Mencari Pelaku Kaca Jendela Yang Pecah

Siang itu hari sangat terik. Fahra berkali-kali menuangkan es batu kedalam gelas sirupnya. Dia sedang mengerjakan pr nya ketika tiba-tiba terdengar suara praangg!! Fahra bergegas melongok ke jendela kamarnya yang berada di lantai dua dan melihat seorang anak laki-laki berseragam merah putih, berambut cepak dan mengenakan sepatu kets hitam berlari menjauhi rumah Pak Pras yang jendela rumahnya pecah dihantam batu.

Fahra melihat Pak Pras berteriak dan berlari ke jalan bermaksud mengejar anak laki-laki itu. Fahra ikut turun dan menghampiri Pak Pras.

“Anak itu lari ke sana Pak,” tunjuknya ke arah warung Bu Min.

Fahra bukan anak yang suka mengadu tetapi dia paling kesal melihat orang yang lari dari tanggung jawab setelah melakukan kesalahan.

“Kamu bisa mengenalinya?” tanya Pak Pras tergesa.

Fahra menggeleng. “Rasanya tidak Pak. Fahra hanya melihatnya dari belakang tetapi kita harus segera mengejarnya,” kata Fahra mengingatkan.

Pak Pras berlari ke arah yang ditunjukkan dan Fahra mengikutinya.

Diam-diam Fahra senang karena ada yang memecahkan jendela Pak Pras. Eitts, bukannya membela anak nakal itu lho. Tapi Fahra senang karena memiliki kesempatan untuk mendapatkan kasus baru. Dia sungguh-sungguh terobsesi ingin menjadi detektif. Dia menyebutkan ini sebagai cita-citanya sementara Ibu menyebutnya ‘Si Tukang Ikut Campur’, hi hi hi. Tapi Pak Pras senang Fahra mengikutinya. Bagaimanapun Pak Pras tahu bahwa dalam beberapa kasus yang pernah terjadi di sekitar sini Fahralah yang berhasil memecahkannya.

“Wah, bagaimana ini Fahra? Kenapa begini banyak anak-anak di warung Bu Min?” tanya Pak Pras bingung, “Lalu siapa yang memecahkan jendelaku?”

Fahra tersenyum , “Pak, warung Bu Min kan paling dekat dengan SD jadi memang biasanya banyak anak-anak jajan disini”

“Apa tidak mungkin dia sudah pergi ke tempat lain?” tanya Pak Pras ragu-ragu.

Fahra menunjuk pada gang sempit jalan keluar masuk ke warung Bu Min ke arah sekolah, semua yang lewat hanya bisa berjalan satu persatu. “Tak ada yang bisa berlari tanpa menabrak siapapun dan membuat keributan lebih besar dengan jalan sesempit itu, Pak. Dia pasti masih disini”

Fahra mencari-cari dengan matanya. “Anak itu berseragam, berambut cepak dan bersepatu kets hitam,” ujarnya pelan.

Pak Pras turut mencari anak laki-laki dengan ciri-ciri yang disebut Fahra. Akhirnya ditemukanlah lima anak laki-laki mirip dengan yang digambarkan Fahra. “Kamu mengenali mereka sebagai pemecah kaca jendela?” tanya Pak Pras.

Fahra menggeleng tetapi dia menghampiri kelima anak laki-laki itu dan menjelaskan bahwa dia dan Pak Pras sedang mencari anak laki-laki yang memecahkan kaca jendela rumah Pak Pras dan salah satu dari mereka adalah pelakunya.

“Aku dan Dio membaca komik disini sejak tadi sambil makan bakso,” bantah seorang diantaranya. Yang disebutkan sebagai Dio mengangguk-angguk mengiyakan, “Kami masing-masing jadi punya alibi kan? Oh ya, kalau kau kurang percaya ada Meisya tadi yang ingin meminjam komikku,” kata Dio tiba-tiba teringat dan dia memanggil Meisya yang mengangguk mengiyakan. “Nah, Meisya ingin meminjam komikku sekitar 15 menit yang lalu. Jadi pastinya bukan aku atau Romi yang memecahkan kacanya.” Fahra mengangguk.

Lalu Fahra melihat kearah anak laki-laki ketiga. Tak dilihatnya sisa makanan apapun di dekatnya. Fahra mulai mencurigai bahwa anak itu tentulah baru datang hingga belum sempat memesan apapun.

“Kau baru saja datang?” tanyanya.

Dia menggeleng dengan gugup. “Aku memang tak memesan apapun dari tadi. Aku hanya duduk saja karena uang jajanku telah habis saat istirahat pertama tadi.”

“Lalu kenapa kau disini?” tanya Fahra lagi.

“Aku sedang menunggu uang pembayaran Bu Min untuk bihun goreng yang kutitipkan disini.”

Lalu dia melangkah ke arah Bu Min yang tersenyum ramah padanya, “Maaf menunggu terlalu lama ya Nafi,” kata Bu Min.

Nafi tersenyum, “Tak apa Bu Min.”

Mendengar ucapan Bu Min, Fahra memutuskan Nafi pun punya alibi yang kuat.

Ditatapnya dua anak laki-laki yang tersisa. Seorang sedang menyendokkan es krim pelan-pelan ke mulutnya dan seorang lagi sedang menyeruput es tehnya dalam gelas yang hampir kosong.

“Aku disini dari tadi,” kata si peminum teh.

“Sama. Aku juga!”, sambung si Es krim.

“Ada yang melihat kalian disana dari tadi?” tanya Fahra sambil menatap sekeliling mencari jawaban.

Tak ada yang menjawab. Si peminum teh merasa perlu menjelaskan, “Aku memang berkeliling dari tadi. Mencari-cari makanan apa yang menarik seleraku. Ternyata kupikir-pikir aku kenyang dan hanya ingin minum saja.”

“Aku sudah disini sejak tadi. Sekitar 20 menit yang lalu aku membeli es krim dan berkeliling seperti dia. Banyak yang melihatku!” jawabnya tanpa ditanya ketika Fahra melihat ke arahnya.

Fahra mengangguk-angguk. Kemudian berbalik menghadap Pak Pras.

Pak Pras menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal. “Kelihatannya pelakunya tak akan ditemukan. Semua berada disini ketika kaca jendelaku pecah,” keluhnya.

Fahra tersenyum, “Tenang, Pak. Pelakunya adalah salah satu dari mereka,” kata Fahra sambil menunjuk seorang anak laki-laki. “Es krim yang dibeli 20 menit yang lalu sudah pasti akan meleleh di hari sepanas ini dalam waktu 5 menit saja,” lanjutnya tenang.

(jadi pemenang pilihan di :

 Sayembara Menulis Cerita Misteri Majalah Bobo 2009)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s