Ara dan Balon Kebahagiaan

Ara adalah seorang anak perempuan yang tinggal bersama nenek dan bibinya karena orangtuanya bekerja di luar negeri. Mereka saling menyayangi sehingga meski tak tinggal bersama orangtuanya, Ara tak pernah merasa sedih dan kesepian.

Suatu hari, nenek Ara sakit keras dan meninggal dunia. Ara sangat sedih dan merasa kehilangan.

Selama berhari-hari Ara hanya menangis dan mengurung diri di dalam kamar. Dia tak ingin pergi bermain, tak ingin pergi ke sekolah, tak ingin makan, tak ingin mandi, dan tak ingin bertemu dengan siapapun. Satu-satunya yang diinginkan oleh Ara adalah bertemu kembali dengan neneknya dan memeluknya erat-erat seperti biasanya, tetapi tentu saja hal itu tak dapat dilakukannya lagi.

Bibinya, Bibi Kima, berusaha menghiburnya.

“Ayolah Ara, jangan bersedih lagi. Kau bisa jatuh sakit jika begini,” bujuk Bibi Kima dari depan pintu kamarnya. Ara tak menjawab. Air mata menetes perlahan dari sudut matanya tanpa henti. Ara merasa dirinya sangat kesepian tanpa nenek.

Malam itu juga, Ara bermimpi.

Nenek datang mengenakan pakaian indah dan tersenyum lembut padanya.

“Ara, kau ini anak perempuan yang selalu ceria. Apa yang terjadi padamu sampai kau begini?” tanya nenek.

“Aku sangat sedih kehilangan Nenek,” jawab Ara pelan. Nenek masih tersenyum, “Cobalah berjalan-jalan keluar untuk menghilangkan kesedihanmu, Ara. Jika kau terus mengurung dirimu di dalam kamar tanpa berbuat apa-apa, lama-lama kau bisa sakit,” kata nenek sambil memeluk Ara erat-erat.

Lalu Ara terbangun. Mimpi itu terasa begitu nyata dan pelukan nenek membuat semangat Ara timbul. Pagi harinya, Ara keluar dari kamar, mandi, dan makan sepiring kecil nasi goreng. Bibi Kima sangat senang melihatnya.

“Hari ini aku ingin berjalan-jalan, Bibi,” putus Ara.

“Boleh saja asalkan tak terlalu jauh. Saat makan siang, kau sudah harus kembali ke rumah seperti biasa,” kata Bibi Kima.

Ara mengangguk setuju.

Belum berapa jauh dari rumah, dia bertemu dengan seorang penjual balon. Penjual balon itu menyapa Ara, “Halo, gadis kecil yang cantik. Apakah kau mau membeli balon? Pilih saja warnanya. Mau yang merah, kuning, hijau, ungu atau biru?”

Ara menggeleng, “Pak, aku sudah terlalu besar untuk bermain balon. Umurku sudah 9 tahun.”

Penjual balon itu tak kurang akal, “Mungkin kau ingin membelinya untuk adikmu?”

“Aku tak punya adik,” Ara menjawab. Penjual balon itu mengamati wajah Ara, “Kelihatannya kau baru saja berhenti menangis. Matamu sembap dan wajahmu terlihat sedih.”

Ara tak berkata apa-apa.

“Aku akan memberimu sebuah balon. Balon yang ini lain, namanya Balon Kebahagiaan. Dengan memegang balon ini kau akan merasa lebih baik.” Diulurkannya sebuah balon bening yang tadi tak terlihat oleh Ara. Ara menerimanya dan mengucapkan terimakasih. Kemudian dia kembali berjalan.

Angin berhembus perlahan. Aneh, semakin lama, balon yang dipegangnya erat-erat mulai mengikuti arah angin. Balon itu mulai membawa Ara terbang di angkasa. Oh, oh, Ara sangat ketakutan ketika menyadarinya. Tetapi dia tak mungkin melepaskan pegangannya dan melompat begitu saja karena dia akan terluka jika melakukannya.

“Akan dibawa kemana aku?” bisiknya cemas. Tak lama kemudian, balon kebahagiaan itu membawanya terbang di atas perpustakaan kecil di dalam kampung. Ara ingat, dulu nenek sering membeli beberapa buku anak-anak setiap bulan dengan uang pensiunnya. Kata nenek, buku-buku itu akan disumbangkannya ke perpustakaan kampung agar anak-anak yang tak mampu membeli buku-buku juga dapat terus membaca. Kalau nenek masih hidup, pasti nenek akan mengirim buku juga ke perpustakaan kecil ini, pikir Ara.

Tiba-tiba Ara mendengar anak-anak berkata, “Betapa menyedihkan kalau Nenek Tuti tak ada. Hanya dia yang peduli dengan perpustakaan kecil ini.” Ara kaget mendengarnya. Nenek Tuti adalah nama neneknya.

“Ah, Nenek Tuti sangat baik. Mari kita doakan dia. Karena Nenek Tutilah kita semua dapat membaca banyak buku bagus yang tak bisa kita beli. Kita harus menjadi anak-anak yang pintar supaya Nenek Tuti bangga.”

Ah, ternyata nenek menyumbangkan buku-buku itu ke perpustakaan ini, pikir Ara. Angin kembali berhembus dan membawa balon yang dipegangnya kembali terbang. Kali ini balon kebahagiaan membawanya ke sebuah kebun kecil. Beberapa orang wanita seumur dengan neneknya sedang berjongkok sambil menyiangi rumput.

Ara mendengar seseorang berkata, “Bu Tuti berpesan, kalau tanaman obat ini harus kita rawat baik-baik agar siapapun yang membutuhkannya dapat mendapatkannya dengan cepat.”

“Benar. Bu Tuti orang yang sangat baik. Kita akan selalu mendoakannya agar dia mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.”

Balon kebahagiaan kembali membawa Ara terbang. Kali ini balon itu terbang di atas sebuah panti asuhan. Tiba-tiba dilihatnya Bibi Kima datang membawa sebuah bungkusan besar. Anak-anak balita itu berlari ke halaman untuk menjemput Bibi Kima.

“Mana Nenek Tuti? Kenapa bukan dia yang datang kemari?” tanya mereka.

“Mulai sekarang, Bibi Kima yang akan kemari ya. Bibi juga akan membawakan kalian susu dan pakaian seperti Nenek Tuti dahulu,” senyum Bibi Kima.

Ara sangat terharu melihat semua itu. Kini dia tahu, kalau tak hanya dia yang merasa kehilangan neneknya. Banyak orang-orang yang juga mengenal nenek, merasakan kehilangan dan kesedihan yang sama. Tetapi mereka tak larut dalam kesedihan berlama-lama. Mereka justru meneruskan kebaikan nenek agar kebaikan itu tetap dirasakan sama persis seperti ketika nenek masih ada. Dengan begitu neneknya, Nenek Tuti, tetap ada dalam hati mereka dan kebaikannya terus dirasakan seperti sebelumnya.

Balon kebahagiaan terbang membawa Ara kembali ke rumahnya. Dia sudah melihat banyak hal hari ini, dan anehnya, kesedihannya mulai menghilang berganti dengan rasa syukur dan bahagia.

Ara berdiri di halaman sambil menggenggam erat tali balonnya. “Balon kebahagiaan, terimakasih telah menemaniku pagi ini. Selamat jalan. Sampaikan salamku pada Nenek jika kau bertemu dengannya. Aku berjanji akan meneruskan kebaikan-kebaikan Nenek.”

Lalu dilepaskannya balon kebahagiaan itu mengangkasa ke udara.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s