Tiga Kata Ajaib

Raja Martin di negeri Matonia bukanlah seorang raja yang dicintai rakyatnya. Raja yang satu ini benar-benar sangat menjengkelkan. Bayangkan, pagi-pagi ketika dia bangun tidur para pelayan sudah disibukkan dengan setumpuk permintaan.

“Buatkan aku telur dadar.” Begitu telur dadar datang Raja Martin berteriak, “Aku ingin nasi goreng saja!” lalu ketika nasi goreng datang Raja Martin tetap mengeluhkan rasanya yang kurang ini atau itu. Dia tetap mengomeli pelayan dan juru masak yang telah dibuatnya sangat sibuk.

“Raja Martin memang seorang raja, tetapi sikapnya benar-benar tidak menyenangkan,” gerutu pelayan istana.

Juru masak mengangguk setuju, “Dia tak pernah meminta sesuatu dengan baik. Raja Martin hanya bisa berteriak-teriak seperti bayi.”

“Dan apakah pernah dia berterimakasih sekali saja?” sambung pelayan istana.

“Tidak!” mereka berdua menjawab bersamaan.

Dengan sikapnya yang seperti itu, banyak yang telah dibuatnya sakit hati. Tetapi Raja Martin tak pernah peduli. Penasihat istana pernah berkata padanya, “Seorang raja dengan sifat yang buruk tak akan dicintai oleh rakyatnya.”

Raja Martin sangat murka mendengarnya. “Aku ini seorang raja. Jadi aku bebas berbuat apa saja dan memerintah siapa saja dengan caraku sendiri! Mulai sekarang aku tak membutuhkan nasihatmu lagi, Penasihat Istana!” Saat itu juga Raja Martin menjebloskan penasihat bijaksana itu ke dalam penjara.

Hari-hari berlalu tetapi Raja Martin tak pernah berubah. Dia bersikap buruk dan tak menyenangkan kepada orang-orang di sekitarnya. Pada suatu hari Raja Martin melakukan perjalanan ke seluruh negeri Matonia. Di tengah perjalanan dia melihat sebuah kebun dengan banyak tonggak terpasang. Ada tanaman merambat di tonggak-tonggak tersebut. Buahnya bersisik warna merah dan kelihatan segar. Raja Martin memetik sebuah dan mengirisnya. Air liurnya semakin terbit ketika melihat betapa harum dan segar buah itu.

“Pengawal! Petik semua buah di kebun ini!”  Para pengawal menatap Raja Martin ragu-ragu, “Bukankah kita harus meminta ijin terlebih dulu pada pemiliknya?” tanya mereka. Raja Martin sangat marah mendengarnya, “Aku ini seorang raja. Aku tak perlu meminta ijin pada siapapun!”

Lalu dengan berat hati para pengawalnya mulai memetik buah-buah itu.  Tiba-tiba seorang nenek keluar dari sebuah gubuk di tepi kebun, “Apa yang kalian lakukan dengan buah-buah naga milikku?” tanyanya. Raja Martin menjawab, “Aku menginginkannya dan aku akan membawanya pulang ke istana.” Nenek itu hanya mengangkat alisnya sambil berkata, “Begitu, ya?”

Lalu tanpa merasa sungkan Raja Martin menyuruh para pengawalnya memasukkan semua buah naga itu ke dalam kereta kencana. Tanpa mengucapkan terimakasih, Raja Martin naik ke dalam kereta dan menyuruh sais kereta untuk berangkat.

“Tunggu!” teriak si nenek. Nenek itu mengacungkan ujung jarinya ke arah Raja Martin. Wajahnya terlihat sangat marah. “Dengarkan aku Raja Martin. Mulai detik ini kau tak akan bisa berbicara apa-apa lagi kecuali kau memulai kalimatmu dengan salah satu dari tiga kata ajaib.” Raja Martin terperanjat mendengarnya tetapi sais telah memacu keretanya pulang ke istana.

Sesampainya di istana, Raja Martin hendak memerintahkan juru masak untuk segera menghidangkan buah naga itu tetapi anehnya mulutnya tak bisa bergerak  sedikitpun. Raja Martin sangat marah dan ingin menyuruh para pengawalnya untuk menyeret nenek yang mengutuknya tadi tetapi bibirnya tak bergeser sedikitpun.

Tiba-tiba Raja Martin teringat nenek itu berkata bahwa dia bisa berkata-kata lagi asalkan dia memulainya dengan salah satu dari tiga kata ajaib. Tetapi apakah tiga kata ajaib itu? Raja Martin sama sekali tak tahu. Lalu dia teringat pada Penasihat Istana yang dimasukkannya ke penjara lalu diperintahkannya pengawal untuk menjemputnya. Tetapi lagi-lagi bibirnya terkunci rapat. Raja Martin ingin menangis keras-keras. “Tolong!” teriaknya. Ajaib, suaranya tiba-tiba muncul. Raja Martin terkejut dan menyambung kalimatnya pada pengawal, “Tolong, keluarkan Penasihatku dari penjara.” Lancar kalimatnya terdengar.

Ketika penasihatnya datang Raja Martin ingin meyuruhnya memberitahu apakah ketiga kata ajaib yang dimaksud oleh si nenek. Tetapi lagi-lagi bibirnya terkunci. Tiba-tiba dia teringat untuk memulainya dengan tolong. “Tolong, beritahu aku apakah ketiga kata ajaib itu? Kalau aku tak mengetahuinya, maka aku tak akan bisa berkata-kata lagi.”

Penasihat Istana tersenyum, “Baginda baru saja mengucapkan salah satunya. Yaitu tolong. Dua lainnya adalah terimakasih dan maaf.” Raja Martin terbelalak tak percaya. Benarkah tiga kata sederhana itu dapat menyelamatkannya dari kutukan ini?

Raja Martin kembali ke kebun nenek itu. Dia segera meminta maaf atas kelancangannya mengambil buah-buah naga tanpa ijin dan nenek itu memaafkan dan mencabut kutukannya. Raja Martin mengucapkan terimakasih atas kebaikan nenek tersebut. Raja pun pulang ke istana dan meminta maaf pula pada Penasihat Istana. Aneh, hatinya sungguh merasa lega setelah mengucapkan tiga kata itu dan semua yang mendengarnya menolongnya dan memaafkan kekeliruannya dengan mudah.

Sejak saat itu Raja Martin tak pernah lupa mengucapkan tiga kata itu. Jika dia membutuhkan sesuatu dia tak lagi menyuruh dengan berteriak tetapi mengucapkan tolong, jika telah selesai dibantu dia akan mengucapkan terimakasih, dan jika melakukan kesalahan Raja Martin akan segera meminta maaf. Semua orang di Negeri Matonia segera tahu bahwa raja mereka adalah raja yang baik dan pantas dicintai.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s