Jiang Yi dan Tikus Perak

 Jiang Yi tinggal bersama neneknya di sebuah desa ditepi sungai Li. Mereka hidup kekurangan. Sepetak kebun kecil disamping rumah tak dapat mencukupi kebutuhan mereka sehingga kadang-kadang nenek harus meminjam uang pada Tuan Lu Jin, orang terkaya di desa mereka.

Tuan Lu Jin bukanlah seorang yang baik hati melainkan sangat licik. Dia sengaja meminjamkan uang pada orang-orang agar dapat merampas rumah atau harta benda yang masih tersisa jika uang pinjaman tak dapat mereka kembalikan.

Pada suatu hari Tuan Lu Jin mendatangi rumah Jiang Yi dan berkata, “Rumah dan kebun kecil kalian akan menjadi milikku mulai sekarang karena hutang kalian belum terbayar.”

Nenek menangis sedih. Jiang Yi berkata, “Tuan Lu Jin, berilah kami kesempatan  mencari uang untuk membayar hutang kami padamu. Tetapi jangan ambil rumah dan tanah kami,” pinta Jiang Yi.

Tuan Lu Jin tersenyum licik, “Kalau begitu, kau harus melakukan 3 hal yang harus kau selesaikan dalam waktu sehari, jika tak selesai maka rumah dan kebun itu menjadi milikku tetapi jika kau selesaikan maka hutang kalian kuanggap telah lunas. ”

Jiang Yi mengangguk menyetujui.

Pagi-pagi sekali Jiang Yi telah tiba di rumah Tuan Lu Jin untuk menyelesaikan perintah yang pertama. “Kau harus mengumpulkan 1000 ekor ikan dengan tanganmu dari sungai Li sebelum matahari naik ke kepala,” tegas Tuan Lu Jin dengan senyum licik.

Jiang Yi sangat terkejut. Tak mungkin dia dapat mengumpulkan 1000 ekor ikan secepat itu. Jiang Yi mencoba masuk ke sungai Li dan menyelam. Tetapi ikan adalah binatang yang berenang cepat dan sulit ditangkap. Jiang Yi tak mendapatkan seekor ikanpun. Gadis kecil itu menangis sedih.

Tiba-tiba sebuah suara menyapanya. “Aku akan menolongmu.”

Seekor tikus berbulu perak tersenyum padanya. Dengan keheranan Jiang Yi melihat Tikus Perak itu melompat ke dalam air dan mulai bernyanyi. Suara nyanyiannya nyaring dan merdu. Ajaib. Ikan-ikan yang tadi menjauh saat Jiang Yi mencoba menangkapnya sekarang mendekat dan berkumpul di sekitar Tikus Perak. Tikus Perak itu berenang ke tepian dan ikan-ikan itu berenang mengikutinya. Tikus Perak terus bernyanyi saat Jiang Yi mengumpulkan ikan dengan mudah ke dalam keranjang besar. Lebih dari 1000 ikan telah dikumpulkannya sebelum tengah hari.

Jiang Yi sangat senang. “Terimakasih, Tikus Perak,” ucapnya, “Aku harus segera kembali dan melaksanakan permintaan kedua dari Tuan Lu Jin.”

Tikus Perak melompat ke dalam kantungnya dan berkata, “Aku akan membantumu”.

Tuan Lu Jin sangat heran melihat Jiang Yi berhasil mengumpulkan 1000 ekor ikan dengan tangan kosong. Dia melemparkan sekantung biji pada Jiang Yi. “Kau harus menanamnya sebelum hari gelap!”

Jiang Yi segera berlari menuju tanah yang dimaksud. Tanah itu belum siap untuk ditanami. “Bagaimana ini Tikus Perak? Tanahnya terlalu keras untuk ditanami.”

Tikus Perak melompat turun dan mulai membuat terowongan di bawah permukaan tanah. Tak lama kemudian tanah itu menjadi gembur dan siap ditanami.

Lagi-lagi Tuan Lu Jin heran melihat kecepatan Jiang Yi dalam bekerja. Lagi-lagi pikiran liciknya muncul. Kalau Jiang Yi bisa mengerjakan sama baiknya dengan 20 orang bekerja bersamaan maka lebih baik dia mempekerjakan Jiang Yi seorang diri sehingga dia tak perlu keluar banyak uang untuk menggaji pegawai-pegawainya. “Jiang Yi, perintah terakhirku harus kau laksanakan dengan baik. Jika kau gagal, maka selain rumah dan tanahmu maka kau harus bekerja padaku seumur hidup.”

Jiang Yi ketakutan mendengarnya. Dia tak ingin bekerja untuk Tuan Lu Jin selamanya. “Akan kulaksanakan perintah terakhirmu dengan baik, Tuan Lu Jin”, tegasnya.

Tuan Lu Jin berkata, “Malam ini bulan bersinar sangat cemerlang. Ambilkan aku bulan agar aku bisa memilikinya selamanya.”

Jiang Yi terkejut mendengarnya. “Bukankah itu hal yang tak mungkin Tuan Lu Jin?” tanyanya.

Tuan Lu Jin yang licik tertawa, “Kalau begitu kau harus membuatnya mungkin agar kau dapat melunasi hutangmu.”

Jiang Yi kebingungan mendengarnya. Dia mengadu pada Tikus Perak, “Tikus Perak, rasanya aku harus merelakan rumah dan tanah kami pada Tuan Lu Jin. Tak ada seorangpun yang dapat mengambil bulan dari langit bukan?”

Tikus Perak menunjuk bayangan bulan di atas sungai Li. Bulan yang mirip sama dengan yang sedang bersinar di atas.

Jiang Yi tersenyum. Dia mendapat akal, “Tuan Lu Jin! Aku sudah mendapatkan bulan untukmu!”

Tuan Lu Jin terkejut, “Tak mungkin,” kilahnya.

“Kalau tak percaya, lihatlah sendiri ke sungai Li,” kata Jiang Yi.

Tuan Lu Jin bergegas menuju sungai Li dan mencibir, “Itu hanya bayangan bulan. Jangan mencoba menipuku, gadis kecil!”

Jiang Yi menatap Tuan Lu Jin, “Tentu saja itu bukan bayangan bulan. Bulan tadi berkata padaku kalau dia tak bisa turun dari langit sampai pagi tiba besok, untuk sementara dia mengirimkan saudaranya dahulu sebagai jaminan agar kau percaya bahwa dia akan datang padamu esok hari. Bahkan bulan menitipkan hadiah sebuah berlian raksasa melalui saudaranya.”

Begitu mendengar tentang berlian raksasa, tanpa berpikir panjang Tuan Lu Jin segera melompat ke dalan sungai Li dan menghampiri bulan. Lupa kalau dia tak dapat berenang. Tuan Lu Jin pun tenggelam ke dalam sungai Li dan tak muncul-muncul lagi selamanya.

Jiang Yi dan Tikus Perak mengembalikan semua harta penduduk yang selama ini disita oleh Tuan Lu Jin. Setelah itu Jiang Yi kembali pada neneknya dan hidup dengan bahagia. Dia dan Tikus Perak pun bersahabat selamanya.

 

 (dimuat di Majalah Bobo)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s