Sayap Patah Peri Niya

Peri Niya tercenung di depan sungai yang membelah hutan tempat tinggalnya. Sungai yang biasanya mengalir jernih akhir-akhir ini berwarna coklat dan penuh sampah. Kabarnya, di tepi hutan telah dibangun daerah permukiman manusia. Mereka bahkan membuat benda besar yang dinamakan pabrik dan benda itu mengeluarkan kotoran dari punggungnya. Peri Niya berpikir, bagaimana caranya agar sungai yang mengalir hingga ke Negeri Peri bisa bersih lagi seperti semula.

Peri Niya mencoba menyentuhkan tongkatnya di atas air sambil mengucap mantera. Dia mencoba membersihkan sungai, tetapi manteranya hanya berhasil membersihkan bagian tepinya saja. Peri Niya terbang kembali ke Negeri Peri dan mengeluh pada Peri Sita, “Aku tak bisa membersihkan sungai dari kotoran dan sampah. Manteraku hanya bisa menyentuh tepian sungai saja.”

Peri Sita menggelengkan kepala, “Kau tak mungkin dapat membersihkan semua sampah dari sungai yang begitu besar, Peri Niya. Mantera Ratu Peri pun tak akan bias.” Peri Niya mengiyakan dengan wajah lesu. Dia juga tahu bahwa manteranya tak akan mampu membersihkan seluruh isi sungai.

Tetapi Peri Niya masih penasaran. Hari ini setelah dia melenyapkan sampah dari tepi sungai, dia mencoba terbang ke tengah sungai. Peri Sita dan beberapa peri yang lain berteriak mencegahnya. “Jangan terbang ke tengah sungai”, teriak mereka, “Jika kau jatuh ke dalam air, sayapmu akan rusak selamanya!”

Peri Niya berkata, “Aku tak akan masuk kedalam sungai. Aku hanya mencoba membersihkan sampah dengan sihiran tongkatku.”

Peri Sita dan yang lainnya memandang dengan cemas melihat Peri Niya. Tetapi sayangnya karena sungai terlalu besar dan sampah yang harus dibersihkannya terlalu banyak, Peri Niya mengalami banyak kesulitan. Tongkatnya tak mampu menyentuh permukaan sungai meski dia terbang sambil membungkuk.

Peri Niya terbang lebih rendah lagi hingga kedua kakinya menyentuh sungai. Peri-peri yang lain mulai menjerit sambil menutup mata tetapi Peri Niya tak peduli lagi. Dia harus mampu melenyapkan sampah-sampah ini. Dia berhasil menyentuhkan tongkat sihirnya ke permukaan sungai. Peri Niya mulai berbisik mengucap mantera. Sampah di bagian tengah sungai mulai menghilang. Peri Niya bersemangat melihatnya. Sayangnya, sampah di sungai ini telah sedemikian banyak. Peri Niya kelelahan harus berkali-kali membungkuk dan mengucap mantera.

Byur! Tanpa dapat ditahannya lagi, tubuh mungilnya melesak masuk ke dalam air. Peri yang lain benar-benar kaget melihatnya. Serentak mereka terbang ke tengah sungai dan menyihir sebuah jaring kuat untuk menangkap Peri Niya.

“Sungainya tak cukup bersih,” bisik Peri Niya sedih.

“Dan sayapmu rusak selamanya. Kau adalah peri tak bersayap kini,” sesal Peri Sita dan yang lainnya ikut sedih mendengarnya.

Sejak hari itu, Peri Niya tak dapat terbang kemana-mana. Sayap peri memang tak bisa terkena air. Sayap mereka hanya boleh terkena embun. Tetapi Peri Niya memang peri yang tabah. Dia tak pernah mengeluhkan sayapnya yang patah dan tak lagi bisa digunakannya untuk terbang. Bahkan Peri Niya masih datang ke sungai yang telah membuatnya kehilangan sayap selamanya.

Hari demi hari dilaluinya dengan berjalan menyusuri sungai dan membersihkannya dari sampah manusia. Peri-peri yang lain sangat iba melihatnya. Disaat peri yang lain terbang di atas bunga-bunga atau bermain di atas pohon bersama burung-burung, Peri Niya hanya bisa berjalan dengan kakinya menuju sungai dan mulai menyentuh tepiannya dengan tongkat sihir. Tetapi yang tak diketahui oleh peri lain, Peri Niya sebenarnya tak terlalu sedih. Peri Niya senang duduk di tepi sungai dan berbicara pada ikan-ikan yang berterimakasih atas usaha kerasnya.

“Banyak saudara kami yang sembuh dari sakit karena kau membersihkan air sungai, Peri Niya,” ucap ikan-ikan disana. “Kami ikut menyesal kau kehilangan sayap dalam usaha muliamu” tambah mereka prihatin.

Peri Niya tersenyum, “Tak apa ikan yang baik, aku lebih sedih melihat air sungai yang kotor dibandingkan dengan kehilangan sayapku,” kata Peri Niya dengan lembut.

Kisah tentang Peri Niya yang tabah dan mulia hatinya terdengar oleh Ratu Peri. Ratu Peri sangat terharu mendengarnya. Ratu tak bisa membayangkan bagaimana peri dapat hidup tanpa sayap. Saat itu juga Ratu memutuskan untuk bertemu langung dengan Peri Niya.

Peri Niya sangat terkejut melihat kedatangan Ratu Peri. Dia sangat ketakutan dan mengira akan mendapatkan hukuman karena mematahkan sayapnya.  Ratu Peri tersenyum arif memandangnya, “Peri Niya, aku kesini bukan ingin menghukummu. Aku ingin memberimu hadiah. Bukan sepasang sayap baru karena aku tak bisa membuatnya.”

Lalu Ratu Peri menyentuhkan tongkat sihirnya ke dada Peri Niya. “Mulai saat ini kau bisa bernafas di dalam air seperti ikan,” kata Ratu Peri.

Peri Niya tertegun mendengarnya. Dia sangat terharu mendengarnya.

Dengan lincah dia melompat ke dalam sungai dan menyelam sedalam-dalamnya bersama ikan-ikan yang tertawa bahagia melihat senyumnya. Peri Niya mulai menyihir sampah-sampah agar menghilang hingga sungai dapat bersih dengan cepat. Sejak saat itu sungai yang membelah Negeri Peri kembali jernih karena kerja keras Peri Niya.

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s