Hadiah Ulang Tahun Kakek Rusli

Tiar melangkah masuk melalui pintu samping Panti Wreda Waskita. Disanalah terletak ruang santai yang dipakai oleh kakek-kakek dan nenek-nenek disana untuk melakukan apapun yang disukainya pada sore hari. Ada yang membaca, ada yang merajut, ada yang membuat bunga, ada yang saling mengobrol sesama teman.

Tak ada seorangpun kerabat Tiar yang tinggal disana, tetapi setiap hari Sabtu sore dia selalu datang tepat pukul 4 untuk Kakek Rusli. Kakek Rusli sangat senang membaca tetapi penyakit katarak di mata kirinya mengganggu penglihatan sehingga dia tak lagi bisa membaca tanpa bantuan. Karenanya Kakek Rusli sangat gembira saat Tiar hadir untuk membantunya meski hanya seminggu sekali.

“Buku apa yang kita baca hari ini, Kek?” tanya Tiar sambil meraih dua buah buku di meja.

“Kakek sedang ingin dibacakan majalah kesehatan saja” Kakek Rusli mengulurkan majalah kesehatan edisi terbaru milik Panti. Tiar menurut dan mulai membacakan artikel yang ditunjuk Kakek Rusli.

“Kakek sudah lama tinggal disini?” Tiar bertanya saat hendak berpamitan pulang.

Kakek Rusli mengangguk, “Hampir sepuluh tahun. Sebenarnya anak Kakek satu-satunya tinggal di kota yang tak terlalu jauh dari sini.  Tetapi kakek tidak kerasan tinggal disana. Pagi-pagi semua sudah pergi dari rumah dan sore baru semua pulang. Kakek kesepian dan memilih untuk tinggal disini.”

Tiar mengangguk-angguk, “Mereka sering kesini, Kek?”

Kakek Rusli mengangguk, “Hanya anak Kakek yang datang setahun sekali”

Tiar mengerutkan kening, “Lalu cucu kakek?”, sambil memandang Kakek Rusli.

“Damira tak pernah kesini. Anak sekolah sekarang bukankah sibuknya bukan main?” Kakek Rusli tertawa mendengar jawabannya sendiri.

Setelah berjanji akan kembali pada Sabtu depan, Tiarpun pulang.

Saat Tiar datang di hari Sabtu berikutnya, kakek Rusli memintanya untuk membacakan sebuah novel. Tetapi belum sepuluh halaman Tiar membaca, Kakek Rusli sudah minta berhenti. Tiar heran sekali mendengarnya tetapi Kakek Rusli memang terlihat sedih dan tak bersemangat.

“Kakek boleh bercerita padaku kalau ingin,” kata Tiar lembut sambil disentuhnya lengan Kakek Rusli.

“Dua hari lagi Kakek berulang tahun. Umur Kakek sudah banyak”, gurau Kakek Rusli, “75 tahun tetapi kakek tak pernah bertemu Damira.” Kakek Rusli mendesah. Dipandanginya Tiar lama-lama, “Damira barangkali juga seumurmu. Sepuluh tahun bukan?”.

Tiar mengangguk. Dia tak lagi punya kakek ataupun nenek satupun. Seandainya punya tentu dia akan rajin mengunjungi mereka. Bukankah enak sekali memiliki kakek dan nenek? Masakan nenek selalu enak dan seorang kakek pasti mau bermain apa saja.

Tiar benar-benar iba pada Kakek Rusli. Dia dapat merasakan kerinduan Kakek Rusli pada cucunya. Dia jadi teringat saat pertama Bu Sisi pengasuh panti mengantarkannya pada Kakek Rusli sebagai relawan yang mau memberikan waktunya untuk membacakan buku-buku, Kakek Rusli bertanya apakah dia anak perempuan? Apakah umurnya sepuluh tahun? Baru Kakek Rusli bertanya padanya, “Siapa namamu?”

Tiba-tiba Tiar teringat untuk mendatangi Bu Sisi. Diceritakanlah maksudnya untuk meminta alamat keluarga Kakek Rusli. Dia ingin membawa Damira kesini di hari ulang tahun kakeknya. Bu Sisi memberikan dengan senang hati.

Perjalanan dengan bis kesana membutuhkan waktu 4 jam. Saat sampai di alamat yang dituju Damira belum pulang dari les pianonya. Bahkan di hari Minggu seperti ini keluarga mereka sangat sibuk. Pak Edu ayah Damira sangat terkejut dengan kedatangan Tiar saat Tiar memperkenalkan diri. Dia menanyakan keadaan Kakek Rusli dengan khawatir. Tiar menjelaskan maksud kedatangannya dan Pak Edu mengangguk mengerti.

“Damira”, panggilnya, “Kakek ingin bertemu denganmu di hari ulang tahunnya besok.”

Damira terlihat kaget dan tak berkata apa-apa. Tetapi betapa terkejutnya Tiar saat sesaat kemudian Damira menggelengkan kepala.

“Kakek ingin melihatmu di hari ulang tahunnya” jelas Pak Edu.

“Aku tidak mau. Orang tua selalu berbau aneh dan berbicara melantur. Ayah boleh kesana sendiri,” kata Damira sambil melenggang masuk ke dalam kamar.

“Ibunya sudah meninggal saat dia masih bayi sehingga dia tak belajar banyak tentang kasih sayang,” bela Pak Edu.

Tetapi Tiar benar-benar jengkel melihatnya. Dia berlari mengejar Damira dan bertambah jengkel saat Damira pura-pura memejamkan mata di atas tempat tidurnya saat melihatnya, “Damira, apakah kau sayang pada ayahmu?” tanyanya perlahan.

Damira tak menjawab.

“Kalau kau sudah dewasa dan memiliki anak sendiri, tak maukah kau mengenalkan anakmu pada ayahmu? Dan kalau kau sudah tua apakah kau mau tak seorangpun mengingatmu? Kalau kau mau tahu, kaulah hadiah yang paling ditunggu Kakek Rusli di hari ulang tahunnya,” lanjut Tiar.

Tak menunggu jawaban Damira diapun beranjak pergi dan berpamitan pada Pak Edu yang berjanji untuk datang ke Panti esok hari. Tiar hanya mengangguk sambil susah payah menahan air matanya yang hampir tumpah.

“Tunggu!” seru Damira dan Tiar menoleh. “Baiklah.Aku akan kesana…”

Tiar menatap Dania tapi tak mengucapkan apa-apa.

Esoknya saat Tiar pergi ke panti, dilihatnya Kakek Rusli sedang tertawa-tawa bersama Pak Edu dikamarnya sambil memeluk bahu Damira erat-erat. Mereka tak menyadari kehadiran Tiar. Tiar tersenyum melihat raut bahagia di wajah kakek Rusli. Dia memutuskan untuk tak mengganggu mereka dan diapun pergi setelah meletakkan sebuah novel berlilit pita di depan pintu kamar Kakek Rusli.

 

(Pernah dimuat di Majalah Bobo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s