Satu Buku Cerita, Ratusan Gaya

Shirin_Leisure

Tulisan ini dimuat di Rubrik Buah Hati, Leisure, Republika tanggal 17 Desember 2013

Beda dikiiit sama naskah aslinya. Nah, kalau ada yang mau baca tulisan aslinya, yang ini:

Meski sudah bisa membaca sedikit-sedikit, Shirin (6 th) paling suka dibacakan cerita. Bukannya meminta dibacakan cerita di malam hari sebelum tidur seperti anak-anak yang lain, Shirin selalu minta dibacakan siang sepulang sekolah.

“Bacakan buku yang ini, Bu,” katanya sambil menyodorkan sebuah buku bergambar.

Aduh, makan siang belum siap di meja, ini malah ketambahan tugas baru membacakan cerita, batin saya. Dengan terburu-buru,  saya membuka buku cerita yang diminta dan mulai membacakannya.

“Ibu, jangan cepet-cepet bacanya. Aku nggak tahu ceritanya nanti,” protesnya. Ih, yang bener aja deh, batinku. Bukannya buku ini sudah dibaca ratusan kali?

“Iya deh, maaf,” sambil mulai membaca perlahan.

Satu buku selesai.  “Ibu masak dulu ya.”

“Bacakan lagi ya,” dia menawar. Saya mengangguk, dan berjanji membacakan buku lagi selesai memasak.

Ternyata buku yang dimintanya untuk dibacakan adalah buku yang sama. “Kamu nggak bosan, Nak?” tanya saya.

Shirin menggeleng. “Tadi Ibu nggak pakai gaya bacain ceritanya.”

Oh My God. Siapa bilang jadi Ibu mudah?

Barangkali tak hanya Shirin yang begitu. Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca, seperti halnya orang dewasa, anak sudah bisa memilih apa saja yang disukai dan menjadi favoritnya. Yang jadi masalah, kalau satu buku harus diulang-ulang sekian kali, mending pingsan deh.

“Shirin tahu, nggak? Ibu bosan lho baca buku yang sama berulang-ulang,” saya mencoba berkelit.

“Tapi aku nggak bosan kok, Bu,” kilahnya. “Soalnya Ibu kan bacanya lain setiap hari.”

Iya sih. Saya sendiri merasa, kalau pikiran sedang santai, tenaga sedang lebih, kalimat yang dibacakan juga jadi lebih hidup. Mau pura-pura jadi kodok, burung, pesawat, atau pohon, semua dilakukan dengan senang hati. Dan sebaliknya, jujur saja saya juga sering menyunat kalimat kalau sedang kelelahan.

Mengulang-ulang cerita yang sama bagi Shirin, karena dia ingin tahu apakah hari ini cerita itu bisa lain dari yang kemarin atau tidak? Ada banyak versi yang dinantinya bahkan dari buku yang sama.

Tak terasa kegiatan ini juga mendorong Shirin untuk belajar perbendaharaan kata yang baru, dan mengajarkan padanya untuk mengucapkan kalimat yang tertata dengan baik.

“Jadi sekarang Shirin mau gaya yang mana?” tanya saya sambil membuka-buka buku ceritanya.

“Tolong Ibu juga ikut pura-pura makan kalau puding dan kue-kuenya keluar,” katanya. “Nanti Shirin juga ikut pura-pura makan.”

Saya tertawa. Bagian pura-pura makan pasti sama menyenangkannya dengan makan betulan bagi kami berdua.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s