Hasil Karya Terbaik

Hari ini di sekolah, Bu Ria Gorila memberi pe-er murid-muridnya untuk membuat prakarya di rumah.  “Buatlah sesuatu yang bagus dan pantas diberikan sebagai hadiah. Hasil karya kalian akan Ibu nilai tiga hari lagi.”

 Nini Kudanil dan Moni Monyet mengeluh. Mereka tak suka membuat prakarya.

Moni Monyet mencibir, “Hasil karya sendiri mana bisa bagus?” ujarnya.

Nini Kudanil mengangguk setuju, “Iya, benar. Aku akan beli saja di pasar.”

Moni berkata, “Aku akan meminta mamaku untuk membuatkan untukku.”

Jeri Jerapah yang mendengar itu membelalakkan matanya. “Bukankah itu curang?” tanyanya. Tetapi teman-temannya tak memedulikannya.

Siang itu juga dia berjalan ke hutan untuk mencari biji-bijian yang akan dirangkainya menjadi kalung. Saat senja tiba Jeri telah berhasil mengumpulkan sekantung biji-bijian. Di perjalanan pulang, dia bertemu dengan Nini Kudanil yang membawa lampion yang dibelinya di pasar.

Di rumah dia mulai memilih biji-biji dengan ukuran yang sama dan mencucinya. Dilihatnya Moni Monyet yang sedang bergantungan di atas pohon. “Mamaku sedang merajut sebuah topi dari benang wol. Topi itu yang akan kunilaikan pada pelajaran prakarya di sekolah. Coba kalau kau seperti aku, maka kau bisa bermain sekarang,” ejeknya.

Jeri Jerapah hanya tersenyum.

Tetapi ternyata merangkai biji-bijian tak mudah. Setelah berjam-jam dan dia baru bisa melubangi beberapa butir biji, Jeri pun mulai kelelahan. Dibayangkannya lampion Nini dan topi rajut Moni yang pasti sangat bagus. Mata Jeri berkaca-kaca dan hatinya sangat sedih. Dengan kesal dikumpulkannya biji-bijian itu. Jeri berniat memberikannya pada Figi Tupai untuk dimakan.

Tetapi Figi Tupai ternyata punya ide yang lebih cemerlang. “Kau tak perlu melubangi biji-biji ini.  Tempel saja dengan getah karet.” Jeri Jerapah sangat senang mendengarnya dan mulai merangkai kalung biji-bijian itu.

Pada hari ketiga, semua mengumpulkan hasil karya mereka di meja Bu Ria Gorila. “Semua hasil karya kalian benar-benar bagus dan pantas diberikan sebagai hadiah,” kata Bu Ria sambil menunjuk ke arah pintu. Semua anak terkejut ketika melihat ibu mereka masuk satu persatu melalui pintu dan menerima hasil prakarya yang diulurkan oleh Bu Ria.

Mama Moni tentu saja tak terlalu senang ketika menerima topi rajut buatannya sendiri dan ibu Nini terlihat kecewa karena anaknya membeli lampion, bukan membuatnya sendiri. Sementara Ibu Jeri menerima kalung biji dengan wajah berbinar dan bangga.

 

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s