Wipo Si Mobil Jelaga

Wipo adalah sebuah mobil van tua berwarna merah kusam. Beberapa penyok di sisi badannya ditambal dengan dempulan kasar. Jika mesinnya dinyalakan akan terdengar suara batuk yang berkepanjangan disusul dengan keluarnya asap hitam mengepul dari bagian belakang. Dengan segera asap itu meninggalkan jejak jelaga dimana-mana. Karena itulah Wipo disebut mobil jelaga. Tua, kotor dan bau. Begitulah yang bisa digambarkan oleh teman-teman sesama mobil penghuni garasi Pak Bun.

“Lihat si tua Wipo,” cekikik Sani mobil sedan biru cemerlang pada Roki mobil jip yang gagah ketika Wipo terbatuk-batuk lagi untuk kesekian kalinya ketika Pak Bun memanasi mesinnya.

“Kenapa Pak Bun tak membuangnya saja? Dijualpun tak ada yang mau membelinya,” ujar Roki memandang heran.

“Barangkali Pak Bun menunggu Wipo benar-benar tak bisa menyala dan akan membakarnya saja sekalian,” tawa Sani lagi.

Wipo sebenarnya sangat sedih mendengarnya. Dia memang sudah tua kini, tetapi dahulu ketika ayah Pak Bun membelinya untuk pertama kali dia adalah mobil yang cantik dan kuat. Dialah yang mengantarkan Pak Bun kecil ke sekolah untuk pertama kalinya berpuluh tahun lalu. Banyak kenangan yang telah dia alami bersama keluarga ini, mungkin karena itulah Pak Bun tak mau membuangnya meski Wipo tak bisa lagi berjalan kemana-mana.

Wipo terbatuk-batuk lagi. Jelaga menempel di lantai putih garasi membentuk bercak-bercak hitam. Pak Bun mendesah putus asa. Sementara tawa Sani dan Roki makin riuh terdengar.

“Wipo, aku sudah membetulkan mesinmu berulang-ulang, tetapi sepertinya kau tak lagi bisa sehat seperti dulu,” Pak Bun berkata sambil mengelus badan Wipo dengan menyesal.

Wipo hanya berkedip-kedip mendengar penjelasan Pak Bun.

“Apa yang harus kulakukan denganmu Wipo?” Pak Bun berkata lagi.

Wipo memejamkan mata. Dia bisa menduga apa yang dipikirkan Pak Bun. Pak Bun berencana akan menyingkirkannya. Dia jelas tak lagi laku untuk dijual karena itu barangkali memang benar nasibnya akan berakhir di tempat pembuangan sampah dan dibakar disana. Hiii… Wipo semakin ngeri membayangkannya. Bayangan api akan menjilat-jilat tubuh rentanya membuatnya sangat ketakutan. Dia ingin membela diri di depan Pak Bun dan mengingatkan padanya betapa besar jasa-jasanya dulu, tetapi Wipo tiba-tiba sadar bahwa bagaimanapun dia tak berguna kini dan hanya menjadi beban Pak Bun. Wipo pun hanya bisa memandangi Pak Bun yang melangkah keluar dari garasi. Meninggalkannya bersama Sani Sedan yang cantik dan Roki Jip yang gagah.

Esoknya Pak Bun kembali ke garasi bersama seorang laki-laki yang membawa alat pengukur, buku catatan dan pensil. Mereka berdua mengukur badan Wipo dari segala arah. Wipo, Sani dan Roki heran melihatnya.

“Kenapa Pak Bun memanggil seseorang untuk mengukurmu jika hendak dibuang?” tanya Sani.

Wipo menggeleng. Ada sedikit harapan menyelinap dalam hatinya, “Mungkin aku tak akan dibuang,” ujarnya pelan.

Roki menyanggah, “Kau diukur untuk menyesuaikan tempat dengan mobil pengangkut yang akan membawamu ke tempat sampah. Kau hanya diukur kan? Bukan diperbaiki mesinnya.”

Sani tertawa, “Kau memang pintar Roki.”

Wipo tercenung sedih. Dalam hati dia membenarkan jawaban yang masuk akal itu.

Pada hari berikutnya datang orang lain yang mendorongnya keluar dari garasi dan menaruhnya di halaman belakang. Mesinnya telah dilepas. Lalu kursi-kursinya. Orang itu hanya meninggalkan setirnya saja dalam keadaan utuh. Wipo tak bisa berbuat apa-apa selain memandang orang itu dengan kebingungan. Dia ingin bertanya pada Pak Bun tetapi Pak Bun tak nampak dari kemarin.

Wipo berdebar-debar ketika laki-laki itu mengeluarkan alat pemotong listrik dan…ngguuuunngg…Wipo menjerit ketika gergaji itu memotongnya di beberapa bagian. “Begini rupanya nasibku”, pikirnya pilu, “Aku akan dijadikan besi rongsokan tua”

Tetapi rupanya dia salah sangka, orang itu tak memotong seluruh badannya. Hanya sebagian saja.

Sampai hari-hari berikutnya, Wipo hanya pasrah saja ketika ada yang menggosoknya, mengelasnya, mengecat dan memasang bagian-bagian baru disana-sini. Wipo sama sekali tak tahu apa yang orang-orang ini inginkan dari dirinya. Mesinnya bahkan sudah tak ada sama sekali. Wipo melihat sendiri istri Pak Bun menjual mesin itu pada tukang loak.

“Semua kini telah siap,” bisik Pak Bun pada Wipo dengan senang pada suatu sore. Seluruh kursi di dalam badan Wipo telah diganti dengan rak berisi ratusan buku.

Pak Bun mendorong Wipo sampai di halaman depan dimana puluhan anak-anak telah menanti dengan wajah gembira. “Anak-anak, ini Wipo mobil perpustakaan  kalian. Kalian boleh membaca buku di dalamnya sepuas-puasnya!”

Anak-anak bersorak gembira. Wipo terpana mendengarnya. Air matanya berlinang saat menyadari bahwa Pak Bun kecil yang  dulu diantarnya kemana-mana benar-benar seorang yang istimewa.

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo, Januari 2010)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s