Ripi Sapi Melarikan Diri

WP_20140425_002

Ripi Sapi sebenarnya adalah sapi yang baik. Dia tinggal di peternakan dan banyak membantu Pak Sami pemiliknya. Ripi selalu makan rumput dengan lahap, dia tak pernah mengeluh bosan. Setiap pagi Ripi berdiri tegak agar Pak Sami dapat memerah susu dan memasukkannya ke dalam ember, dan dia tak pernah mengeluh bosan. Ripi telah banyak bekerja untuk peternakan itu sehingga Pak Sami juga dapat membuat keju, yogurt, dan mengirim berbotol-botol susu segar kepada pelanggannya. Bahkan jika Pak Sami bersenandung Ripi mengikuti dengan siulan moooh nya yang paling indah.

Tetapi akhir-akhir ini Ripi tak lagi bersiul. Dia tak lagi makan rumput dengan lahap meski Pak Sami membawakan yang paling segar dari padang. Karena Ripi tak terlalu makan banyak, maka dia tak terlalu  menghasilkan susu sehingga Pak Sami mengurangi produksi keju dan yogurtnya. Pak Sami tentu tak bisa mengurangi jumlah botol susu yang dikirimkan ke pelanggannya karena ibu-ibu akan marah jika pesanannya tak terkirim.

Suatu pagi Pak Sami terkejut mendapati kandang Ripi telah kosong. Ripi menghilang meninggalkan tumpukan rumput yang kemarin sore dibawakan oleh Pak Sami. Pak Sami tak dapat membayangkan dimana sekarang Ripi berada. Tetapi tak terlalu jauh dari peternakan, Ripi berlari menjauh menuju kebebasannya di dunia terbuka. Selama ini dia telah bekerja terlalu banyak dan tak pernah mendapatkan liburan.

“Aku tak akan kembali lagi ke peternakan,” kata Ripi, “Aku akan pergi masuk kedalam hutan dan berpetualang setiap hari. Hari-hariku tak akan lagi membosankan.”

Maka Ripi pun memulai petualangan barunya dengan hati berdebar-debar. Dia berjalan jauh sekali dari tempat tinggalnya dan menuju ke hutan. Hutan ternyata lebih jauh dari yang dapat dibayangkannya.

Ketika kakinya mulai lelah dia bertanya pada seekor kura-kura yang sedang melintas. “Kura-kura, dimana letak hutan sebenarnya?”

Kura-kura menatap kearah Ripi dengan wajah lelah. “Kira-kira sekitar seribu hari perjalanan.” Ripi terperanjat mendengarnya. Hatinya mulai menciut tetapi tekadnya sudah bulat hendak menemukan hutan maka dia mengucapkan terimakasih dan berlalu.

Kemudian dia bertemu dengan seekor kupu-kupu yang terbang mengelilinginya dengan sayapnya yang indah. Ripipun bertanya padanya, “Hai Kupu-kupu, tahukah kamu dimana letak hutan?”

Kupu-kupu itu tersenyum-senyum, “Wah, kalau aku yang harus pergi ke hutan aku akan sampai hanya jika sayapku sudah hancur menjadi serpihan karena kelelahan. Hutan itu sangat jauh Tuan Sapi”

Ripi kecewa mendengar ucapan si Kupu-kupu tetapi dia tetap melanjutkan perjalanan.

Tak jauh dari tempat itu Ripi menemukan sebuah rumah sederhana. Ada lima orang anak berlarian di halaman yang luas, berkejaran dengan ayam dan kelinci. Tapi tak ada sapi. Maka ketika Ripi memandangi mereka dari kejauhan, tiba-tiba salah seorang anak perempuan memekik gembira.

“Lihat, ada seekor sapi mampir ke tempat kita!” Segera saja kelima anak itu berlarian mendekatinya. Mereka berdecak mengagumi tubuh gemuknya dan kulitnya yang bersih terawat.

“Siapa namamu, Sapi cantik?” sapa mereka.

“Aku Ripi,” jawab Ripi tersenyum. Mereka sungguh anak-anak yang lucu.

“Bisakah kau memberi kami susu?” tanya anak yang paling besar, “Karena sejak kemarin kiriman susu telah dihentikan dari peternakan. Ini tidak boleh terjadi kan? Anak-anak harus minum susu supaya kuat dan cerdas.”

Ripi mendengarkan dengan prihatin, “Benarkah begitu? Tega sekali pemilik peternakan itu menyimpan semua susu sapi sendirian. Aku bisa memberi kalian susu anak-anak, tetapi setelah itu aku akan melanjutkan perjalananku berkelana menuju hutan.”

Anak-anak itu bersorak gembira dan memanggil ayah mereka. Pak Gerdi, ayah mereka sangat terkejut melihat Ripi.

“Bukankah kau Ripi sapi milik peternakan Pak Sami? Wah untung kami menemukanmu. Pak Sami sangat sedih kehilangan kau. Kemana saja kau pergi?”

Ripi sangat terkejut mendengarnya, “Aku sudah berjalan sangat jauh dan kau masih mengenalku?”

Pak Gerdi tertawa, “Kau pastilah selama ini hanya berputar-putar saja disini. Pulanglah, Ripi. Tanpa kau tak ada lagi kiriman susu untuk anak-anak kami. Banyak yang membutuhkan kau.”

Ripi  yang sebenarnya adalah seekor sapi yang penurut dan berhati lembut mulai menangis menyesali perbuatannya. “Sebenarnya satu-satunya yang kuinginkan adalah berlibur. Aku bosan hanya berada di peternakan sepanjang hidupku. Tak ada hal lain yang kulakukan selain makan dan membuat susu. Aku tak tahu kalau diluar peternakan banyak anak-anak yang menjadi kuat dan pintar karena aku”

Pak Gerdi mengangguk-angguk maklum, “Kami tahu pekerjaanmu pastilah sangat berat tetapi bagi semua orang yang tinggal di sekeliling peternakan kau adalah pahlawan, Ripi”

Ripi merenung-renung sesaat. “Aku akan pulang. Tetapi aku akan meminta libur pada Pak Sami sesekali agar aku tak merasa bosan,” putusnya.

Maka pulanglah Ripi ke peternakan. Pak Sami sangat senang melihat Ripi kembali. Kiriman susu kembali lancar.

Beberapa waktu kemudian, Ripi terlihat bermain di sungai dan berendam cukup lama. Wajahnya berseri-seri. Rupanya dia sedang berlibur.

 

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s