Cerpen Anak Kompas_Kembar Bertukar

Cerpen Kompas Anak
Cerpen Kompas Anak

Nabila dan Nadira adalah dua anak perempuan kembar yang manis. Keduanya sangat mirip satu sama lain. Kata Bunda, itu karena mereka berdua adalah kembar identik.

Hampir semua orang kesulitan membedakan mereka, apalagi kalau Nabila dan Nadira memakai pakaian yang sama. Teman-teman, guru, bahkan kakek dan nenek akan sulit mengenali mereka.

Kalau Bunda sih bisa membedakan mereka dengan mudah. “Bunda bisa membedakan kalian meski dengan mata terpejam,” Bunda menyombong. Ayah tertawa mendengarnya, tapi mengakui kebenaran kata-kata Bunda.

Ayah sendiri kadang-kadang masih tertukar membedakan. “Nabila, ayo kerjakan pe-ermu sebelum bermain.”

“Ayah, ini aku Nadira.”

“Oh, maaf Nadira. Ayah mengira kau Nabila.”

“He he he… iya aku memang Nabila,” cengir Nabila yang disambut gelitikan Ayah yang jengkel karena digoda.

Tapi sebenarnya meski memiliki wajah yang sangat mirip, Nabila dan Nadira memiliki perbedaan pada hal lainnya. Misalnya, Nabila lebih suka makanan yang bersantan tetapi Nadira lebih suka yang berkuah bening, Nabila pintar berhitung, sementara Nadira sangat cepat menghapal, Nabila senang tertawa sedangkan Nadira lebih pendiam.

Minggu depan sekolah Nabila dan Nadira mengadakan ulangan harian untuk semua mata pelajaran.

“Kamu enak, Dira, hanya belajar sedikit saja sudah hapal semuanya,” cetus Nabila iri sambil memandang Nadira yang membaca buku IPS sambil makan kacang dengan santai.

“Humm, justru yang enak itu kamu, Bila. Pelajaran Matematikamu selalu bagus nilainya. Hanya menghitung sebentar, eh… langsung ketemu jawabannya,” sahut Nadira. “Seandainya aku bisa begitu, alangkah senangnya.”

Saat hari ulangan tiba, Nabila dan Nadira berusaha mengerjakan soal sebaik mungkin. Tetapi keduanya kecewa ketika hasil ulangan dibagikan.

“Aku mendapat nilai 6 di pelajaran Matematika,” keluh Nadira.

“Nih lihat ulangan IPSku,” Nabila menyodorkan kertas ulangan bertuliskan angka 5 dengan spidol merah.

“Tak apa. Bagi yang nilainya masih di bawah 7, ada kesempatan untuk mengulang lagi besok,” Bu Tini, guru mereka memberitahu.

Nabila mengerling ke arah Nadira. “Aku tahu cara yang lebih mudah bagi kita,” dia lalu berbisik pelan ke telinga Nadira.

“Aku tidak mau. Itu berbahaya!” pekik Nadira tertahan.

“Sssst… kita belum pernah mencobanya kan? Sekali inii saja,” bujuk Nabila.

Nadira tercenung beberapa saat sambil berpikir, dan beberapa saat kemudian dia mengangguk perlahan.

Keesokan harinya, Nabila memakai seragam yang bertuliskan nama Nadira dan Nadira memakai seragam yang bertuliskan nama Nabila. Ya, mereka merencanakan untuk bertukar.

Tetapi seragam itu tak luput dari perhatian Bunda. “Lho kok kalian bertukar seragam?” tanya Bunda heran, “Namanya jadi terbalik kan.”

Nabila dan Nadira berpura-pura kaget dan melirik nama yang tertempel di dada. “Oh iya… aduh, aku tak memperhatikan,” seru Nabila.

“Kami akan bertukar seragam di sekolah saja, Bunda,” sambung Nadira sambil menyendokkan nasi gorengnya cepat-cepat agar terlihat terburu-buru.

Bunda mengangguk setuju. Tak curiga.

Saat ulangan perbaikan, semua berjalan lancar. Tak ada seorangpun yang tahu kalau Nabila mengerjakan ulangan Matematika milik Nadira, dan tak ada seorangpun yang curiga ketika Nadira mengerjakan ulangan IPS milik Nabila.

Bu Tini mengangguk-angguk dengan puas melihat hasil ulangan perbaikan mereka. Keduanya mendapat nilai 10 untuk perbaikan nilai Matematika dan IPS.

“Ibu sangat puas dengan usaha kalian,” ucap Bu Tini bangga. “Kalian bisa menjadi contoh bagi anak-anak yang lain, jika mau berusaha keras pasti bisa mendapatkan nilai yang bagus.”

Nabila dan Nadira terdiam. Mereka memandangi hasil ulangan yang dibagikan. Nilainya memang 10, tetapi mereka heran karena tak merasa bangga dan senang. Hati mereka justru merasa sangat terganggu sekarang.

Seseorang mengetuk pintu kelas. Bu Tini membukanya dan tersenyum lebar. Beberapa saat kemudian Bu Tini berkata pada anak-anak.

“Pak Mantri dari Puskesmas datang untuk memberi suntikan imunisasi bagi yang belum mendapatkannya kemarin,” Bu Tini memberitahu.

Nadira terbelalak mendengarnya. “Gawat, aku tidak mau disuntik dua kali!” ujarnya panik.

“Memangnya kenapa kamu harus disuntik dua kali?” tanya Nabila heran, “Yang belum disuntik itu aku,” katanya.

Memang, beberapa hari yang lalu ketika Pak Mantri datang ke sekolah untuk memberi suntikan imunisasi, ada beberapa anak yang belum mendapatkannya karena kehabisan stok vaksin. Ada lima anak yang belum disuntik, termasuk Nabila.

Nadira melotot sambil menunjuk nama NABILA yang tertera di seragamnya. “Semua mengira Nabila adalah aku,” tegasnya.

Nabila tersentak. Benar juga. Aduh! Ini benar-benar super gawat. Mereka berpikir sejenak, lalu Nabila berkata, “Kita harus mengaku…”

“…dan jangan lupa mengembalikan hasil ulangan kita,” tambah Nadira.

“Benar. Tak enak rasanya berbohong seperti ini,” kata Nabila setuju. “Lain kali aku akan belajar lebih keras agar bisa sepertimu.”

“Aku juga akan belajar lebih keras agar bisa sebaik dirimu.”

Nabila dan Nadira saling tersenyum, dan keduanya menghampiri Bu Tini dengan langkah gagah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s