Kelompok Dodol

Di kelas Bian ada beberapa anak yang tak terlalu pintar dan tak terlalu bisa bergaul. Mereka adalah Ari, Tiwi, dan Guna. Mereka duduk berkelompok di bangku tengah kelas dan berteman akrab satu sama lain karena teman yang lain tak terlalu memperhatikan mereka. Bian menyebut mereka Kelompok Dodol dan diam-diam sering menertawakan tingkah kikuk mereka dari belakang.

“Lihat apa yang sedang dilakukan Kelompok Dodol,” bisiknya pada Rahma ketika melihat mereka bertiga mengerjakan tugas dari Miss Risa beratih dialog dalam bahasa Inggris.

Rahma dan Bian terkekeh  geli mendengar bahasa Inggris bercampur logat Jawa, bahasa Ibu mereka. “Bahasa Inggris gaya baru,” kata Rahma. Bian tertawa setuju.

Suatu hari Bian tak masuk sekolah selama 2 hari. Badannya panas. Hari ini dia mulai berangkat sekolah kembali meski rasa pusingnya masih mengganggu. Yang paling penting suhu tubuhnya tak panas lagi. Bian mulai menyiapkan dirinya kembali. Pasti banyak ketinggalan yang harus dikejarnya selama 2 hari tak masuk sekolah.

Tetapi betapa kagetnya dia saat di sekolah Bian menyadari bukan saja ketinggalan pelajaran yang harus dikejarnya tetapi juga hal baru yang harus dibiasakannya sampai akhir semester ini. Selama dia tidak masuk kemarin Bu Tatik wali kelas 5, meminta murid-murid membentuk kelompok belajar. Masing-masing kelompok berisi 4 orang. Karena Bian tidak masuk, Bian ditempatkan bersama Ari, Tiwi, dan Guna dalam satu kelompok karena tak seorangpun yang mau berada dalam kelompok mereka.

“Aku ada dalam Kelompok Dodol??” jerit Bian histeris.

Rahma dan Astri hanya mengangkat bahu, “Habis mau bagaimana lagi? Kamu kan tidak masuk sekolah ketika kelompok belajar dibentuk. Kami tidak bisa berbuat apa-apa,” kata mereka.

Bian menghentakkan kaki dengan kesal. Tapi benar kata mereka, dia tak bisa berbuat apa-apa. Maka diapun terpaksa harus menerima kenyataan ini. Dia adalah Kelompok Dodol sekarang.

“Nanti sore kita mulai belajar kelompok. Bagaimana kalau di rumahku?” kata Guna.

Semua mengangguk setuju. Bian hanya diam saja.

“Kita kerjakan tugas Sainsnya nanti saja kalau begitu. Wah kita akan membuat model tata surya bersama-sama. Asyik sekali” kata Tiwi gembira disambut senyum yang lain.

Tapi Bian tetap diam saja. Maka Tiwi, Ari dan Guna pun memandang kearahnya, “Atau Bian punya ide lain?” tanya Guna ramah.

Bian menggeleng kaku, “Ide kalian sudah paling top deh,” jawabnya masam.

“Nah, mulai nanti sore di rumah Guna kalau begitu, ya,” Ari menegaskan diikuti anggukan yang lain.

Mereka membawa bahan-bahan yang diperlukan ke rumah Guna. Guna sendiri menyediakan kawat dan bola plastik berbagai macam ukuran sebagai model planet. Karena menyadari diantara mereka Bian yang paling pintar maka mereka banyak mengandalkan Bian untuk menyusun tata surya dengan benar. Tetapi Bian menyusunnya dengan malas. Ari, Tiwi, dan Guna berusaha keras membuat Bian merasa nyaman. Ari menggunting kawat untuk Bian sesuai ukuran, Tiwi mengeluarkan banyak candaan yang hanya dibalas Bian dengan senyum tipis, dan Guna menyediakan minuman untuk mereka setelah bertanya pada Bian dia ingin minum apa. Tetapi toh tugas mereka tak mungkin selesai pada hari itu juga. Karena itu mereka membuat janji untuk bertemu lagi di rumah Guna.

“Aku tak mau datang lagi!” kata Bian.

Semua memandangnya bingung, “Aku tak mau ikut kelompok kalian. Kelompok Dodol,” katanya. Bian mencibir dan bergegas pulang.

Saat hari pengumpulan tugas tiba, Bian melihat kelompok Dodol telah berhasil menyelesaikan tugas Sains mereka. Sebuah model tata surya yang bagus, Bian mengakui dalam hati. Dia agak menyesal meninggalkan kelompok belajarnya itu. Karena keluar dari kelompok, maka dia terpaksa mengerjakan tugasnya sendiri. Bian membuat jam pasir.

Satu persatu kelompok belajar menunjuk wakilnya maju untuk mempresentasikan hasil karyanya. Saat tiba giliran Kelompok Dodol, Guna maju dan berkata, “Kelompok kami membuat model tata surya. Tetapi kami menyerahkan presentasi ini kepada Bian sebagai ketua kelompok.”

Semua bertepuk tangan menanti Bian maju ke depan. Bian menatap Guna, Ari dan Tiwi, tetapi mereka pura-pura tak melihat. Akhirnya Bian terpaksa maju ke depan. Diapun mempresentasikan hasil karya Kelompok Dodol. Sambil berbicara dia melirik papan yang menyangga model tata surya itu. Nama Bian tertulis di urutan teratas. Selesai presentasi, semua bertepuk tangan untuknya. Bian memang pandai berbicara.

Bu Tatik memuji kelompok Bian sebagai kelompok belajar dengan hasil karya  ilmiah terbaik. Ari, Tiwi, dan Guna berseru gembira. Sementara Bian diam-diam menyentuh jam pasir di dalam tasnya. Dia tak tahu harus bagaimana. Dia tak ikut serta dalam pembuatan model tata surya itu tetapi namanya tercantum disana dan dia ikut mendapat nilai tertinggi.

Bian menghampiri Guna, Tiwi, dan Ari. “Kenapa kalian berbuat begitu?” tanyanya.

Tiwi tersenyum, “Bukankah kau memang ada dalam kelompok kami?”

“Besok sore kita berpindah tempat ke rumah Ari”, tambah Guna.

“Terimakasih Bian, tanpa kamu tadi presentasi kita tak akan sebagus itu,” puji Ari.

Bian duduk di depan mereka. “Aku minta maaf karena pergi dari kelompok sebagus kalian. Aku menyesal.” Diulurkannya jam pasir buatannya ke arah mereka bertiga, “Ini untuk kalian. Agar kalian ingat saat aku memanggil kalian Kelompok Dodol dan agar aku ingat kalian telah memaafkanku dengan mudah.”

Guna berkata, “Kita memang Kelompok Dodol kok, manis dan legit.”

Disambut huuu yang panjang dari lainnya.

 

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s