Kaus Kaki Paripi


Paripi tinggal di Negeri Sepatu. Disana semua rumah berbentuk sepatu raksasa. Ada yang rumahnya berbentuk sepatu lars, ada rumah sepatu kets, ada rumah sepatu hak tinggi. Jendela-jendelanya dihias tirai yang indah dan berwarna-warni. Negeri ini seperti tempat pembuangan sepatu raksasa bila dilihat dari angkasa. Paripi sendiri tinggal di rumah sepatu yang berbentuk sepatu bot hitam.

Di Negeri Sepatu, ada kepercayaan untuk menggantungkan kaos kaki di depan pintu rumah untuk mendapatkan keberuntungan. Semua orang di sana menggantungkan kaos kaki yang terbaik. Semua kecuali Paripi.

Paripi tak hanya menggantung kaos kaki yang sudah lama, tetapi juga lusuh dan bau. Ada banyak lubang ngengat disana-sini, dan ada bekas warna hitam yang melekat di dasar kaos kakinya. Menjijikkan memang.

Tetangga Paripi mencemooh kaos kaki yang digantung di depan pintu rumah. “Bagaimana mungkin dia mendapat keberuntungan jika yang digantungkannya adalah kaos kaki seburuk itu?”

Tetapi Paripi sebenarnya tak bermaksud jahat dengan menggantung kaos kaki buruk di depan pintu, karena itulah kaos kaki terbaik yang dimilikinya. Sungguh! Dia tidak pelit juga. Paripi hanya jorok. Itu saja.

Tetapi anehnya, boleh percaya boleh tidak, Paripi memang sulit sekali mendapat keberuntungan. Saat Deo temannya berjalan berdua dengannya mereka bertemu dengan seorang penyihir yang membawa sekuali penuh dengan coklat. Tiba-tiba saja penyihir itu mendekati Deo dan memaksanya menerima coklat itu. Padahal Paripilah yang sangat ingin memakannya. Lalu ketika semua tetangganya mendapat undangan pesta ulang tahun Ratu Peri, Paripi sama sekali tak mendapatkannya. Padahal hidangan pesta para peri terkenal sangat lezat dan menggugah selera. Paripi sungguh kecewa.

“Coba gantilah kaos kaki yang kau gantung itu dengan yang lebih bagus, Paripi,” saran Siera tetangga sebelah rumahnya sebelum pergi ke pesta Ratu Peri.

“Tetapi itu sudah yang terbagus, Siera,” bantah Paripi sambil menunjuk tumpukan kaos kaki yang memang benar-benar lebih buruk dan bau daripada yang digantungnya diluar.

Siera mengernyitkan hidung dan dahinya, “Kamu benar-benar jorok Paripi. Paling tidak cucilah dulu kaos kakimu sebelum digantungkan di depan pintu rumah!” hardiknya jengkel. Dengan langkah lebar ditinggalkannya Paripi yang termangu-mangu di depan rumahnya.

Paripi tak suka mencuci kaos kakinya. Dia sendiri juga malas mandi dan mencuci pakaiannya. Rumah Paripi hampir selalu berantakan. Banyak debu menempel disana-sini, sisa makanan dalam piring berkerak dan sulit dicuci karena telah berhari-hari dibiarkan dalam bak pencucian. Wuah! Tak ada seorangpun mau masuk ke dalam rumah Paripi. Tetapi dipikir-pikir, Paripi juga tak suka jika keberuntungan menjauh darinya. Seperti banyak penghuni Negeri Sepatu yang lain, Paripi pun percaya bahwa dengan menggantungkan kaos kaki di depan pintu rumah akan mendatangkan keberuntungan. Masalahnya dia harus menggantung kaos kaki yang bersih. Itulah yang berat bagi Paripi.

Dibayangkannya semua orang di Negeri Sepatu sedang berpesta di tempat tinggal Ratu Peri. Hatinya menjadi dongkol. Dengan bergegas diambilnya kaos kaki yang tergantung di depan pintu dan dicucinya bersih-bersih di bawah pancuran dengan menggunakan sabun yang wangi. Paripi heran melihat kaos kakinya bersih cemerlang. Ditisiknya beberapa lubang bekas gigitan ngengat dan kembali digantungkannya di depan pintu.

Saat itulah Paripi menyadari bahwa pakaiannya basah karena terkena air saat mencuci. “Ah, sekalian saja aku mandi dan mencuci,” katanya. Lalu mandilah dia di bawah air pancuran sambil mencuci pakaiannya yang ternyata sangat kotor.

Sambil menunggu pakaian yang dicucinya kering, dia masuk ke dalam rumahnya. Karena badannya telah bersih, Paripi jadi tahu kalau perabotannya sangat berdebu meski hanya ujung jarinya yang tersentuh. Lalu Paripipun memutuskan untuk sekalian saja membersihkan rumahnya. Dia pun menyapu, menata, mengelap, menyiram, mengepel, mencuci dan membilas semuanya. Hari telah sangat siang ketika Paripi selesai dengan semuanya. Diapun melihat ke sekeliling rumahnya.

Dan astaga! Paripi sangat terkejut. Betapa berbeda rumah sepatunya kini. Cahaya matahari masuk leluasa melalui jendela yang kini mengkilat tak tertutup debu. Seisi ruangan menjadi bersih dan terang.

Paripi merasa sangat nyaman. “Wah, untunglah aku tak diundang ke pesta Ratu Peri,” pikirnya, “Kalau aku diundang aku pasti tak akan pernah sempat menyelesaikan semua ini.”

Paripi tersenyum puas. Diapun memutuskan untuk beristirahat di tempat tidurnya yang kini telah bersih dan rapi.

Belum sempat dia memejamkan mata, dia dikejutkan oleh ketukan di pintu rumahnya. Ternyata Deo temannya yang datang. “Paripi, aku diperintahkan oleh Ratu Peri untuk mengundangmu datang ke pesta. Tadi aku berkata bahwa mungkin kau tak sempat datang karena sedang membersihkan rumah. Tetapi Ratu Peri memintamu untuk datang dulu ke pestanya sebelum kau melanjutkan lagi pekerjaanmu.”

Paripi sangat terkejut mendengarnya. Tentu saja dia segera memenuhi undangan itu dengan hati gembira.

Sebelum berangkat dipandanginya sepasang kaos kaki bersih yang tergantung di depan pintu rumahnya. Dia adalah penghuni Negeri Sepatu yang percaya bahwa menggantung kaos kaki di depan pintu akan mendatangkan keberuntungan. Tetapi lain kali dia pasti akan menggantung hanya yang bersih saja. Semoga dia tak terlalu jorok lagi.

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

Advertisements

2 thoughts on “Kaus Kaki Paripi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s