Jalur Pelangi

Cetta seorang anak laki-laki yang tinggal di kaki gunung. Dia telah cukup lama melihat hujan di musim ini tetapi dia belum juga melihat pelangi. Cetta sangat merindukan pelangi. Sayang dia tak tahu kenapa pelangi tak juga muncul setelah hujan usai.

Nun jauh disana di kaki langit, ketujuh Peri Pelangi sedang terduduk lesu di samping rubah terbang masing-masing. Rubah terbang memiliki sayap bening dan kuat. Ketujuh Peri Pelangi seharusnya terbang menaiki rubah yang terbang berjajar bersamaan untuk membuat pelangi. Sayangnya rubah terbang mereka sangat malas dan tak pernah mau terbang tinggi. Jika mereka terbang tinggi, pasti saja ada salah satu yang tertinggal sehingga pelangi tak dapat terbentuk bersamaan. Ketujuh Peri Pelangi sangat sedih. Hujan telah turun selama berminggu-minggu, tetapi belum sekalipun mereka mampu menampakkan pelangi pada bumi.

“Kali ini kita harus berhasil,” kata Peri Merah pada adik-adiknya.

“Mana mungkin? Lihat saja rubah terbang milik Peri Nila, malasnya minta ampun. Dia bahkan terbang sambil tertidur!” keluh Peri Biru menunjuk rufus adiknya.

“Benar. Rubah terbang kita sangat pemalas. Sama sekali tak punya semangat,” Peri Jingga membenarkan.

“Ayo kita terbang lagi,” bujuk Peri Kuning sambil menaiki rubah terbangnya. Rubah terbang milik Peri Kuning mengembangkan sayapnya. Selama ini rubah terbangnya lah yang paling rajin. Peri yang lain mulai menaiki rubah terbangnya masing-masing dan berjajar membentuk tujuh baris warna pelangi. Merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu.

Peri Merah memberi aba-aba dengan mengangkat tangan kanannya. “Mulai”, katanya mantap.

Rubah mereka terbang berjajar dan meninggalkan tujuh semburat indah warna pelangi di belakang mereka. Pelangi mulai terbentuk. Peri Ungu tersenyum senang. Mereka bertujuh sudah berada di tengah pelangi sekarang. Separuh perjalanan lagi dan pelangi mereka akan terlihat oleh manusia.

Tiba-tiba terdengar suara dengkuran keras menghentikan laju mereka. Astaga! Rubah terbang Peri Hijau tertidur dan sama sekali tak bergerak. Semua melotot pada Peri Hijau dengan kesal.

Peri Hijau terlihat putus asa, “Bukan salahku sama sekali,” protesnya pada yang lain. Pelangipun gagal terbentuk lagi.

Di kaki gunung Cetta berpikir dengan heran, “Rasanya aku tadi sempat melihat garis pelangi. Tetapi tiba-tiba pelangi telah menghilang.”

Dengan penasaran Cetta berlari mencari pelangi. Dia naik ke puncak gunung. Berharap dari sana dia bisa mencapai kaki langit. Sampai di puncak gunung, seekor burung elang raksasa bertanya padanya, “Hendak kemana kau manusia?”

Cetta menjawab, “Aku hendak pergi ke kaki langit, tempat dimana pelangi dibuat. Aku ingin tahu kenapa pelangi tak juga terlihat dari tempat tinggalku.”

Elang raksasa menyediakan punggungnya, “Naiklah kepunggungku. Akan kubawa kau ke kaki langit. Tempat dimana pelangi dibuat.”

Lalu pergilah mereka ke kaki langit.

Disana Cetta melihat ketujuh Peri Pelangi sedang terpekur sedih. “Kenapa kalian sedih? Apa yang terjadi?” tanya Cetta.

Peri Nila menjelaskan pada Cetta apa yang terjadi. Cetta memandang ketujuh rubah terbang yang sedang bermalas-malasan. “Apakah mereka sudah makan?” tanya Cetta.

“Kami memberi mereka awan yang putih bersih dan berasa manis. Memang harus diakui itu membuat mereka mengantuk,” kata Peri Merah.

“Bukankah mereka lebih suka makan emas?” tanya Cetta ragu-ragu, “Yah, paling tidak itu yang pernah kudengar.”

Peri Jingga mengangguk, “Kau benar, tetapi emas hanya ada di ujung pelangi kalau pelangi tak juga terbentuk tentu saja tak pernah ada emas untuk mereka.” Peri yang lain mengangguk membenarkan.

Cetta merenung. Di dadanya tersimpan sebuah koin emas kuno peninggalan neneknya. Dia tak ingin kehilangan koin emasnya tetapi itu satu-satunya benda yang menarik bagi para Rubah Terbang. Bagaimana caranya agar mereka  tertarik tanpa harus memakannya? Cetta berpikir keras. Tiba-tiba dia tersenyum.

“Kita akan membuat rubah kalian terbang hingga membentuk sebuah pelangi,” kata Cetta.

“Bagaimana caranya?” tanya Peri Ungu antusias.

“Dengan ini,” Cetta mengeluarkan koin emasnya. “Peri Hijau akan mengikat koin ini pada ujung sebuah tongkat yang panjang dan membawanya agar para rufus mengikuti koin ini hingga ke ujung pelangi dimana mereka akan mendapat emas yang sebenarnya.”

Ketujuh peri berpandangan dengan tertarik. Rasanya mereka akan mencoba cara yang satu itu.

Koin emas Cetta telah digantung di ujung sebuah tongkat panjang. Tongkat itu dipegang oleh Peri Hijau. Ketujuh rubah dan ketujuh Peri Pelangi telah siap berbaris berjajar. Para rubah terbang dengan tak sabar mulai ingin menyambar koin emas Cetta dengan moncongnya. Kali ini mereka segera berlari ketika Peri Merah mengangkat tangan kanannya memberi aba-aba, “Mulai!”

Rubah mereka melesat terbang membelah langit meninggalkan tujuh warna pelangi dibelakang mereka. Tujuannya hanya satu yaitu koin emas Cetta. Tanpa terasa mereka telah berhasil membentuk sebuah jalur pelangi yang indah dengan tujuh warna sempurna. Menyadari tugas mereka telah selesai ketujuh Peri Pelangi bersorak kegirangan. Peri Merah memeluk saudara-saudaranya dengan bahagia. “Kita berhasil!” serunya.

Rubah terbang mereka berebut menikmati ribuan koin emas yang tersimpan di ujung pelangi. Itulah makanan yang paling mereka inginkan di dunia ini.

Peri Hijau mengulurkan kembali koin Cetta. “Terimakasih,” ucap ketujuh Peri Pelangi.

“Akulah yang berterimakasih kepada kalian karena telah membawa pelangi,” balas Cetta.

Di halaman rumahnya di kaki gunung Cetta tersenyum memandang pelangi yang sempurna. Keindahannya membuat Cetta bahagia.

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s