Kisah Mak-Mak Berani Malu

Semua kisah para Mak di buku ini dijamin bikin perut keram :-p

Ini potongan salah satu adegan. *Wesyehh kayak apa aja :-p

:

Suatu hari setelah berbelanja, aku mendapati bawang merah yang kubeli dari tukang sayur ternyata tak semuanya kering. Ada beberapa yang telah membusuk, padahal harganya cukup tinggi saat itu. Udangnya juga sebagian tak segar, dan dicampur begitu saja dengan udang yang bagus dalam satu plastik yang sama.

Aku kesal melihatnya, dan berkata pada suamiku. “Lihat, Yah. Kadang orang mau untung cepat, tapi merugikan orang lain. Barang busuk semua begini dijual,” ungkapku kesal. Padahal sih yang busuk sebenarnya tidak semua. Tomat dan bayam yang kubeli juga masih segar tadi. Aku hanya ingin berkata kalau seharusnya penjual tak membiarkan barang busuk sampai ke tangan pembeli.

Suamiku mengangguk penuh simpati, dan Shadra juga meniru ekspresi wajah ayahnya. Tetapi esoknya, semua yang terjadi di luar dugaanku.

Saat ibu-ibu berkumpul di depan untuk membeli sayur, tiba-tiba pahlawan kecilku ini menyeruak menerobos kaki ibu-ibu yang lain. Dengan wajah serius dia berkata pada si penjual sayur. “Kemalin, udangnya busuk, bawangnya busuk, tumatnya busuk, semua busuk.”

What???

Ibu-ibu tetangga mulai tertawa mendengarnya. Sementara warna merah mulai menjalari wajahku, juga wajah penjual sayur.

“Apa yang busuk?” mata si penjual sayur menatapku. Wajahnya tak terima.

“Oh, eh. Bawang, sedikit,” ujarku tak enak. “Udang juga, sedikit.”

“Busuk. Semua,” Shadra menimpali dengan serius.

Kugendong anakku cepat-cepat.

Penjual sayur berwajah galak itu mulai merepet. Dia mengomel panjang lebar tentang dia juga korban dan bukan orang yang bersalah, dia hanya mendapat barang itu dari pasar dan penjual di pasarlah yang tidak jujur, dan terakhir dia mengatakan di musim hujan begini bawang merah memang tak semua bagus. Semua bukan salahnya, dan tentu aku seharusnya tak mengajari anakku yang masih balita mengatakan dagangannya busuk.

Ap-paa??? Oh, ini benar-benar kacau. Mana mungkin aku mengajari anakku untuk menyerangnya? Memangnya aku komandan pasukan khusus? Meski aku menjelaskan padanya hingga jungkir balik sirkus, dia tak akan percaya sedikitpun pada kata-kataku.

 

Naaah itu baru sebagian keciil.. 🙂 yang lain banyaak yang lebih lucu lagi. Buruan pada pergi ke Gramedia dan beli segera.

(Buku ini ada karena rasa cinta kami pada Rumah Dunia).

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s