Pelajaran Menyeberang Oktipa Gurita

Di Kota Samudera, ada gadis gurita kecil merah bernama Oktipa. Oktipa adalah gurita kecil yang riang. Tetapi hari ini, hatinya sedang sedih. Dia ingin cepat-cepat pulang dari sekolah dan bercerita pada Mama.

Oktipa berhenti di tepi jalan raya dan berdiri kebingungan. Jalan raya begitu padat oleh ratusan ikan yang berenang cepat-cepat. “Oh, bagaimana cara menyeberangi jalan raya tanpa tertabrak?” pikir Oktipa.

Rumah Oktipa memang harus melewati jalan raya terpadat di Kota Samudera, tetapi biasanya dia tak kebingungan seperti ini karena selalu pulang bersama-sama dengan Rita, gurita kecil yang sekelas dengannya. Rita adalah gurita yang pemberani. Bersama sahabatnya itu Oktipa selalu merasa aman. Sayangnya hari ini, Rita sudah pulang mendahuluinya karena sedang marah dengan Oktipa. Dan itulah yang menyebabkan Oktipa sedih hari ini.

Oktipa menarik napas panjang. Bagaimanapun juga dia tetap harus menyeberang jalan jika ingin pulang ke rumah. Sambil memejamkan mata karena ketakutan, Oktipa berjalan sambil mengibas-kibaskan tentakelnya dengan panik, meminta semua ikan yang berenang di jalanan berhenti.

Seekor paus bertopi yang kelihatannya sangat terburu-buru, menabrak Oktipa. Oktipa terlempar ke tengah dan menginjak seekor ikan salem yang menjerit marah. Oktipa yang terkejut langsung melompat ke arah sekawanan ikan makarel yang selalu berenang bergerombol. Mereka dengan kesal berkumpul dan melontarkan Oktipa ke tepi jalan raya, dan membuat lalu lintas kacau.

“Kau membuatku terlambat datang ke pertemuan para hakim!” seru ikan paus bertopi jengkel.

“Bagaimana mungkin ada gurita sebesar kau belum tahu cara menyeberang jalan?” jerit ikan salem sekali lagi. “Aku yang tak sebesar kau saja lebih pintar menyeberang jalan!”

“Buka matamu lebar-lebar kalau menyeberang!” seru ikan-ikan makarel dengan kesal. “Jangankan melemparmu, kami bahkan bisa melempar ikan paus jika sedang marah.”

Ikan paus bertopi itu melotot ke arah ikan-ikan makarel.

“Maksud kami, tentu bukan melempar anda, Pak Hakim,” beberapa ikan makarel meringis melihat pelototan ikan paus.

Oktipa sangat ketakutan. Dia menangis keras-keras.

Ikan salem yang tadi diinjak Oktipa merasa iba. “Baiklah. Kurasa kami memaafkanmu. Ayo, kuantar kau menyeberang jalan.” Katanya sambil menyeberangkan Oktipa yang masih ketakutan.

Sampai rumah, tangis Oktipa meledak lagi.

“Ada apa, Nak?” Mama keheranan ketika Oktipa menghambur ke pelukannya.

“Mama, aku sangat sedih hari ini. Rita marah padaku, dan semua orang di jalan tadi juga memarahiku.” Oktipa tersedu.

“Apa yang kau lakukan sampai Rita marah padamu? Dan tentu kau juga berbuat salah sehingga semua orang di jalan memarahimu. Coba ceritakan pada Mama.” Mama duduk sambil meraih cangkir teh, piring kue, dan kaleng biskuit dengan tentakelnya.

“Sudah berhari-hari ini Rita memakai sepatu sobek. Rita belum mempunyai uang untuk membeli yang baru, dan dia ingin membeli sepatu lamaku dengan tabungannya. Aku tak mau dia membeli sepatu lamaku, dan aku berkata akan memberikan saja padanya. Tapi Rita marah dan berkata kalau dia ingin membeli, bukan meminta.” Oktipa tersedu-sedu.

Mama mengangguk-angguk. “Lalu apa yang terjadi padamu di jalan sehingga semua orang memarahimu?” tanya Mama sambil menyeruput tehnya.

“Aku tak bisa menyeberang jalan tanpa Rita,” keluh Oktipa. “Dan aku menabrak seekor ikan paus, menginjak seekor ikan salem, dan dilempar oleh sekawanan makarel tadi sepulang sekolah.”

Mama menatap Oktipa. “Kau sudah tahu apa kesalahanmu sekarang?”

Oktipa menggeleng sambil menyusut air matanya. Dia menggeleng perlahan-lahan.

“Mulai dari menyeberang jalan,” tegas Mama, “Apakah kau melihat ke kanan dan ke kiri dulu sebelum menyeberangi jalan? Apakah kau memastikan tak akan bertabrakan dengan seekor ikanpun saat menyeberang jalan?”

Oktipa menggeleng. “Aku memejamkan mata saat menyeberang jalan karena sangat ketakutan.” Jawabnya merasa bersalah.

“Oktipa, dalam menyeberang jalan, kau tidak hanya memikirkan keselamatan dirimu tetapi juga keselamatan yang lain,” ujar Mama. “Jadi pastikan untuk menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mengawasi lajunya ikan lain. Gerakkan tentakelmu perlahan sambil berjalan, untuk memberi tanda bahwa kau akan menyeberang. Itu juga sebagai tanda bagi mereka agar melambatkan laju berenang.”

Oktipa menoleh ke kanan dan ke kiri perlahan-lahan, mempraktekkan kata-kata Mama.

“Lalu tentang Rita,” lanjut Mama. “Apakah saat kau mengatakan akan memberi sepatu lamamu pada Rita, kau mengatakannya di depan teman yang lain?”

Oktipa mengingat-ingat. “Ya, saat itu kami sedang berada di dalam kelas. Rita berbisik hendak membeli sepatu lamaku, dan aku menjawabnya dengan suara keras.”

Mama mengangguk mengerti. “Tentu Rita malu. Memberi sesuatu sementara temanmu ingin membelinya, kadang-kadang akan membuat hati tersinggung.”

“Tapi aku berniat baik.” Oktipa berkilah.

“Benar. Tapi cukup tunjukkan niat baik itu dengan memudahkan niat baik temanmu. Ritapun ingin membeli sepatu baru, tetapi jika dia terpaksa membeli yang lama darimu, tak perlu kau teriakkan di depan semua orang bahwa kau akan memberinya. Bisakah kau bayangkan perasaan malu Rita saat itu?” tanya Mama.

Oktipa mengangguk.

“Seperti ketika kau menyeberang jalan, dalam bersahabat kau juga harus menoleh ke kanan dan ke kiri ketika menghadapi sahabatmu. Pikirkan baik-baik apa yang hendak kau lakukan, atau kau katakan. Maka jika sikap itu membuatmu selamat di jalan raya, sikap itu juga akan menyelamatkan persahabatanmu.” Mama membelai kepala Oktipa.

“Lalu apa yang harus kulakukan sekarang, Ma?”

Mama mengulurkan kaleng biskuit ke arah Oktipa. “Mintalah maaf pada Rita, dan katakan kalau kau bisa menjual sepatu lamamu padanya. Berikan harga yang paling murah, dan biarkan Rita tetap membelinya. Lalu kalian bisa pergi ke taman sambil mengobrol dan makan biskuit buatan Mama.”

Oktipa mengangguk.

“Hati-hati, kau harus menyeberang jalan raya jika hendak pergi ke taman,” Mama mengingatkan.

“Kali ini aku akan menoleh dulu ke kanan dan ke kiri untuk memastikan,”  senyum Oktipa lebar. “Terimakasih Mama.”

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Cerpen Anak Gurita.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s