Penculik-Penculik Cantik

Ibu mematikan televisi. Acara berita kriminal telah selesai. “Nah, tuh kamu lihat sendiri kan banyak anak diculik sekarang ini.  Kamu harus lebih hati-hati. Jangan mudah percaya dengan orang yang tak dikenal!” nasihat Ibu pada Gea.

Gea terkikik geli, “Bu, memangnya Gea anak balita? Dijual juga nggak laku Bu. Mana Gea makannya banyak lagi! Lagipula mana ada yang meminta tebusan dari guru seperti Ibu?” tawanya.

Ibu melotot, “Eeh. Kita harus tetap waspada agar tidak membuka jalan bagi kejahatan,” katanya menirukan ucapan presenter di akhir acara.

Siang itu Gea dan beberapa temannya pulang sekolah lebih lambat daripada biasanya karena harus menyelesaikan Mading sekolah terbitan bulan ini. Setelah itu mereka berpisah karena harus pulang ke rumah masing-masing. Ada yang dijemput, ada yang naik sepeda, ada yang berjalan kaki, dan ada yang naik bis. Gea naik bis kota karena rumahnya cukup jauh dan tak ada yang menjemputnya.

Bis kota cukup penuh siang ini karena pulangnya Gea berbarengan dengan jam pulang para pegawai negeri. AC bis tak cukup memadai untuk mendinginkan penumpang berdesakan sebanyak ini. Gea mengipas-ngipas wajahnya dengan saputangan. Dia merasa sangat haus.

Tiba-tiba seorang gadis cantik berumur kira-kira 20 tahun, berambut sebahu disebelahnya tersenyum padanya. “Turun dimana, dik?”

Gea membalas sapaannya dengan senyum juga, “Masih agak jauh. Di dekat balaikota,” katanya.

Gadis itu mengangguk kemudian berbicara dengan temannya yang memakai jilbab warna biru muda disebelahnya.

Gea mulai terkantuk-kantuk ketika gadis berambut sebahu tadi menawarinya permen mint. Karena tak suka dengan rasa pedasnya Gea menolak, “Terimakasih”, sahutnya sambil menggeleng. Gadis itu memasukkan permennya ke dalam kantung  celana jinsnya.

Gadis itu kembali berbisik-bisik pada teman berjilbab di sebelahnya. Hati Gea mulai merasa tak enak. Tiba-tiba dia teringat pesan Ibu untuk berhati-hati karena sekarang ini banyak penculik berkeliaran. Jangan-jangan kali ini dialah yang akan menjadi korban. Apalagi gadis itu tadi menawarinya permen mint yang barangkali obat bius. Hiii… Ah, tapi apa mungkin mereka penculik? Mereka masih sangat muda dan cantik.

“Siapa namamu, dik?” tanya gadis yang memakai jilbab.

Gea memandang berkeliling dengan ragu, berharap yang ditanya adalah orang lain dan bukan dia. Tapi gadis itu jelas bertanya padanya. “Ehm, nama saya Tiyan,” jawabnya berbohong.

Gadis itu kelihatan terkejut. Dia kembali berbisik-bisik dengan temannya gadis berambut sebahu. Dari gerak bibirnya Gea menangkap sedikit kalimat, “…bukan…Gea.”

Gea terbelalak tak percaya. Masa iya sih, dia menjadi target penculikan? Lalu kalau bukan dia kenapa gadis itu mengetahui namanya? Hati Gea berdebar-debar. Dia merasa ketakutan. Dibayangkannya dirinya diculik dan dijual ke luar negeri seperti kata Ibu. gea mulai menimbang-nimbang apa yang sebaiknya dia lakukan. Kalau dia turun sekarang dan berganti bis lain justru akan lebih berbahaya. Akhirnya dia memutuskan untuk tetap naik bis yang sama. Paling tidak jika dia berhenti di tempat biasa dia hanya perlu berlari sekitar 100 meter untuk sampai kerumah.

Setelah bertanya tentang namanya, kedua gadis itu tak mengganggunya lagi. Gea mulai merasa agak tenang. Saat bis mulai mendekati balaikota, Gea beringsut mendekati pintu keluar, dan melompat keluar begitu bis berhenti.

Bis segera berjalan lagi. Gea menoleh ke belakang dan hatinya merasa tenang ketika kedua gadis cantik yang mencurigakan itu tak mengikutinya turun dari bis.

Gea berjalan menyeberangi jalan raya dan mulai masuk jalan kecil menuju rumahnya. Ketika dia iseng menoleh kebelakang… gawat! Ternyata kedua gadis cantik itu berada tak jauh darinya.

“Wah, ternyata mereka benar-benar penculik!”, bisik Gea pada dirinya sendiri. Kali ini hatinya benar-benar resah. Dia berpikir keras untuk menghindari kedua penculik cantik itu. Gea berjalan lebih cepat untuk menghilangkan jejak, dia harus segera sampai ke rumah dan meminta pertolongan Ibu.

Lalu berlarilah Gea secepat-cepatnya. Tak lama lagi dia akan sampai. Empat rumah lagi, dua rumah lagi, satu rumah lagi. Dan ini dia rumahnya. Tempat teraman di dunia. Sett…masuklah Gea ke dalam rumah dan dia segera berteriak memanggil Ibunya.

“Ibu, Ibu, tadi ada dua orang penculik cantik hendak menculikku,” ceritanya terengah-engah.

Ibu memeluknya dengan wajah bingung. “Coba ceritakan lagi dari awal” kata Ibu menenangkan Gea.

Gea baru saja akan membuka mulutnya ketika terdengar suara ketukan di pintu depan. Ibu bergegas menuju pintu dan membukanya. Dua orang gadis cantik yang akan menculiknya berdiri disana. Gea memekik perlahan.

Tapi pekikannya kalah dengan suara seruan Ibu yang terlihat senang sekali melihat kedatangan kedua penculik tadi. Gea menatap mereka bertiga keheranan dan dia mendekat. “Nah, ternyata benar dia puteri Bu Mimi. Wajahnya benar-benar mirip bu Mimi, maka kami mengikutinya tadi,” kata gadis berjilbab, “Tapi waktu dia berkata namanya Tiyan, kami jadi bingung karena seingat kami namanya Gea. Ibu terlihat bingung.

“Kami sudah bertemu di dalam bis tadi dan Gea bilang nama Gea adalah Tiyan,” jelas Gea dengan terpaksa.

Ternyata kedua gadis itu murid kesayangan Ibu di SMP dulu. Uni dan Wika. Kini mereka kuliah di luar kota dan ingin menjenguk Ibu.

“Ha ha ha..pantas saja Gea tadi berlari sangat kencang. Ternyata dia mengira kami penculik,” tawa Mbak Wika gadis yang berjilbab.

“Bukan hanya penculik. Tetapi penculik cantik,” kata Ibu.

Mereka tertawa.

Ibu mengelus rambut Gea yang ikut tertawa malu-malu.

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s