Tulidop Ingin Datang ke Pesta

 Tulidop si kurcaci ingin datang ke pesta ulang tahun sahabatnya Hilda penyihir. Dia telah menyiapkan kado istimewa untuk Hilda. Sebuah tas tangan dari rangkaian gigi buaya yang telah digosoknya hingga mengkilat. Tulidop tersenyum memandang tas itu. Dia yakin Hilda pasti menyukainya.

Sore ini dia mulai menyiapkan dirinya. Dikenakannya pakaian yang paling indah dan sebuah topi dari kulit rusa. Tak lupa dibawanya tas tangan yang akan diberikannya pada Hilda. Dia berjalan dengan gagah. Dipandangnya matahari untuk mengukur waktu. Hari masih sore, dia pasti akan jadi orang yang pertama datang ke pesta Hilda, pikirnya senang.

Saat sore hari adalah waktu burung-burung pulang ke Utara setelah pagi hari mereka terbang ke Selatan untuk mencari makan. Tulidop mengagumi kekompakan mereka saat terbang. Sayang kekagumannya lenyap saat seekor burung yang tertinggal dan hendak menyusul teman-temannya  tiba-tiba memilih melempar kotorannya ke bawah. Tepat pada topi kulit rusa Tulidop yang mewah. Tulidop terbelalak kaget. Cepat-cepat dilepasnya topi kesayangannya. Bah! Dia memaki-maki melihat noda putih dan bau itu pada topinya. Karena jijik di gosok-gosokkannya bagian yang kotor ke tanah, tetapi bukannya bersih topi itu justru semakin kotor tak karuan. Dengan menyesal ditinggalkannya topinya di bawah sebuah pohon.

Tulidop meneruskan langkahnya. Meski agak sedih harus kehilangan topinya dia menghibur diri dengan membayangkan suasana pesta Hilda penyihir yang biasanya ramai dan meriah. Tulidop bernyanyi-nyanyi kecil dan mulai merasa riang.

Di tengah perjalanan dia bertemu dengan kawanan monyet yang sedang bergelantungan di pohon-pohon. Mulanya mereka terdengar sedang berceloteh satu sama lain. Lama kelamaan Tulidop mendengar celotehan mereka semakin keras. Karena sangat ramai Tulidop tak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan tetapi hati Tulidop merasa tidak enak begitu melihat mereka mulai menjerit sambil menandak-nandak. Salah satu monyet mulai melempar sebutir apel ke arah kelompok di seberangnya. Rupanya dia sangat kesal. Lemparan pertama disusul keheningan selama beberapa saat. Tiba-tiba Tulidop mendengar seekor monyet pihak lawan memekik kencang memecah keheningan. Seketika lemparan buah menghujani kelompok monyet yang tadi melempar buah apel. Tulidop sangat panik. Sungguh sial dia terjebak ditengah-tengah perkelahian monyet ini. Duk! Kepala Tulidop tertimpuk sebuah jeruk. Airnya menetes membasahi pipinya.

Ketika menyadari keadaan yang gawat ini Tulidop pun berusaha menyelamatkan diri. Dia berteriak-teriak meminta ijin untuk lewat dulu. “Aku mau ke pergi ke pestaa Hilldaaa!! Ijinkan aku lewaatt!!” Tapi tentu saja teriakannya kalah oleh jeritan puluhan monyet yang sedang marah. Tulidop bahkan dilempari dengan pisang, apel, rambutan, stroberi, semangka, bahkan kelapa. Rupanya para monyet ini mengeluarkan seluruh persediaan makanannya untuk berperang.

Tulidop berlari kencang. Dia berusaha pergi sejauh mungkin dari pusat perkelahian. Ketika dia sudah berada cukup jauh, disadarinya pakaiannya yang indah sudah tak bisa dikatakan bersih sama sekali. Noda merah, bercampur kuning dan cokelat, bercampur dan menempel lengket tak mungkin dihilangkan. Tulidop sangat kesal hingga ingin menangis keras-keras. Dipandanginya tas gigi buaya kado ulang tahun untuk Hilda. Untunglah tas itu selamat.

Tulidop bertekad meneruskan perjalanan. Matahari sudah terbenam. Pesta Hilda pasti sudah dimulai. Dia sedikit terlambat. Tapi tak apa. Asal dia berlari maka dia akan sampai dengan segera.

Maka Tulidop berlari. Dia berlari terus hingga tak menyadari bahwa dia tersesat. Jalan yang harus dipilihnya ke arah kanan diambilnya sebelah kiri dan Tulidop pun tiba di sebuah rawa. Dia heran kenapa ada rawa di tengah jalan menuju rumah Hilda penyihir. Ketika dia menyadari dia telah tersesat Tulidop hendak berbalik, tetapi tiba-tiba seekor buaya rawa yang besar menyapanya.

“Hei, kau!”

Tulidop menoleh dengan takut, “Aku akan pergi, maaf sudah mengganggu,” ucapnya buru-buru.

Buaya itu menatapnya dengan tajam, “Bukankah itu gigi buaya yang kau bawa? Darimana kau dapatkan?”

Tulidop kaget. Digenggamnya tas Hilda dengan erat. Sebenarnya dia merangkai tas ini dari gigi buaya yang sudah mati. Tapi Tulidop yakin buaya itu tak akan percaya. Benar saja, buaya itu segera menyambar pergelangan kakinya. Tulidop berlari menghindar. Tetapi buaya itu berhasil menarik ujung celananya dan segera melempar tubuh Tulidop ke dalam rawa. Beruntung sekali dia terlempar ke sebuah batu besar. Saat buaya itu menyusulnya Tulidop sudah berhasil menyeberangi rawa. Badannya kotor terkena lumpur rawa. Bahkan tas gigi buaya hadiah untuk Hilda tak bisa diselamatkannya. Tapi dia selamat.

Sampai di rumah Hilda hari sudah larut malam. Pesta ulang tahun tentu sudah berakhir. Hilda sedang membereskan tumpukan piring dan gelas dengan tongkatnya saat Tulidop datang. Hilda sangat terkejut, “Wah, apa yang terjadi Tulidop?”

Tulidop dengan sedih menceritakan apa yang terjadi. “Bahkan aku tak bisa menyelamatkan hadiahmu, Hilda.”

Hilda menatapnya terharu. Dikeluarkannya sebuah kue tart dengan lilin yang masih utuh di depan Tulidop. “Tadi di pesta aku tak meniup lilinnya. Aku menunggumu”, kata Hilda. Dinyalakannya lilin dengan tongkatnya kemudian ditiupnya. “Kedatanganmu adalah kado yang terindah untukku,” Hilda tersenyum. Tiba-tiba Tulidop merasa tak terlalu sedih lagi.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s