Pak Ol Si Pemarah

Seluruh desa tahu siapa Pak Ol. Pak Ol tinggal bersama istrinya dirumah bercat hijau yang selalu hiruk pikuk setiap hari karena suaranya. Pak Ol sangat pemarah. Siapa saja pasti akan terkena kemarahannya. Sebab menurut Pak Ol tidak ada sesuatupun yang sempurna ketika dikerjakan oleh orang lain. Sikap Pak Ol yang pemarah dan suka memarahi orang membuat semua orang ikut jengkel dan terpancing untuk bertengkar dengannya sehingga suasana menjadi semakin ribut.

Pak Ol pernah marah-marah pada Midi si pengantar susu karena terlambat menaruh susu di depan pintu.

“Tahukah kamu jam berapa ini, Midi?” tanya Pak Ol dengan suara keras.

Midi menggeleng dengan bingung. “Kamu terlambat mengantar susu kemari!” bentaknya mulai marah-marah.

“Benarkah, Pak Ol?” tanya Midi heran.

Pak Ol mengangguk penuh kemenangan. “Kamu terlambat 2 menit,” katanya angkuh.

Midi ingin sekali tertawa, “Tapi Pak Ol, itu karena pintu pagar anda sulit dibuka tadi,” katanya menjelaskan.

Pak Ol sangat marah mendengarnya. Lalu keluarlah omelan panjang lebar kepada Midi. Midi yang tak suka diomeli sangat jengkel pada Pak Ol.

Pak Ol yang pemarah juga pernah memarahi Bu Rara yang tak sengaja memecahkan telur saat mengantar telur ke rumah Pak Ol.

“Bisa hati-hati, tidak?” bentaknya. “Aku tak akan membayar telur yang pecah!”

Bu Rara mengangguk, “Tak perlu, Pak Ol. Telur yang pecah biar saya ganti nanti” jelas Bu Rara. Mengerti tabiat Pak Ol yang pemarah diapun tak ingin menanggapi, tetapi ketika Pak Ol mengomelinya dan menyebutnya, “Pemalas!” Bu Rara sungguh kehilangan kesabaran. Dilemparinya Pak Ol dengan sisa telur yang tak pecah. Rupanya Bu Rara benar-benar marah dan Pak Ol tentu jauh lebih marah dari Bu Rara yang dibuatnya marah.

Hampir setiap orang di desa pernah kena marah Pak Ol. Pak Darmin pengantar koran, Gora si pemotong rumput keliling, Weni penjual sayur. Bahkan semua binatang yang pernah lewat di depan Pak Ol ikut dimarahi karena banyak alasan yang telah dibuat Pak Ol.

Bukan hanya dengan orang lain. Dengan istrinya Pak Ol lebih marah lagi dan dia marah hampir setiap hari karena berbagai macam sebab. Ada saja yang bisa membuatnya marah. Pinggiran telur mata sapi yang terlalu kering, lantai yang tak segera kering setelah dipel, bau sambal yang membuatnya bersin, kaus kaki yang ujungnya robek, bubur yang terlalu encer, rambutnya yang beruban, bahkan dia marah ketika selai yang dioles pada rotinya terlalu banyak. Istrinya lelah sekali karena harus bertengkar setiap hari. Pak Ol benar-benar menyebalkan. Benar-benar kasihan istrinya

Pada suatu hari karena tak tahan selalu mendengar kemarahan Pak Ol, istrinya meminta pertolongan pada penduduk desa. “Kita harus memberi Pak Ol pelajaran. Lagipula aku sendiri lelah karena setiap hari harus mendengar kemarahannya” keluh istrinya.

Semua mengangguk-angguk setuju sekaligus iba pada istri Pak Ol. Semua ingin membantunya.

“Lalu bagaimana caranya?” tanya Midi, “Dia benar-benar galak sekali. Siapa yang akan memberinya pelajaran?” Midi benar-benar ragu pada ide ini.

Weni menyela, “Tentu saja kita semua yang akan memberinya pelajaran,” katanya. Lalu diucapkannya idenya dengan berbisik-bisik lirih. Semua mendengar dengan tekun. Beberapa saat kemudian suara-suara senang bermunculan.

“Nah, mulai besok kita coba lakukan apa yang dikatakan Weni. Rasanya cara ini mungkin berhasil” kata Bu Rara tersenyum. Istri Pak Ol pun pulang dengan hati lega. Sebab ada harapan suaminya mungkin berubah.

Paginya ketika Pak Ol marah pada istrinya karena nasi gorengnya kurang acar, istrinya mulai menjalankan rencana itu. Dibiarkannya Pak Ol marah-marah sendirian. “Nasi goreng apa ini? Acarnya sedikit! Kerupuknya bukan kerupuk udang!” dia mengomel sendirian. Istrinya hanya diam tak memberi tanggapan. Lalu ditinggalkannya Pak Ol yang  sedang mengomel dan masuk ke dalam kamar tanpa berkata-kata. Hening.

Saat Midi mengantar susu tepat waktu, Pak Ol marah padanya karena botol susu isinya kurang beberapa tetes dari biasanya. Pak Ol mengomel terus tetapi Midi hanya mengangguk sopan sambil tersenyum, kemudian pergi. Weni tukang sayurpun melakukan hal yang sama ketika Pak Ol memarahinya karena sayur bayamnya berlubang dimakan ulat. Tetapi semuanya diam saja berpura-pura tak mendengar suara Pak Ol.

Pak Ol yang seharian tak mendapatkan reaksi dari siapapun menjadi semakin uring-uringan. Dia marah dan marah terus sendirian. Ketika dia melewati cermin besar di dalam rumah tiba-tiba dia melihat bayangan seorang laki-laki tua dengan dahi mengkerut dan mulut yang mengerucut sedang mengomel sendirian. Dia tak menyukai laki-laki tua itu. Dia tak menyukai suara pemarah laki-laki tua itu. Sayangnya Pak Ol tahu bayangan itu adalah dirinya sendiri. Dia memanggil istrinya tetapi istrinya tak menjawab. Hening. Dia memanggil istrinya lagi. Tak ada jawaban.

Lalu Pak Ol sadar bahwa hari ini tak seorangpun menganggapnya ada dan tak seorangpun memperdulikan dia. Pak Ol benar-benar marah sendirian. Tiba-tiba Pak Ol sangat membenci dirinya yang pemarah. Dan dia merasa malu.

Sejak itu Pak Ol tak terlalu pemarah lagi. Rumahnya yang bercat hijau tak terlalu ribut lagi. Jika dia sedang marah-marah, semuanya terdiam dan meninggalkannya marah-marah sendirian sehingga dia bisa mendengar suaranya sendiri. Biasanya itu cukup untuk mengingatkannya.

 

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s