Pak Currin Yang Curang

WP_20140425_003

Pak Currin adalah seorang pedagang barang antik yang kaya. Tokonya hampir selalu ramai oleh orang-orang yang lalu lalang ingin menjual atau membeli barang-barang antik. Hanya sayangnya, Pak Currin bukanlah orang yang jujur. Dia biasa mencurangi pembelinya ataupun orang yang menjual barang antik kepadanya.

Bu Rose seorang wanita tua yang tinggal di ujung jalan pernah menjual sebuah jam dinding kuno kepadanya. Bu Rose yang hidup sebatangkara dan sangat membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari terpaksa menjual benda-benda kuno peninggalan ibunya. Kali ini giliran jam dinding yang dijualnya pada Pak Currin.

Pak Currin dengan mata berbinar-binar mengamati jam itu. “Wah, jam ini harganya puluhan juta,” pikirnya dalam hati. Diamatinya lapisan emas kuno pada jarum jamnya. Bahkan kayu jatinya masih sangat kokoh.

Bu Rose menatapnya dengan penuh harap, “Lalu kira-kira berapa uang yang bisa kau berikan padaku?” tanya Bu Rose.

Pak Currin dengan licik menjawab, “Wah, Bu Rose aku minta maaf karena tak bisa membeli jam ini darimu,” dia mulai bersiasat.

Bu Rose menatapnya kecewa, “Kenapa? Jam ini masih bagus kok. Aku masih memutarnya setiap hari dan dentangannya masih benar-benar nyaring,” katanya.  “Tapi kalau kau benar-benar membutuhkan uang untuk membeli keperluan sehari-hari, yah, aku bisa membelinya dengan harga 100.000.” Dengan wajah pura-pura menyesal didorongnya selembar ratusan ribu ke arah Bu Rose yang terpaksa menerimanya dengan wajah muram.

Pak Currin tertawa terbahak-bahak setelah Bu Rose menghilang dari pandangan.

“Kalau aku jujur, aku harus membayar paling tidak 15 juta untuk barang sebagus ini.” Lalu dijualnya jam antik Bu Rose pada seorang kaya raya dengan harga 60 juta.

Bu Rose sangat marah ketika beberapa minggu kemudian dia membaca sebuah surat kabar lokal dan menemukan berita tentang seorang yang membeli jam antik seharga 60 juta dan Bu Rose melihat jam antiknya difoto di sebelah orang yang membelinya. Bu Rose merasa ditipu dan meminta Pak Currin mengembalikan sebagian uang penjualan jam antiknya. Tetapi tentu saja Pak Currin tak mempedulikannya.

Pak Currin bertambah kaya karena dari hari ke hari dia memanfaatkan ketidaktahuan orang pada barang-barang antik. Dia sering melebihkan harga benda tertentu pada seseorang yang terlihat sangat menyukai benda tersebut. Banyak orang yang telah terlanjur membeli atau menjual sesuatu tetapi akhirnya merasa bahwa barang atau uang yang diterimanya tak sesuai dengan harganya dan kembali pada Pak Currin. Tetapi Pak Currin sangat pandai mengelak dan berkilah. “Itu namanya jual beli. Kalau kalian sudah setuju maka kalian tak boleh kembali lagi kesini dan mengatakan aku tak jujur,” katanya marah.

Pada suatu hari datanglah seorang anak laki-laki yatim piatu bernama Baika ke toko Pak Currin. Karena Baika membutuhkan uang untuk membayar uang sekolah maka dia menjual kalung terakhir peninggalan ibunya. Kalung itu adalah kalung indah dengan batu safir tergantung pada liontinnya.

“Aku akan membelinya seharga 200.000 dan tak ada penawaran lagi,” kata Pak Currin. Baika berpikir-pikir, memang 200.000,- itulah yang dibutuhkannya untuk membayar keperluan sekolah. Maka Baika menerimanya dengan senang hati. Saat akan pulang dilihatnya sebuah guci tembikar yang kotor terkena debu. “Bolehkah aku meminta guci itu sebagai tambahan Pak?” tanya Baika.

Pak Currin yang memang berniat membuang guci itu segera memberikannya pada Baika. Baika mengucapkan terimakasih dan pergi.

Di tengah jalan dia bertemu dengan Bu Rose yang menyapanya dengan ramah, “Darimana kau Baika?”

Baika mengangguk hormat, “Saya baru saja menjual kalung pada Pak Currin untuk membayar uang sekolah. Dia membelinya seharga 200 ribu”

Bu Rose terlihat sangat terkejut. “Wah, anak yang malang. Kau pasti ditipunya juga.”

Baika terlihat bingung. Dia sebenarnya juga tak tahu berapa harga kalung itu sebenarnya tetapi kata Bu Rose kalung emas dengan liontin batu safir sangatlah mahal. “Yah, Pak Currin membiarkan aku mengambil ini juga,” katanya menunjuk guci kotor yang ditaruhnya di tanah.

Dengan kesal Bu Rose mengangkat guci itu dan meniup kotoran di permukaannya. “Kau benar-benar ditipu, Nak. Teganya dia menambahkan guci kotor ini agar dia kelihatan baik hati.”

Bu Rose memasukkan tangannya ke dalam guci itu dan dia terkejut ketika merasakan tangannya menyentuh sesuatu. Ketika ditariknya tangannya betapa terkejutnya wanita tua itu saat melihat tangannya menggenggam setumpuk uang beserta secarik kertas. Cepat-cepat dibacanya, “Bu Rose, ini kekurangan uang sejumlah 14 juta 900 ribu hasil penjualan jam antikmu.”

Wow! Bu Rose terpekik kegirangan menerimanya. Dengan tangan gemetar diulurkannya guci tersebut pada Baika dan buru-buru meminta Baika memasukkan juga tangannya ke dalam guci, “Cobalah, ayo masukkan tanganmu dan lihat apa yang kau dapat.”

Baika menjulurkan tangannya dengan ragu ke dalam guci. Dan ketika tangannya keluar, betapa terkejutnya karena dia menggenggam sejumlah uang dan secarik kertas seperti yang diterima Bu Rose. Baika, ini kekurangan uang sejumlah 9 juta 300 ribu dari hasil penjualan kalung ibumu. Baika benar-benar sangat terperanjat. Dengan wajah berseri-seri mereka berdua memasukkan tumpukan uang itu ke dalam tas.

“Guci ajaib ini mengembalikan apa yang telah diambil Pak Currin dengan curang dari kita. Mari kita tawarkan pada orang lain yang pernah merasa dirugikan oleh Pak Currin!” kata Bu Rose.

Maka satu demi satu setiap orang yang pernah dicurangi oleh Pak Currin memasukkan tangannya ke dalam guci untuk mengambil kembali haknya. Ada saja orang yang curang dan mencoba memasukkan tangannya ke dalam guci meski dia belum pernah menjual atau membeli apapun pada Pak Currin, tetapi tentu saja mereka tak mendapatkan apa-apa.

Pak Currin sendiri heran kenapa uang yang disimpan di dalam lacinya yang terkunci tiba-tiba menghilang, dan setelah uangnya habis maka guci ajaib itu meminta penukaran dengan benda lain yang seharga dengan jumlah uang yang dicurangi Pak Currin. Lambat laun Pak Currin menyadari apa yang terjadi ketika banyak orang datang dan mengucapkan terimakasih pada Pak Currin karena mereka puas dengan uang yang diterimanya. Pak Currin sangat marah melihat uang dan benda-benda berharganya menghilang satu persatu di depan matanya dan kembali pada setiap orang yang pernah dicuranginya. Pak Currin pun bangkrut dan jatuh miskin. Tetapi kelak kalau dia hendak memulai berjualan barang antik lagi, Pak Currin pasti ingat untuk tak lagi berbuat curang pada pelanggannya.

 

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s