Kesedihan Yang Menghilang

Rogo Kurcaci sedang sedih. Dia kehilangan harta berharganya yaitu batu kebahagiaan. Batu itu warisan dari nenek moyangnya para Kurcaci. Rogo berpikir, belum pernah rasanya dia sesedih ini sebelumnya. Rasanya mustahil dia bisa bahagia lagi karena selama ini batu kebahagiaan itu membantunya mendapatkan kebahagiaan.

Saat Rogo sedang larut dalam kesedihan tiba-tiba datanglah Dinti Kelinci. Dinti menangis meminta tolong padanya. “Rogo, tolonglah aku. Anakku tadi bermain sendirian di semak-semak, kakinya tak sengaja tertusuk duri. Sekarang duri itu menancap kuat dan aku tak bisa melepasnya. Maukah kau melepaskan duri itu dari kakinya Rogo.”

Rogo segera berdiri dan mendahului Dinti menuju rumahnya. Sampai disana Dinti memeluk anaknya yang menangis kesakitan, “Tenang, Nak. Paman Rogo akan menolongmu,” hibur Dinti.

Dia melepas duri di kaki anak Dinti cepat dan dirobeknya ujung lengan bajunya untuk membalut bekas luka pada kaki kelinci kecil yang malang itu. Dinti Kelinci mengucapkan terimakasih pada Rogo. Diulurkannya sebuah bungkusan kecil pada Rogo, “Rogo terimalah teh ini. Kalau kau sedang lelah minuman ini akan sangat membantumu.” Rogo mengucapkan terimakasih dan pulang.

Baru saja dia hendak membuka pintu rumahnya, Peri Nit-Not melesat mendahuluinya sambil menjerit-jerit panik, “Rogo tolong aku! Celaka sekali! Tolong aku.”

Rogo menatapnya dengan heran. Nit-Not terlihat sangat kacau. “Ada apa?” tanyanya.

“Aku merusakkan semua kue Peri Ciesa. Tadinya aku disuruh menjaga kue yang sedang dipanggangnya karena Peri Ciesa akan menjemput kerabatnya yang hendak berkunjung. Tetapi aku lupa dan menggosongkannya. Lalu aku mencoba membuat lagi dari bahan yang tersisa. Tetapi aku memecahkan telurnya karena terlalu kencang memegang dan aku menghamburkan terigunya karena terpeleset dan menteganya mencair karena tak sengaja kumasukkan ke dalam pemanggang, tadinya aku mengira itu lemari,” katanya panjang lebar.

Rogo menghela nafas. “Wah, kacau sekali ya?” tanyanya prihatin.

Peri Nit-Not mengangguk-angguk setuju. “Ya, ya. Karena itu tolong aku segera! Cepat sebelum Peri Ciesa dan semua kerabatnya kembali.”

Lalu dia kembali melesat meninggalkan Rogo yang pontang-panting membongkar isi lemarinya untuk mengganti bahan kue Peri Ciesa.

“Aku bukan pembuat kue yang hebat,” Rogo mengaduk telur sambil memperingatkan Peri Nit-Not.

“Ah, kau jauh lebih hebat dari aku,” putusnya cepat-cepat. “Apa yang bisa kubantu?” tanyanya sambil meraih kantung terigu. Karena tergesa-gesa kantung terigu itu oleng dan tumpah sedikit isinya. Ups! Peri Nit-Not memandang Rogo dengan takut.

“Duduk saja dan jangan membantu!” Rogo kesal.

Peri Nit-Not yang cerobohpun menurut. Diamatinya Rogo mengaduk dan mencampur bahan-bahan kue kemudian memasukkannya ke dalam pemanggang. Bahkan bukan hanya satu loyang, Rogo membuatnya tiga loyang.

Tak lama tiga loyang kue bolu yang kelihatannya lezat telah siap tersedia di meja. Menunggu Peri Ciesa datang bersama kerabatnya. Hangat dan harumnya memenuhi dapur. Peri Nit-Not bahkan juga menyediakan air madu dalam cangkir-cangkir kecil yang menawan.

Saat Peri Ciesa datang, dia sangat heran melihat tumpukan kue bolu dan air madu untuk dia dan tamu-tamunya. Diucapkannya terimakasih pada Peri Nit-Not yang segera menunjuk Rogo sebagai penolongnya. Peri Ciesa membungkuk pada Rogo dan mengucapkan terimakasih. Dibungkuskannya sebuah kue bolu dan diberikannya pada Rogo. Rogopun membawanya pulang.

Dia baru saja duduk di kursi ketika Timot Kurcaci datang sambil menangis. “Rogo, tolong aku. Aku sedang sedih”

Rogo segera berdiri menghampirinya, “Ada apa?”

Timot terisak-isak dan berkata, “Aku dimarahi terus oleh Nenekku. Katanya aku kurcaci bodoh karena tak bisa belajar keahlian para Kurcaci. Aku tak bisa menjahit, tak bisa memasak, dan aku tak bisa menggali-gali tanah untuk menemukan harta. Bahkan aku tak bisa berteman. Aku tak memiliki seorangpun teman, Rogo. Aku sedih sekali. Barangkali kalau aku punya teman aku bisa belajar banyak hal darinya. Nenekku tak pernah mau mengajariku karena katanya aku bodoh sekali” tangisnya sedih.

Rogo iba sekali mendengarnya. “Dengarlah, aku ini kan temanmu?” hiburnya. Digesernya kursi agar Timot bisa duduk dan dia meminta ijin Timot untuk menyeduh teh dari Dinti Kelinci di dapur. Tak lama kemudian dibawanya dua cangkir besar berisi teh panas dan sepiring besar penuh potongan kue bolu. Timot tersenyum ketika Rogo ikut duduk dan mulai mengobrol bersamanya.

Banyak hal yang mereka bicarakan. Kadang Timot tertawa terbahak-bahak karena cerita lucu Rogo. Rogopun berjanji pada Timot bahwa dia mau mengajari kurcaci muda itu belajar ilmu yang biasa dikuasai kurcaci. Timotpun terlihat lega dan dia pamit pulang.

Kini Rogo benar-benar sendiri. Dia heran saat merasa ada yang hilang dari dirinya. Lalu tiba-tiba Rogo sadar bahwa dia tak sedih lagi. Tindakannya untuk membantu kesedihan teman-temannya justru membantunya menghilangkan rasa sedihnya. Dia tersenyum. Dia tak perlu batu kebahagiaannya lagi. Rogo sadar bahwa dirinya sebenarnya bahagia.

 

 

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s