puteri yang manis dan lucu bernama Puteri Kira. Dia selalu menghibur orang lain dengan canda tawanya. Sayangnya Puteri Kira sulit mengucap kata maaf jika melakukan kesalahan.  

Pernah suatu hari saat istri Perdana Menteri mengundangnya minum teh, Puteri Kira tak sengaja memecahkan hiasan kristal di sudut ruangan. Istri Perdana Menteri sangat sedih melihat hiasan kesayangannya pecah. Sayangnya, Puteri Kira tak berkata apa-apa. Dia tidak meminta maaf sedikitpun.

Puteri Kira juga pernah melemparkan sepatu Bu Mona Koki Istana ke atas pohon dan menyangkut disana. Sebenarnya Puteri Kira tak bermaksud usil atau nakal. Dia hanya ingin menolong Bu Mona mengejar kucing yang mencuri ikan dari dapur istana. Tadinya dia berpikir untuk melempar kucing dengan batu tetapi tiba-tiba dia melihat sepatu Bu Mona tergeletak tak jauh dari sana dan langsung saja dia melemparkan sepatu Bu Mona ke arah kucing yang berada di atas pohon. Kucing yang dilempar tak kena sasaran tetapi sepatu Bu Mona tersangkut di tempat paling tinggi dan tak bisa diambil lagi. Bu Mona tercengang melihat kejadian ini. Puteri Kira pun tak kalah kagetnya, “Wah, rupanya anda kehilangan sepatu, Bu Mona,” katanya. Tanpa meminta maaf sedikitpun. Bu Mona sangat kecewa. Sebenarnya dia ingin mendengar kata ‘maaf’ dari Puteri Kira.

Wida, anak Tukang Kebun Istana sahabatnya selalu mengingatkan, “Kalau kau membuat kesalahan janganlah lupa meminta maaf, Puteri Kira. Karena betapapun manis dan lucunya kau orang akan marah padamu bila kau tak mau meminta maaf saat berbuat kesalahan,” tetapi Puteri Kira hanya tersenyum-senyum. Tak terlalu menanggapi nasehat Wida dengan serius.

Bahkan dia mengulanginya lagi dengan menggoda Puteri Biana kakaknya. Puteri Biana meninggalkan sepotong kue coklat untuk dimakannya setelah makan siang. Tetapi tanpa sepengetahuan Puteri Biana, Puteri Kira memakannya dan mengganti kue coklatnya dengan tanah liat. Wah! Nakal sekali ya? Saat Puteri Biana tahu, dia sangat marah. Tetapi Puteri Kira hanya tertawa terbahak-bahak, “Kakak ini tidak bisa diajak bercanda,” katanya geli. Atas kenakalannya dia tak meminta maaf sedikitpun.

Pada suatu siang, Wida mengajak Puteri Kira bermain di taman. “Ayo Puteri kita bermain di taman. Ayahku membuatkan ayunan yang kuat untuk kita.” Betapa senangnya Puteri Kira. Dia berlari-lari bersama Wida menuju ayunan yang dimaksud. Sampai disana Puteri Kira langsung menaiki ayunannya dan mendorong tubuhnya kencang-kencang. Dia tertawa-tawa gembira.

“Ayo Wida! Giliranmu sekarang!” kata Puteri Kira sambil meloncat turun dari ayunan. Wida menaiki ayunan dan mendorong tubuhnya perlahan.

“Ayo ayun lagi Wida. Kamu penakut sekali,” ejek Puteri Kira.

“Aku hanya tidak mau mengayun terlalu kencang, Puteri Kira. Itu berbahaya,” katanya tenang. Tetapi tanpa mempedulikan ucapan Wida, Puteri Kira terus mendorong ayunan Wida.

Sambil tertawa-tawa Puteri Kira terus mengayun dan mengayun lebih kencang. Tak dipedulikannya sahabatnya menjerit ketakutan meminta tolong.

“Hentikan, Puteri! Hentikan!” serunya memohon.

Puteri Kira memutuskan untuk berhenti mendorong melihat Wida benar-benar ketakutan. “Ah, sekali lagi lalu aku akan berhenti mendorong,” kata Puteri Kira dalam hati. Didorongnya lagi ayunan Wida untuk terakhir kalinya dengan lebih keras.

Tapi tanda diduga Wida ikut meluncur ke udara bersamaan dengan ayunannya dan jatuh ke tanah setelah sebelumnya kepala Wida membentur batu. Betapa kagetnya Puteri Kira ketika melihat sahabatnya jatuh dan terluka. Melihat Wida tak bergerak Puteri Kira berlari mencari pertolongan. Para pengawal dan Pak Hori ayah Wida segera berlari menghampiri Wida.

Berbeda dengan Puteri Kira. Dia justru berlari menjauh. Dia sangat ketakutan dan menyesal. Dia tahu bahwa Wida jatuh karena kesalahannya dan dia seharusnya mempertanggungjawabkan perbuatannya tetapi dia tak tahu apa yang harus diperbuatnya.

Hari demi hari berlalu. Puteri Kira belum sekalipun menjenguk Wida. Dia hanya tahu kabar Wida dari para koki istana. Wida mulai sembuh meski dahinya luka dan dia harus banyak beristirahat. Puteri Biana kakaknya bertanya dengan heran kenapa dia tak juga menjenguk Wida. Puteri Kira mengungkapkan banyak alasan tetapi sebenarnya adalah dia tak tahu bagaimana harus mengucapkan kata ‘maaf’.

Puteri Kira berusaha tidak peduli. Lama-lama Wida akan sembuh dan mulai berteman lagi dengannya, pikirnya, dengan begitu dia tak perlu meminta maaf. Tetapi ternyata setelah sembuh Wida lebih memilih bermain di luar istana bersama anak-anak lain. Puteri Kira tetap sendirian. Dia sangat merindukan Wida tetapi tak tahu bagaimana memulai berteman kembali tanpa meminta maaf. Maaf itu ternyata sangat sulit diucapkan, keluhnya.

Akhirnya karena tidak tahan Puteri Kira memutuskan untuk mendatangi sahabatnya.

“Apa kabar?” tanyanya kaku.

Wida mengangguk, “Baik,”sahutnya.

“Sudah sehat?” tanyanya lagi.

Wida mengangguk lagi dan mulai beranjak pergi, “Aku ditunggu teman-temanku,” katanya.

Puteri Kira tak tahan lagi, “Maaf. Aku minta maaf!” teriaknya.

Wida kelihatan terkejut. Puteri Kira pun tak kalah terkejut mendengar suaranya sendiri.

Wida tersenyum dan memeluk Puteri Kira sahabatnya. “Aku sudah memaafkan,” ujarnya. Puteri Kira sangat lega mendengarnya. Dia sendiri heran ternyata mengucapkan maaf tak sesulit yang dia bayangkan.

 

pernah dimuat di majalah Bobo

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s