Gaun Pesta Peri Lila

Tak lama lagi Ratu peri akan mengadakan pesta. Semua peri akan datang di sepanjang tepian sungai Naria yang pada malam itu akan dihias cahaya ribuan kunang-kunang. Kilaunya akan memantul seperti ribuan bintang tertanam di dasar sungai. Tak ada satu peripun yang berniat tak datang. Demikian juga peri Lila.

Jauh-jauh hari dia telah menyiapkan sebuah gaun hijau lembut pemberian Seli si Ulat Sutera. Digantungkannya gaun itu di dekat bunga-bunga supaya berbau lebih harum kemudian ditaruhnya gaun itu ditepian ranjangnya yang terbuat dari bunga mangkokan berisi kapas supaya dia bisa menjaganya dengan aman setiap saat hingga pesta itu tiba.

Pagi itu Peri Lila bangun dengan tergesa-gesa. Dia bertugas membangunkan burung-burung untuk berkicau bersamaan dengan mulai terbitnya matahari tetapi hari ini dia sedikit  terlambat. Dikepakkannya sayap lembutnya terburu-buru di sekeliling ceruk pohon tempatnya tinggal. Diraihnya secangkir air madu untuk mengisi perutnya lalu kembali diletakkannya di sela lubang kecil pada kulit kayu pohon. Tapi upps…cangkir mungil itu terjatuh dan air madunya menetes membasahi gaun hijau di atas ranjang tanpa bisa diselamatkan Peri Lila. Dia memekik kecil sambil buru-buru mengibaskan cairan manis itu dari gaunnya. Tetapi kemudian dia berpikir waktunya terlalu pendek pagi ini dan dia harus meninggalkan dahulu gaun hijaunya untuk urusan yang lebih penting. Maka dikepakkanlah sayapnya keluar dari lubang pohon itu dan mulai membangunkan burung-burung untuk bernyanyi.

Saat dia kembali pulang, astaga! Betapa terkejutnya dia melihat rangkaian panjang barisan semut mengerubungi cairan manis yang tumpah di gaunnya.

“Apa yang kalian lakukan?” jerit Peri Lila.

Para semut menjawab, “Kami sedang mengumpulkan makanan.”

Tetapi bukan hanya madunya melainkan gaun hijau itu juga mulai berlubang. Peri Lila benar-benar marah, “Kalian pikir bagaimana aku harus pergi ke pesta Ratu Peri dengan gaun seperti itu?”

Semut-semut memandangi gaun itu dengan perasaan bersalah. Tadinya mereka hanya ingin mencari air madu yang menempel disana, tetapi cairan manis itu meresap begitu kuat pada gaun dan tak ada jalan lain bagi para semut untuk mengambil sekaligus dengan kainnya. Mereka segera meminta maaf dan pergi. Tetapi gaun itu terlanjur rusak.

Peri Lila benar-benar kecewa. Dia tak lagi mungkin pergi ke pesta itu. Mana mungkin di hari yang demikian istimewa dia hanya akan mengenakan rangkaian daun seperti biasanya. Sambil menangis dia terbang perlahan melintasi jalan setapak menuju tepian hutan. Di atas sebuah pohon dia berhenti dan duduk termenung. Semua peri akan datang ke pesta kecuali dia, pikirnya gundah.

“Kenapa kau terlihat sedih?” Peri Lila mencari-cari arah datangnya suara.

Ternyata Bu Laba-laba yang menyapanya. Peri Lila menceritakan tentang gaunnya yang berlubang  dan Bu Laba-laba itu mendengarkan dengan seksama.

“Apakah kau harus mengenakan gaun itu?” tanya Bu laba-laba itu.

“Tentu saja. Aku sangat menghormati Ratu Peri. Aku tak mau datang hanya dengan baju yang sehari-hari kukenakan bekerja,” sahutnya gusar.

Bu Laba-laba itu berjalan mendekat melalui jaring-jaringnya yang kuat. “Yang kumaksudkan adalah aku akan membuatkanmu gaun baru jika kau mau,” bisiknya.

Peri Lila keheranan, “Kau hampir tak bisa melangkah kemana-mana. Bagaimana bisa kau membuatkan aku gaun, Bu Laba-laba?” tanyanya sangsi.

Bu Laba-laba itu mulai memintal secepat dia membuat rumah untuk dirinya. Tak lama kemudian sebuah gaun dari bahan jaring laba-laba telah siap di hadapan Peri Lila. “Ah, terimakasih Bu Laba-laba, tetapi…” katanya lirih tak mau melanjutkan agar tak menyinggung perasaan Bu Laba-laba.

Bu Laba-laba tersenyum, “Terlalu sederhana?”

Peri Lila mengangguk mengiyakan.

“Kau bawalah gaun ini kepada Peri Embun agar dia bisa melakukan sesuatu terhadap gaun ini.”

Peri Lila menurut meski tak tahu apa yang bisa dilakukan Peri Embun untuk memperindah gaunnya. Sesampai disana dengan ragu diulurkannya gaun jaring laba-laba yang sederhana itu pada Peri Embun.

“Wah, ini gaun pestamu ya?” tanya Peri Embun dengan riang.

Peri Lila mengangguk canggung.

“Aku bisa membuat gaun ini cantik,” kata Peri Embun. Lalu digeserkannya tangannya dengan lembut keseluruh permukaan gaun dan ajaib, pada gaun itu segera tersemat butiran-butiran jernih embun bening. Berkilauan seperti batu intan. Terakhir diketukkannya tongkatnya pada gaun itu dan seketika embun itu mengeras dan mengkilap lebih bening.

Peri Lila sangat gembira melihatnya. “Terimakasih Peri Embun, terimakasih Bu Laba-laba”.

Sambil tersenyum lebar dibawanya gaun itu pulang. Saat dia datang ke pesta disaat yang telah ditentukan, dia yakin gaunnya pastilah yang paling istimewa.

 

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s