Lagu Untuk Jamur

 Para Kurcaci di hutan Hujan sangat gemar makan jamur. Kebetulan memang jamur di hutan Hujan sangat melimpah. Ada banyak jenis jamur tumbuh di berbagai tempat di hutan ini, tetapi para kurcaci paling menyukai jamur berbentuk lingkaran besar berwarna putih bersih. Mereka menyebutnya jamur bulan. Bukan karena bentuknya memang mirip dengan bulatnya bulan purnama tetapi karena jamur bulan hanya dapat tumbuh jika ada cahaya bulan. Para kurcaci tak akan menemukan jamur ini di siang hari betapapun inginnya mereka. Jamur bulan adalah jamur yang paling lezat bagi lidah para kurcaci. Mereka sering memasak jamur bulan menjadi sup dengan banyak peterseli atau dikocok rata bersama telur dan mentega. Hhmm..kedengarannya enak bukan?

Tetapi sayang sekali belakangan ini para kurcaci sulit menemukan jamur bulan meski saat malam terang oleh cahaya bulan. Jamur bulan tiba-tiba seperti menghilang. Poli Kurcaci yang sangat ingin makan sup jamur dengan peterseli bersungut-sungut sambil memetik jamur kancing kecil-kecil sebagai ganti jamur bulan kegemarannya.

“Jamur bulan habis karena kalian terlalu banyak memetiknya!” katanya pada para kurcaci lain.

Tentu saja mereka kesal mendengarnya. “Kau sendiri selalu memetik banyak-banyak setiap kali melihat jamur bulan!” sanggah yang lain.

Lalu mereka mulai berdebat tentang siapa yang paling benar. Hutan Hujan menjadi sangat ramai oleh suara teriakan mereka.

“Sudah diam!” lerai Toki Kurcaci yang paling tua, “Dengan bertengkar kalian tak akan menemukan jamur bulan meski hanya sepotong saja” Dan semuanya pun berhenti berdebat dan pulang ke rumah masing-masing dengan kecewa.

Malam demi malam jamur bulan tak juga kunjung tumbuh dengan banyak di hutan Hujan. Jika ada beberapa potong saja tumbuh, pasti jamur itu langsung menghilang diambil salah seorang kurcaci. Siapa cepat itulah yang dapat. Begitu akhirnya. Lama kelamaan para kurcaci kesal karena hanya mendapat jamur yang tak begitu menarik selera mereka. Meski mereka memasukkan banyak bahan yang lezat pada masakan mereka tetapi tak ada yang bisa menandingi keistimewaan jamur bulan. Tak ada sama sekali.

“Kita harus melakukan sesuatu agar jamur bulan tumbuh kembali,” Yuka Kurcaci berkata pada Poli dan yang lainnya.

Para kurcaci mengangguk setuju, “Tapi bagaimana caranya?”

“Kita akan menyuruh jamur bulan itu tumbuh!” kata Poli sambil tersenyum. Semua bertepuk tangan setuju bahwa itu memang ide yang hebat.

Pada malam harinya mereka bersama-sama pergi ke tengah hutan Hujan, di tempat jamur banyak tumbuh.

“Nah itu dia ada jamur bulan!” tunjuk Yuka pada sebuah jamur bulan kecil yang baru saja mulai tumbuh. Para kurcaci segera berlarian menuju jamur bulan kecil tadi.

“Hei jamur kecil! Kenapa kau muncul sendirian? Mana teman-temanmu? Enak saja kalian membiarkan kami menunggu makanan yang kami sukai!” Poli mulai membentak jamur bulan kecil sambil matanya melotot lebar.

Jamur bulan kecil yang malang dan tak tahu apa-apa itu melesakkan separuh badannya ke tanah dan menggeleng-geleng ngeri.

“Ayo masuk lagi dan panggil teman-temanmu keluar! Kami lapar!” bentak Yuka sambil telunjuknya menunjuk ke arah jamur kecil.

Jamur kecil itu melesat masuk ke dalam tanah dengan segera. Para kurcaci tersenyum puas, mengira bahwa jamur bulan kecil tadi akan memanggil teman-temannya. Tetapi agaknya para kurcaci itu keliru.

Sampai esok tiba dan berhari-hari kemudian, jamur bulan tak menampakkan dirinya lagi. Bahkan yang paling kecil sekalipun. Jika pada awalnya kurcaci-kurcaci penggemar jamur ini kesal karena tak mendapat jamurnya, kini mereka telah putus asa dan lelah.

“Ini semua karena kau memarahi jamur bulan kecil itu!” tegur Poli pada Yuka.

Wajah Yuka yang bulat memerah karena marah, “Kau yang lebih dulu membentaknya!” tinjunya mengepal ke arah wajah Poli. Kurcaci lain mencoba melerainya.

Toki tua yang terlihat paling letih duduk di  atas batu dan mulai menggumamkan sebuah lagu untuk menghibur hatinya sendiri, jamur cantik seindah bulan…lembut dan manis bagaikan awan…berkumpul menambah indah seisi hutan…Dia menggumamkan lagu itu dengan lembut berulang-ulang. Kurcaci yang lain terdiam mendengarnya dan mulai mengikuti nyanyian itu bersama-sama.

Tiba-tiba keajaiban muncul. Satu persatu jamur bulan mulai menampakkan diri. Mereka bergerombol dalam jumlah banyak dan menggoyangkan batang mereka sehingga bagian atas berayun lembut. Para kurcaci berpandangan sambil tersenyum. Ternyata bukan bentakan dan teriakan yang membuat jamur-jamur itu mau menampakkan diri melainkan justru nyanyian yang lembut.

Sejak itu kurcaci-kurcaci hutan Hujan selalu bernyanyi dengan lembut sebelum mulai memetik jamur bulan dan merekapun tak memetik terlalu banyak agar para jamur juga punya kesempatan untuk tumbuh.

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s