Gocan Anak Beruang Bosan Makan

Gocan memandang piringnya dengan lesu. Lagi-lagi ikan. Kali ini Mama Gocan membumbuinya dengan mentega, kemarin dengan saus tomat. Tetapi tetap saja bahannya sama. Gocan ingin makanan yang lebih enak. Seumur hidupnya dia telah makan banyak ikan salmon dan ingin sekali merasakan makanan lain.

“Gocan, makanlah supaya badanmu kuat dan cepat besar,” Mama menasihati.

“Mama aku benar-benar bosan. Bolehkah aku makan makanan yang lain? Misalnya bolu pisang keju seperti Kiko Monyet,” katanya.

Mama tersenyum, “Baiklah, Mama akan menelepon keluarga Kiko agar membuat bolu lebih untukmu juga.”

Tak lama kemudian Mama berkata, “Gocan pergilah untuk sarapan  disana.” Gocan sangat gembira dan segera bergegas pergi ke rumah Kiko Monyet.

Ibu Kiko menyediakan bolu yang lebih besar untuk Gocan karena tubuhnya lebih besar dari Kiko.

“Terimakasih,” ucap Gocan dengan wajah berseri-seri.

Dipandanginya bolu pisang yang berwarna kuning keemasan itu. Kiko tersenyum padanya dan mulai memakan bolu pisang dengan sangat nikmat. Air liur Gocan semakin menetes. Digigitnya pinggiran kue bolu itu dengan bersemangat. Tapi rasa asing yang aneh segera menyergap lidah Gocan. Rasa pisang yang aneh bercampur dengan keju yang menyengat. Gocan merasa mual begitu gigitan pertama terpaksa ditelannya. Dia tahu ini tak sopan tetapi dia benar-benar tak bisa memakannya. Akhirnya Gocan memutuskan untuk pergi dari rumah sahabatnya.

Dia berpamitan pada Ibu Kiko, “Bolu pisang ini enak sekali, saya akan memakannya di tepi sungai. Terimakasih banyak.” Ibu Kiko mengangguk-angguk. Senang karena mengira Gocan menyukai bolu pisangnya.

Lalu dia memutuskan untuk pergi ke rumah Handi Kuda. Gocan berpikir barangkali dia bisa mendapat sarapan yang lebih disukainya disana. Saat Gocan tiba disana Handi serta Ayah Bundanya sedang duduk di meja makan mengelilingi sup dedak bercampur rumput segar. Bau dedak bercampur madu menggoda hidung Gocan.

Keluarga Handi mempersilahkannya untuk ikut duduk. Setelah mangkuk besar berisi sup dedak dibagikan, keluarga Handi mulai makan dengan lahap. Gocan mengaduk-aduk mangkuk itu dengan ragu. Dia suka madu, tetapi melihat rumput tersembul diantara adonan coklat muda itu disajikan di hadapannya, nafsu makannya menghilang seketika. Demi kesopanan terpaksa diayunkannya sendok dengan keras sehingga Bunda Handi mengira dia ikut makan dengan lahap. Diam-diam dituangkannya sup dedak itu ke dalam kantung depan bajunya. Bunda Handi senang melihat Gocan menghabiskan sup buatannya. “Kamu akan jadi beruang yang sehat dan cerdas nantinya”, pujinya senang. Gocan mengucapkan terimakasih dan meminta ijin untuk pulang.

Perut Gocan makin kelaparan. Hari bertambah siang dan dia sama sekali belum sarapan. Akhirnya dia memutuskan pergi ke rumah itik-itik sahabatnya. Gocan senang ketika Titi, Riti, dan Kiti Itik menyambutnya dari kejauhan, “Hai Gocan! Darimana? Mampirlah kemari kami akan sarapan bersama Pak Banu.”

Gocan merasa lega. Barangkali saja disini dia bisa mengisi perutnya dengan lebih nyaman.

“Ah, kita kedatangan tamu rupanya,” kata Pak Banu sambil merangkul bahu Gocan. Lalu didorongnya piring-piring berisi cacing goreng saus mentega ke arah Titi, Riti, dan Kiti. Gocan melihat dengan antusias saat mencium bau harum daging.

“Apa itu Pak Banu?” tanya Gocan.

“Oh, ini cacing, Gocan,” jawab Pak Banu tersenyum ramah.

Cacing?? Ah aku tak mau makan cacing, batin Gocan.

Melihat wajahnya yang tiba-tiba lesu, Pak Banu tertawa. “Pak Banu tahu Gocan tidak doyan cacing.” Dikeluarkannya sepotong roti gandum beroles madu dari kantungnya dan diulurkannya ke arah Gocan. “Ini sarapan Pak Banu tetapi Gocan boleh memakannya.”

Gocan mengucapkan terimakasih dan segera memakannya. Tiba-tiba dia teringat pada kue bolu pisang keju yang dikantunginya, “Oh ya, Gocan juga punya sesuatu untuk Pak Banu.” Tetapi alangkah terkejutnya Gocan ketika dia baru sadar bahwa kue bolunya telah bercampur dengan sup dedak dalam kantungnya. Pak Banu tertawa tetapi sebenarnya Gocan sangat kecewa karena tak bisa membalas kebaikan Pak Banu.

Hari sudah mulai siang ketika Gocan berpamitan pada Pak Banu, Titi, Riti, dan Kiti. Perutnya berbunyi keras di depan teman-temannya. Gocan malu sekali terutama pada Pak Banu yang sudah memberinya roti. Padahal sebetulnya roti itu memang terlalu kecil bagi Gocan yang membutuhkan banyak makan. Untunglah mereka berpura-pura tak mendengar suara perut Gocan. Teman-temannya memang baik.

Dengan gontai dia akhirnya berjalan kembali pulang ke rumah. Betapa senangnya dia ketika Mama tersenyum menyambutnya di depan pintu rumah.

“Hai Gocan, ini hampir waktu makan siang. Mama sudah takut akan makan sendirian.” Gocan memeluk Mama dan mereka berdua mencuci tangan di pancuran belakang rumah.

Bau harum ikan bakar membuat perut Gocan lapar. Dia merasa nyaman dengan bau yang telah dihapalnya dan rasa yang telah bisa dibayangkannya. Air liurnya menetes. Dan ketika saat makan tiba Gocan makan dengan lahap.

“Ikang buakan Mamma paing eezzat seduniaa,” ucapnya dengan mulut penuh. Mama tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala.

 

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s