Makan Siang Mika

WP_20140425_012

Uuh.. hari ini Mika benar-benar lapar. Tadi pagi dia bangun kesiangan dan hanya sempat meminum segelas susu saja. Ditinggalkannya sepotong roti berlapis keju dan daging asap di meja makan dan direlakannya sarapan lezat itu untuk Mbak Rini, kakaknya yang sudah duduk di bangku SMP.

Sialnya karena terburu-buru Mika juga lupa membawa uang sakunya sehingga dia tidak bisa jajan. Ini benar-benar ‘hari perut kosong’, keluhnya sambil mengamati teman-temannya jajan dari balik jendela kelas.

Siangnya Mika pulang sekolah dengan segera. Perutnya benar-benar keroncongan. Dibayangkannya masakan Bunda hari ini. Kemarin dia melihat ikan cakalang di dalam freezer jadi barangkali hari ini Bunda akan memasaknya menjadi ikan bakar. Hmmm… lezat! Apalagi kalau Bunda juga membuat sambal dabu-dabunya. Wuih, benar-benar mantap! Nanti dia tinggal membuat es teh untuk minumannya. Membayangkan itu Mika bergegas mempercepat langkahnya.

“Bundaa!” serunya sambil mengetuk pintu karena ternyata pintu depan dalam keadaan terkunci. Barangkali Bunda pergi ke pasar bersama Rika adik bungsunya. Mika pun mengangkat pot pohon jeruk limau dan mengambil kunci di bawah pot. Hanya anggota keluarganyalah yang tahu tempat penyimpanan rahasia ini. Mika segera membuka pintu dan masuk ke dalam rumah.

Benar. Tak ada seorangpun di dalam rumah. Mika mencuci tangan dan mengganti baju seragamnya. Lalu dengan bersemangat dia membuka tutup meja makan. Wup! Benar-benar di luar dugaan! Meja makan kosong… Mika melihat sekeliling dengan bingung.

“Barangkali Bunda menyimpannya di lemari dapur,” pikirnya. Ketika membuka pintu lemari dia baru tahu kalau dia keliru. “Lalu dimana lauknya disimpan?” batinnya.

Dibukanya pintu kulkas. Betapa kagetnya Mika melihat sayur mayur masih dalam keadaan utuh dan ikan masih mentah di dalam freezer.

Aaahh!! Ingin rasanya Mika marah. Eit! Tunggu! Ternyata Bunda meninggalkan pesan untuknya di pintu kulkas. Mika sayang, Bunda tak sempat memasak. Rika sakit perut dan Bunda membawanya ke dokter. Tolong Mika masak sendiri ya untuk makan siang.

Wah! Keterlaluan! Kenapa Rika sakit di saat dia sedang sangat lapar?

Bisa saja dia memasak telur dadar supaya mudah. Tetapi dia benar-benar ingin ikan bakar untuk makan siang. Bagaimana ya?

Mika menghela nafas panjang. Dikumpulkannya tekad untuk menahan rasa laparnya.

“Mika, kalau kau berkorban sedikit maka kau akan dapat menu makan siang yang kau mau. Ikan bakar dan sambal dabu-dabu. Tahanlah laparmu sebentar, ya,” bujuknya pada diri sendiri.

Mika mulai mengumpulkan bahan-bahan masakannya. Disiapkannya ikan dan bumbunya. Mika sudah pintar memasak Bunda sering memuji masakannya dengan berkata, “Waktu Bunda kelas 5 SD  Bunda belum bisa masak seperti kamu lho, Mika.” Tetapi Mika belum pernah memasak dalam keadaan lapar seperti sekarang. Rasanya dia bisa berkhayal sebagai anak yatim piatu dalam keadaan seperti ini. Hiks!

Digorengnya ikan setengah matang terlebih dahulu. Plop!! Mata ikan yang meletus membuatnya kaget. Tangannya terciprat sedikit minyak. “Auw” jeritnya tertahan. Cepat-cepat ditaruhnya tangannya di bawah keran air. Dioleskannya mentega dan kecap pada ikan. Siap untuk dibakar.

Ditaruhnya alat pemanggang di atas kompor dan mulai dibakarnya ikan satu-satu. Bau khas ikan yang dibakar mulai memenuhi dapur. Sambil menunggu ikan dibakar, Mika membuat sambal. Setelah semua siap, hati Mika sangat senang. Akhirnya dia bisa makan siang sekarang. Diambilnya piring dan dibukanya rice cooker. Dan ternyata…oo..oouww…kosong! Tak sebutir nasipun ada disana. Badannya terasa lunglai. Kali ini dia ingin sekali menangis. Mika menghentakkan kaki dengan jengkel, tetapi mau tak mau dia terpaksa memasak nasi juga.

Satu jam kemudian nasi Mika matang. Ditatanya semua di meja makan. Mika duduk dan mulai berdoa. Baru saja dia menaruh nasi panas di piring, tiba-tiba dia mendengar suara di depan rumah. Mika keluar dan mendapati seorang Ibu menggandeng anak laki-laki kecil.

“Kami belum makan seharian, Nak. Apa kami bisa minta nasi putih saja?” tanya Ibu itu dengan suara pelan. Mika tertegun mendengarnya. Dia pun masuk kedalam rumah.

Saat keluar Mika sudah membawa seluruh masakannya di teras. Diulurkannya dua buah piring pada Ibu itu.

“Mari makan bersama saya Bu. Saya juga lapar sekali” ujar Mika dengan ramah.

Bagi Mika, makan siangnya hari ini adalah makan siang paling istimewa. Rasa terimakasih yang terpancar dari mata Ibu dan anak itu membuat Mika belajar banyak arti bersyukur. Dan dia senang karena siang ini Bunda tak sempat memasak untuknya.

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s