Aroma Kesedihan

cerpen ini pernah dimuat di majalah Femina. Tadinya judulnya Gadis Hujan, tapi karena dimuatnya bareng sama cerber mbak Ruwi Meita yang berjudul Tarian Hujan maka redaksi mengganti judul menjadi Aroma Kesedihan.

Barangkali hingga kini Naira tak pernah tahu kalau bayangannya menyisakan belenggu dalam kehidupanku. Kepergian Naira di senja kala itu seperti ujung belati yang siap menusukku berkali-kali, yang meskipun aku mati, belati itu tak akan berhenti menusukku. Tiap kali aku menoleh ke belakang atas sebab apapun, aku selalu merasa apapun yang kulihat akan tampak untuk terakhir kalinya bagiku. Seperti waktu itu.
Aku tak akan pernah lupa. Aku mengenal Naira sebagai Account Executive di kantorku. Tidak ada yang istimewa dengannya. Mungkin selamanya akan begitu, kalau saja pertemuan malam itu tak terjadi.
Malam itu, ketika aku keluar dari sebuah restoran Jepang, hujan turun dengan deras. Semua orang berlari menepi mencari perlindungan, kecuali seorang gadis yang berdiri di tengah derasnya timpahan hujan.
Kukira tadinya ia akan berlari menepi menghindari ribuan tusukan, tapi ternyata tidak. Ia justru menengadahkan wajahnya menantang langit. Membiarkan semua membasahi hingga mata kaki. Ia tak berusaha merapatkan jaket suedenya, seolah berusaha agar jumpsuit di dalamnya ikut basah lebih cepat. Dari belakang ia tampak seperti seorang yang berniat terjun dari bibir jurang.
Entah kenapa pikiran itu yang menyelinap di benakku. Membuat perutku melilit dan jantungku berhenti berdetak. Antara ingin berteriak menahannya, atau diam-diam mendatangi dan memeluknya dari belakang. Pikiran ini membuatku gila.
Aku tak tahan melihatnya, dan mulai berjalan ke arahnya dengan berbekal payung. Sungguh ini bukan karena aku lelaki sok romantis. Aku bahkan saat itu tak merasa mengenalnya. Semua kulakukan lebih karena aku kesal dan khawatir melihat kekeraskepalaannya.
“Kurasa payung ini tak ada gunanya untukmu,” sesalku tiba-tiba, merasa bodoh karena menaungkan payung di atas kepala seseorang yang sepenuhnya telah kuyup. Aku menoleh menatapnya, dan terkejut saat menyadari kalau ia adalah Naira.
Meski kaget karena tiba-tiba Manager HRD yang selama ini hanya ditemuinya di kantor berdiri di bawah payung berdua dengannya, ia menoleh ke arahku tanpa suara. Di bawah cahaya lampu jalanan harus kuakui ia sangat cantik. Wajahnya lembut, dengan sepasang mata yang menatap tenang. Entah kenapa aku baru menyadarinya sekarang.
“Malam ini aku sedang membutuhkan hujan. Sendirian.” Ia berkata lirih, namun tegas.
Aku pasti tersihir, karena ketika ia seolah mengusirku, aku justru berkata, “Aku juga sedang membutuhkan hujan,” ujarku. Melipat payung dan menjejalkannya ke dalam ranselku.
Ia tak menatapku, tak berbicara lagi padaku, tak juga menolakku. Hanya membawa langkahnya menyusuri setapak basah di luar jalur trotoar. Sementara aku mengikutinya dari belakang, sambil menimbang apa yang sebaiknya kulakukan atau kukatakan. Lalu aku memilih untuk berhenti, dan mengikutinya dari pandangan hingga ia menghilang.
Tapi itulah awal kedekatan kami. Kedekatan yang tercipta dari senyum, anggukan sopan, obrolan-obrolan sederhana di sela jam makan siang, yang tak terasa telah berlangsung selama dua bulan.
Kali kedua aku berada di restoran Jepang itu, aku telah duduk disana bersama Naira.
“Aku benci wasabi,” ujarnya sebelum sashiminya datang.
“Uap senyawa dalam wasabi bisa membangunkan orang yang kehilangan kesadaran,” aku terkekeh.
Ia hanya tersenyum kecil.
Menatap wajah Naira hatiku bergetar. Wajah itu selalu menampilkan ekspresi tak terbaca, yang bagiku justru seperti sebuah pusaran yang menyedotku ke sebuah petualangan jiwa yang tak bisa kutebak.
Malam itu di luar hujan sedang menderas. Tiba-tiba hujan itu mengingatkanku pada gadis yang berdiri di bawahnya dua bulan yang lalu. Ingatan itu membuatku ingin merengkuhnya.
Seperti ada dorongan tak terbendung dari dalam diriku, berkata tanpa tahu malu, “Hujan yang turun selalu mengingatkanku padamu. Ingatan barangkali alat pembunuh terkejam yang diciptakan Tuhan, karena entah kenapa aku selalu merasa tak berdaya saat ingatan ini tentangmu.”
Ia sepertinya diciptakan dari bongkahan gunung es, atau tebing batu karang. Karena ia hanya tersenyum kecil seolah terbiasa mendengar setiap lelaki yang ditemuinya melontarkan rayuan untuknya dimana saja.
Aku tertegun dan hendak memperbaiki sikapku yang mungkin terkesan kurangajar dan membuatnya salah paham, ketika tiba-tiba handphonenya menderingkan lagu Endless Love. Pada seseorang di seberang, ia berbicara dengan nada patuh, menjelaskan posisinya, meminta maaf, dan kembali memasukkan handphone ke dalam tas selempang rajutnya.
Aku menduga dengan tak suka, mungkin kekasihnya yang menanyakan keberadaannya. Menanti kedatangannya dengan gelisah dan cemas.
Aku memalingkan wajah ke atas. Berpura-pura sangat tertarik memandangi langit-langit restoran. Lalu kudengar dia berkata dengan suaranya yang ringan. “Seandainya saja aku bisa terus bersamamu…”
Kata-katanya terdengar seperti paduan orkestra di panggung yang megah. Hingga aku bisa mengingat detik-detik ketika ia mengucapkannya telah membuat kegelisahanku terurai seketika. Sejak itu namanya sering kusebut diam-diam saat malam-malam berdetak panjang.
“Menurutmu, kenapa manusia harus menjalani keberadaannya di dunia?” Naira tiba-tiba bertanya pada suatu senja. Kami berdua memutuskan berjalan kaki sepulang jam kantor. Sebelum perempatan di depan ada sebuah bangku panjang berwarna hijau tepat di tepi taman. Jika kami beruntung, mungkin kami bisa duduk disana untuk berbicara apa saja.
“Jackpot! Bangku itu kosong!” kuraih telapak tangannya dan membawanya berlari kecil mengejar bangku yang duduk anggun menunggu kedatangan kami. Aku sangat gembira mendapati bangku ini lengang.
“Kau tak menjawab pertanyaanku,” setengah merutuk, setengah terengah karena berlari, ia menuntut jawabanku.
“Kurasa manusia harus menjalani hidupnya untuk menyempurnakan kesadaran dirinya,” ujarku.
Naira menghela nafas lirih. “Lalu jika ada seseorang tak bahagia, apakah berarti kesadaran dirinya tak sempurna?”
“Aku tak yakin,” aku berusaha mengalihkan pembicaraan. Dalam pembicaraan ini aku menangkap matanya yang luka. Luka yang tak kuketahui darimana asalnya. Dan aku ingin pembicaraan ini segera beralih langsung ke inti pembicaraan saja.
Maka aku berkata, “Seorang filsuf bernama Heidegger mengatakan setiap bayi yang lahir membawa kesadaran akan kematiannya. Karena justru kematian seseorang yang membuatnya bermakna dan membawanya pada kebahagiaan.”
“Berarti Heidegger keliru,” gumamnya. “Aku tak ingin mati untuk mendapatkan kebahagiaan. Aku ingin hidup dan bahagia di dalamnya.”
“Kau bahagia, bukan?” tanyaku canggung. Merasa terpojok tiba-tiba karena merasa tak benar-benar mengenalnya.
Naira menatap ke arahku. Lekat. Sebelum akhirnya setetes air matanya jatuh di pipi kiri, lalu setetes lagi di pipi kanan. “Kalau aku bahagia, aku tak perlu menangis di bawah hujan saat itu agar tak seorangpun tahu.” Suaranya berderak pelan, dan pecah perlahan.
Tanganku mengusap pipinya lembut. Merengkuhnya sedekat mungkin. Memasukkannya dalam sendi hidupku. Memeluknya membuatku membaca lukanya, membuatku merasa tertikam luka yang sama. Tapi anehnya, di saat yang sama aku menyadari kalau pelukan ini tak akan meredakan apapun. Semua tak akan berubah.
“Kita tak bisa bersama lagi,” suaranya patah. “Aku akan menikah dengan orang lain.”
“Jangan lakukan itu, Naira.” Aku mempererat pelukanku. Panik.
Ia menggeleng kukuh. Wajahnya basah oleh air mata. “Aku harus melakukannya demi orangtuaku. Mereka lebih penting dari diriku, atau dirimu.”
Didorongnya dadaku menjauh. Dada yang kini terasa berderai lepas karena ia berkata, “Jangan jatuh cinta padaku.”
“Aku tak akan jatuh cinta padamu. Aku hanya akan berdiri di tempat yang sama, mencintaimu dengan caraku. Karena bagiku mencintai adalah menjadi sesuatu bagi orang yang dicintainya. Bukannya jatuh, karena jatuh berarti bisa berdiri, melangkah lagi, dan pergi.”
Ia tak berkata apa-apa. Hanya mengusap sisa air matanya, dan membiarkanku menatap punggungnya yang menjauh pergi.
Sehelai daun jatuh di bawah kakiku. Aku menatap kosong.
***
Naira resign dari kantor keesokan paginya, dan menutup seluruh kemungkinanku mendekatinya. Sampai tiga tahun kemudian suaranya mendesak di telepon.
“Temui aku,” nafasnya patah-patah.
Tubuhku menegang. Untuknya, aku masih lelaki yang sama dengan diriku dulu. Seolah memang begitulah yang telah ditulis dalam buku nasib, tiap pertemuan bersama Naira adalah saat langit membuka dan menderaskan air yang menghujan bumi.
Dihadapanku, Naira berdiri seperti sebatang pohon yang melengkung setelah badai menerpa. Hatiku teriris melihatnya. Ia tak lagi sama dengan Naira yang pertama kali kulihat menantang hujan. Ia berbeda dengan Naira yang membuatku mengira terbuat dari bongkahan gunung es atau tebing batu karang.
Ia menunduk sambil mengusap perutnya dengan lembut.
Aku menunduk ke arah yang sama dan menyadari kalau lengkungan tubuhnya mungkin karena bebannya pada bagian tubuh yang dielusnya.
“Ada apa?” suaraku terdengar cemas. Aku sendiri merasa tak sabar atas sikapku. Aku ingin segera tahu apa yang terjadi. Begitu Naira menutup teleponnya tadi, aku melesat seolah terbang ke tempat ini.
Naira menatapku dengan wajahnya yang bergurat, dan cekungan dalam di bawah matanya.
“Aku akan mengatakan padanya kalau ini sudah berakhir.” Naira mengatakannya perlahan, seolah aku tak akan memahaminya jika ia berkata lebih cepat.
“Aku wanita yang punya harga diri! Aku tak akan membiarkan diriku terus berada bersamanya. Aku manusia yang ingin bahagia.” Naira menegaskan kata-katanya, dan mengulanginya beberapa kali. Tubuhnya gemetar. “Entah kenapa aku merasa harus mengatakannya padamu,” isaknya, “kurasa aku hanya membutuhkan kekuatan.”
Aku memegang kedua lengannya dan mengangguk untuk menguatkannya. “Ya. Lakukan apapun yang kau inginkan, Naira. Apapun…” ujarku.
“Aku tak ingin bayiku tumbuh bersama seorang ayah yang penyiksa,” suaranya parau dan bergelombang. Kedua matanya basah dipenuhi air mata. Namun, tak sedikitpun ia terlihat lemah di hadapanku.
Aku terkejut, tapi mulai memahami situasinya.
Di dalam mobil yang kubawa, aku berkali-kali mencuri pandang melalui sudut mata kiriku. Menelusuri wajah cekung Naira yang telah bertekad bulat. Hatiku terasa nyeri memandanginya. Seandainya saja aku berjuang lebih keras dulu untuk mendapatkannya.
“Aku akan mengakhiri segalanya saat kami bertemu nanti,” ucapnya dingin.
Aku mendengarkan.
“Aku memutuskan ini karena aku tak pernah memercayai kata-kata filsuf yang kau ucapkan dulu,” sambungnya.
“Filsuf?” Aku sedikit tercengang. Tak siap akan pembicaraan ini.
“Bahwa kematian seseoranglah yang membuat dirinya bermakna dan membawanya pada kebahagiaan,” ia berkata, “Heidegger bodoh itu.”
Aku tertawa kecil. “Ya, aku senang karena kau tak memercayainya. Tapi Heidegger tak bodoh.”
Naira tersenyum kecil. Ia selalu tersenyum sekecil itu seingatku.
Melihatnya begitu rapuh, rasanya aku ingin menangis keras-keras jika saja ia tak sedang berada di sampingku.
“Naira,” suaraku berderak tanpa bisa kutahan.
Naira menoleh. Menunggu.
“Kau tahu, aku tetap berdiri di tempat yang sama, untukmu.”
“Jangan… mencintaiku,” jawabnya tercekat. Ia mengusap perutnya seolah mencari kekuatan.
“Jangan menghalangi jalanku lagi, Naira. Jangan!”
“Aku akan menyelesaikan ini dulu,” suaranya melembut. Menahanku.
Hujan di senja itu mereda. Dari kaca spion aku melihat punggungnya menghadapku, menjauh. Saat aku menoleh ke belakang, ia telah berbelok masuk ke sebuah gang.
***
Tanah basah. Hujan selalu menguarkan bau khas yang sejak kini kunamai dengan aroma kesedihan. Sejak pertemuan terakhirku dengannya, hingga kini aku masih mengutuki kenyataan diriku yang lemah dan tak mampu menjadi lelakinya.
Tahukah ia kalau selama ini ia telah menghunjamku dengan telak melalui kata-katanya, “Jangan mencintaiku…”
Karena dengan kata-kata itu ia telah mendorongku menjauh sebelum aku berhasil mendekat. Ia membuatku bersimpuh pada tanah merah pusaranya, dan menangis sejadinya menyesali banyak ketidakbecusanku memperjuangkan cinta.
Seandainya saja ia tak bertemu lelaki itu lebih dulu, seandainya saja aku berani menyambar tangannya dan berlari menjauhi segala penderitaannya.
Seandainya saja aku tak mengijinkannya keluar dari mobilku, seandainya saja aku tahu apa yang akan terjadi dan melindunginya dari mata pisau suaminya… Seandainya saja aku adalah lelaki yang lebih baik dari diriku sekarang.
Aku tak pernah tahu apakah belenggu di hatiku ini bisa lepas.
Aku merasa begitu sendiri. Sementara hujan di luar menderas. Kali ini tanpa kehadiran Naira.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s