Sahabat Seorang Puteri

Kinta membetulkan letak ranselnya. Wiuh, beban di punggungnya sungguh berat. Hari ini selain buku-buku pelajaran dia juga membawa buku-buku pinjaman dari perpustakaan sekolah. Dia tidak naik bis untuk menghemat uang sakunya. Nanti jika uang sakunya sudah terkumpul Kinta bisa membeli buku-buku bekas di pasar buku. Kinta sangat senang membaca sehingga dia rela mengumpulkan uang sakunya untuk membeli buku.

Bim-biiiimm. Suara klakson mobil mengagetkannya. Kinta menoleh. Jendela mobil mewah itu terbuka. Ternyata itu Puteri Ayumi, puteri mahkota  kerajaan Permai yang menjadi teman sekelasnya.

Puteri Ayumi tersenyum padanya, “Ayo naiklah ke mobil, Kinta! Rumahmu jauh kan? Kau akan kelelahan jika berjalan membawa tas seberat itu.”

Kinta tersenyum dan naik ke mobil Puteri Ayumi. Puteri Ayumi memang sangat ramah dan suka menolong. Semua orang di kerajaan Permai tahu tentang hal itu. Bahkan Puteri Ayumi meminta pada ayahnya agar disekolahkan di sekolah rakyat biasa agar dia mempunyai banyak teman.

“Apa sih isi tasmu?” Puteri Ayumi memandang ingin tahu.

Kinta membuka tasnya, “Aku meminjam buku di perpustakaan, Puteri,” jawab Kinta, “Sepertinya buku ini bagus sekali, tentang petualangan seorang anak laki-laki yang mencari bibinya,” tunjuknya pada Puteri Ayumi.

Puteri Ayumi menggeleng, “Terlalu tebal untukku. Aku pasti akan pusing membacanya.”

Kinta tertawa, “Aku memilih yang tebal supaya tak cepat habis dibaca”, jelasnya.

Puteri Ayumi mengantar Kinta sampai di depan rumahnya. “Terimakasih banyak, Puteri. Kau sungguh baik,” ucapnya.

Puteri Ayumi tersenyum, “Kalau kau mau datang ke istana aku akan membawamu ke perpustakaan istana. Disana ada jutaan buku yang bisa kau baca.” tawarnya tulus. Mata Kinta berbinar mendengarnya, “Senang sekali Puteri. Terimakasih”.

Sejak itu Kinta bersahabat dengan Puteri Ayumi. Mereka selalu pulang bersama-sama. Kadang-kadang mereka berdua bermain di halaman rumah Kinta dan sesekali Puteri Ayumi membawa Kinta untuk membaca di perpustakaan istana.  Puteri Ayumi adalah seorang teman yang menyenangkan. Dia selalu baik dan tak pernah menyombongkan apa yang dimilikinya. Bukan hanya terhadap Kinta tetapi Puteri Ayumi juga ringan tangan dan selalu menolong siapa saja. Sayangnya, Puteri Ayumi adalah anak yang pemalas. Dia tak terlalu suka membaca dan mengerjakan pr nya. Tak heran jika Puteri Ayumi kelihatan kurang pintar di kelas.

“Kerjakan pr ku ya, Kinta,” bujuk Puteri Ayumi, “Kau paling pintar pelajaran berhitung.” Disodorkannya buku pr nya pada Kinta. Kinta sebenarnya tahu bahwa ini bukanlah sesuatu yang jujur tetapi Puteri Ayumi sering memberinya permen istana yang sangat enak rasanya, Kinta jadi merasa tak pantas jika menolak.

“Kinta, aku pusing dengan tugas mengarang dari  Bu Denisa. Bagaimana kalau kau saja yang menuliskannya?” pinta Puteri Ayumi sambil mengulurkan kertas pada Kinta. Kinta yang merasa Puteri Ayumi telah begitu baik memberinya kesempatan masuk ke perpustakaan istana menjadi tidak enak jika tidak menuruti permintaannya.

Semakin sering Kinta membantu, Puteri Ayumi menjadi semakin sering mengandalkannya. Puteri Ayumi memintanya mengerjakan semua pr nya, membuat ringkasan pelajarannya, bahkan meminta Kinta menggambar pada pelajaran seni. Kinta yang sering diantar pulang oleh Puteri Ayumi dengan mobil mewahnya merasa malu jika tak membantu Puteri. Puteri Ayumi adalah sahabatnya, bagaimana mungkin dia tak membantunya saat Puteri Ayumi meminta pertolongan?

Suatu hari di sekolah, Bu Denisa mengadakan ulangan mendadak. Bagi Kinta, soal-soal yang diberikan oleh Bu Denisa tidak terlalu sulit. Kinta sering membaca buku apa saja dan sangat rajin mengerjakan pr-prnya tetapi malang bagi Puteri Ayumi, dia benar-benar kebingungan. Tak ada satu soalpun yang dia ketahui jawabannya, selama ini Kinta lah yang membantunya sehingga dia tak pernah belajar.

Puteri Ayumi menyentuh bahu Kinta saat Bu Denisa tak melihat. “Aku tak bisa mengerjakannya sama sekali,” bisiknya pada Kinta.

Kinta menatap sahabatnya dengan iba tetapi karena takut ketahuan Kinta menggelengkan kepala, “Aku tak bisa membantumu, Puteri,” jawabnya pula sambil berbisik.

“Geserlah sedikit agar aku bisa menyalinnya,” Puteri Ayumi berkata. Sambil menghela nafas sedikit keberatan Kinta mau tak mau menggeser jawabannya agar Puteri Ayumi bisa menyalinnya.

Tiba-tiba Bu Denisa sudah ada di sebelah mereka. “Apa yang kalian lakukan?” hardiknya pada Kinta dan Puteri Ayumi.

Mereka berdua sangat kaget dan ketakutan. Bu Denisa menyuruh mereka keluar dari ruang kelas dan menghukum mereka. Bu Denisa juga mengirim surat pada ayah dan ibu Kinta juga Raja dan Ratu kerajaan Permai orangtua Puteri Ayumi. Bukan itu saja, karena ketidakjujuran dan kemalasan, Puteri Ayumi hanya diperbolehkan belajar di dalam istana selama 1 bulan lamanya. Puteri Ayumi menangis menyadari bahwa selama beberapa waktu dia tak akan bisa bertemu dengan Kinta dan teman-teman yang lain. Tetapi bagi Kinta, ada pelajaran lain yang lebih berharga yaitu lain kali dia akan menyayangi sahabatnya dengan cara yang benar. Meskipun sahabatnya adalah seorang puteri raja.

(pernah dimuat di Kompas Minggu)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s