Idola-Idola Teru

Teru menarik rambutnya yang telah dioles dengan styling foam ke atas agar terlihat berdiri. Dengan perlahan diraihnya hair dryer mama dan dinyalakannya perlahan. Dengan segera hawa panas mengalir melalui benda itu dan Teru mengarahkan ke rambutnya yang berdiri. Beberapa saat kemudian, selesailah tatanan rambutnya yang terbaru. Diapun siap berangkat sekolah setelah tak lupa memasang gelang akar-akaran di pergelangan tangannya.

“Astaga Teruuu,” jerit Mama dari meja makan melihat penampilan Teru. “Kamu apakan rambutmu?”

Teru meraba rambut berdirinya dengan wajah tersipu. “Ini lho, Ma, aku kepingin sekali punya rambut keren seperti Ugi,” jawabnya.

Mama mengerutkan kening, “Ugi siapa. Dia pakai gelang seperti itu juga?” Mama merasa tak mengenal nama itu. Apa ada teman atau saudara yang namanya Ugi?

Teru cengengesan, “Ugi penyanyi lagu Yang Pertama itu lho Ma.”

Mama menggeleng-gelengkan kepala dengan wajah tak senang, “Tapi jangan berdandan seperti itu di sekolah, dong!”

Teru hanya nyengir saja, “Iya deh, Ma. Jangan khawatir. Tidak apa-apa kok!”

Ternyata di sekolah Teru benar-benar ditegur oleh Pak Guru. “Boleh-boleh saja berdandan seperti ini jika hendak berjalan-jalan atau menyanyi di panggung, tetapi jangan menata rambut seperti itu jika hendak ke sekolah dan tak perlu memasang gelang-gelang seperti ini. “Tidak rapi Teru” Begitu kata Pak Guru.

Saat Teru bercerita pada mama, mama bukannya membela justru menyodorkan selembar kertas padanya.

“Mama tadi men download berita tentang Ugi. Ugi itu tertangkap basah berpesta narkoba di rumah temannya” Mama bergidik ngeri. “Jangan mengidolakan penyanyi yang seperti itu dong. Boleh saja kalau kamu suka lagunya, itu berarti kamu menghargai hasil karyanya. Apalagi kalau lagunya memang benar-benar bagus. Tetapi sudah, sebatas itu saja. Tidak perlu meniru dandanan rambutnya dan memakai gelang mirip dia. Apalagi meniru gaya hidupnya memakai narkoba. Hiiii…” Mama berusaha menasihati Teru.

Tetapi Teru tak bisa menghentikan kebiasaannya. Begitu dia menyukai penyanyi atau bintang film tertentu, dia berusaha meniru dandanannya, sepatu kesukaannya, gaya rambutnya. Mama sangat kesal dibuatnya. Belum lagi kamar Teru yang dindingnya penuh tertutup berbagai macam poster idolanya.

Suatu hari mama menunjukkan padanya sebuah daftar yang berisi nama-nama artis. Teru membacanya dan mama bertanya, “Kenal nama-nama itu?”

Teru mengangguk yakin, “Jelas dong, Ma. Memangnya kenapa?”

Mama mengambil kembali daftar nama-nama itu dan membuat tiga buah kolom yang bertulis nama, negatif, dan positif.

Teru melihat mama dengan terheran-heran. “Apa itu Ma?”

Mama hanya berujar, “Lihat saja sendiri”

Lalu mama menyuruh Teru memilih nama-nama artis yang disukainya dari daftar dan boleh menambahkan sendiri jika nama artis yang diidolakannya tidak termasuk dalam daftar. Teru melakukannya dengan senang hati dan mama mencatat nama-nama artis idola Teru ke dalam kolom bertulis Nama yang mama buat.

“Nah, sudah Ma. Kayaknya sudah semuanya tuh,” gumam Teru. Lalu mama mulai bertanya apa saja yang membuat Teru suka pada artis itu. Teru menyebutkan dengan semangat apa saja yang membuatnya menyukai idola-idolanya tersebut. “Lagunya bagus, Ma,” atau, “Orangnya sopan, Ma,” atau, “Jaketnya selalu keren.” Dan mama menuliskan semuanya pada daftar kolom positif.

Selanjutnya mama kembali menanyakan pada Teru apa saja berita negatif yang Teru tahu tentang artis idolanya. Teru paham dengan pertanyaan mama dan mulai menyebutkan sisi negatif idolanya. “Kawin cerai kayaknya deh, Ma,” atau, “Pernah ketangkap karena narkoba,” atau, “Dia tidak lulus sekolah ya?” atau, “Dia suka berbicara tidak sopan.” Dan mama dengan tekun menuliskan semua itu pada daftar kolom negatif.

Selesai sudah. Mama menunjukkan catatan itu pada Teru dan Teru sangat terkejut saat melihatnya. Dari 20 nama artis idolanya, hanya seorang saja yang disebutkan oleh Teru memiliki akting yang bagus, dalam film yang bagus, tetapi di kehidupan sebenarnya dia juga sopan pada orang lain, hormat pada orangtuanya, dan rajin beribadah.

Teru termangu-mangu menatap daftar yang dibuat mama, “Jadi begini ya orang yang menjadi idola Teru?”

Mama pura-pura terkejut, “Lho, tadi itu Teru sendiri lho yang bilang. Mama kan hanya menuliskannya untukmu.”

Mama kemudian meraih bahu Teru dan berkata, “Boleh-boleh saja mempunyai idola seorang artis terkenal. Tetapi belajarlah menyukai karya orang itu saja, menyukai hanya prestasinya saja. Kita tidak usah mengikuti kehidupan pribadinya, mengikuti dandanannya, gaya rambutnya. Biarlah semua orang menjadi diri mereka sendiri. Termasuk kau sendiri Teru,” begitu kata mama.

Teru menatap mama. Kemudian dia mengangguk mengerti, “Teru tahu maksud Mama. Kita boleh suka pada lagu dan film tertentu tanpa harus mati-matian mengikuti gayanya. Begitu kan?”

Mama terlihat senang, “Betul, anak pintar!”

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s