Cerpen JogloSemar, 1 Juni 2014

Cerpen ini kutulis sebagai perlawanan kecilku terhadap kejahatan seksual terhadap anak. Hukuman 15 tahun tidaklah cukup bagi pelaku setelah menghisap seluruh kebahagiaan yang tersisa dari diri seorang anak.

Seorang Anak Lelaki Yang Ingin Mencari Ujung Pelangi

Pelangi itu melengkung diantara pegunungan, jauh dari jendela kamar anak lelaki itu. Anak lelaki itu memandang keluar jendela dengan hati berdebar. Matanya tak lepas dari lengkungan tujuh warna nun disana. Pelangi itu akhirnya datang setelah hujan. Itu artinya ia harus pergi sekarang.
Ia beranjak memeriksa barang-barangnya. Apa yang perlu dibawanya? Mendadak anak lelaki itu tak tahu apa yang hendak dibawanya serta. Ia ingin membawa mobil-mobilannya, atau baju gantinya, atau sepatu sepakbolanya. Tapi sepertinya tak cukup waktu untuk mengemas semuanya. Ia merasa malu pada dirinya sendiri karena tak sungguh-sungguh menyiapkan semua sebelum kepergiannya.
Oh ya, ia belum membawa boneka beruangnya. Ia melangkah ke meja dan meraihnya, tapi langkahnya terhenti ketika terdengar suara dengkuran keras dari kamar ibunya. Dengkuran itu membuat jantungnya berhenti berdegup sesaat, dan setelahnya menyisakan gemetar yang membuatnya melupakan bonekanya. Persetan dengan boneka beruangnya. Ia akan pergi tanpa membawanya.
Ia menoleh ke kamar ibunya. Dilihatnya ibunya sedang bergelung bersama lelaki yang dinikahinya 2 bulan yang lalu. Anak lelaki itu boleh memanggil lelaki itu dengan sebutan ayah, kata ibunya. Tapi meski mengangguk karena takut pantatnya menjadi sasaran cubitan jika membantah, anak lelaki itu tak merasa harus memanggilnya ayah. Ia sudah punya ayah yang akan ditemuinya sebentar lagi.
Bunyi dengkuran semakin keras. Melantakkan sebagian besar keberaniannya.
Anak lelaki itu menyeret ranselnya dengan hati-hati. Ia merasa beruntung karena sepatu bolanya telah dimasukkan ke dalam ransel, sehingga langkah kakinya yang halus tak menimbulkan bunyi saat bersentuhan dengan permukaan lantai. Ah, kenapa boneka beruangnya tak ikut masuk ke dalam ransel? Sesalnya. Lalu bagaimana ayahnya akan mengenalinya tanpa boneka beruang itu?
Anak lelaki itu merasa dirinya tenggelam dalam kegelapan. Bagi anak lain, boneka beruang mungkin hanyalah sekedar boneka beruang, tapi baginya tidak. Boneka beruang itu satu-satunya harapannya agar ayahnya mengenali dirinya saat bertemu lagi. Lalu iapun kembali lagi ke kamarnya, merutuki dirinya sendiri yang lambat berpikir dan membuang waktu berharga.
Lagi-lagi ia menoleh ke arah ibunya, yang kini menggeliat sebelum kembali bergelung ke arah lain. Anak lelaki itu sebenarnya sangat mencintai ibunya. Sebelum lelaki itu datang dan setelah lelaki itu datang, sebenarnya ia sangat mencintai ibunya. Dadanya tiba-tiba terasa kosong. Kesepian menggema disana seperti hantu yang tak bisa tenang. Mengapa harus seperti ini setelah apa yang terjadi padanya? Anak lelaki itu terduduk di atas ransel yang dari tadi diseretnya.
“Ibu, dimana Ayah?” anak lelaki itu mendengar dirinya sendiri bertanya pada ibunya di sepenggalan senja.
“Ayah? Hmmm…”
“Apa maksud Ibu dengan hmmm…” tanya anak lelaki itu sambil memandang ibunya yang sibuk mengecat kuku dan menyamakannya dengan warna bibirnya.
“Ayahmu berada jauh dari tempat ini. Sangat jauh. Itulah arti hmmm ibu tadi,” ibunya berbaik hati menjelaskan.
“Itukah sebabnya Ayah tak pernah kembali?” tanya anak lelaki itu lagi.
Ibunya merentangkan jemari, mengamati kuku-kukunya yang merah.
“Itukah sebabnya Ibu tak mencarinya?” anak lelaki itu terus bertanya. Membuat ibunya yang tak ingin menjawab mencoba mengalihkan percakapan ini pada hal yang sama sekali berbeda.
Lalu kata ibunya, “Lihatlah di luar jendela kamarmu! Ada pelangi yang muncul usai hujan tadi.”
Anak lelaki itu berlari menghampiri jendela, dan didapatinya kata-kata ibunya benar. Tak pernah sekalipun dilihatnya lengkungan warna semagis itu, hingga hatinya yang dipenuhi rasa takjub tiba-tiba melupakan pembicaraan mereka sebelumnya. Matanya menyusuri lengkungan tujuh warna.
“Pelangi adalah selendang dari nirwana,” bisik ibunya lembut sambil memeluk kedua bahunya dari belakang. “Di ujung selendang pelangi itu kau akan menemukan harta yang paling berharga untukmu.”
Anak lelaki itu tertegun. Janji yang dinyatakan pada ujung pelangi bukanlah sesuatu yang main-main. Harta yang paling berharga. Ia menyusuri ingatan satu demi satu. Boneka beruang pemberian ayah, buku pop up yang dibelikan ibu, sepatu sepakbolanya, lalu ini, lalu itu. Apa yang paling berharga untuknya? Ia merasa masygul karena tak bisa memilahnya dengan segera.
“Kalau Ibu, apa harta yang paling ibu inginkan di dunia ini?” tanya anak lelaki menoleh. Dahinya bersentuhan dengan dagu ibunya.
“Hmmm….”
“Apakah arti hmmm ibu adalah sangat jauh?” tanya anak lelaki itu.
“Bukan. Kau harus tahu bahwa ketika seorang perempuan mengucapkan hmmm, artinya tak selalu sama,” tukas ibunya.
Anak lelaki itu mengangguk-angguk, mencoba mengerti.
“Tentu harta yang paling ibu inginkan di dunia ini adalah emas berlian. Apa lagi?” ibunya mengangkat bahu.
Mata anak lelaki itu menerawang ke arah lengkungan warna-warni yang menebarkan harapan dalam dirinya. Jika mau mencoba berjalan dan menemukan ujung pelangi, maka ibunya akan menemukan emas berlian, seperti yang diinginkannya. Lalu apa yang diinginkannya? Ia tak ingin emas berlian. Ia hanya ingin ayahnya. Hanya ayahnya. Anak lelaki itu tersenyum. Kini ia tahu dimana ayahnya berada.
Tapi belum sempat ia menemukan rencana yang matang untuk mulai berjalan ke arah ujung pelangi, pelangi tak tahu diri itu sudah menghilang. Entah kenapa pelangi itu menghilang, anak lelaki itu tak yakin. Dulu ayah menghilang setelah pertengkaran hebatnya dengan ibu meledak memburaikan api yang salah satunya membuat sebagian hati anak lelaki itu menjadi abu. Tetapi tak ada siapapun yang membuat keributan apapun dengan pelangi itu. Kenapa pelangi itu menghilang, bahkan sebelum ia menyusun mimpinya?
Tak ada lagi hujan setelahnya, maka tak ada lagi pelangi.
Lalu meski hujan datang setelahnya, ternyata pelangi tak selalu datang seusai hujan.
Anak lelaki itu hampir saja menyerah pada kenyataan, bahwa pelangi tak akan datang, dan ia tak akan bisa mencari ujungnya untuk menemukan ayahnya, ketika tiba-tiba seseorang hadir dalam hidupnya.
Lelaki itu sebenarnya datang untuk ibunya, anak lelaki itu juga tahu. Memang aturan yang berlaku di dunia adalah, jika kau menginginkan yang besar kau harus memulainya dari yang kecil. Sebelum ia bisa melakukan penjumlahan dan pengurangan puluhan, anak lelaki itu belajar menghitung dalam jumlah satuan, atau ketika ia ingin bermain mobil-mobilan temannya maka lebih baik ia menyiapkan penganan atau gula-gula untuk teman itu. Anak lelaki itu paham sekali aturan itu. Maka ia juga tahu kalau lelaki berbadan besar dengan otot-otot yang setiap saat berkedut mengikuti semua gerakannya itu tiba-tiba mendekati seorang anak lelaki kecil kurus berambut berantakan, itu pastilah karena ibunya. Paling tidak karena kuku dan bibir ibunya yang selalu menyala.
“Kau anak yang manis,” lelaki itu berkata ketika ibunya memaksanya untuk menyalami lelaki itu dengan hormat.
Anak lelaki itu berusaha berdiri tegak dengan sikap paling sopan.
“Kau belum menyebutkan namamu!” Ibunya menegur sambil mencubit bokongnya.
“Jangan dipaksa. Lagipula aku sudah tahu namanya,” lelaki itu tersenyum maklum sambil mencegah tangan ibunya mencubit untuk kedua kalinya.
“Anak itu semakin menyusahkan dari hari ke hari,” keluh ibunya saat anak lelaki itu berlari menjauhi mereka. Anak lelaki itu sudah berlari cukup jauh sehingga tak lagi mendengar lanjutan kata-kata ibunya. “Setiap hari ia tercenung di balik jendela. Menunggu pelangi datang. Sebenarnya itu salahku. Ia mengira bisa menemukan ayahnya di ujung pelangi.”
Lelaki berbadan besi itu tertawa. “Kau tak perlu khawatir. Aku bisa menjaganya seperti anakku sendiri.”
Ibunya mendesah manja sambil memeluk leher lelaki itu. “Aku tahu kalau kau selalu bisa kuandalkan.”
Maka ketika lelaki berbadan besi itu berkata, “Temukanlah ayahmu,” maka anak lelaki itu mulai memandanginya dengan tertarik.
“Tapi itu sulit,” ucap anak lelaki itu terus terang. “Karena ayahku berada di ujung pelangi. Sementara pelangi ternyata tak datang dengan jadwal teratur layaknya matahari.”
Lelaki itu berjongkok. Menyamakan tinggi kepala mereka. Sesuatu yang sangat disukai oleh anak lelaki itu karena membuatnya merasa bahwa lelaki itu memberi kesempatan padanya untuk merasa setara.
“Pelangi akan datang untukmu, asalkan…”
“Asalkan?” anak lelaki itu mencondongkan wajahnya mendekati wajah lelaki itu. Ia bisa merasakan dalam dirinya ada sebuah kotak sulap berisikan kelinci yang melompat-lompat hendak mendesak keluar. Tapi nafas lelaki itu berbau anyir sehingga tanpa sadar ia kembali menjauhkan wajahnya.
Lelaki itu maju dan membisikkan sesuatu di telinganya. Anak lelaki itu menahan nafas. Pertama karena tegang dan harap-harap cemas atas kebenaran kata-kata lelaki itu, kedua karena nafas yang dibawa lelaki itu baunya berasal dari neraka.
***
Senja itu usai hujan saat ibunya tak ada, lelaki itu datang ke kamarnya dan menutup birai-birai jendela. “Aku sudah mengatakan padamu agar kau tak boleh mengintip datangnya pelangi.”
“Aku lupa,” kata anak lelaki itu.
“Apa lagi yang kau ingat selain yang kau lupakan?” tanya lelaki itu.
Anak lelaki itu menarik bola matanya menerawang ke atas, mencoba berpikir keras. Ia tak ingin mengecewakan lelaki yang telah berbaik hati memberitahunya cara mendatangkan pelangi agar ia bisa segera menemui ayahnya. Sesaat kemudian ia berkata, “Aku ingat. Kurasa kau berkata bahwa aku tak boleh menceritakan pada Ibu kalau kita memanggil pelangi datang, karena Ibu tak suka aku mendatangi Ayah.”
“Kau pintar,” lelaki itu memuji.
Setelahnya berjongkok dengan tak sabar di depan anak lelaki itu, dan memberinya perintah. “Lepaskanlah celanamu!” yang disambungnya dengan ancaman, “jika kau ingin pelangi segera datang.”
***
Anak lelaki itu menyeret ranselnya dengan hati-hati. Kakinya yang telanjang menyentuh bulu-bulu permadani dan menimbulkan gesekan halus yang justru membuatnya panik karena masih berada di dalam rumah. Ia harus bergegas sesegera mungkin sebelum pelangi menghilang.
Tekad itu membawa tubuhnya yang kecil dan kurus melangkah dengan pengharapan. Didekapnya boneka beruang pemberian ayahnya erat-erat. Ia tahu, benda ini satu-satunya yang mungkin masih dikenali ayahnya melekat pada dirinya dahulu. Karena dirinya yang sekarang telah berbeda.
Anak lelaki itu membawa dirinya menjauh dari ibu yang masih dicintainya, dan lelaki besi bernafas neraka yang meski bayangannya telah ditolaknya jauh-jauh, tapi masih saja menempel bagai lintah di jiwa dan menyedot semua kebahagiaannya yang tersisa.
Di hadapannya pelangi melengkung menjulang.

Advertisements

4 thoughts on “Cerpen JogloSemar, 1 Juni 2014

  1. Haloo, Mbak Yuniar…
    Salam kenal!

    Mau nanya nih, kalau dimuat, ada pemberitahuan gak ya dari redaksinya? (sebelum atau sesudah dimuatnya?). Lalu honornya, apa benar 200 ribu? Tolong balas ke email: humes221b@gmail.com
    Thanks

    Nb: saya di jakarta. Mau kirim ragu kalau gak ada pemberitahuannya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s