Flip Menghapal Mantera

Minggu depan Flip harus mengikuti ujian Menghapal Mantera. Dia telah gagal berkali-kali dalam ujian ini dan ini adalah kesempatan terakhirnya. Jika dia tidak lulus maka Surat Ijin Sihir Kurcaci nya tak akan pernah dimilikinya. Ah, Flip benar-benar bingung. Dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya agar dia bisa lulus dalam ujian itu.

“Bukankah seharusnya kau belajar?” tanya Gugi Gajah dengan heran menanggapi keluhan Flip.

Flip melotot memandangnya. “Belajar? Dengan cara bagaimana?” tanyanya.

Gugi Gajah memandangnya tak mengerti, “Kurcaci lain belajar dengan cara membaca dan berlatih bukan?”

Flip membanting buku tebal di depan Gugi Gajah, “Mantera yang harus kuhapalkan banyak sekali. Mataku benar-benar sakit jika membaca buku setebal ini.”

Gugi Gajah menyentuh buku itu dengan belalainya. Buku mantera itu memang tebal tetapi Flip memang sangat malas belajar. Saat kurcaci lain membaca di bawah pohon dia hanya bermain-main bergelantungan bersama para monyet di pohon, saat kurcaci lain berlatih mantera Flip hanya melamun dan tertidur di bawah pohon. Flip benar-benar malas. Tak heran jika dia satu-satunya kurcaci yang sulit mendapatkan Surat Ijin Sihir. Gugi Gajah menggeleng-gelengkan kepala perlahan, “Rasanya tak ada cara lain yang bisa membuatmu lulus ujian, Flip. Kau harus belajar!” sarannya.

Ketika Flip bertanya pada monyet-monyet sahabatnya, mereka melompat-lompat sambil menjawab, “Rendam saja bukunya dan minum airnya. Kau akan hapal dengan sendirinya.”

Mata Flip berbinar-binar mendengar usul itu. “Cemerlang sekali usul kalian,” katanya riang. Bergegas direndamnya buku tebal itu didalam sebuah baskom berisi air. Lalu cepat-cepat diminumnya. Ugh! Air rendaman buku itu rasanya benar-benar tidak enak. Ditunggunya beberapa saat sambil diingat-ingatnya salah satu mantera tetapi tak satupun mantera berhasil diingatnya. Saran para monyet tak berhasil. Dengan kesal terpaksa dijemurnya buku itu hingga kering sambil menahan perutnya yang mual karena telah terlanjur meminum air rendaman.

“Menurutku kau tetap harus belajar dan membacanya,” ujar Gugi Gajah.

 Dengan kesal Flip meninggalkannya dan pergi ke rumah Nali Kudanil.

“Taruhlah bukumu di bawah kepala sebagai bantal, maka mantera dari buku itu akan terserap masuk langsung ke kepalamu. Praktis kan?” kemudian Nali kembali melanjutkan tidurnya yang terganggu.

Flip terlonjak gembira mendengarnya. Dia bergegas pulang untuk segera menjalankan saran Nali Kudanil.

Ditaruhnya buku mantera tebal yang belum kering benar itu di bawah kepalanya. Flip menunggu beberapa saat lamanya dan tak ada sesuatu yang terjadi.

“Mungkin buku ini harus menjadi bantalku semalam suntuk,” pikirnya dan itulah yang dilakukannya. Tetapi saat Flip bangun pagi harinya dan berusaha mengingat-ingat  salah satu mantera, tak ada satupun yang berhasil diingatnya. Dengan kesal Flip membanting bukunya. Kini bahkan selain perutnya yang mulas karena meminum air rendaman, kepalanya pusing karena harus berbantal buku keras semalaman.

“Tak akan berhasil kecuali kau membacanya Flip,” Gugi Gajah tak lelah mengingatkan.

Flip benar-benar marah mendengarnya. “Baca saja sendiri!” teriaknya kesal.

Ujian Menghapal Mantera tinggal 3 hari lagi. Kalau dia tidak lulus lagi, maka selamanya dia tak akan mendapatkan Surat Ijin Sihir Kurcaci dan itu akan sangat merepotkan sekali. Bayangkan, misalnya jika kurcaci lain tak harus memasak dan tinggal merapal mantera yang bisa membuat semua matang dalam sekejap maka dia harus mencari kayu, membuat api, mengiris sayur, membuat bumbu… ah, betapa memalukan hal itu di negeri kurcaci. Tapi bagaimana ini? Ujian 3 hari lagi dan dia sama sekali tak menghapal sebuah manterapun.

Tiba-tiba Flip mendapat akal. Kalau merendam buku gagal, menggunakan buku sebagai bantal juga gagal, barangkali cara yang satu ini akan berhasil. Maka Flip menyiapkan korek api dan mulai…membakar buku tebal itu. Dalam sekejap bukunya habis dimakan oleh api dan meninggalkan serpihan hitam seperti arang. Dengan puas, dibalurkannya bubuk hitam tadi ke seluruh tubuhnya. Flip berpikir, barangkali dengan cara itu, tulisan dalam buku bisa terserap langsung ke pori-porinya dan mengalir melalui darahnya sehingga dia akan segera hapal dengan sendirinya. Betapa bodohnya Flip.

Flip duduk terpekur di depan rumahnya menunggu hapalan mantera yang tak juga mampir ke kepalanya. Gugi Gajah tertawa terbahak-bahak melihat seluruh tubuh Flip yang hitam terbalur arang buku.

“Sudahkah kau berhasil menghapal manteramu Flip?” Gugi bertanya sambil tergelak-gelak.

Flip menggelengkan kepala. Dia merasa benar-benar konyol sekarang.

“Lalu apa rencanamu sekarang?” tanya Gugi ingin tahu.

Flip berdiri dan berkata, “Rasanya aku akan mandi dan pergi ke rumah kurcaci lain untuk meminjam buku mereka.”

Gugi Gajah menggeleng-gelengkan kepala dengan geli. Flip telah menyerah. Rasanya memang ide Gugi Gajah untuk membaca adalah ide yang paling cemerlang. Flip baru saja menyadarinya.

 

(pernah dimuat di Majalah Bobo)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s